(GS/Chater) We Don’t Leave You!! ~03

Tittle : We Don’t Leave You!!

Chapter : 3

[[ phiphohBie ]]

Author : Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YeWook

Yewook’s NOT MINE!! But, ‘We Don’t Leave You!!’ purely IS MINE..^^

.

.

.

Enjoy!!

.

.

.

Ryeowook hanya mengangkat sebelas sudut bibirnya. Gadis bermanik Caramel cerah yang menenangkan itu tidak berkata apa-apa setelah bangun. Ia bahkan hanya membalas pertanyaan Siwon sekenanya. Tidak ada ucapan manis, lembut dan penuh dengan kasih sayang seperti dulu. Entahlah sampai kapan ini semua akan berlanjut. Karena Ryeowook pun juga tidak bisa memperkirakannya.

Yesung mengelus pucuk kepala yeojacingunya dengan sayang. “Oppa mau menaruh ini ke dapur, kau bicaralah yang baik dengan Oppa-mu” berujar dengan tenang lalu memilih pergi dengan membawa nampan yang sudah kosong dan juga memberi kesempatan untuk kedua saudara tersebut.

Tidak ada yang membuka suara. Keduanya sama-sama diam.

Siwon mendesah frustasi dengan keadaan ini. Kemana nuansa kekeluargaan yang selalu terasa? Kemana perginya hubungan hangat keduanya?

Tak mau terlalu lama berdiam diri dengan hening yang sangat tidak mengenakkan serta didukung dengan keinginan mengakhiri hubungan anehnya dengan sang Dongsaeng, Siwon pun berusaha membuka suaranya. “Seharusnya kau lebih bisa menjaga dirimu”

Ryeowook tersenyum masam mendengarnya. “Kau peduli padaku?”

“Apa maksudmu? Oppa selalu peduli padamu”

Ryeowook sedikit menegakkan badannya membenahi posisi duduknya agar lebih bersandar pada makhkota ranjangnya. “Aku pikir kau sudah begitu sibuk dengan yeojacingumu itu hingga melupakanku”

“Yah~ aku mengerti sih kalau dia memang benar-benar berarti bagimu” lanjutnya yang membuat Siwon menggeram. Secara tidak langsung ia merasa bahwa Ryeowook menyindirnya. Dan dengan melimpahkan masalah ini pada yeojacingunya—Kim Kibum—itu benar-benar memuakkan. Ia tidak suka jika Kibum dibawa-bawa dalam permasalahan ini.

“Jangan melimpahkan persoalan ini dengan membawa-bawa Kibum. Ia tidak ada sangkut paut-nya dalam permasalahan ini” katanya dengan nada yang dingin.

Ryeowook tertawa. Tidak! Jangan berfikir bahwa ini adalah tawa kebahagiaan karena pada kenyataannya ini adalah sebuah tawa sinis yang mengarah pada ejekan yang ditujukannya pada Siwon. “Kau berbicara seolah sedang berbicara dengan musuhmu saja” ujarnya dengan nada yang mengejek.

Siwon melebarkan matanya. Untuk ukuran seseorang yang memiliki IQ tinggi sepertinya amatlah sangat mudah untuk menangkap maksud Ryeowook. “Maaf~ bukan maksud Oppa untuk berbicara kasar dan menggunakan nada dingin, hanya saja…”

“Sudahlah~ aku mengerti”

Siwon menelan ludah keluh. Berhadapan dengan Ryeowook yang seperti ini sangatlah tidak muda. Dongsaeng-nya itu memiliki idealisme yang kuat, ia tidak yakin bahwa ia bisa meruntuhkan idealisme yang dimiliki Ryeowook. “Oppa tidak mengerti dengan pokok permasalahan ini. Tapi…yang Oppa tahu hubungan kita merenggang sejak 3 bulan yang lalu—ketika Oppa memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Kibum”

Ryeowook melemparkan senyum sinis kembali. “Lalu?”

“Semuanya berjalan begitu saja, sampai pada akhirnya Oppa menyadari bahwa hubungan kita sedikit merenggang”

Ryeowook kembali tertawa aneh. “Yah~ itu benar. Dan anehnya kau menyadarinya setelah kau melangkah terlampau jauh”

“Maksudmu?”

Ryeowook mendengus jengkel. “Lihat di cermin. Berkacalah! Siapa dirimu? Bedakan Siwon yang dulu dan Siwon yang sekarang”

“A-apa?”

Mata Ryeowook yang semulanya memandang sinis kini mendadak berubah datar dan dipenuhi dengan gurat kekecawaan yang teramat mendalam. Siwon yang melihatnya hanya bisa terus memandangnya dengan perasaan yang bersalah. Ia tahu bahwa sorot mata itu tertuju untuknya.

“Kau bahkan sekarang sudah tidak dapat memahami cara berpikir-ku. Kau sudah berjalan terlalu jauh meninggalkan aku. Siwon Oppa-ku yang dulu selalu mengerti apa kemauanku tanpa aku berbicara, Siwon Oppa-ku yang dulu dapat mengerti apa kebutuhan ku tanpa ada kata-kata yang keluar dari bibirku.

Siwon Oppa-ku yang dulu bahkan tidak pernah tahu caranya menyakitiku. Tapi sekarang….lihat dirimu!! Kau sudah berbeda. Kau…meninggalkanku dan membiarkan aku kesakitan”

Ryeowook membuang muka menghindari kontak matanya dengan Siwon. Sebuah perasaan yang teramat sesak memenuhi rongga dadanya. tidak ada yang tahu bagaimana susahnya seorang Ryeowook hanya untuk menarik nafas di saat-saat yang seperti ini.

Siwon menangis mendengarnya. Ia tidak tahu lagi harus berujar bagaimana. Semua perkataannya tertelan bulat-bulat begitu saja mendengar uneg-uneg yang ada dalam hati sang Dongsaeng. Siwon mengerti sekarang. Ia mengerti apa alasannya Ryeowook menjauhinya dan terkesan menjaga jarak.

Hn. Ryeowook berpikir bahwa ia sudah tidak bisa lagi bersanding dengan pola pikirnya dan kenyataan yang lebih menyesakkan adalah……

….dirinya sendiri yang tidak menyadari kesakitan yang Ryeowook rasakan.

“Maafkan, Oppa~. Oppa menyesal baru menyadarinya bahkan setelah kau mengeluarkan keluh kesahmu” hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir jokernya. Onyx kelamnya memandang dalam Caramel cerah yang seolah menjadi duplikat ‘Umma’-nya. Perasaan menyesal yang sudah berjanji akan menjaga sang Dongsaeng sampai kapanpun kini bermegah-megah memenuhi hatinya.

“Ya”

.

.

.

Hati manusia selalu berubah, itulah ke-unikan mereka

Tak ada yang abadi di Dunia ini

Cinta, lalu benci

Senang, lalu marah

Penuh kebencian lalu mengerti

.

.

.

Yesung duduk disamping Ryeowook yang masih bertahan dengan posisinya semula. Kamar dengan ber-cat Ungu serta dihiasi oleh banyak boneka jerapah itu tampak amat nyaman dan menenangkan bagi Ryeowook. untuknya, tidak ada tempat paling nyaman di dunia ini selain kamar-nya dan tentu saja jika itu bersama dengan Yesung.

“Harusnya kau tidak berkata seperti itu pada Oppa-mu”

“Oppa mendengarnya?” bukannya menjawab Ryeowook justru kembali bertanya.

“Ya. dan itu sedikit terlihat menyakitinya, Baby~”

“Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin dia mengerti alasan hubunganku dengannya merenggang. Mungkin…selama ini aku diam saja karena aku pikir dia masih bisa memahami maksudku tapi ternyata aku salah besar. Dia…sudah berbeda”

Yesung tercengang mendengarnya. Telinganya seolah menangkap sebuah kata yang teramat pedas. Hei, Siwon dan Ryeowook itu saudara ‘kan? tapi lihat! Ryeowook sekarang seolah membeda-bedakannya layaknya mengelompokkan Siwon dalam golongan orang-orang yang patut untuk dijauhinya.

“Dia Oppa-mu Wookie, berhentilah bersikap bahwa kau harus menjauhi orang-orang yang tidak sependapat dengan pola pikirmu”

Ryeowook menghela nafas berat. “Aku pikir Oppa juga sudah mulai tidak memahami pola pikirku”

Deg!

Yesung bungkam. Ia menoleh pada Ryeowook dan menatapnya tepat pada manik indahnya. “M-mwo?”

Ryeowook tersenyum manis tapi sangat menyedihkan. “Oppa membelanya—Siwon Oppa—dan menganggap bahwa aku ini adalah orang jahat. Hah~ kalau begini aku jadi yakin bahwa sesuatu hal yang besar akan datang dan pada akhirnya akan mengubah segalanya”

“Wookie~”

“Akhir-akhir ini aku merasakan hawa yang tidak menyenangkan. Apa Oppa tahu, bahwa insting-ku ini sangatlah kuat” Ryeowook terkekeh kecil mengucapkannya, seolah ia mengejek insting-nya sendiri yang dapat memperkirakan segala hal buruk yang bagaikan bom waktu yang siap menyerangnya kapan saja. Jika boleh jujur, ia sangat benci dengan sebuah insting kuat yang ia miliki.

Mungkin ini bukanlah sebuah ‘Sixth Sense’, tapi asal kalian tahu bahwa insting Ryeowook itu hampir selalu tepat dan benar.

“Jangan pernah mengatakan atau memprediksi sesuatu hal yang tidak berdasar begitu”

“Aku hanya berharap bahwa semuanya akan tetap begini, aku tidak mau berubah” ujarnya yang lebih mirip seperti permohonan. Tidak jelas ia memohon pada siapa, tapi…satu hal yang dapat Yesung tangkap bahwa gadis ini pun tampaknya berharap bahwa ‘dirinya sendiri’—Yesung—untuk tidak berubah.

Yesung membawa Ryeowook dalam pelukannya yang menghangatkan. “Oppa tidak akan berubah”

Ryeowook terdiam. Masih menolak untuk menatap Yesung yang saat ini pasti sedang menatapnya. Ia lebih memilih memejamkan matanya. “Jangan berjanji”

“Apa?”

“Jangan berjanji sesuatu yang belum terlihat kedepannya”

Yesung mengerang frustasi mendengarnya. Apa lagi ini? Apa Ryeowook memang benar-benar meragukan cintanya?

