(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 06

Tittle : We Don’t Leave You!!

Chapter : 6

[[ phiphohBie ]]

Author : Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YeWook

Yewook’s NOT MINE!! But, ‘We Don’t Leave You!!’ purely IS MINE..^^

.

.

.

Enjoy!!

.

.

.

Melihat gadis kecil itu yang menangis kehilangan Ibu nya membuatnya sedikit tersenyuh kala air mata itu jatuh membasahi pipinya.

Melihatnya yang terduduk diam seperti mayat hidup saat satu-satunya orang tuanya―Ayahnya―menikah lagi membuatnya jadi bersimpati dengannya.

Melihatnya yang selalu termenung sendirian tanpa teman, tanpa sadar menggugah hatinya untuk memulai berteman dengannya.

Perasaan kasihan karena gadis kecil itu yang tak pernah tersenyum perlahan tumbuh dalam hatinya. membuatnya mengucapkan sebuah janji yang mana akan selalu bersamanya, menjaganya dan menjadi satu-satunya orang yang akan melindunginya sampai akhir hayat.

“Ryeowookie~ Oppa berjanji akan selalu melindungimu sampai mati.” ucapnya dengan tangan yang membelai lembut pipi sang gadis bernama Choi Ryeowook.

Mata Caramel redup yang memandang lurus dan kosong kedepan sana perlahan menemukan seberkas Cahaya. Membuat matanya yang awalnya redup kini berangsung-angsur cerah secara perlahan.

Berkas Cahaya itu seperti memberi kehidupan baru baginya. Kehidupan penuh harapan. Kehidupan yang dimulai dari sebuah janji.

Tanpa ia tahu bahwa janji itu terucap karena sebuah rasa ‘Kasihan’.

Namja kecil itu tersenyum hingga kedua matanya menyipit membentuk sebuah bulan sabit yang indah saat melihat senyum indah Ryeowook.

.

Yesung mendengus frustasi. Matanya berulang kali berkilat tajam dan berangsur-angsur melembut, menajam lagi dan kembali dengan tatapan sendu.

Mata sehitam gelapnya malam itu sedikit berembun memikirkan gadisnya. Gadisnya yang kini sudah pergi meninggalkannya. Tanpa ucapan, tanpa salam, tanpa pemberitahuan dan tanpa pamit.

“Dia sudah pergi, Hyung.”

Sederet kalimat pendek yang meluncur dari bibir joker sang Oppa―Choi Siwon―membuatnya dengan tiba-tiba saja lemas.

Ia merasa nyawanya menghilang.

Ia merogoh dada bagian dimana letak hatinya berada.

Dan ia masih menemukan detakan dalam jantungnya.

Apa ia masih hidup?

Lalu kenapa rasanya seperti mati saja saat mendengar bahwa Ryeowook telah pergi?

“Wookie~”

Bibir tipisnya menggumam pelan menyebut nama sang gadis yang kini sudah pergi. Tenggorokannya tercekat hingga ia seperti kehilangan kata-kata bahkan hanya untuk menanyakan dimana gadis itu pergi.

Saat itu langkah kakinya hanya mampu membawanya berlari menuju kediaman keluarga besar Choi. Dan ia menemukan rumah itu sepi. Tidak. Bukan sepi karena tidak ada orang. Melainkan sepi karena gadis mungil itu sudah tidak ada dirumahnya.

Dadanya bergemuruh begitu kuat hingga tanpa sadar menyebabkan sebuah denyutan sakit dihatinya.

Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Tapi….apa?

Yesung mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berulang kali menghempaskan tubuhnya ke ranjang King Size miliknya tapi itu tetap saja tidak membuatnya tertidur.

“Dia menganggap bahwa selama ini kau bersamanya karena janjimu dulu padanya”

“Dia mengira kau hanya mengasihaninya selama ini”

Yesung meringis mengingat untaian kata-kata yang diucapkan oleh Heechul padanya. Ia tidak tahu bahwa Ryeowook bisa berpikir sedalam itu. Ia juga tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa Ryeowook bisa memiliki pemikiran yang sangat menyedihkan akan dirinya sendiri.

Karena selama ini yang Yesung tahu, Ryeowook adalah sesosok gadis yang hanya akan menatap kedepan dan tidak peduli akan masa lalu. Karena selama ini yang Yesung tahu bahwa Ryeowook sudah mengubur masa lalunya.

Dan sekarang Yesung merasa begitu bodoh akan dirinya sendiri yang hanya bisa meratapi kesedihannya seorang diri.

Termenung didalam kamarnya yang gelap gulita.

Tanpa cahaya.

Tanpa seorang teman.

.

.

.

Kau akan mengerti seberapa pentingnya dia bagimu ketika ia sudah pergi dari dirimu~

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Kyuhyun diam dengan pandangan datar memandang Sungmin. Dark brown miliknya menyorot penuh pada sesosok gadis berjuluk kelinci itu. Ia hanya mampu berdiri tegak dengan tangan yang mengepal erat.

Bahkan saat gadis itu sudah memukul dadanya berulang kali dengan kepalan tangannya yang sedikit kuat, ia masih tetap setia diam dan seolah menyilahkan Sungmin untuk memukulnya sepuasnya.

Karena ia sadar bahwa pukulan yang diberikan Sungmin bukan apa-apa untuknya jika dibandingkan dengan sakit yang diterima Sungmin.

“Kenapa kau berbohong..hikz”

Buk..Buk..Buk..

“Padahal..hikz..aku sudah..hikz percaya padamu..hhh”

Buk..Buk..Buk..

“Aku sudah sangat..hikz..men-hikz..mencintaimu”

“…………….”

“Hikz..hhh..kenapa Kyu, KENAPA?”

Kyuhyun menutup matanya dengan lembut saat telinganya menangkap teriakan frustasi dan penuh kesakitan yang keluar dari bibir berbentuk ‘M’ itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Sungmin mau berhenti menangis.

“Maaf~”

Sungmin menatap Kyuhyun dengan padangan mata yang terlihat begitu lelah. Tangannya masih setia memegang kedua lengan Kyuhyun yang dijadikan tumpuhan olehnya untuk berdiri. Nafasnya tak beraturan seperti habis lari marathon.

Bibir ‘M’ miliknya tersenyum miring yang lebih mirip dengan senyuman miris mendengar kata maaf dari namjacingunya?

Oh, namjacingu? Masih pantaskah Sungmin menganggap seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya sebagai yeojacingunya?

Sret.

Bruk.

Sungmin merosot jatuh dan terduduk ditanah. Air matanya terus saja mengalir dan tidak mau berhenti. Ia memegang dada bagian kirinya. “Aku sudah..hh…sangat mencintaimu..hikz” ucapnya lagi dengan isakan yang menyelinginya.

“Maafkan aku, Min” Kyuhyun berujar pelan dengan masih pada posisi berdiri. “Kenapa kau begitu jahat padaku, Kyu?” tanyanya dengan nada yang teramat memilukan. “Aku tidak bermaksud begitu”

“Lalu bagaimana maksudmu?”

Sungmin kembali berujar lantang dan menatap tajam Kyuhyun. “Aku hanya tidak ingin menyakitimu”

Sungmin tertawa sumbang akan alasan yang diberikan oleh Kyuhyun. “Tidak akan menyakitiku? Lalu bagaimana dengan sekarang?”

“…………….”

“Pada akhirnya kau menyakitiku, ‘kan?”

Kyuhyun memandang Sungmin dengan pandangan yang penuh penyesalan. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk membuat gadis kelinci ini menangis. Hanya saja dulu―saat Sungmin memintanya untuk menjadi namjacingunya―ia tidak ingin menolak gadis ini dan membuatnya menangis. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menerimanya.

“Sekarang aku tahu. Bahwa ini adalah alasanmu kenapa selama ini kau tidak pernah mengucapkan ‘Aku mencintaimu’ kepadaku” Sungmin tersenyum kecut mengingat semuanya.

Gadis bertubuh montok ini merutukki segala kebodohannya selama ini yang selalu menganggap bahwa Kyuhyun benar-benar mencintainya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang dulu bertindak gegabah tanpa memperdulikan hati Kyuhyun―yang sebenarnya telah lama sudah menjadi milik orang lain.