Ia sangat yakin bahwa saat ini hatinya masih milik Ryeowook seorang, segala cintanya hanya tercurahkan untuk Ryeowook. tapi kenapa yeoja mungil ini seolah memberikannya lampu aba-aba agar tidak jatuh cinta pada orang lain, padahal tanpa itu semua pun ia yakin bahwa ia adalah seorang namja yang setia dan akan selalu menepati janjinya.

Well, bukankah Yesung memang sudah berjanji sejak kecil untuk selalu menjaga Ryeowook dan menikahinya kelak?

.

.

.

pria sejati adalah pria yang menepati janjinya^^

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Siang yang panas itu membuat hampir sebagian siswa memilih untuk membeli minuman dingin dan cemilan. Dan saat-saat seperti ini stand milik Heechul, Hangeng, Kyuhyun dan Sungmin adalah stand yang paling ramai peminatnya.

Ide mereka yang menawarkan minuman dingin bagi pembelinya sangatlah bagus mengingat ini adalah musim panas.

Heechul tersenyum puas mendapat banyak pelanggan dibanding dengan stand-stand yang lain. Hah~ rasanya menyenangkan sekali ketika hasil kerja kerasmu mendapatkan apresiasi yang bagus dari orang lain.

“Aku dengar Ryeowook sedang sakit”

Kyuhyun menghentikan acara menghintung hasil uang yang didapat stand-nya saat suara Hangeng membuka percakapan. “Jinja??” Sungmin ikut menimpali dengan menoleh pada Hangeng yang sedang duduk sambil menyeruput segelas air dingin yang tadi diambilnya di alat pendingin.

“Ya, hanya demam biasa. Tapi sekarang ia sudah baik-baik saja, aku sudah menanyakan kabarnya kemarin malam” Heechul menjawab segala pertanyaan yang memenuhi otak Sungmin dan Kyuhyun.

Bibir Hangeng membentuk huruf ‘O’. “Syukurlah, aku pikir dia sakit parah. Soalnya melihat Siwon dan Yesung yang tidak kembali lagi kesini membuatku sedikit penasaran dengan keadaan Nona besar yang sombong itu”

Heechul memukul lengan Hangeng sedikit keras. “Jaga bicaramu” katanya sambil menatap tajam Hangeng karena memanggil Ryeowook dengan sebutan ‘Nona Besar yang sombong’.

“Apa? Aku berbicara sesuatu yang benar kok” elaknya. Heechul mendengus dan tak mau membalas elakan sang namjacingu. “Itu wajar mengingat mereka begitu menyayangi Ryeowook. lagi pula sekalinya ia terserang demam, ia bisa dengan tiba-tiba keluar dari karakter aslinya”

“Contohnya?” Kyuhyun kini ikut menimpali sambil bertanya dengan penasaran. “Emm..bagaimana ya, yaahh intinya dia tidak terlihat seperti Ryeowook yang sombong dan dingin” Heechul sedikit berpikir agar bisa memberikan jawaban untuk teman-temannya yang sedikit bingung.

Sungmin mengerutkan alisnya melihat ekspresi namjacingunya yang terlihat begitu antusias untuk mengetahui keadaan Ryeowook. bukannya apa-apa, hanya saja sangat terasa aneh. Kyuhyun bukanlah tipe orang yang suka penasaran dengan sesuatu hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, tapi sekarang kenapa tiba-tiba…..

“Sudah-sudah…lebih baik kita lanjutkan pekerjaan ki—Kyu, berhenti melamun! Didepanmu ada pembeli” seru Heechul sambil menunjuk dua orang pembeli yang berdiri dihadapan Kyuhyun. teriakan Heechul yang keras itu juga membuat Sungmin terkaget karena memang sedari tadi ia juga hanya memperhatikan ekspresi wajah Kyuhyun hingga tidak memperhatikan lainnya.

Heechul menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar keras kepala” katanya pelan yang masih terdengar oleh telinga Hangeng. “Nugu?”

Bukannya menjawab Heechul justru mengangkat kedua bahunya acuh. “Seseorang”. Hangeng tersenyum tipis seperti mengerti apa maksud Heechul. “Hah~ cinta memang rumit”

“Ya. aku bahkan tidak mengerti harus memihak yang mana”

“Tenanglah, Chagy~ semuanya pasti akan terlihat pada waktunya. Biarkan mereka dewasa dengan kisah-kisah yang mereka lalui sendiri”

Heechul tersenyum manis mendengar perkataan bijak Hangeng. Terkadang ia berfikir betapa beruntungnya ia yang bisa memiliki namjacingu seperti Hangeng. Pria dewasa itu selalu bisa menenangkannya yang terkadang suka lepas kendali.

.

.

.

Memiliki pasangan yang dapat mengerti kita pasti sangat menyenangkan

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Memasuki hari ke-empat Festival musim panas tahun ini.

Donghae mendengus jengkel melihat Eunhyuk yang tak henti-hentinya mengumbar senyum karena baru saja bertemu dengan Yesung. Ia jadi tidak mengerti dengan pikiran Eunhyuk. Bagaimana bisa gadis itu masih bertahan menyukai seseorang yang jelas-jelas sudah memiliki yeojacingu? Dan oh, jangan lupakan dengan nama ‘Choi Ryeowook’, gadis itu kelewat sempurna untuk ditandingi kecantikannya.

Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi sahabatnya—Lee Hyukjae—yang dengan senang memainkan cincin perak yang terpasang dijari manisnya—yang didapatnya dari Yesung.

Oh, jangan salah sangka dulu. Yesung tidak membelikan cincin itu untuk melamar atau mengikat Eunhyuk dalam salah satu ikatan hubungan dengannya, bisa-bisa Ryeowook akan mencingcangnya yang menyebarkan rumour tidak jelas itu.

.

Jadi, tadi Yesung bermain ke stand-nya mengecheck keadaan stand atau pun hanya sekedar bertanya-tanya bagaimana keadaa Taemin—yang kemaren dengan mendadak jatuh sakit—lalu dilanjutkan dengan Eunhyuk yang menawarkan namja itu agar bermain sebentar dengan permainan-permainan yang ada di stand miliknya.

Awalnya Yesung menolak dan berinisiatif untuk pergi, tapi Eunhyuk justru semakin gencar memaksanya. Donghae yang saat itu berada disana ditemani dengan Minho disampingnya hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah Eunhyuk yang terkesan..errrr—memaksa.

“Yo, Lee Donghae daripada kau memasang muka masam begitu lebih baik kau melawan Yesung Sunbae untuk bermain lempar gelang”

Donghae menggeleng sebagai penolakan. “Kau takut kalah, eh? Haha~ kau memang payah, bermain lempar gelang saja kau takut kalah” cibir Eunhyuk semakin membuat suasana hati Donghae memanas.

Akhirnya dengan segala kekesalan dihatinya, Donghae menyetujuinya. Eunhyuk berteriak girang saat itu. Dengan sedikit bermalas-malasan Donghae mulai bermain. Terlihat sekali kalau Donghae mati-matian berusaha mengalahkan Yesung yang dapat memasukkan gelangnya lebih banyak dibanding dirinya.

Eunhyuk sendiri terus-terusan menyoraki Yesung memberinya semangat. Tidak hanya Eunhyuk sih, tapi orang-orang yang menontonnya juga sepertinya berpihak pada Yesung.

Sampai akhirnya perolehan yang didapatnya adalah….

…kekalahan.

Donghae langsung berjalan keluar dari stand-nya sendiri yang dikerumuni oleh orang-orang. Telinganya terasa panas mendengar suara-suara yeoja-yeoja centil yang terus-terusan meneriaki nama Yesung. Dari kejauhan, manik mutiara hitamnya dapat melihat Minho—salah satu teman yang juga menjaga stand-nya—memberikan sebuah cincin perak pada Yesung—sebagai hadiah kemenangannya.

Dongha menggeram kesal saat dilihatnya Yesung memasangkan cincin perak itu ke jemari Eunhyuk. Tak mau berlama-lama menyaksikannya lebih lanjut ia lebih memilih berjalan-jalan melepaskan segala perasaan yang seperti menyiksanya itu.

.

“Kau terlihat begitu senang sekali eoh mendapat cincin perak itu” cibir Donghae yang duduk berhadapan dengan gadis blonde itu. Tangan Eunhyuk terangkat keatas dengan memamerkan jemarinya yang dihiasi oleh cincin perak itu dan tak lupa juga sebuah cengiran lebar menghiasi bibirnya.

“Tentu. Lagipula meskipun tadi Yesung Oppa kalah aku akan tetap senang. Setidaknya ia mau menyetujui permintaanku yang memintanya untuk bermain” jawabnya dengan masih menampilkan senyum gummy-nya yang menggemaskan.

Donghae membuang muka melihatnya. “Kau ini benar-benar tidak punya malu sekali sih, seharusnya tadi kau tidak memaksanya. Kau tau ‘kan kalau dia sudah punya Ryeowook”

Eunhyuk mengalihkan pandangannya pada Donghae, menatap tajam namja tampan dengan garis hidung yang mancung. “Bisa tidak sekali saja kau tidak usah menyebut-nyebut namanya saat aku sedang bahagia begini?” sungutnya yang terlihat begitu tidak suka. “Aku hanya mengingatkanmu”

Eunhyuk mengangkat sebelah alisnya. “Aku heran padamu, kenapa kau terlihat tidak suka sekali jika aku bahagia karena Yesung Sunbae?”

Alis Eunhyuk semakin naik keatas melihat gelagat aneh Donghae. “Aaa~ atau jangan-jangan kau menyukai gadis sombong itu, eoh?”

‘Oh, Astaga! Ada apa ini? Kenapa jantungku sakit saat mengatakannya?’ Eunhyuk membatin.

“A-apa? Jangan seenaknya menuduhku begitu” katanya berteriak keras. “Jadi kau tidak menyukai Choi Ryeowook yang menyebalkan itu ‘kan?”

Mata Eunhyuk memicing mencari kebenaran dan hatinya begitu tenang saat mendapati pancaran ketulusan dimanik mutiara hitam tersebut. ‘Hah~ ada apa denganmu, Jantungku?’rutuknya dalam hati.

Donghae menggelengkan kepalanya.

Kedua tangannya memijat lengan-lengannya sendiri yang terasa pegal-pegal. “Ah~ aku akan berkeliling refreshing. Malam ini kau, Minho dan Taemin ya yang mengurus stand, aku mau jalan-jalan dulu”

Eunhyuk mengangguk patuh. “Ya, aku pikir kau juga membutuhkannya. Melihat wajahmu yang masam itu begitu membosankan” ujarnya keras yang berhasil menghentikan langkah Donghae dan berbalik dengan memberikan death glare menyeramkan. Eunhyul tertawa puas sambil memegangi perutnya. Tangannya melambai-lambai pada Donghae seolah mengucapkan ‘selamat tinggal’. Kkkk~

.

.

.

Memang sangat sulit memahami hati kita sendiri

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Ini terima. Senang bisa bekerja sama denganmu”

Sang namja yang menerima sebuah amplop kecil berwarna coklat muda itu menyeringai senang sambil memandang berbinar amplop yang pasti berisi beberapa lembar atau bahkan berpuluh-puluh lembar uang. “Jangan sungkan-sungkan untuk menggunakan jasaku lagi, Sunbae” ujarnya sambil meninggalkan seseorang yang sudah memberikan amplop coklat tersebut.

Seseorang tersebut tersenyum aneh. Namun karena senyumnya tak sampai pada matanya maka sebuah senyum menyeramkanlah yang terpatri diwajah putih itu. Demi Tuhan, orang ini benar-benar menyeramkan dengan senyum anehnya. “Mari kita mulai permainan ini” bisiknya pada dirinya sendiri dengan dingin.

.

.

.

Cinta?

Aku sudah melupakan apa kata cinta saat sebuah pengkhianatan telah diterima ‘Umma-ku’. Aku membenci cinta, karena menurutku cinta hanyalah sebuah kebohongan. Aku….membenci apa itu cinta.

Yah, aku membencinya. Tapi…itu dulu.

Dan sekarang…..

Cinta?

Aku mencintaimu. Demi Tuhan, setulus hatiku aku sangat mencintaimu. Karena cintaku padamu bahkan aku rela menepis pikiran awalku yang menganggap hal abstrak—cinta—itu adalah sesuatu hal yang menjijikkan. Karena cintaku padamu aku bahkan bisa menjadi lemah. Karena cintaku padamu pun kini aku percaya bahwa cinta itu tidak selamanya memberikan kesedihan, ada kalanya cinta itu membuatku bahagia.

Dan karena cintaku padamu pun kini aku bisa merasakan sebuah perasaan bahagia yang memenuhi hatiku.

Gadis mungil itu menutup matanya berusaha mengenyahkan perasaan sesak yang memenuhi rongga dadanya. tangannya terangkat keatas tepat pada bagian dadanya yang bagian kiri.

Sakit?

Kenapa rasanya se-sakit ini?

Sebelah tangannya yang bebas mencengkram erat bad cover yang ia gunakan.

Ia tidak percaya dengan ini semua. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Yesung tega melakukan ini semua padanya? Bagaimana bisa?

Brak!

Ryeowook membuang ponselnya jauh-jauh darinya hingga membentur dinding kamarnya. “Kau..pembohong” katanya dengan nada yang dingin. Ia menangis, tapi….tidak ada air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Ia bersedih, tapi…ia tidak tahu bagaimana cara menyalurkan rasa sedihnya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi ia tidak mungkin melakukan hal sekonyol itu.

Hanya diam yang sekarang bisa ia lakukan.

Gadis mungil itu mendapat sebuah MMS dari nomor yang tidak ia kenal. MMS yang membuatnya jadi seperti ini. Dimana dalam gambar itu terlihat seorang Yesung yang tengah tertawa lebar dengan Eunhyuk yang berdiri disampingnya.

Ryeowook tahu betul dimana tempat itu. Itu adalah stand milik Eunhyuk dan teman-temannya. Hati Ryeowook merasakan sebuah perasaan yang kebas dan teramat menyakitkan. Jadi, Yesung sedang bermain dengan Eunhyuk? Begitu ‘kan?

Ryeowook tertawa aneh yang terdengar sangat hambar.

Selama ini Yesung tidak pernah sedikit pun bermain permainan konyol seperti itu. Yang Ryeowook tahu adalah seorang Yesung yang dewasa dan membenci hal-hal yang menurutnya sangat kekanakan. Tapi kenapa….kenapa Yesung bisa keluar dari karakter aslinya?

Demi Tuhan, Ryeowook sendiri tahu bahwa Yesung tidak pernah tertawa sebegitu lebarnya ketika bersamanya.

Mata Ryeowook menatap sendu pada lantai kamarnya yang dihiasi sebuah karpet berbulu putih dan lembut. Yeoja ini tidak meneteskan air matanya sama sekali. “Kau lebih nyaman bersamanya?” bisiknya lirih tapi masih tetap tegar.

Tidak!

Choi Ryeowook bukanlah seorang yeoja yang manja, cengeng dan alay yang akan menangis tersedu-sedu dan mengungkapkan pada Dunia bahwa ia kesakitan. Tapi ia adalah Choi Ryeowook, yang bahkan meskipun Dunia berlaku tidak adil padanya ia akan tetap bertahan.

Ia adalah Choi Ryeowook yang kuat dan selalu memegang teguh pada prinsipnya. Haha~ lucu sekali jika aku harus menangis hanya karena masalah sepele seperti ini—ujarnya miris pada batinnya sendiri.

Lalu, gambar kedua adalah gambar dimana namjacingunya—Yesung—terlihat tengah memasangkan sebuah cincin pada yeoja blonde yang Ryeowook akui adalah rival-nya.

Hati Ryeowook seperti tercabik-cabik saat itu juga.

Bagaimana bisa ia tidak sakit hati saat melihat gambar yang seperti itu?. Yeoja manapun pastilah akan marah besar jika sedang berada di posisi Ryeowook.

Kembali sebuah tawa hambar keluar dari bibir mungil yeoja mungil.

Ia merasa bodoh saat ini juga.

Bagaimana mungkin ia dulu harus percaya pada hal yang orang-orang sebut dengan nama—cinta. Bagaimana bisa ia dulu dengan begitu saja percaya dengan perkataan Yesung yang mengucapkan, ‘Oppa mencintaimu. Percayalah, Oppa akan membuatmu bahagia, menjagamu, tidak akan meninggalkanmu sendirian dan tidak akan pernah menyakitimu’

Shit.

Ryeowook mengumpat dalam hati. Perasaan merasa terbohongi dan dibodohi meluap-luap dalam benaknya. Cih, lucu sekali. Yesung yang berjanji, tapi dirinya juga yang mengingkari.

“Brengsek”

.

.

.

Saat ini hatiku…..sakit.

Aku ingin bernafas, tapi terasa begitu sulit.

Apa kau dapat merasakannya?

.

.

.

Heechul melihat Ryeowook dari atas sampai bawah. Tidak ada yang berbeda dari gadis mungil ini. Tapi…tidak!

Ada yang berbeda, tapi apa?

Heechul masih terus melihat Ryeowook. yeoja cantik dengan kulit susu tersebut masih tetap mengawasi Ryeowook mencari-cari apa yang berbeda dari gadis itu.

Sejak kedatangannya 10 menit yang lalu, Heechul dapat merasakan sebuah perbedaan yang amat ketara dari seorang Choi Ryeowook.

Wajah?

Tetap dingin dan datar.

Penampilan?

Ooh~gadis ini selalu memiliki style yang sangat medern.

Sepatu?

Sepatu flat yang ia gunakan pun tetaplah selalu buatan impor.

Rambut?

Surai indah Coklat madunya yang lurus tampak tetap indah dan selalu indah sampai kapanpun.

Jadi, apa yang membuatnya tampak berbeda?

“Auranya sangat gelap”

Heechul menoleh kaget karena seseorang berbisik ditelinganya. “Aku bisa merasakan aura yang sangat gelap dan penuh dengan kemarahan ada pada diri Ryeowook”

Heechul mengerjap-ngerjapkan matanya lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Ryeowook yang masih duduk manis dengan menatap halaman depan stand miliknya yang dipenuhi oleh siswa-siswa yang saling tertawa bersama.

Kepala Heechul mengangguk. Ah~ iya baru sadar bahwa ternyata yang membuat Ryeowook tampak berbeda adalah Aura-nya. Yah~ aura Ryeowook yang selalu terlihat tenang dan kalem itu mendadak acak-acakan dan seperti…. “Dia kacau”

Heechul kembali mengangguk membenarkan perkataan namjacingunya—Hangeng.

Heechul menghela nafas berat. “Sesuatu mungkin telah terjadi”

“Apa?”

Heechul menggulung pakaian maid yang digunakannya sebatas siku. “Aura ini adalah aura Ryeowook saat ia berusia 9 tahun”

“Saat kedua orang tuanya bercerai?”

“Ya. dan sekarang aku berani bertaruh bahwa sesuatu hal yang besar sedang melandanya”

Hangeng mengangguk menyetujui. “Aku juga bisa merasakannya lewat tatapan matanya yang semakin menajam dan dipenuhi amarah sekaligus kekecewaan yang mendalam”. Heechul kembali mengangguk pasrah. “Dia bisa benar-benar seperti manusia yang kehilangan hatinya ketika ia sedang berada di titik puncaknya. Ryeowook…aku…aku tidak yakin dia sedang baik-baik saja saat ini”

Setitik air mata membasahi pipi Heechul dan buru-buru ia hapus menggunakan tangannya. Hatinya bersedih melihat keadaan Ryeowook. ia mungkin yeoja yang terkenal judes dan bermulut pedas, hanya saja…ia juga masih memiliki hati.

Ia tak kuasa jika harus melihat Ryeowook—sepupunya sendiri—harus kembali pada pribadinya yang dulu. Pribadi yang lebih tertutup lagi dari sekarang ini. Pribadi yang teramat menyedihkan dan pribadi yang dipenuhi dengan kekelaman.

Ia juga seorang perempuan, ia bisa merasakan bagaimana kepedihan akan melandanya jika ia harus merasa hidup seorang diri. Mungkin…ia memang bukan apa-apa bagi Ryeowook, tapi baginya…Ryeowook sudah seperti adik-nya sendiri.