“Kau mencintai Ryeowook sudah lama, ‘kan?”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak aku melihatnya di sekolah menengah pertama”

Sungmin mengangguk mengerti. “Cinta pertama, eh?” bertanya sinis. “Ya.” Kyuhyun menjawab jujur. Hati Sungmin seperti hancur dan tidak berbentuk lagi. Ia mengelap air mata yang baru saja akan kembali membasahi pipinya. Ia juga mengusap sisa-sisa air matanya.

Sudah cukup.

Ia tidak mau lagi menjadi gadis bodoh yang masih saja mengharapkan cinta dari seorang pria yang bahkan sama sekali tidak mencintainya.

Ia tidak mau lagi menangisi seorang pria yang tidak mencintainya.

Ia hanya ingin mencintai dan dicintai.

“Terimakasih.”

Sungmin berlari pergi meninggalkan Kyuhyun yang kini berdiri mematung.

Kyuhyun tertunduk dalam diam. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal dengan erat. Hatinya bergemeletuk begitu keras. Kyuhyun begitu kalut saat ini. Di satu sisi ia hanya ingin semua kebohongannya berakhir, tapi di sisi lainnya ia benar-benar tidak ingin Sungmin tersakiti olehnya. Meskipun pada kenyataannya ia sudah menghancurkan hati Sungmin.

“Aku tidak menyangka bahwa ternyata kau adalah saudara tiri, Ryeowook”

Kyuhyun mulai mengangkat kepalanya ketika suara seseorang dari arah depan tertangkap telinganya. Namja jangkung ini hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya pada sang namja berjuluk Ikan itu. “Kau sudah tahu?”

“Ya, setelah tidak sengaja mendengar percakapanmu dengannya tadi” aku Donghae jujur. “Jadi kau menguping?” tuduh Kyuhyun pada Donghae dengan nada jahil yang sebenarnya terdengar begitu garing. Donghae hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Terserah kau mau menganggapku menguping, penguntit atau apapun itu. Yang jelas aku hanya sedikit terkejut tadi saat mengetahui yang sebenarnya,” Donghae berjalan santai dengan tangan diatas kepala menuju Kyuhyun.

“Aku bingung kenapa margamu tetap ‘Cho’, padahal kau sudah menjadi bagian dari keluarga Choi yang kaya raya itu.” Lanjut Donghae saat mengetahui kebingungan namja jangkung dihadapannya itu. Donghae menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.

Manik mutiara hitam indah itu menatap datar Kyuhyun yang kini hanya bisa tersenyum kecut. “Aku…sebenarnya ini bukan keinginanku untuk menjadi keluarag Choi. Awalnya aku menentang keras ini semua. Hanya saja Ibu ku…” Kyuhyun menggantung kalimatnya.

Donghae mengangkat tinggi sebelah alisnya, menanti kelanjutan ucapan dari Kyuhyun. “Aissh~ intinya aku hanya tidak ingin menggunakan marga ‘Choi’, aku hanya ingin tetap menjadi seorang ‘Cho’” Kyuhyun berseru keras dengan tangan yang mengacak gemas rambut ikalnya.

Donghae manggut-manggut. Tangan sebelah kanannya terangkat menyentuh pundak Kyuhyun. ia menepuk-nepuk lembut pundak itu―khas seorang teman yang memberikan ketenangan pada sahabatnya. “Aku rasa hal utama yang menjadi alasanmu kenapa tidak mau memakai marga itu karena kau masih berharap untuk dapat bersatu dengan Ryeowook.”

Dark brown Kyuhyun membulat sempurna. Ia memandang Donghae terkejut yang kini sudah berbalik badan dan berjalan dengan tangan kiri yang terangkat ke atas melambai padanya serta tangan kanan yang di masukkan kedalam saku celananya.

Kyuhyun mendengus keras melihat aksi santai dari namja tampan itu. “Cih. Dia itu benar-benar seperti peramal,” Kyuhyun menggerutu pelan dengan mengikuti langkah kaki Donghae didepan sana. “Selalu mengerti isi pikiranku.” Lanjutnya lagi.

Oh, jadi benar, Kyu! Kau memang mengharapkan Ryeowook menjadi milikmu?

.

.

.

Eunhyuk berjongkok dengan kedua belah tangan yang menutupi wajahnya. Ia menangis sendirian dibelakang stand miliknya. Tidak ada yang mengetahui bahwa gadis kurus ini kini sedang menangis. Ia juga sebenarnya tidak ingin ada orang lain yang mendengar tangisnya.

Dengan menggunakan kedua belah tangannya ia mencoba sekuat tenaga untuk meredam tangisnya. Gadis dengan Gummy smile-nya ini terlihat begitu menyedihkan dengan wajah sembab miliknya. Ia yang tadinya begitu bahagia karena bisa memiliki Yesung, ternyata kini harus siap menelan kenyataan pahit.

Ia ditinggalkan begitu saja saat Yesung mendengar kebenarannya―bahwa Ryeowook memang pergi―oleh Siwon.

Eunhyuk menggigit bibirnya kuat. Hatinya berdenyut sakit mengetahui bahwa Yesung benar-benar lebih memilih untuk mengejar Ryeowook daripada dia. Ia sendiri tidak menyangka bahwa gadis kuat―menurutnya―seperti Ryeowook bisa memilih jalan yang seperti ini.

Memilih jalan untuk mengalah dan meninggalkan Yesung pergi.

“Kau menangis?”

Eunhyuk menegang ketika mendengar sebuah suara halus menginterupsi kegiatan menangisnya. Dengan pelan ia membuka kedua belah tangan yang menutupi wajah sembabnya lalu mendongak ke atas dimana sang pemilik suara itu kini berdiri.

Air mata itu tidak bisa lagi dibendung ketika melihat Donghae yang kini justru tersenyum manis didepannya. Entah kenapa perasaannya menghangat saat melihat senyum menawan itu. Senyum yang sejak dulu terlihat begitu menenangkan untuknya. Senyum yang bisa menghapus segala gundahnya.

Eunhyuk mengulurkan tangannya menerima uluran tangan Donghae yang seolah memintanya untuk berdiri dengan senang hati.

Grep~

Eunhyuk memeluk Donghae dengan erat. Menyembunyikan tangisnya dalam dada bidang hangat milik namja tampan itu. Memeluk seerat mungkin hingga Donghae bisa merasakan betapa sesaknya pelukan itu.

.

.

.

Donghae mengerlingkan matanya pada jam tangan yang dikenakannya. Jam itu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Dan sampai detik ini Eunhyuk belum juga mampu menutup matanya. Gadis itu masih saja duduk terdiam dan termangu dengan kedua lutut didepan dada. Kedua tangannya mengalung.

Matanya menyorot datar dan penuh kesedihan ke arah depan. Gadis dengan kulit putih dan berambut blonde tersebut terlihat sangat menyedihkan dimata Donghae. bibirnya yang berwarna merah kini tampak pucat seperti mayat hidup.

Jejak-jejak air mata di pipi putihnya bahkan masih saja jelas terlihat. Donghae hanya bisa menghela nafas berat melihat gadis cantik ini. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan lagi selain ikut duduk disampingnya dan menemaninya hingga lelah.

Bukankah Donghae pria yang baik?

Festival pembukaan musim panas sudah berakhir tadi malam. Stand milik Yunho CS keluar sebagai pemenang dengan perolehan laba yang sangat tinggi. Dan besok pagi mereka sudah akan kembali ke rumah masing-masing.

 “Hyukkie~ sebaiknya kita masuk―”

“―Aku seperti berada ditempat yang begitu gelap,” Eunhyuk memotong perkataan Donghae. “…sangat dingin dan perasaanku tidak menentu,”

Donghae memperhatikan wajah cantik itu dengan lekat-lekat. Telinganya masih bisa merekam dengan jelas perkataan Eunhyuk barusan. “3 jam aku terduduk sendirian dibelakang stand dan menangis….itu terasa sangat menyesakkan, Hae.” Ujarnya lagi.

“Apa selama ini Ryeowook berada ditempat seperti itu?” bertanya pada dirinya sendiri. Donghae masih tetap diam. Manik mutiara hitam itu tak sedikit pun lepas dari wajah cantik Eunhyuk.

“Sendirian seperti didalam sebuah kotak―”

“―Hyukkie…”

“―tidak dapat menemukan jalan keluar, tidak ada teman, dingin, gelap, dan hanya bisa menangis seorang diri.” Eunhyuk masih terus saja mengeluarkan suaranya dan tak menggubris Donghae yang memanggilnya.