Dan ia tidak akan membiarkan Ryeowook kembali jatuh pada lubang yang sama, kembali mendekam dalam kubangan kepedihan yang tidak berujung. Ia tidak bisa melihat Ryeowook kembali merasa sendirian. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya” Ryeowook menjawab tanpa menoleh pada Heechul. Lidah Heechul terasa keluh. Ia memang sudah biasa mendapat jawaban seperti ini, hanya saja untuk sekarang ini ia sangat khawatir dengan jawaban Ryeowook yang seperti itu. Karena menurutnya ini lebih mengarah pada tanda bahaya.

“Tidak menemui Yesung?”

“Dia sedang sibuk”

“Tidak kok, namja bodoh itu sepertinya sedang berkeliling malam ini, memeriksa stand-stand bersama dengan Kangta” jawabnya dengan tertawa kecil mencairkan suasana. Tapi naas, sepertinya usahanya gagal. Ryeowook masih tetap diam memandangi luar tepat pada lampu-lampu yang bersinar terang. “Kau tidak mau jalan-jalan?”

“Aku akan pergi”

Tak mau menunggu balasan dari Heechul, yeoja mungil itu terus melangkah meninggalkan stand milik Heechul. “Ada apa dengannya?” Sungmin mendekati Heechul. “Apa maksudmu? Bukankah dia memang selalu begitu? Datang dan pergi seenaknya saja?”

Menjawab dengan sedikit tegas menutupi kecurigaan Sungmin. Sungmin hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf ‘O’.

Heechul meninggalkan Sungmin yang masih diam ditempatnya, lalu menghampiri Kyuhyun yang sedang mengelap meja counter tempat pembayaran. “Kau tahu dia kenapa?” bertanya pada Kyuhyun dengan menyelidik. “Apa?”

Heechul menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Kyuhyun. “Ah sudahlah, lupakan saja” katanya sambil berlalu. Kyuhyun hanya mengangkat kedua bahunya acuh melihat tingkah aneh Heechul.

.

.

.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Ryeowook berjalan pelan ditengah keramaian itu. Gadis Caramel ini melihat kedepan dan lurus. Tidak tentu arah ia akan kemana yang jelas ia hanya ingin mengikuti langkahnya yang entah akan membawanya kemana.

Tap.

Langkahnya terhenti tepat dibawah pohon sakura yang tinggi menjulang. Ia berdiri dibawah pohon sakura dengan mata yang masih mengawasi sekitarnya. Mencari Yesung?

Ryeowook tergelak kecil saat merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang yang berada dibalik pohon sakura yang sedang ia punggungi. Ryeowook menoleh pada namja itu. “Apa?” bertanya pelan dan datar. Namja itu tersenyum. “Kau hanya sendirian?”

“Apa kau melihat orang lain?”

Namja itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tidak sih”

“Ya sudah” Ryeowook kembali memunggungi namja itu. “Dia memang benar-benar dingin” kata namja itu pada dirinya sendiri. Sadar bahwa ia juga sedang sendirian akhirnya ia berinisiatif untuk mengajak gadis sombong itu jalan-jalan dengannya.

Ia berdiri disamping Ryeowook yang sama sekali tidak menggubrisnya. “Bagaimana kalau kita melihat-lihat bersama?”

“Aku tidak bisa pergi dengan seseorang yang tidak aku kenal”

“Errr…kalau begitu perkenalkan. Lee Donghae” namja bernama Lee Donghae tersebut menjulurkan tangannya sambil tersenyum lembut pada Ryeowook. mata Caramel Ryeowook menatap nyalang Donghae. tapi meskipun begitu ia pun akhirnya menyalami Donghae. “Choi Ryeowook”

“Wow~ kau tidak perlu menyebutkan namamu, karena tanpa kau sebutkan pun aku sudah tahu siapa kau” ujarnya dengan masih tersenyum. Ryeowook mengernyit heran melihat wajah tampan Donghae. ia sedikit risih dengan Donghae yang selalu mengumbar senyumnya sedari tadi.

“Ayo jalan” ajaknya dengan berani sambil menggenggam tangan Ryeowook. refleks Ryeowook melepaskan genggaman tangan Donghae. “Aaa~ maaf, sepertinya kau benar-benar tidak nyaman dengan hal biasa yang aku lakukan barusan” meminta maaf dengan membungkuk pada Ryeowook.

“Tidak. Tidak apa-apa. Ayo jalan”

Ryeowook jalan lebih dulu didepan Donghae. yeoja itu masih memandang datar apa saja yang ada disana. Ia memikirkan perkataan Donghae barusan. ‘hal biasa yang aku lakukan’

“Boleh aku bertanya?”

“Tentu” menjawab dengan sambil merentangkan tangannya seperti orang yang berusaha memeluk angin. “Apa kau selalu begini?”

Alis Donghae mengkerut. “Maksudku, apa kau selalu menggenggam jemari seorang gadis meskipun kau tidak mengenalnya? Dan apa kau juga begitu suka tersenyum?”

Donghae tertawa renyah mendengar pertanyaan Ryeowook. “Apa ada yang lucu, Donghae-ssi?”

“Akh, tidak ada. Dan panggil saja aku Donghae, Hae atau apapun itu asal jangan terlalu formal. Kita ini kan teman sekolah yang juga satu angkatan” jawabnya sambil menggoyang-goyangkan tangannya. “Baiklah” jawabnya setuju.

Donghae tersenyum lebar mendengar jawaban Ryeowook. “Nah, soal pertanyaanmu tadi, aku akan menjawabnya. Jadi, begini…eh? apa tadi pertanyaan mu?”

Ryeowook mendengus jengkel. Ia tidak suka jika harus mengulang pertanyaannya. “O-oh, baiklah. Aku masih mengingatnya” Donghae dengan cepat memahami raut tak suka yang dikeluarkan oleh wajah manis yeoja yang ada didekatnya dengan sesegera mungkin kembali mencela.

“Aku pikir menggenggam jemari seorang gadis itu adalah hal gentle yang akan dilakukan oleh seorang pria, terlebih jika gadis itu terlihat begitu lemah”

Ryeowook merasa tersindir akan ucapan Ryeowook. “Maksudmu aku lemah?”

“Kau mau jawaban yang jujur atau berbohong?”

“Tentu saja jujur” jawab Ryeowook cepat.

Donghae tersenyum sekilas memperhatikan mimik wajah Ryeowook. lalu sebelum menjawab pertanyaan yeoja manis itu Donghae memberi isyarat pada Ryeowook untuk mengikuti langkahnya yang berjalan pada salah satu stand dimana disana menjualkan makanan ringan dan manis.

“Suka manisan?”

“Tidak terlalu”

Donghae mengangguk sebentar lalu kembali mengarah pada seorang namja dengan tinggi diatas rata-rata yang ternyata adalah pemilik stand itu. “Donghae Sunbae~ mau membeli manisan?” tanyanya ramah.

“Ya, berikan aku manisan berwarna merah muda itu dua, ya?”

Ryeowook yang berada dibelakang Donghae mengernyitkan alisnya. “Kau mau memakan manisan itu semua?”

Donghae menoleh kebelakang kepada Ryeowook. “Yang satu untukmu”. Alis Ryeowook menaut. “Aku tidak bilang untuk mau memakan manisan”. Sungutnya tidak suka. “Sudahlah, sekali-kali mencicipi jajanan murahan tidak apa-apa ‘kan?” Donghae tersenyum manis.

Ryeowook mendengus tidak suka. “Kalau begitu aku akan membayarnya” ujarnya dengan membuka tas kecil yang ia sampirkan dipundaknya. “Tidak usah, aku yang meneraktirmu”. Kini sudut bibir Ryeowook berkedut kesal. “Aku bukan pengemis yang tidak mampu untuk membeli satu manisan dengan nama ‘kembang gula’ itu” nada mematikan Ryeowook lontarkan sehingga membuat siswa-siswa yang ada disanam memandang Ryeowook.

Donghae memperhatikan sekitar seolah melemparkan sebuah tatapan meminta maaf pada orang-orang yang ada disekitarnya. “Sunbae, ini ‘kembang gulanya’”

“Akh, ya. terimakasih, kembaliannya untuk kalian saja ya. aku permisi”

Dengan sedikit paksa Donghae menarik lengan kurus Ryeowook dan menyeretnya keluar dari keramaian. “Apa yang ada dalam otakmu? Seharusnya kau tidak bersuara setinggi itu” ucap Donghae dengan masih menarik lengannya.

“Lepaskan aku” titah Ryeowook mengabaikan pertanyaan namja yang dengan seenaknya saja menyeretnya. Demi Tuhan, ia benci diperlakukan seperti ini.

Setelah menjauh dari keramaian, Donghae baru melepaskan cengkraman tangannya. Ryeowook menatap tajam Donghae. “Apa maumu?”

“Ini makanlah” disodorkannya kembang gula atau manisan berwarna merah muda pada Ryeowook. “Aku tidak bisa menerima makanan yang dibelikan oleh orang lain yang tidak aku kenal, dan lagi aku tidak terbiasa memakan makanan yang berasal dari stand-stand seperti itu yang belum jelas kebersihannya”

Donghae terperangah mendengar pernyataan Ryeowook. jinja…sekarang ia sudah benar-benar tahu alasan orang-orang menyebutnya ‘Nona Besar yang Sombong’. Well, itu memang benar, karena yeoja mungil ini memanglah sangat sombong.

“Tidak kau kenal? Apa kau lupa? Kita baru saja berkenalan 20 menit yang lalu. Lagi pula aku membelikan ini bukan karena aku menganggapmu seorang pengemis, aku hanya tidak suka jika aku yang harus dibayari seorang gadis” jelas Donghae dengan masih menyodorkan kembang gulanya dihadapan Ryeowook. “Ambilah~ sebagai tanda awal pertemanan kita” lanjutnya.

Dengan perasaan yang berkecamuk, Ryeowook akhirnya mengambil kembang gula tersebut. Tangannya terangkat untuk mengambil bagian kecil kembang gula tersebut dan memasukkannya kedalam mulutnya dengan pelan. “Enak ‘kan?”

Ryeowook tidak menjawab dan membuang muka membuat Donghae tertawa dalam hati. “Ngomong-ngomong soal pertanyaanmu tadi, apa kau masih ingin mendengar jawabannya?”

“Ya, dan alasan kau mengejekku lemah”

Donghae kembali tersenyum. “Aku bukannya mengejekmu, aku hanya berkata yang sesungguhnya” jawabnya dengan enteng. Ryeowook menghentikan acara makannya dan memfokuskan perhatiannya pada Donghae.