“Itu pasti sangat menyesakkan. Iya, kan Hae?” kali ini Eunhyuk memalingkan wajahnya guna menatap Donghae tepat pada matanya. Donghae hanya memberikan senyumnya untuk Eunhyuk. Pria dengan surai hitam legamnya itu membawa kepala Eunhyuk untuk tidur dibahunya.

“Tidurlah~~” titahnya lembut dengan tangan yang mengelus sayang surai blonde itu. Bibir Donghae menggumamkan sebuah lagu Lullaby pengantar tidur untuk Eunhyuk.

Yah, setidaknya ia masih dibutuhkan oleh Eunhyuk. Meskipun ia hanya dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah untuknya, tapi toh Donghae tidak keberatan.

.

.

.

Ketika kau mulai belajar untuk melihat bagaimana sulitnya berada di posisi orang lain, maka kau akan sadar betapa kau harus bersyukur akan kehidupan mu yang berada di posisi menyenangkan selama ini~

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Pagi itu adalah pagi terburuk yang pernah dilalui oleh Kim Jong Woon selama ia hidup didunia ini. Pagi yang terasa begitu menyesakkan untuknya. Membuatnya ingin sekali lari dari pagi ini. Membuatnya muak saat harus mengakui bahwa ia sedang dalam keadaan kacau.

Yesung mendengus keras dengan keadaan tubuh yang masih sibuk bergulung dibawah selimut tebal miliknya. Tangannya menyambar jam waker yang ada dimeja nakas miliknya lalu melemparnya asal hingga bunyi nyaring yang begitu memekakkan telinganya berhenti.

Namja bermata sipit tersebut menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian kepalanya. Didalam selimut tebal itu Yesung termenung. Mata sipitnya memandang nanar keatas―selimut tebal yang menutupi wajahnya.

Bayangan wajah Ryeowook yang menangis kini mengisi angan-angannya. Ia berpikir, bagaimana jika Ryeowook dalam keadaan tidak baik-baik saja, bagaimana jika Ryeowook harus bertahan dalam kesedihannya seorang diri, bagaimana jika Ryeowook harus menatap dunia ini sendirian, bagaimana jika―

“Arrrrgghhh~!!”

―Yesung berteriak kencang sembari menghempaskan selimut itu tak tentu arah.

Kamarnya yang selalu terlihat rapih kini sudah tak berbentuk lagi. Barang-barang miliknya yang awalnya tertata rapih diatas meja nakas kini sudah berpindah tempat menjadi berserakan dilantai. Intinya semalam Yesung baru saja mengamuk hebat.

Ponsel miliknya pun tak luput dari sasaran amukannya.

Akh~ ingatkan Yesung untuk membeli ponsel baru.

.

.

.

“Kau memintanya untuk tidak pergi, tapi kau justru mengomporinya dengan mengatakan hal-hal buruk tentangnya dan membandingkannya dengan Hyukkie,” Donghae memperhatikan wajah Kyuhyun yang kini justru tersenyum tipis.

“Serius, aku benar-benar tidak mengerti dengan maksudmu. Jika kau ingin menahannya untuk tetap tinggal seharusnya kau membujuknya baik-baik, bukannya malah membuatnya menangis dan menamparmu seperti semalam.” Lanjut Donghae dengan nada berapi-api karena menuntut segala perbuatan yang dilakukan pada Ryeowook semalam.

Kyuhyun menguap bosan akan segala ocehan Donghae yang menurutnya sangat berisik. Dan, oh, ia bahkan dengan rela bangun pagi-pagi hanya karena namja tampan didepannya itu. Lalu sekarang ‘hal penting’―yang menjadi alasan Donghae mengajaknya bertemu di pagi buta seperti ini―ternyata menyangkut soal gadis mungil yang kini sudah pergi dari Seoul.

Donghae mendengus keras melihat Kyuhyun yang tak kunjung menjawabnya. “Jadi?” ulang Donghae yang kini bertanya dengan nada yang sedikit santai. Kyuhyun menyeruput cappucino miliknya sebelum ia memulai pembicaraan.

“Alasan pertama karena aku tidak ingin ia terlalu tertekan.”

a-apa?

Tidak terlalu tertekan?

Dengan membandingkannya dengan Eunhyuk, lalu menceritakan tentang masa lalu kelamnya, mengejeknya sebagai anak yang kesepian dan kurang kasih sayang dan bla bla bla, kau anggap itu agar ia tak tertekan?

Oh, demi Tuhan, Kyuhyun-ssi. Katakan ini hanyalah alasan konyolmu belaka.

Kyuhyun yang mengetahui raut tidak percaya sekaligus bingung dari Donghae kini mengangkat bahunya ringan. “Mungkin kau berpikir apa yang aku katakan barusan adalah alasan terkonyol, tapi…” Kyuhyun menatap lekat Donghae yang kini juga balik menatapnya.

“…setidaknya dengan cara kasar seperti itu Ryeowook bisa meneteskan air matanya,” Donghae membulatkan matanya saat baru menyadari bahwa Ryeowook memang menangis semalam.

Tolong garis bawahi ; Ryeowook menangis!

“Dan dengan ia menamparku setidaknya aku juga bisa membantunya meluapkan perasaan hancur, sedih, marah, kecewa dan segala perasaan yang ia punya―yang mungkin tidak kita ketahui―kepadaku.” Jelas Kyuhyun lebih lanjut.

Bibir Donghae terkatup rapat setelah mendengar alasan pertama dari namja jangkung dan berambut ikal tersebut. Donghae menghembuskan nafas panjang sejenak. Ia menggelengkan kepalanya seolah ingin mengetahui lebih jelas bahwa apa yang barusan ia dengar adalah nyata atau justru mimpi?

Hell-ya, jika ini adalah alasan yang sebenarnya kenapa Kyuhyun berkata-kata pedas pada gadis itu, maka Donghae harus rela menurunkan sedikit harga dirinya untuk berdiri sembari memberi tepuk tangan pada Evil maknae itu―julukan Kyuhyun.

“Dan untuk alasan kedua…yeah, tentu saja itu karena aku mencintainya dan hanya ingin meringankan bebannya” menjawab dengan nada asal-asalan. Tapi meskipun begitu Donghae tahu bahwa apa yang keluar dari bibir Kyuhyun bukanlah hanya sekedar kalimat asal-asalan―seperti yang terdengar―melainkan sebuah kebenaran yang tersimpan dihati Kyuhyun.

“Selama ini aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Ryeowook―gadis yang aku cintai. Dan aku tidak ingin hanya terus diam. Jadi…melakukan sedikit hal―meskipun itu menyakitinya―rasanya itu jauh lebih baik asal ia bisa sedikit baik-baik saja,”

Kyuhyun menerawang ke atas memikirkan bagaimana keadaan gadis sombong itu hari ini. “Dan lagi…dengan kata-kataku semalam itu pasti bisa membuatnya tidak akan pernah melupakanku, Hyung.” Katanya dengan nada humor.

“Ya, tentu saja. Ryeowook akan terus mengingatmu sebagai seorang laki-laki bermulut tajam dan tentu saja kau diingat sebagai namja yang teramat dibencinya” timpal Donghae dengan nada yang jahil.

“Tidak masalah. Jika aku tidak bisa meninggalkan kenangan yang indah atau sebagai namja yang dicintainya untuk selalu diingat olehnya, setidaknya ia bisa mengingatku dengan segala keburukan yang aku lakukan padanya sekalipun itu dibencinya.”

Donghae tersenyum. “Jadi seperti itu ya…” gumamnya yang masih didengar oleh Kyuhyun. alis Kyuhyun terangkat sebelah. “…aku sangat bangga padamu dan caramu menghadapi masalah ini. Yah, meskipun dengan cara yang sedikit extreme.”

Keduanya menutup pembicaraan dengan saling tertawa bersama. Terlihat sekali betapa akrabnya keduanya dan bahkan mereka seperti kembar yang tak serupa. Karena keduanya sangatlah serasi jika harus menjadi saudara. Bukan masalah wajahnya, hanya saja dengan cara mereka berpikir dan juga menyelesaikan masalah dengan jalan yang sangat sulit untuk dipikirkan oleh orang lain.

.

.

.

Sederhana.

Mengungkapkan cintamu dengan hal buruk terkadang bisa menjadi kenangan tersendiri bagimu dan baginya.

Mengungkapkan cinta itu se-sederhana ketika kau membuka pintu tarik―dorong di Minimarket.

Tidak perlu menggunakan ungkapan manis dan memikirkan jawaban apa yang akan kau terima, kau cukup mengungkapkannya.

Bukankah cinta itu sederhana?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Gadis itu memang sangat manis. Meskipun dia sombong, tapi aku akui dia sangatlah mempesona”

Eunhyuk memandang sinis sesosok gadis manis yang berjalan anggun dengan tatanan rambut terurai bebas menjuntai hingga pinggangnya. Gadis manis yang teramat sombong namun selalu dipuji oleh siswa-siswa lainnya.

“Ya. hidupnya juga terjamin. Dia berasal dari keluarga kaya raya dan hei, lihat siapa yang berjalan disampingnya,”

Mata kucing Eunhyuk ikut memperhatikan siapa gerangan yang berjalan disamping gadis sombong dan manis itu. Meskipun Eunhyuk akui ia sangat tidak penasaran dengan ini semua.

Oh, oke, Eunhyuk akui, ia memang penasaran. Dan yeah, tapi itu hanya sedikit. Sedikit penasaran. Tolong catat itu!

“OMOOO~~ itu ‘kan Yesung Sunbae yang tampan itu~~~ ugh, dia benar-benar gadis beruntung. Pasti dikehidupan yang lalu ia adalah seorang Putri” celetuk seorang gadis lainnya.

Mata Eunhyuk sedikit membulat saat memandang namja bermata sipit yang mengumbar senyum pada siswa-siswa baru atau peserta MOS tahun ini. Tapi setelahnya ia merubah tatapan matanya menjadi biasa saja.

Eunhyuk memutar bola mata malas kepada segerombolan gadis ababil yang kini sedang berdiri dengan menghadap ke luar dari jendela kelasnya―memperhatikan gadis sombong bernama Choi Ryeowook yang katanya berjalan dengan Yesung Sunbae, kakak kelas tampan dan terkenal ramah itu.

“Aku dengar mereka itu sudah dijodohkan sejak kecil.”

Lagi. Eunhyuk hanya bisa mendengus mendengar serentetan fakta-fakta tentang Ryeowook―yang sangat menyebalkan baginya.

Jujur saja, dari awal ia melihat dan mengetahui tingkah tengil gadis manis tersebut―sejak masa MOS―benar-benar membuatnya membenci gadis itu dan anti tentang segala yang menyangkut Ryeowook.

‘Cih, gadis sombong yang hanya bisa mengandalkan harta orangtuanya seperti itu, apa yang bisa diandalkan?’ tutur Eunhyuk, tentu dalam hati. ‘Rata-rata orang cantik itu pasti tidak memiliki otak yang cerdas, mereka cenderung lebih mementingkan kecantikan ketimbang otak’ dumel Eunhyuk, masih dalam hati.

Entah kenapa sebuah perasaan tak suka yang begitu kental itu perlahan mendekam dalam hati Eunhyuk. Perasaan tak suka saat setiap orang membicarakan soal kehebatannya. Hei, mereka mengatakan itu semua hanya berdasarkan ‘katanya dia…’ ‘katanya dia…’ ‘katanya dia…’ dan bla bla bla.

Lagi pula ini masih masa-masa orientasi, dan selama ia mengamati Ryeowook, ia tidak pernah sekalipun melihat sesuatu yang menonjol dari gadis―yang katanya, tolong catat. KATANYA―pandai, cerdas, hebat. Pemberani dan sekali lagi bla bla bla.

Bahkan rasanya Eunhyuk ingin sekali tertawa lepas akan tingah-tingkah labil teman satu kelasnya saat ini―teman kelas di saat MOS―yang selalu membicarakan Ryeowook yang bahkan sama sekali tidak bisa berinteraksi.

‘Hey, manusia yang cerdas itu adalah manusia yang bisa bersosialisasi. Bukan seperti Ryeowook yang hanya bisa diam dan bahkan untuk sekedar tersenyum pun tidak bisa’ begitu ujar Eunhyuk pada Donghae ketika teman atau bisa disebut satu-satunya sahabat baiknya saat itu bertanya- apa yang membuatmu tidak setuju saat orang lain menganggap Ryeowook cerdas?-

Masa-masa MOS itu dilalui dengan penuh kebosanan―bagi Eunhyuk.

Well, sebenarnya kebosanan yang dirasakan oleh Eunhyuk tidak lebih karena ini semua dikarenakan oleh gadis―oke, Eunhyuk benci mengakui ini dan ia bersumpah bahwa ini adalah kali pertama dan terakhir kalinya ia mau mengakui―manis bernama Choi Ryeowook.

Entah kenapa meskipun ia tidak mengenal Ryeowook atau tidak pernah sekalipun ia berbincang dengan gadis itu, rasanya Eunhyuk benar-benar membencinya. Eunhyuk tidak benar-benar tahu alasan jelas mengapa ia begitu tidak suka jika ada orang lain yang memujanya.

Hingga pada jam efektif kegiatan belajar mengajar berlangsung, Eunhyuk baru menyadari betapa hebat, cerdas, dan menawannya seorang Choi Ryeowook. gadis manis itu bisa dengan penuh percaya diri berpidato didepan kelas dan langsung menjabat sebagai Ketua Kelas.

Entah perasaan apa―Eunhyuk tidak tahu jelas namanya―yang jelas Eunhyuk merasa tersaingi dengan adanya Ryeowook. ia yang mulai dari kecil hingga ia duduk dibangku SMP selalu menjadi yang pertama―dengan perolehan nilai tinggi, ranking pertama―dan juga selalu menjabat sebagai Ketua Kelas, merasa bahwa kehadiran Ryeowook menggeser posisinya.

Perasaan marah pada gadis itu membuatnya ingin sekali menyingkirkan gadis sombong tersebut.

Dan sampai pada kenaikan kelas tahun ini. Eunhyuk yang selalu berada di ranking pertama kini harus berbesar hati berada diperingkat ke-3 dengan Cho Kyuhyun yang ada diperingkat ke-2 dan oh, jangan tanyakan siapa yang duduk diperingkat pertama. Karena Eunhyuk rasanya benar-benar muak jika harus menyebut nama gadis tengil itu.

.

.

Eunhyuk mengingat-ngingat kembali waktu yang telah berlalu. Dimana pertama kali ia melihat seorang Choi Ryeowook yang duduk sendirian di bangku bagian paling depan. Sendiri yang benar-benar berarti tanpa teman dan melihat sosok gadis itu sebagai seorang manusia introvert dan sulit didekati.

Eunhyuk terkadang mengkerutkan keningnya mengingat-ngingat kembali tentang apa yang terjadi pada dirinya dimasa tahun pertama di sekolah SMA nya hingga ia benar-benar tidak suka dengan Ryeowook. ia juga sekarang sadar bahwa ternyata dulu―saat ia masih sekelas dengan Ryeowook, karena sekarang mereka sudah berbeda kelas―ia teramat berambisi untuk merebut posisi gadis itu.

Ia juga mengingat bahwa ia sangatlah ingin sekali menyobek mulut-mulut siswa yang terus-terusan mengagung-agungkan Ryeowook.

Tidak bisakah mereka melihat Ryeowook sebagai sesosok manusia biasa saja? Hei, Ryeowook itu bukanlah Aktris yang bisa selalu dijadikan bahan gossip setiap hari. Ck!―kira-kira begitulah dumelan tidak berarti darinya dulu. Ya-dulu saat ia begitu tidak suka dengan Ryeowook.

Oppss…tidak suka atau…..

“Hae~” Eunhyuk memanggil pelan Donghae yang masih setia memainkan boneka ikan berwarna orange ditangannya. Posisi Donghae yang kini juga berbaring disamping Eunhyuk di teras belakang rumah Eunhyuk kini berbalik menghadap Eunhyuk. “Apa?”

Eunhyuk tertawa kecil memperhatikan wajah Donghae yang terlihat begitu polos. “Kau ingin masuk?”

Kepala Eunhyuk menggeleng. “Tidak? Lalu kau mau apa?” bibir Donghae sedikit menggerutu sebal karena Eunhyuk tidak kunjung mengajak masuk. Umh~ bukan apa-apa sih, hanya saja saat ini gadis itu dalam keadaan yang tidak fit. Angin sore yang sedikit dingin bisa membuatnya tambah parah, ‘kan?