Hei, ia benar-benar benci dengan jawaban Donghae yang terkesan mengejeknya—menurutnya. Ryeowook mungkin tidak akan sakit hati jika yang berbicara begitu adalah Yesung, tapi Donghae?. ada apa dengan namja tampan ini? Kenapa ia begitu berani menjudge-nya yang baru saja kenal dengan dirinya?

Cih.

“Hanya dengan melihat tatapan matamu saja, aku sudah bisa menebak bahwa hari ini kau sedang kacau”

“Mwo?”

“Wajahmu yang selalu terlihat datar dan dingin tidak bisa membohongi ketajaman mataku. Aku bisa melihat bahwa jauh dalam dirimu…kau merasakan sebuah kesepian yang teramat mendalam. Aku tidak tahu jelas kenapa kau bisa merasakan sebuah kesepian padahal kau berada ditengah-tengah orang yang mencintaimu”

Amarah Ryeowook memuncak mendengarnya. Ia marah bukan karena merasa Donghae sok tahu akan dirinya, tapi ini lebih mengarah pada sebuah kekesalan karena seseorang—yang bahkan tidak ia kenal—bisa mengerti kelemahannya. Ia….tidak suka hal semacam ini.

“Jangan berbicara seolah-olah kau tahu semuanya tentangku” ancamnya ketus. Donghae menanggapinya dengan tertawa. “Aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu, tapi…aku bisa melihat semuanya dari matamu dan wajahmu yang memperlihatkan semuanya padaku”

“………….”

“Kau merasa kesepian?”

“………..” Ryeowook masih tak berniat sekalipun untuk menjawab. Tapi pandangan matanya masih bertumpu pada manik mutiara hitam didepannya. “Baiklah, tanpa kau menjawab pun aku mengetahuinya” putusnya dengan balas memandang caramel indah didepannya.

“Meskipun aku tidak tahu bagaimana perasaan kesakitan, kesepian, sendirian dan tidak memiliki siapapun yang saat ini kau rasakan , tapi…aku ingin memberitahumu bahwa diluar sana banyak sekali orang-orang yang menyayangimu,

Seharusnya kau tidak perlu merasakan ini semua”

Ryeowook membuang muka. “Kau berlagak seperti Tuhan, saja”

Tawa renyah keluar dari bibir tipis Donghae. “Tapi aku benar ‘kan? kau…memang kesepian” katanya lagi membuat Ryeowook kali ini menggigit bibir bawahnya kuat.

“Kau bisa berkeluh kesah padaku, aku akan setia mendengarkannya”

“Aku tidak terbiasa melakukan hal-hal aneh yang bernama berkeluh kesah seperti itu”

“Jangan berbicara seperti itu. Berkeluh kesah itu bisa membantumu untuk sedikit terhibur, karena ternyata masih ada orang lain yang mau mendengarmu” jawab Donghae tidak terima karena Ryeowook menyepelekan sebuah hal ‘berkeluh kesah’.

Ryeowook menyeringai tipis. “Tapi maaf, aku tidak bisa melakukannya”

Kedua tangan Donghae memijit bagian lehernya seolah melenturkan otot-ototnya yang sepertinya menegang semenjak pembicaraannya dengan gadis ber-intelektual tinggi didepannya. “Hari ini mungkin tidak, tapi siapa tahu besok, lusa atau bahkan nanti malam kau akan melakukannya”

Deg!

Ryeowook mematung mendengar pernyataan Donghae. ia merasa dejavu dengan kata-kata itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Donghae, bahwa semuanya tidak bisa diprediksi, karena alur takdir itu terus berjalan dan tak ada siapapun yang dapat menghalanginya. Jadi….ucapan Donghae pun sepertinya juga benar.

Bukankah beberapa hari yang lalu ia juga sempat mengucapkannya pada Yesung?

“Ya, kau benar”

Mata Donghae melebar. A-apa? Jadi gadis sombong ini menyetujui perkataannya? Whoaah~ sulit dipercaya. Gadis ini terkenal dengan perkataannya yang selalu dapat membungkam bibir lawannya, tapi kali ini kenapa justru gadis ini setuju dengan jawabannya?

“Tapi aku akan berusaha untuk tidak berkeluh kesah pada orang lain, selama aku mampu”

Donghae menyeringai mendengar jawaban yang keluar dari gadis sombong tersebut. “Semoga berhasil. Tapi…jika kau memang membutuhkan tempat berkeluh kesah, kau bisa datang padaku”

“Simpan energimu daripada kau membuang-buangnya hanya demi orang lain agar mau berkeluh kesah padamu”

“haha~ kau ini ternyata juga memiliki sisi humoris yang sangat payah”

Kening Ryeowook mengkerut. “Aku tidak bermaksud mengatakan sebuah hal yang konyol”

“Ohyeah, tapi menurutku tidak begitu”

Bahu Ryeowook terangkat. “Terserah. Aku harus pergi, dan…senang sekali berbincang denganmu” ujarnya sambil tersenyum mengejek pada Donghae. “Aku juga, semoga kita bertemu lagi”

“Ya” jawabnya singkat dan berlalu pergi meninggalkan Donghae. “Dan kau belum memberiku jawaban tentang ‘kenapa kau suka tersenyum. Saat kita bertemu lagi aku harap kau akan menjawabanya” katanya dengan sedikit menolehkan kepalanya kebelakang menatap Donghae dengan datar.

Donghae tersenyum. “Aku akan menjawabnya lain kali”

Ryeowook tak menimpalinya lagi dan justru berjalan menjauh.

Sedangkan Donghae kembali mengumbar senyumnya. “Dia tidak buruk juga ternyata. Dan..kenapa dia tidak marah besar pada Yesung Sunbae? Apa anak itu tidak jadi membuat kerusuhan?” katanya yang lebih mengarah pada dirinya sendiri.

Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan berlawanan arah dengan Ryeowook.

.

.

.

kau kesepian karena kau membuat sebuah garis tak kasat mata yang pada akhirnya membatasi seseorang untuk masuk dalam kehidupanmu

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Ryeowook berdiri mematung memperhatikan apa yang sedang ada didepannya. Matanya terfokus pada dua objek manusia yang duduk berdampingan dengan tertawa riang. Ryeowook merasakan dadanya tertusuk sebuah pisau tak kasat mata. Dadanya mencelos melihat ekspresi keduanya yang seolah menikmati kebersamaannya. Seperti saling melengkapi satu sama lain.

Kesendirian.

Kesepian.

Seorang diri.

Ryeowook merasakannya saat ini juga. Gadis bermata Caramel cerah ini merasakan dunianya runtuh saat ini juga. Jantungnya berpacu cepat memborbardir dirinya sendiri. Seluruh tulangnya seperti akan lepas dari tempatnya.

Ia tidak pernah menemukan ekspresi seperti ini diwajah tampan Yesung selama keduanya sedang bersama. Kebersamaannya dengan Yesung selalu berkisar pada ketenangan, dan sebuah pelukan hangat yang saling membagi kebahagiaan bersama.

Tidak ada kata-kata manis dalam hubungan keduanya. karena Ryeowook percaya bahwa cinta tidak hanya sebuah untaian kata manis, tapi tindakan jauh lebih berarti menurutnya. Hubungannya dengan Yesung amatlah sangat dewasa, tidak pernah ada acara bertengkar hebat atau menangis tersedu-sedu layaknya pacaran remaja labil lainnya.

Yesung dan Ryeowook hanya akan diam dan meredamkan amarah masing-masing jika sedang terjadi suatu konflik. Tidak ada kata-kata penghiburan yang akan didapat Yesung maupun Ryeowook jika salah satu diantara keduanya sedang bersedih, karena mereka hanya akan meredahkan kesedihan itu dengan sebuah pelukan hangat.

Ryeowook berfikir, tidakkah itu semua sudah cukup?

Tidakkan semuanya adalah dasar dari hubungannya dengan Yesung?

Tapi kenapa?

Kenapa Yesung seolah lebih nyaman jika sedang berada didekat gadis blonde itu?

Apa selama ini ia sangatlah membosankan?

Ah~ tentu saja dia bosan Kim Ryeowook. kau hanya bisa diam dan memeluknya, tidak pernah bisa menyenangkan atau berbuat konyol seperti yang gadis blonde itu tawarkan pada Yesung.

Sisi hati Ryeowook memprovokasinya. Ryeowook mengepalkan tangannya hingga kukunya memerah padam. Matanya memanas seperti akan mengeluarkan kristal bening, tapi…kenapa tidak ada air mata yang meluncur? Kenapa air mata itu seperti tidak bisa keluar?

Tak mau berlama-lama berdiam diri disitu, akhirnya Ryeowook membalikkan badannya berjalan berlawanan dari tempat keduanya saling bercanda. Demi Tuhan, Ryeowook ingin menangis dan menumpahkan segalanya agar ia bisa lega, tapi kenapa air matanya justru tidak bisa keluar?

Apa ini terlalu menyakitkan hingga air mata pun tidak mau keluar?

Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Entah  untuk mencari sebuah kehangatan atau hanya sekedar mengisi kekosongan yang ia rasakan dalam hatinya atau jangan-jangan itu hanya untuk menutupi kesedihannya?

Pikiran Ryeowook masih dengan jelas mengingat potret senyum dan tawa kedua orang itu dalam otaknya.

Hanya orang bodoh yang tidak dapat menyimpulkan apa arti dari kedua ekspresi yang ditampilkan oleh kedua anak Adam itu.

Ketertarikan.

Yah, mereka adalah kedua orang yang saling tertarik dan rasa ketertarikan itu pun berbalas.

Ryeowook berhenti sejenak menstabilkan nafasnya. Meskipun ia hanya berjalan tapi entah kenapa nafasnya berpacu cepat seperti orang yang sedang berlari. Kembali ditekannya dada bagian kiri miliknya.

Detakannya melemah dan terasa menyakitkan.

Duk!

Ia duduk disalah satu kursi panjang yang ia jadikan tempat menunggu Yesung beberapa waktu yang lalu.

Dejavu.

Tapi rasa dejavu kali ini lebih menyakitkan.

.

.

.

“Apa yang aku takutkan telah terjadi” bisik Heechul sambil menunduk mengalihkan pandangannya pada stand yang berada tidak jauh dari stand miliknya. Gadis cantik itu sedaritadi mengawasi Yesung dan Eunhyuk yang asyik dengan dunianya sendiri.

Sungmin yang mendengar bisikan Heechul tersenyum kecil. “Jadi ini yang dari kemarin kau bilang ‘perasaan tidak enak’ chullie?” bertanya pelan dengan sekali-kali mencuri pandang ke stand milik Eunhyuk dan teman-temannya.

“Bagaimana menurutmu?”

Sungmin mendesah berat. “Aku juga tidak tahu. Tapi…jika memang ini sudah takdirnya, aku mungkin akan memprediksi bahwa Ryeowook akan sangat sedih”

“Ini lebih dari kata sedih, Minnie. Ryeowook pasti akan hancur berkeping-keping” desahnya berat. “Baginya, Yesung adalah satu-satunya orang terakhir yang ia miliki. Siwon—Oppanya sendiri—pun sudah ia anggap bukanlah orang-orang yang mengenalnya dengan baik”

Sungmin menganga mendengarnya. “Sebegitukah? Wae?”

Heechul mendongak tak membiarkan air mata itu jatuh membasahi pipinya lagi. “Ryeowook tidak pernah membiarkan orang lain masuk dalam dunianya sekalipun itu adalah kedua orangtua-nya. Yang ia tahu hanyalah kehidupan tentangnya dan Yesung.

Ia membatasi interaksi dengan orang lain, karena menurutnya orang-orang yang tidak memiliki pola pikir sama dengannya itu sangatlah membosankan”

Sungmin menyimak dengan cermat tiap kata yang meluncur dari bibi sexy Heechul. “Dia membuat lingkaran dengan garis yang sangat tebal hingga membuat orang lain tidak mampu untuk memasukinya, hanya ada dia dan Yesung. Tapi…meskipun begitu, ia masih saja membuat sebuah satu lingkaran lagi yang melingkari dirinya. Dan tidak ada satupun orang lain yang dapat masuk dalam lingkaran itu”

“Sekalipun itu Yesung?”

Heechul mengangguk membenarkan. “Sekalipun ia memiliki kehidupan dengan Yesung, tapi….jauh dalam dirinya ia masih memiliki satu lingkaran lagi yang bahkan Yesung tidak dapat masuk. Ryeowook itu….dia sudah terlalu jauh menutup hatinya”

“A-apa?”

“Dia tidak pernah bisa percaya pada siapapun, karena menurutnya satu-satunya orang yang dapat ia percaya hanyalah dirinya sendiri”

Sungmin melebarkan matanya. “Itu sangat buruk. Sekalipun aku dikhianati berulang kali oleh orang lain, tapi aku tetap memiliki Umma-ku yang aku percaya. Dan…aku tidak bisa membayangkan hidup menjadi Ryeowook”

Heechul tertawa miris. “Itulah yang aku takutkan saat ini. Ryeowook mungkin sudah hampir mempercayai Yesung sebagai salah satu orang yang dipercayanya, tapi jika Ryeowook melihat ini semua, pastilah gadis itu semakin menutup rapat hatinya” ujarnya frustasi.

Sungmin mulai mengerti sekarang. Ia mengangguk. “Dia seperti gelas. Sekalinya pecah maka akan sulit sekali atau bahkan tidak akan bisa dikembalikan lagi seperti semula. Sekali terluka maka ia tidak bisa disembuhkan”

Heechul mengangguk membenarkan. “Dimana Kyuhyun?” bertanya mengalihkan pembicaraan yang lain. “Oh, dia sedang keluar sebentar, mencari udara katanya” Heechul menghembuskan nafas berat. “Semoga dia juga tidak memperburuk masalah” lirihnya. “Apa?”

“Ah, tidak. Aku hanya ingin mengirim sms pada Hangeng”

Sungmin kembali menganggukkan kepalanya mengerti.

Tangan Heechul mengelus dadanya lega, ternyata Sungmin tidak benar-benar mendengar perkataannya.

.

.

.

Tak ada seorang pun yang tahu apa alasannya membuat lingkaran tak kasat mata seperti itu

Dia membatasi orang lain untuk masuk dalam kehidupannya

Mungkinkah ia berfikir bahwa yang seperti ini amatlah menyenangkan untuknya?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Kedua jemari itu bertaut. Menyalurkan perasaan hangat kepada keduanya. suasana malam yang dipenuhi dengan bintang membuat atmosfer itu semakin terasa hangat dan menenangkan.

Terlihat Kibum tengah memasang wajah lesu dan menundukkan kepalanya dalam bersiap-siap menunggu keputusan apa yang akan sang namjacingu keluarkan. Well, hari ini ia sudah mendengar semuanya. Siwon menceritakan segalanya padanya.

Saat itu Kibum hanya bisa menanggapinya dengan diam dan menundukkan kepalanya menyembunyikan tangisnya. Kibum tidak mau egois sebenarnya tapi jujur ia sangat tidak rela jika semuanya harus berakhir begini saja. Ia masih ingin semuanya berlanjut.

Tapi…

Ia juga tidak bisa membuat hubungan kedua saudara itu menjauh seperti orang yang tidak kenal satu sama lain.

Kibum dilema. Antara harus mempertahankan Siwon dan memiliki seutuhnya atau justru melepaskan Namja yang sangat ia cinta dan rela patah hati.

Bintang-bintang yang masih setia melemparkan sinarnya yang berkelap-kelip tidaklah ikut turut melunturkan perasaan dilema yang dialami yeoja dengan julukan Snow White itu.

Kaget dan terperanjat sebentar saat merasakah kedua jemarinya yang masih saling bertaut dengan jemari Siwon terasa diremas lembut mengantarkan perasaan geli dirongga dadanya. yah, mungkin ini akan menjadi yang terakhir.

Siwon tak pernah lepas memandang wajah cantik Kibum. Namja ini sangatlah tidak rela jika harus mengorbankan hubungannya dengan yeoja didepannya ini. Tapi..baginya, Ryeowook adalah segalanya.

Ia sudah berjanji pada mendiang Umma-nya untuk selalu menjaga Ryeowook dan bersama gadis itu sampai gadis itu bisa bahagia. Siwon adalah namja yang akan selalu menepati janjinya. Dalam keluarga ‘Choi’, seorang namja haruslah menepati janjinya.

Dan yah, Siwon pastilah akan melakukannya, terlebih ini adalah janjinya pada sang Umma tercinta.

Siwon melepas genggaman tangannya sebelah dan beralih memegang dagu Kibum. “Kau tahu ini bukan mau ku”

Kibum menahan nafasnya. Yah, tanpa berkata lebih lanjut pun ia sudah tahu apa pilihan Siwon. Sudah pasti namja itu akan meninggalkannya dan lebih memilih Ryeowook.

“Jangan berpikir bahwa Ryeowook adalah sebuah pilihan. Karena kau harus tahu, bahwa Ryeowook adalah diatas segalanya bagiku”

Nyut~

Hatinya terasa diremas oleh sembilan pedang. Sakitnya begitu tidak tertahankan.

Jawaban Siwon barusan bahkan lebih menyakitkan untuknya.

‘Ryeowook bukanlah pilihan’

Haha, jadi maksudnya Ryeowook jauh lebih berharga dibanding dirinya?

Kibum tertawa miris dalam hati.

“Tapi kau sangat berharga bagiku”

Seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Kibum, Siwon terus-terusan menjawab apa yang menjadi kegundahan hati Kibum.

Mata Kibum tertutup rapat. Secara bersamaan air mata itupun meluncur membasahi pipi Kibum. Dengan cepat Siwon mengapusnya menggunakan ibu jarinya. “Kau membuatku semakin bersalah, Bummie”

Kibum membuka matanya menatap Siwon pada Onyx kelamnya. “Dan kau membuatku sakit, Siwon” jujurnya. Tangannya menyingkirkan tangan Siwon yang memegang dagunya. “Jika pada akhirnya seperti ini, seharusnya dulu aku tidak perlu menjalani hubungan tidak jelas ini,

Seharusnya aku tidak tersakiti sebegini dalamnya jika saja saat itu aku tidak menerimamu, dan juga aku tidak perlu mendengar kata perpisahan yang teramat menyakitkan ini” ujarnya. Kibum sudah tidak peduli lagi dengan apa yang ia ucapkan.

Ia tidak peduli jika Siwon akan menganggapnya Egois atau tidak mengerti keadaannya. Yang jelas rasa sakit dihatinya membuatnya lupa segalanya.

“Maaf, aku egois. Tapi…aku benar-benar tidak bisa melupakan janjiku pada Umma” jelasnya sambil menahan tangis. Kibum kembali melemparkan senyum miris. Ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk sekedar membuat sebuah ruang kosong dihatinya.

“Aku mengerti”

Kibum beranjak dari duduknya dan berjalan kebelakang dengan sambil menangis menatap Siwon yang masih tetap duduk. “Selamat tinggal, Siwonnie Oppa” ujarnya miris.

Siwon tak kuasa untuk tidak menangis. Kali ini ia kembali dibuat menangis oleh seorang gadis selain Umma-nya dan Ryeowook. sungguh, Siwon teramat mencintai gadis cantik itu, tapi rasa sayangnya pada Ryeowook dan juga janjinya pada sang Umma membuatnya harus mengakhiri semuanya.

“Aku mencintaimu, tapi…aku menyayangi Ryeowook dan Umma-ku” lirihnya yang hanya dapat didengar oleh hembusan angin.

Tak mau berlama-lama disana, Siwon beranjak bangun dan berjalan menuju stand miliknya. Yah, setelah Fetival ini berakhir, mungkin ia sudah tidak bisa lagi berdekatan dengan Kibum. Dan ia juga pasti akan menjadi Siwon yang dulu, Siwon yang tidak beda jauh dengan sifat Dongsaeng satu-satunya.

Seseorang keluar dari tempat pesembunyiannya. Seseorang tersebut juga ikut menyunggingkan sebuah senyum miris. Namja dengan pakaian maid bername tag ‘Lee Donghae’ tersebut seperti merasakan berada diposisi Siwon. Meskipun ia tidak mengenal Siwon, tapi ia mengenal baik Kibum—seseorang yang sudah dianggapnya Adik.

Donghae menghembuskan nafas berat. “Aigoo~ semuanya benar-benar terasa rumit. Kenapa harus terjadi hal-hal yang seperti ini” keluhnya.

.

.

.