Oh, Lee Donghae. kau begitu perhatian sekali~~

“Aku…aku hanya mengingat kembali masa lalu.” Wajah Donghae terlihat bingung akan arah pembicaraan gadis kurus disampingnya. “Maksudmu?” tak mau berlama-lama dalam kebingungan akhirnya Donghae bertanya.

“Masa lalu dimana aku begitu tidak menyukai Ryeowook,”

“Kenapa tiba-tiba kau―”

“―Ya. aku hanya ingin mencaritahu tentang perasaanku dimasa lalu akan Ryeowook. tentang bagaimana asal mula semua ini bisa terjadi.” Donghae mengkerutkan keningnya. “Hyukkie~ aku serius, aku benar-benar tidak paham untuk kali ini.” Ujar Donghae dengan sedikit frustasi.

Eunhyuk tertawa kecil. “Maka dari itu dengarkan aku dulu” titah Eunhyuk sembari berbalik memandang Donghae juga. “Dulu…kau pernah bertanya padaku, ‘apa yang membuatmu tidak setuju saat orang lain menganggap Ryeowook cerdas?’” Eunhyuk memandang langit biru yang kini sudah sedikit menguning karena tenggelamnya sang Surya.

“Kau ingat?” gadis blonde itu mencoba membuka memory ingatan Donghae. pria dengan tinggi 175 itu mengangguk. “Ya, dan jawabanmu saat itu adalah ‘Hei, manusia yang cerdas itu adalah manusia yang bisa bersosialisasi. Bukan seperti Ryeowook yang hanya bisa diam dan bahkan untuk sekedar tersenyum pun tidak bisa’, bukankah begitu?”

“Lalu bagaimana menurutmu?”

“Menurutku?”

“Ya. jawabanku saat itu bagaimana menurutmu?” jelas Eunhyuk. Donghae sedikit berdehem sekilas sebelum menjawabnya. “Apa aku harus menjawabnya?”

“Tentu saja. Sekalipun itu jawaban yang bukan aku harapkan sekalipun”

Donghae mengangguk mengerti. “Aku pikir jawabanmu saat itu sangatlah tidak masuk akal dan terkesan menjatuhkan images-nya. Malah menurutku jawabanmu itu terdengar sangat menggelikan. Maksudku, apa kau tahu ilmuwan? Lihat mereka! Rata-rata mereka itu tidak pandai bersosialisasi,”

“…………….”

“Jadi menurutku, kau…mungkin saja saat itu hanya iri kepadanya. Karena di―”

“M-mwoo?” Eunhyuk menyela ucapan Donghae. “Iri? Apa maksudmu?” kata Eunhyuk dengan nada tidak terima. Bibir Donghae tertarik ke atas menunjukkan sebuah cengiran khas miliknya yang menambah kesan polos pada wajahnya.

“Demi Tuhan, Hae. Aku tidak mungkin iri dengan gadis sombong yang memiliki hati setinggi gunung Himalaya itu!!” tukas Eunhyuk dengan cepat yang semakin melebarkan cengiran Donghae.

Tangan Donghae terangkat mengelus surai blonde lembut itu dengan pelan. “Kau meminta pendapatku, bukan?” tanyanya dengan lemah lembut. Eunhyuk yang tertohok akan ucapan Donghae akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.

“Kau yang sejak kecil selalu menjadi pusat perhatian karena sifatmu yang unik dan lain dari yang lain membuatmu terbiasa mendapat pujian dari sana-sini. Sifatmu yang supel dan menyenangkan membuatmu dikagumi banyak orang,” jeda sebentar sekaligus melepaskan tangannya yang tadi mengelus surai blonde Eunhyuk.

“Kau sudah terbiasa dengan itu semua. Hingga ketika kau menginjak di bangku SMA, kau menemukan sebuah hal yang berbeda. Sebuah hal yang membuatmu merasakan tersisihkan. Membuatmu merasa tidak nyaman karena kau tidak menjadi yang utama lagi,”

Eunhyuk mendengarkan baik tiap perkalimat yang diutarakan oleh sahabat baiknya ini.

“Perasaan tidak suka―menurutmu―sebenarnya adalah sebuah perasaan iri dan ketidakpuasan pada dirimu sendiri yang tidak bisa mengalahkan Ryeowook. perasaan yang membuatmu begitu ber-Ambisi untuk membuat Ryeowook jatuh,”

Eunhyuk menegang mendengar kalimat Donghae. ‘membuat Ryeowook jatuh’. benarkan ia sebegitu jahatnya hingga tanpa sadar ia ingin melihat gadis itu jatuh?

Hati kecil Eunhyuk terhantam palu besar sampai menyebabkan hatinya begitu terasa kebas. Ia benar-benar malu jika apa yang dikatakan oleh sahabat baiknya ini adalah sebuah kenenaran. Bagaimana bisa ia memiliki sifat tercela seperti itu?

Dan lagi….IRI?

Eunhyuk benar-benar tidak menyangka bahwa perasaan tidak sukanya terhadap Ryeowook selama ini ternyata sebuah perasaan iri.

“Dan ditambah lagi akan masalah….Yesung Sunbae.”

Deg!

Jantung Eunhyuk seolah berhenti bedetak. Waktu seolah berhenti berputar. Bumi pun seperti ikut berkonspirasi membuatnya hinggap pada moment memuakkan ini―dimana Donghae yang akan membuka habis-habisan segalanya.

Well, Eunhyuk tahu bahwa setelah ini Donghae pasti akan berbicara banyak dan kembali mengingatkannya akan perbedaan dari Cinta dan Kagum.

“Dari awal kau melihatnya berjalan bersama dengan Yesung Sunbae di hari pertama masa Orientasi, aku…melihat matamu yang berkilat tajam. Seolah mengobarkan bara ‘tidak setuju’ akan apa yang kau lihat”

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya kuat. Menggeram kesal akan segala kebenaran yang diucapkan oleh Donghae.

“Dan..yah, kau tidak setuju jika Yesung Sunbae harus bersama dengan Ryeowook”

“Aku pikir itu hal yang wajar, Hae. Mengingat Yesung Oppa adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Akan sangat lucu jika ia harus bersama dengan gadis yang dingin, sombong, angkuh, tengil dan sejenisnya yang ada dalam diri Choi Ryeowook”

Donghae hanya bisa tertawa kecil mendengar Eunhyuk berkata sedikit gusar dan tidak terima akan asumsinya. “Kau pikir nada yang sama akan terdengar indah jika digabungkan dengan nada yang sama pula?”

“Maksudmu?”

“Seperti cinta. Bayangkan jika nada A digabungkan dengan nada A, maka apa yang akan terdengar?”

“Itu akan menjadi nada yang membosankan”

“Nah,” Donghae menjentikkan jarinya. “Cinta pun juga begitu. Sebuah nada membutuhkan nada yang berbeda untuk membentuk sebuah melodi indah yang bisa dinikmati. Begitupun cinta. Agar cinta itu tidak membosankan, maka…dibutuhkan seseorang yang memiliki kepribadian berbeda. Dengan begitu…mereka akan terlihat saling melengkapi.” Jelas Donghae dengan diakhiri sebuah senyum menawan darinya.

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya kuat. Ia tidak menyangka bahwa kalimat Donghae bisa membuatnya diam seribu bahasa seperti ini. Sebelumnya ia tidak pernah memikirkan tentang Cinta yang bertolak belakang.

Tapi sekarang setelah mendengar kalimat-kalimat yang ia dengar dari Donghae, ia jadi kembali berpikir ulang tentang cinta.

“Dan aku harap kau juga bisa memahami hatimu lebih dalam lagi” Donghae menyeletuk setelah beberapa saat hening menyergap. Eunhyuk menatap Donghae dengan lekat. Donghae sendiri tidak peduli jika dijadikan objek tatapan oleh gadis kurus itu, karena ia ternyata lebih asyik memandang lurus kedepan.

“Selama ini kau hanya terlalu sibuk melihat apa yang ingin kau lihat tanpa mau melihat sekelilingmu. Kau hanya peduli dengan asumsimu sendiri dan tak pernah mau belajar untuk mengoreksi akan asumsimu―yang menurutku sebenarnya salah besar.”

Kepala Eunhyuk menunduk memandangi lantai teras yang dingin itu. Dalam kepalanya ia berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Donghae adalah sepenuhnya benar. Dan sekarang apa yang harus dilakukannya?