Ini bukanlah pilihan, tapi ini adalah sebuah janji

Kau mungkin kecewa dengan keputusan ini, tapi percayalah bahwa aku benar-benar mencintaimu~

Dan jika mulai sekarang aku sudah tidak bisa memilikimu, bolehkan aku melihat kau tersenyum?

Dan jika kau sudah tidak bisa memilihku lagi, bolehkah aku memandangimu diwaktu kau tidak melihatku?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Namja evil itu berjalan tegap menuju salah satu gadis yang tengah menundukkan kepalanya dalam. Dalam benaknya ia benar-benar beruntung masih bisa menemuinya. Kilatan bahagia tampak begitu kental dalam pancaran matanya. “Wookie~” memanggil nama sang yeoja dan sedikit berlari kecil mengejar gadis yang ia panggil barusan.

Grep~

“Tunggu” katanya tegas.

Sret!

Dengan kasar dihempaskannya lengan putih pucat sang namja. “Kenapa kau lari, Wookie-ah?”

“Jangan bersikap seolah-olah kau kenal dekat denganku” tukasnya cepat dan tajam. Kyuhyun tertawa kecil mendengarnya. “Seolah-olah kenal dekat? Ck, haruskah aku mengumumkan pada Dunia tentang hubungan kita ini? Agar mereka semua tahu yang sesungguhnya? Huh?”

Mata Ryeowook menyipit tidak suka mendengar perkataan Kyuhyun yang lebih mengarah pada ancaman. “Kau mengancamku?”

“Aku tidak pernah bisa mengancam seseorang sepertimu”

Ryeowook mendengus. Entah kenapa setiap kali ia bertemu dengan namja ini rasanya ia ingin sekali membunuhnya saat ini juga. “Kau sama saja dengan yeoja jalang itu”

Mata Kyuhyun mendadak berkilat tajam dipenuhi amarah. “Jangan pernah membawa-bawa namanya. Kau tidak berhak berkata seperti itu” suara Kyuhyun meninggi. Siapapun yang mendengarnya pastilah akan bergidik ngeri. Oh, tapi jangan samakan Ryeowook dengan orang lainnya. Karena yeoja ini tak sedikit pun gentar akan suara Kyuhyun yang mendadak suram.

Ryeowook menampilkan senyum menyebalkan. “Ya, terserah sajalah. Aku juga tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti kalian” ucapnya sinis dan membalikkan badannya untuk mulai berjalan pulang. Cih, untuk apa berlama-lama disini jika yang ia dapat hanyalah sebuah kesakitan?

“Wookie”

Tap.

“Bukankah sudah ku peringatkan untuk tidak memanggilku seperti itu?”

“Lalu apa, eh? Ryeowook-Noona? Begitu?”

Tangan Ryeowook mengepal kesal. Jujur dalam hatinya gadis ini sudah teramat menyumpahi Kyuhyun. “Jadi benar? Aku harus memanggilmu dengan sebutan, Noona?” diulangnya kembali pertanyaannya hingga semakin membuat gadis mungil yang berdiri memunggunginya kesal setengah mati.

Kyuhyun tahu jelas bahwa gadis itu pastilah sedang marah. “Kalau kau mau marah, silahkan saja. Tidak perlu ditahan seperti itu”

Ryeowook akhirnya menoleh kesamping dan tidak sampai kebelakang. “Marah padamu hanya membuang-buang energi ku saja” menjawab santai seolah-olah semua baik-baik saja. Well, Choi Ryeowook bukanlah gadis yang mudah tersulut emosi dan memiliki batas kesabaran yang minim, gadis ini benar-benar membuang jauh-jauh hal-hal yang seperti itu.

Ryeowook baru saja akan melangkah menjauh tapi sebuah suara menginterupsi langkahnya. “Ryeowook?”

Ryeowook menoleh kebelakang dimana suara itu memanggilnya. Ia sudah tahu betul pemilik suara ini adalah namjacingunya sendiri. Dengan memasang muka datar ia hanya menanggapi panggilan Yesung lewat tatapan datarnya.

Kyuhyun ikut menoleh kebelakang dimana Yesung yang kini sedang berlari-lari kecil menghampirinya..akh ani! Maksudku menghampiri Ryeowook karena ternyata Yesung berlari melewatinya begitu saja.

Kyuhyun menelan ludah keluh melihat Yesung yang dengan cepat mengecup kening Ryeowook sayang. Tak mau berlama-lama disana karena kehadirannya yang juga sepertinya tidak diharapkan akhirnya ia memilih berbelok arah menjauhi kedua insan tersebut.

.

.

.

Apa yang kau harapkan dari seseorang yang bahkan tidak sedikitpun mau memandangmu?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Yesung tersenyum sumringah dengan pandangan kedepan memperhatikan jalanan didepannya. Ia masih terus mengumbar senyum tanpa sedikit pun memperhatikan raut wajah Ryeowook yang muram. “Malam ini Oppa menginap dirumah mu, ne?”

Ryeowook hanya mengangguk meng-iya-kan. sudah tidak kaget lagi sih jika kedua orang ini sering tidur bersama mengingat keduanya memang sudah kenal sejak kecil dengan baik. Bahkan orangtua Yesung pun setuju-setuju saja jika memang Yesung nantinya akan menikah dengan Ryeowook.

“Siwon menyuruh Oppa untuk menginap dirumah dan menjagamu, kau harusnya mengucapkan ‘terimakasih’ padanya” suruhnya pada Ryeowook.

Sekali lagi Ryeowook tidak menimpali omongan Yesung membuat namja bermata Obsidian mau tak mau menoleh kepadanya. “Ada masalah?”

“Tidak”

“Kenapa sedaritadi diam terus?”

“Tidak apa-apa” jawabnya singkat. Yesung mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. Iya yakin 100% bahwa Ryeowook pasti sedang ada masalah, tapi….apa?

Tak mau berpikir yang tidak-tidak ia akhirnya lebih memilih bungkam dan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.

.

.

.

Yesung menghempaskan tubuhnya begitu saja diranjang empuk Ryeowook. ia bahkan hanya tersenyum saja memperhatikan wajah datar Ryeowook. akh~ sudah berapa lama ya ia tidak tidur dengan gadisnya itu, mengingat akhir-akhir ini ia sangat sibuk. “Baby~”

Ryeowook yang sibuk menaruh jacket tebalnya pada Hanger yang berada di-almarinya hanya diam dan tak menimpalinya.

Kesal karena sedari tadi ia diabaikan akhirnya ia pun bangun dari ranjang empuknya dan dengan tiba-tiba memeluk  pinggang langsing Ryeowook. gadis mungil itu menegang sebentar sebelum akhirnya kembali diam. “Hei, kau ada masalah apa, hm?” bertanya dengan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Ryeowook.

Ryeowook melepas lengan Yesung yang bertengger dipinggangnya. “Aku mau ganti baju” katanya final dengan memasuki kamar mandi. Yesung kembali dibuat tidak mengerti dengan sikap Ryeowook. hah~ menarik nafas berat dan kembali menidurkan tubuhnya diranjang empuk.

Mata obsidian kelam itu mengelilingi keadaan kamar Ryeowook. ia tersenyum kecil kala mendapati sebuah lukisan besar dimana lukisan tersebut adalah gambar dirinya dan Ryeowook yang dibuat sekitar 1 tahun yang lalu.

Humm~ ia rindu saat-saat seperti itu.

Matanya kembali mengelilingi kamar bercat Ungu milik gadis-nya. Dan indra penglihatannya itu berhenti tepat pada lantai dimana terdapat sebuah ponsel genggam milik Ryeowook. Yesung bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana bisa ponsel itu ada dilantai? Apa Ryeowook sengaja membuangnya? Tapi kalau membuangnya kenapa tidak langsung ke tempat sampah saja?

Tak mau mati penasaran akhirnya ia mengambil ponsel genggam itu. Tangan mungil untuk ukuran seorang namja miliknya mengotak ngatik ponsel itu mencoba membukanya. Setelah terbuka mata Yesung melotot melihat gambar yang terpampang jelas didepannya. Tangannya dengan gemetar menggeser tombol navigasinya kesamping dan hasilnya adalah sama.

Menampilkan foto dimana ada dirinya dan Eunhyuk.

Yesung mengacak rambutnya gemas. Jinja….pasti Ryeowook sedih melihat ini semua. Tapi….demi Tuhan, ini hanyalah sebuah salah paham. Yesung merutukki siapa saja yang sudah berani mengambil gambarnya.

Tidak. Ini tidak bisa dilanjutkan. Ia harus menceritakan yang sebenarnya pada Ryeowook. Ryeowook tidak boleh salah paham.

Ceklek~

Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan seorang Ryeowook dengan baju tidur bermotif kura-kura lucu. Yesung memandang Ryeowook memelas. Ryeowook yang merasa ditatap hanya balas menatap Yesung. “Kau mendiamkan Oppa karena ini?” menunjukkan ponsel Ryeowook.

Ryeowook tertegun. Gadis itu mematung ditempat.

Dengan segala perasaan bersalah yang menyarang dirongga dadanya akhirnya Yesung mendekati Ryeowook. sebelah tangannya memegang pipi tirus Ryeowook. “Jangan katakan kau memata-matai Oppa”

“Aku mendapatkannya dari seseorang yang tidak aku kenal. Tidak ada gunanya bagiku memata-matai kekasihku sendiri. Itu tindakan memalukan bagiku”

Yesung menutup matanya sejenak. “Tidak peduli siapapun orang yang sedang usil mengirim foto ini padamu, yang pasti kau harus percaya pada Oppa bahwa ini tidak seperti yang terlihat”

Ryeowook menepis tangan Yesung dipipinya. “Aku tidak tahu harus percaya pada siapa” bisiknya lirih dan duduk ditepi ranjang lalu diikuti Yesung. “Kau harus percaya pada Oppa, Wookie”

Ryeowook tersenyum sangat tipis. “Aku mencoba untuk tetap mempercayaimu Oppa, tapi…melihat ekspresimu yang begitu bahagia…sepertinya apa yang aku rasakan akhir-akhir ini akan menjadi kenyataan”

“Kau bercanda. Kau sendiri kan yang bilang dulu bahwa kau akan selalu percaya dengan apa yang Oppa katakan dan kenapa sekarang kau justru begini—“

“—Aku hanya akan percaya padamu jika bukti yang aku dapatkan hanyalah sebuah lembar kertas ataupun hanya sekedar kabar simpang siur. Tapi….hari ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri” Ryeowook berujar dengan pelan dan terkontrol tapi terdengar menyakitkan untuk namja disampingnya.