“Sadarlah~ kau mengejar Yesung Sunbae bukan karena kau mencintainya, melainkan karena kau mengaguminya. Dan ditambah lagi soal Ryeowook, tentunya”

Mata Eunhyuk melotot tajam pada Donghae yang saat ini sedang sibuk dengan kuku-kukunya yang sedikit memanjang karena belum sempat dipotongnya. “Apa maksudmu soal Ryeowook?”

“Hng?” Donghae menatap penuh tanya Eunhyuk yang kini wajahnya memerah tanpa diketahui sebabnya oleh namja penyuka Nemo tersebut. “Aa,” Donghae mulai mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.

“Kau yang selama ini iri pada Ryeowook karena ia sudah berhasil mengalahkanmu akhirnya tanpa sadar terus-terusan mengejar ketertinggalanmu dengan banyak cara,” Donghae menarik nafas dalam. “Dan salah satunya adalah dengan mengejar Yesung Sunbae”

Mata Eunhyuk kembali membuka lebar seperti orang terkejut. “Tidak mungkin” gumamnya pelan dan penuh dengan keheranan. “Tuh, kan? kau hanya tidak menyadarinya saja” tutur Donghae sambil mengacak gemas pucuk kepala Ryeowook.

“Tolong, Hae~ bicarakan semuanya hari ini. Beritahu aku tentang asumsimu selama ini. Aku…ingin mengerti bagaimana pandanganmu terhadap diriku ini” berkata dengan nada memelas dan seperti orang yang penuh tekanan.

Donghae mengangguk mengerti. “Kau pernah bercerita tentang seseorang yang memakai seragam sekolah SMA yang pernah menyelamatkanmu dari kecelakaan. Kau bilang padaku bahwa namja itu sangat tampan dan baik hati,”

Eunhyuk mengangguk. “Ya”

“Kau juga bilang bahwa kau akan menemuinya lagi suatu saat nanti untuk membalas budinya. Dan dengan cara masuk ke sekolah kita yang sekarang, karena saat ia menyelamatkanmu kebetulan sekali ia sedang memakai seragam sekolahnya” katanya lagi yang kembali dijawab dengan anggukan paham oleh Eunhyuk.

“Jika boleh ku tebak, orang itu…adalah Yesung Sunbae”

Mata kucing itu menatap Donghae dengan pandangan yang sulit di artikan. Dan tak mau membuat Donghae menanti jawabannya lebih lama lagi, ia pun akhirnya mengangguk.

Kedua sudut bibir namja tampan itu tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. “Sudah ku duga” ujarnya pelan. “Apa?”

“Akh~~tidak apa-apa”

“Lalu…selanjutnya bagaimana?” Eunhyuk kembali bertanya untuk melanjutkan kembali pembicaraan yang tertunda. Donghae mengalungkan kedua lengannya didepan lutut. Matanya kembali melihat kedepan dimana banyak bunga-bunga lili putih yang tumbuh dengan indah karena dirawat dengan baik oleh keluarga Eunhyuk.

“Setiap saat kau menceritakan tentang bagaimana tampannya namja yang sudah menyelamatkanmu itu. Kau menceritakannya berulang-ulang hingga rasanya aku ingin sekali kehilangan telingaku agar kau tak terus-terusan membicarakannya,”

Eunhyuk tertawa kecil mengingat masa lalunya saat itu. Akh~ jika boleh jujur memang benar sih apa kata Donghae. saat itu….ia memang sering sekali pamer pada Donghae bahwa siswa SMA yang menyelamatkannya itu sangatlah tampan, keren, ramah dan bla bla bla.

Rasanya malu sekali jika mengingatnya.

“Lalu saat kita sudah resmi masuk disekolah itu kau langsung saja mencaritahu tentang keberadaan namja yang sudah menyelamatkanmu, oke langsung saja kita sebut itu Yesung Sunbae”

“………..”

“Tapi bukannya kau senang bisa bertemu kembali dengannya kau justru sedih. Yah, tentu saja karena ini ada hubungannya dengan gadis sombong itu. Saat kau melihatnya untuk yang pertama kalinya―setelah kejadian saat ia menyelamatkanmu―aku melihatmu sempat terkejut dan ada setitik pandangan kesal, benci, marah, kecewa dimatamu,”

Eunhyuk terdiam.

“Dan pasti itu karena Yesung Sunbae berjalan bersama dengan Ryeowook. bukankah begitu, Hyukkie?” tanyanya sambil melirik sekilas raut wajah Eunhyuk yang kini tampak kacau.

.

.

.

Perasaan tidak puas akan diri kita sendiri karena tidak mampu melampaui orang yang menjadi rival kita pastilah akan membawa kita kedalam sebuah perasaan iri.

Dan apa kau tahu apa yang paling menjijikkan dari perasaan iri?

Yah, itu adalah dimana iri bisa membuatmu buta akan keadaan yang ada, membuatmu tidak bisa melihat mana yang benar dan salah, dan pada akhirnya kau hanya bisa terus-terusan berAmbisi untuk bisa mengalahkan rivalmu.

Lalu kau akan menjadi pihak yang paling menderita. Karena hidupmu hanya akan dihabiskan untuk mengejar apa yang memang sudah Tuhan takdirkan bukan untuk mu~

Ini…sama saja dengan sia-sia dan membuang waktu.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Tangan-tangan kecil itu memainkan sebuah melodi indah yang mengalun dari sebuah piano. Nada-nada indah dan penuh dengan nuansa menyayat hati terdengar begitu kental disebuah ruangan minimalis dan didominasi oleh warna pasta.

Gadis mungil itu duduk dengan nyaman. Kesepuluh jarinya menekan tuts-tuts piano dengan mahir. Matanya terpejam seolah menikmati lantunan nada yang ia ciptakan. Bibir mungil nan tipis dan berwarna merah semerah cherry tersebut samar-samar menggumamkan lagu indah.

Choi Ryeowook.

Ia dengan balutan piama tidur berwarna putih gading itu masih terjaga dalam keheningan malam yang dingin. Hanya seorang diri dan hanya ditemani oleh piano yang saat ini sedang ia mainkan.

Lagu itu berakhir dengan berhentinya jari-jari kecil tersebut berhenti menekan tuts piano. Mata yang sedaritadi tertutup perlahan terbuka dengan pelan-pelan. Menampilkan sebuah caramel cerah yang entah kenapa malam ini tampak redup.

Seperti kehilangan sinarnya.

Ia menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan. Berulang kali ia melakukan itu hingga ia justru terlihat seperti orang yang sedang melakukan Yoga.

“Terlalu sering menghembuskan nafas frustasi itu bisa mengurangi kebahagiaanmu, lhoh~~”

Ryeowook menoleh kebelakang dimana sang Nenek yang saat ini sedang duduk disofa berwarna putih yang menghadap ke Televisi.

Saat ini keduanya berada diruang keluarga. Dan piano Ryeowook berada di sudut ruangan keluarga tersebut. “Haelmoni?” ujarnya pelan khas seorang Choi Ryeowook.

Nenek Tua yang bisa diperkirakan sudah memasuki usia 75 tahun tersebut menoleh kepada Ryeowook. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyum kala mata miliknya yang sudah sedikit kehilangan penglihatannya mendapati sang Cucu.

“Kau belum tidur?”

Ryeowook menggeleng pelan. Gadis itu kembali membalik tubuhnya menghadap pada piano berwarna putih didepannya. Tangannya menelurusuri pinggiran piano tanpa tau apa yang harus ia lakukan lagi.

“Sedang ada banyak masalah?” Nenek Tua itu kembali bertanya pada sang Cucu yang masih tetap diam.

Helaan nafas pelan dan lelah keluar dari bibir Nenek Ryeowook. yeoja dengan rambut yang sudah ditumbuhi banyak uban itu menggeleng pelan memperhatikan tingkah laku Ryeowook yang tidak banyak berubah. Masih tetap saja pelit bicara dan tertutup.

“Jika sedang ada banyak masalah, maka tidurlah. Dengan begitu satu masalah telah teratasi” ujarnya lagi yang kali ini membuat Ryeowook menghentikan laju tangannya yang menelusuri pinggiran piano miliknya.

Pandangan mata Ryeowook terhenti pada satu titik pada satu tuts piano. Tatapan matanya kosong dan tanpa ekspresi. Gadis ini bahkan seperti makhluk hidup yang sudah kehilangan jiwanya.

“Ryeowookie~ Haelmoni harap kau tidak terus-terusan menyiksa tubuhmu. Sejak tadi pagi kau sampai disini, kau sama sekali belum beristirahat. Apa kau tidak lelah?”

Lelah?

Jika yang kau maksud dengan lelah hati, maka Ryeowook pasti akan menjawabnya dengan lantang ‘iya’. Hatinya sudah teramat lelah dengan semuanya. Dalam otaknya hanya terisi tentang Yesung dan Eunhyuk. Dimana saat ia harus rela mengakui bahwa Yesung terlihat begitu bahagia dengan Eunhyuk. Tawa Yesung yang seharusnya hanya miliknya……sekarang sudah berganti menjadi milik gadis kurus itu.

Pelukan hangat Yesung yang dulu adalah hak telak miliknya, mungkin kini sudah menjadi milik Eunhyuk.

Perhatian, kehangatan dan juga segalanya yang ada pada diri Yesung, mungkin saat ini sudah menjadi milik Eunhyuk seutuhnya

Tiba-tiba perasaan lelah yang semakin menjadi-jadi menampar telak hatinya. meninggalkan noda kesedihan yang jauh lebih dalam lagi menyiksanya. Jika ia boleh berharap, Ryeowook ingin sekali Tuhan mengambil hatinya. dengan begitu ia tidak akan pernah lagi merasakan sebuah sakit. Tanpa hati….ia pasti tak akan tersiksa sejauh ini.

Ryeowook menunduk.

Tidak tahu darimana asalnya butiran kecil berwarna murni itu tiba-tiba saja menetes dari kedua sudut matanya. Ryeowook tidak percaya ini. Seperti sebuah perasaan ganjil dan menyakitkan hingga rasanya begitu susah sekali untuk menterjemahkan seperti apa rasanya.

Sakit. Sangat.

Ryeowook bangkit dari duduknya dan tanpa mengucapkan sepatah kalimat apapun ia berjalan meninggalkan ruang keluarga tersebut dengan Neneknya.

Nenek Ryeowook memandang penuh kasihan kepada Cucu perempuan yang paling ia sayangi. Ia sudah tahu segalanya dari Siwon yang sudah menceritakan semuanya dengan detail melalui telephone.

Hatinya turut hancur ketika mengetahui segalanya. Yeoja tua ini tidak menyangka bahwa hidup cucunya harus serumit ini.

.

.

.

Siwon duduk termenung dengan se-cup kopi dingin ditangannya. Pria berbadan atletis itu kini tengah menunggu kedatangan Heechul yang tiga puluh menit lalu mengirim pesan padanya untuk membuat janji bertemu bersama.

Sesekali sudut matanya melirik pada keadaan sekitar. Melihat-lihat keadaan cafe yang masih senggang mengingat saat ini masih terbilang cukup pagi. Siwon melambaikan tangannya ketika mendapati Heechul yang sudah sampai didepan pintu cafetaria tersebut.

Heechul duduk dengan manis didepan Siwon. “Bagaimana kabar adikmu itu?” bertanya langsung dengan mata yang mengawasi sebuah buku menu didepannya. “Aku pesan jus melon,” Heechul berkata pada sang pelayan wanita yang sudah siap mencatat pesanannya. “Sementara itu saja” lanjutnya lagi ketika sang pelayan menanyakan pesanan apa lagi yang diinginkan.

Mata kucing Heechul memandang Siwon penuh dengan penuntutan. Seolah mengerti akan maksud tatapan Heechul, Siwon pun akhirnya buka mulut. “Dia tetap seperti biasanya,” katanya dengan nada yang lemah.

Sebuah helaan nafas keluar dari bibir tebal Heechul. Kepalanya menggeleng ringan seolah turut prihatin akan keadaan Ryeowook. memang ini sudah memasuki minggu ke dua sejak kepergian Ryeowook dari Seoul.

“Seperti tidak memiliki semangat hidup.” Lanjutnya lagi yang kali ini membuat Heechul menundukkan kepalanya dalam. “Lalu?” Heechul kembali bertanya. “Memang kau mau bagaimana lagi, Noona?” Siwon balik bertanya. Suaranya terdengar lemah dan frustasi.

Jus melon pesanan heechul telah sampai dimejanya. Heechul dengan senyum yang dipaksakan tersenyum pada sang pelayan dan mengucapkan, “Terimakasih”. Setelah kepergian sang pelayan, Heechul menfokuskan kembali pandangannya pada Siwon yang duduk didepannya.

Gadis memiliki kaki  jenjang itu menangkupkan kedua jemarinya pada jemari kokoh Siwon. Ia menggenggamnya begitu erat seolah memberi kekuatan pada batin Siwon. Bagaimana pun juga Heechul tahu bahwa Siwon pun pasti juga tidak baik-baik saja mengetahui dongsaeng satu-satunya dalam keadaan buruk.

“Yesung juga terlihat berubah” Heechul mengingat kembali ingatannya beberapa waktu yang lalu ketika bertemu dengan Yesung yang duduk disalah satu taman kota di Seoul yang sering menjadi tempat favorite Ryeowook.

“Dia tidak jauh berbeda seperti manusia tanpa emosi, rasanya hampir mirip dengan Ryeowook…” Heechul melepaskan genggaman tangannya pada Siwon dan menyeruput jus melon miliknya. “…yang dulu. Karena sekarang aku tidak mengerti bagaimana keadaan Ryeowook” lanjutnya lagi.

Siwon tertawa sumbang. Di sudut matanya terlihat setitik air berwarna bening yang menggenang disana. Tawa sumbang yang terdengar menyakitkan itu membuat Heechul juga ikut meringis. Ia tahu bahwa semuanya sudah berubah dan berjalan melenceng dari apa yang seharusnya tertulis.

Heechul tidak buta. Ia sudah mengira bahwa semuanya pasti akan berantakan seperti ini. Hanya saja… ia tidak mengira akan sejauh ini. Perlahan sebuah perasaan merasa bersalah memenuhi ruang hatinya.

“Harusnya aku bisa mengelakkan semua ini” kata Heechul tiba-tiba yang membuat Siwon mendongak menatap kedua manik Heechul. “Aku tahu bahwa Ryeowook tidak baik-baik saja selama ini, ia terjebak dalam sebuah kubangan kesendirian, ia ingin keluar…hanya saja ia tidak menemukan jalan keluarnya,”

Heechul merasakan hatinya tercubit sesuatu yang tajam. “Ia butuh teman, tapi ia tidak tahu bagaimana cara untuk memulai semuanya, hingga akhirnya ia lebih memilih untuk mengisolasi dirinya sendiri dari orang lain” Heechul mulai menceritakan segalanya pada Siwon.

Dan itu semua pun juga tak pelak membuat Siwon turut merasa bersalah. Siwon menangis dalam diam mendengarkan segala cerita Heechul. “Ia ketakutan, Siwonnie. Ia takut sendiri” air mata Heechul menetes setiap kali membayangkan senyum angkuh Ryeowook yang sebenarnya adalah sebuah rekayasa belaka. “Meskipun ia selalu bertingkah arrogant dan terlihat sangat menyebalkan, tapi sebenarnya…. ia hanya tidak mau orang lain mengasihani dirinya. Ia tidak butuh rasa kasihan…”

Heechul menjeda sebentar ucapannya. Tangannya menghapus lembut air mata yang menuruni pipi pria yang duduk didepannya. “…yang dibutuhkannya hanya kasih sayang” tambahnya. Siwon tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

Siwon menangis mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Heechul.

Kasih sayang?

.

.

.

Luka dihati itu hanya membutuhkan kasih sayang sebagai obatnya

Dan rasa kesepian itu adalah sebuah rasa paling menyakitkan dan menakutkan bagi manusia pada dasarnya

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Tangan yang berukuran mungil untuk ukuran pria itu kini sedang bermain piano. Bibirnya menggumamkan sebuah nyanyian yang tidak jelas apa yang ia nyanyikan. Tapi satu hal yang jelas tertangkap oleh telinga….

Nyanyian itu terdengar seperti nyanyian seseorang yang sedang menangis dan patah hati.

Kim Jong Woon. Pria bermata sipit itu kini mulai sering menyendiri dan menjauh dari keramaian. Sejak perginya Ryeowook dari hidupnya, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang hilang dari bagian organ tubuhnya.