“Kau sudah berjanji untuk tidak terlalu dekat dengannya ‘kan? tapi…kau mengindahkan perkataanku”

Yesung menganga lebar. “Oppa hanya berteman dengannya, Baby~”

“Semua orang sudah pasti bisa melihat bagaiaman pancaran mata Oppa yang terlihat begitu tertarik dengan yeoja blonde itu, begitupun sebaliknya” tutur Ryeowook cepat kembali memukul telak ucapannya.

Ryeowook menggigit bibirnya kuat. “Jika kau memang lebih nyaman padanya, pergilah. Aku…tidak keberatan”

Jleb!

Dunia Yesung seperti berputar. Namja tampan itu tidak menyangka bahwa Ryeowook akan mengeluarkan kata-kata yang membuatnya hancur. Tidak, ia tidak mungkin bisa meninggalkan Ryeowook. tidak bisa.

“Hentikan pembicaraan tidak berguna ini. Aku mencintaimu, dan selamanya akan begitu. Kau dengar itu Choi Ryeowook”

Berakhirnya dengan perkataan itu Yesung berjalan mengambil bajunya yang ada di almari Ryeowook dan masuk kedalam kamar mandi dengan sebuah amarah yang memuncak.

What the hell?

Apa Ryeowook ingin melihatnya mati berdiri, huh?

Ryeowook tertegun mendengar nada marah Yesung. Ia tidak mengerti dengan Yesung. Namja itu…seperti tidak mau meninggalkannya tapi…terlihat tidak nyaman dengannya. Ryeowook merasa seperti orang bodoh.

Ia tidak paham akan kemauan Yesung. Bukankah sudah sangat jelas kalau Yesung lebih nyaman dengan yeoja blonde itu, bukankah jika Yesung sedang dengan Eunhyuk, ia akan terus bahagia. Jadi…kenapa ia harus marah jika melepaskannya?

Ryeowook tertawa miris. “Kau…mengasihaniku, eh?” sinisnya yang tidak diketahui oleh orang lain selain dirinya sendiri.

.

.

.

Dikasihani oleh orang yang kita cinta itu pasti rasanya sangat menyakitkan ‘kan?

Tapi benarkah apa yang ada dalam pikiranmu kali ini adalah kebenaran?

Berdo’a-lah bahwa semuanya hanyalah sekedar pikiran naif mu saja

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

TBC^^

183 thoughts on “(GS/Chater) We Don’t Leave You!! ~03

  1. chapter 3 nya baguus… sumpah sedih banget kalo jd ryewook, sampe matanya berlinang gini, kyu itu saudara tirinya? atau apanya? jadi kepo.. kayaknya cinta begitu rumit disini hehe

  2. aaa~ ryeong oppa, yg sabar yaa. duuh ~~ liad ryeong oppa skit hti kya gtu , aku jg terasaa😥
    moga2 aja ada kyuwook sama haewook moment di chap brkutnya😀
    jd penasaran sama chap berikutnya eon. tp di protect T.T
    blh mta password nya kan eon?🙂

  3. ahh siapa yg ngirim fto yesung ama hyuk ..
    aigoo wookie keliatan sedih bgt..
    siapa cwo yg nerima duit itu apa dya jg yg ngirim tuh fto yg wookie tpi spa cwe yg ngasih duit itu knp dya keliatan bnci bgt ma wookie ..
    n disini kya nya donghae tau cwo yg ngirim fto tuh ke wookie ..
    kisah hidup wookie dri umur 9 tahun kyanya menyedihkan bgt smpek heechul aja sedih ..
    siwon ama kibum putus apa siwon bsa deket lgi ma wookie .. ?
    aigoo knp sih yesung sikap nya msih baik ke hyuk kn jdi perdebat ma wookie lagi apa hubungan nya ma yesung bakal makin besar masalah nya ..
    penasran lanjutan nya ..

  4. God Job Author-shi!
    Ceritanya bagus,alurnya juga enak. Gha terlalu cepet juga gha lambat.

    Tapi ada beberapa yang bkin aku kurang srel. #maaf

    Masalah tanda baca yang kurang tepat menurutku rada menganggu.

    Misal

    Bagaimana bisa ia tidak sakit
    hati saat melihat gambar yang
    seperti itu?. Yeoja

    Nah setauku kalo abis tanda tanya ataupun seru itu tidak ada titik.

    Terus juga yang soal abis tanda titik itu banyak yang masih menggunakan tanda kecil,entah itu yang typo tanda bacanya atau hurus setelah tanda bacanya.

    Hehehe ~ ~ Maaf ya,bukannya mau menggurui ko’

    Oia,aku baru review di Chap ini,maaf ya. Awalnya bca di ffn,eh pas mau bca ulang disini,aku kesusahan ngubek” ch awlnya,jadi langsung bca ch ini dehh.

    Kekekeke ~

  5. ada apa ma KyuWook sebenarnya? siapa yg ngirim foto ke Wookie? jgn bilang itu Kyu yg sekongkol ma Baro… Apa motifnya Kyu? klo Chulie tau knpa diem aja?
    ah.. Jinjja! Nappeun namja… Yesung nyakitin Wookie mulu, katanya iyain g akan dket ma Hyuk, nyatanya mpe dilihat Wookie lagi,..😦
    Wookie dah relain Oppa,, marah karna tau salah eoh, dah nyakitin Wookie lagi, ah… jinjja nappeun…
    April Pw chap 4, jebal…

  6. wooaahh ryeowooknya bener2 out of character, tp aku suka apalagi ini yewook hehe😀
    ini bakal awal dari kesakitan ryeowook nih, yesungnya juga mulai mengabaikan ryeowook kan kasian ryeowooknya😦
    maaf banget ya baru bisa review sekarang aku baru bikin blog hihi
    boleh minta pw chap 4 ga thor?

  7. dichapter ini bener2 bikin aku banjir air mata T.T
    sedih banget tau ryeowook segitu menderitanya..
    kyuhyun suka ya sama ryeowook? kan udah punya sungmin
    wah donghae mulai ngedeketin ryeowook tuh, semoga aja ryeowook beneran bisa berkeluh kesah sama dia😀

    aduh aku review ch 1 sampe 3 disini aja gapapakan?
    aku boleh minta pw ch4 nya ga thor?
    sekali lagi maaf banget baru bisa review sekarang🙂

  8. Daebak….nich chap bnr2 bisa bikin hati ikut sedih…kyuhyun sbnrny pernh pny hub ap sech 5 wookie???jd penasaran….

  9. annyeong… reader baru ni …
    suskes udah buat air mataku keluar. nyesek rasanya. ngerasa seperti ada diposisi ryeowook soalnya karakter ryeowook kena di aku. sebegitu menyedihkannyakah orang yang kesepian ?
    jd makin penasaran sama chapter 4 nya. bagi pw nya dong eonnie..

  10. wajar kalau ryeo sakit hati sama trauma , siwon oppa kenapa bisa lupa sama adiknya kasian ryeo , yesung oppa juga udah berubah ga kaya dulu lagi hadirnya orang ketiga bikin suatu hubungan berubah … ryeo jangan sedih😦

  11. ohh di chapter ini cerita sedih bnget 😥 kasihan wookie gk ad yg ngerti ma perasaan ny dan jg dia rela ngelepas yesung buat orng lain yg tk lain musuh ny sndiri sumpah q aj yg bca smpai mau nangis huhh sabar wookie don,t cry 🙂

  12. annyeong, aku reader baru kyuwook shipper 😁😁
    ceritanya menarik aku suka, banyak rahasia2 yang membuat penasaran para pembaca. Tata bahasanya juga bagus tidak monoton.
    Kalau baca chaper ini partnya siwon yang khawatir sama wookie. Jadi keinget gue sama abang gue 😂😀

  13. chapter 3 sedih banget.. jadi penasaran dgn perasaan yesung
    apa dia diam* menyimpan perasaan dgn eunhyuk
    makin penasaran dgn hubungan kyu dan wookie
    dan sepertinya heechul tau hubungan antara kyu dgn wookie
    Siwon.. kau rela mengorbankan cintamu demi adekmu.. kau kakak yg sangat baik bang
    Seru bgt ceritanya.. emosinya dapet banget

  14. ryeowook rapuh sekaliiiiii terlalu rapuh, terlalu sakit sama semua kejadian yg di dapetnya, saking sakitnya sampe kebas hati nya hiks yesungggggg plis jangan bikin wookie tambah hancur dari sebelumnya hueee~~

  15. Ini bener2 ngebuat perasaanku campur aduk… aku tau gmna prasaan ryeowook, pasti nyeseek bnget dihati apalagi klau airmata gk bisa jatuh gitu… kaya nya ini ada hubungannta dng cho kyu deh… aaah penasaran kereen kereeen fightiiiing !!!!

  16. chapter ini bnr2 memporakporandakan perasaan…
    di saat mata ingin menangis namun air mata tak kunjung keluar rasanya sangat menyakitkan pemirsa…
    pasti sangat menyakitkan berada di posisi ryeowook…

  17. Daebak chapter ini bikin aku nangis !! Ngebayangin kalau aku ada di posisi ryeowook nyesek nya minta ampun .. T_T
    Siapa yg kirim foto itu ma ryeowook ?? Trus apa hubungan nya kyuhyun ama ryeowook ??
    Daripada penasaran mending lanjut baca chapter selnjut nya ..

  18. Keren bngt ff nya… 👍 baca ff ini dapet bngt feel. Gk tau mau komen apa lagi pokoknya suka bngt sama ff :3
    Dan.. boleh minta pw chap 4 nya author ?

  19. ya ampun kesian wook huhu (nngis)..
    itu yesung bikin bete dehh ,,, gk bsa bedain perasaan kagum sma cinta .. duhhhhh

    boleh minta pasword chap 5 kak ?? terimakasih

  20. Bnarkah Handsome cho suka ma baby wook ? Terbawa suasana ff ini sdih tingkat maksimal,,hiks
    knpa ku berpikir lou yg ngirim gmbr itu handsome cho,,,,
    ijin bca lgi eon

  21. Bnarkah Handsome cho suka ma baby wook ? Terbawa suasana ff ini sdih tingkat maksimal,,hiks
    knpa ku berpikir lou yg ngirim gmbr itu handsome cho,,,,
    ijin bca lgi eon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s