Ia seperti merasakan satu hal yang ganjil dalam dirinya. Suatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Suatu hal yang dulu terasa terisi penuh ketika bersama Ryeowook. dan sekarang… kenapa rasanya jadi menyakitkan seperti ini?

Yesung sering berpikir akan dirinya sendiri. Bukankah hari-hari terakhir sebelum Ryeowook pergi darinya justru ia merasa bahwa hidupnya lebih berwarna dengan adanya Eunhyuk? Bukankah ia juga berpikir bahwa Eunhyuk adalah gadis yang menyenangkan?

Ia juga bahkan seringkali membanding-bandingkan gadis mungil itu dengan Eunhyuk. Dan saat itu ia juga pernah terpikirkan untuk meninggalkan Ryeowook. ah, ia juga bisa dibilang sudah mengkhianati Ryeowook.

Malam itu… ia sudah berciuman dengan Eunhyuk dan sepakat untuk menjalani hubungan selayaknya apa adanya.

Yesung mengingat jelas akan semuanya. Tiba-tiba sebuah rasa sakit dikepalanya datang. Ia menghentikan pergerakan jemarinya yang tadinya bermain dengan tuts-tuts piano berwarna hitam dan putih tersebut dan berganti mencengkram kepalanya.

Yesung menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan berkata, “Tidak, tidak, tidak. Ryeowook tidak boleh meninggalkanku. Tidak, tidak, TIDAAAAKKK!!” suara Yesung yang awalnya pelan semakin kesini semakin naik intonasinya.

Ia merosot jatuh ke lantai rumahnya yang dingin dengan tangan yang kali ini menutupi kedua telinganya. “Wookie…Ryeowoookie…Ryeowook…Choi Ryeowook~” panggilnya pelan dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

Yesung terlihat seperti orang gila. Ini bahkan baru memasuki minggu ke dua kepergian Ryeowook, dan Yesung sudah berubah bak orang gila macam ini. Sangat sulit dipercaya. Yesung pun bahkan sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa ia bisa seperti ini.

Bukankah jika Ryeowook pergi darinya itu jauh lebih baik? Bukankah dengan begitu ia bebas bersama dengan gadis lain―Eunhyuk mungkin? Dan juga ia bisa terbebas dari janji masa kecilnya yang dulu bersumpah akan melindungi Ryeowook sampai mati?

Tapi kenapa sekarang dirinya seperti ini? Kenapa justru ia merasa bersalah dan tersakiti?

Ah, Kim Jong Woon, bukankah kau yang menyakiti Ryeowook?

.

.

.

Donghae mengangkat sebelah alisnya tidak suka. Mutiara hitam miliknya pun terlihat menyorot tajam dan penuh dengan kegarangan. Rahangnya mengeras dan terlihat begitu marah. “Apa maksud, Umma dan Appa?” bertanya dengan nada tinggi.

Ny . Lee―Ibu angkat Donghae―mendekati anak angkat satu-satunya yang sudah ia anggap sebagai darah dagingnya sendiri. Tangan halus bak malaikat itu menangkupkan kedua tangannya ke wajah tampan Donghae. memberi sedikit ketenangan bagi Donghae yang sepertinya benar-benar menolak akan rencananya dan Suaminya.

“Tenanglah, nak”

“Bagaimana bisa aku tenang saat dengan tiba-tiba kalian memaksaku untuk pindah sekolah ke tempat lain sedangkan aku sudah merasa nyaman disekolahku?” jawab Donghae dengan mata menajam. Tangannya melepaskan kedua tangan Ibu nya yang tadi menangkup wajahnya.

“Pokoknya aku tidak ingin pindah!”

“LEE DONGHAE” sang Appa memekik keras menyebut nama Donghae. pekikan keras tersebut ternyata mampu membuat nyali Donghae menciut. Yang benar saja, ini adalah kali pertama sang Appa membentaknya. Selama ini Appa nya tak pernah berkata keras dan kasar padanya.

“Appa dan Umma melakukan ini karena di Mokpo sana banyak orang susah yang menggantungkan hidup mereka di perusahaan kita” intonasi suaranya melembut. “Tidakkah kau ingin membantu mereka?”

Donghae mengepalkan jari-jarinya erat. “Kenapa tidak Appa saja yang kesana? Lagipula aku masih kelas 2 menengah ke atas dan tidak mungkin mampu menjadi pimpinan di perusahaan kecil Appa yang di Mokpo” mencoba mengelak dengan nada yang halus.

Ny . Lee menghembuskan nafas berat. “Appa mu sibuk mengurus perusahaannya yang di sini, dan salah satu orang terpercayanya yang awalnya menangani perusahaan di Mokpo tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti,”

Ny . Lee menarik tangan Donghae untuk menyuruh anak lelakinya duduk di sofa berwarna biru tua. Dan ia juga turut duduk disamping Donghae. kali ini tangannya mengelus bahu Donghae dengan lembut, memberi kenyamanan untuk Donghae.

“Sampai saat ini Appa mu masih belum menemukan orang lain jadi memutuskan untuk mengirimmu saja―”

“―Tapi…”

“―kalau soal sekolah, kau tenang saja. Kita tidak mungkin menjadikan pendidikanmu menjadi korban dalam masalah ini. Kau akan tetap mendapat pendidikan seperti anak biasanya, hanya saja…”

Kening Donghae mengekerut menunggu lanjutan ucapan sang Umma. Ia bertanya-tanya akan ini. Hanya saja…

“Apa?”

“Hanya saja… kau mungkin hanya home schooling”

Mata Donghae melotot mendengar penuturan sang Umma. Home schooling, yang benar saja. Donghae ini adalah tipe orang yang menyukai keramaian, jadi…. mustahil rasanya jika ia bisa bertahan dengan home schooling. Cih!

Donghae berdecak kesal. “Aku tidak mau” Donghae bersikeras menolak. “Oh, ayolah, Sayang~ ini menyangkut akan orang-orang tidak mampu yang ada disana. Apa hatimu tidak tergugah untuk menolong mereka?”

“……..”

“Hmm???”

Donghae menatap sang Umma dan Appa bergantian. Ia masih butuh waktu lebih banyak untuk berpikir. Ia masih terlalu shock akan kemauan orangtuanya yang sangat mendadak itu.

Tapi… mendengar orang-orang susah yang ada di Mokpo, rasanya sedikit menggugah hatinya. ia adalah seorang pria dengan jiwa sosial yang tinggi. Ia sangat mencintai sebuah kebaikan dan ia membenci sebuah kesedihan.

Hidup berdasarkan sebuah rasa sedih telah merubah Donghae menjadi sosok manusia yang memilikii hati sangat sensitive. Membuatnya menjadi sesosok manusia yang peka dan peduli terhadap perasaan orang lain.

“Aku… butuh waktu” gumamnya dengan berlalu pergi menaiki tangga rumahnya.

.

.

.

Masa lalumu itu mempengaruhi masa depanmu kelak

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Kyuhyun mengurut pelipisnya dengan frustasi. Kepalanya seperti akan meledak saat ini juga. Ia sudah mempunyai banyak masalah akhir-akhir ini dan sekarang ia harus menghadapi seorang Kim Heechul yang tengah marah besar dengan tatapan tajam yang mengarah padanya.

Kyuhyun berulangkali menarik nafas dalam melepas lelah karena mendengar berbagai ocehan dari Heechul. “Aku sudah memperingatkanmu dari jauh-jauh hari. Harusnya kau tidak melakukan ini semua” Heechul berkata tajam entah untuk yang keberapa kalinya.

“Sekarang lihat apa hasil yang sudah kau perbuat?” timpalnya lagi tak peduli akan keadaan Kyuhyun yang sudah suram sejak tadi. “Sudah dua minggu ini Sungmin berubah banyak. Dia tidak lagi ceria seperti biasanya” deru nafas Heechul memburu karena menahan amarah yang memenuhi rongga dadanya.

“Dan ini semua karenamu” kali ini tak hanya bibirnya yang bertindak melainkan tangannya pun ikut bertindak dengan menjitak kepala Kyuhyun. “Aiisshh~ Noona!” Kyuhyun menggerutu sebal diperlakukan seperti itu.

“Kenapa, sih, kau tidak berusaha saja mencintai Sungmin. Toh, dia sangat mencintaimu”

“Tapi aku tidak mencintainya” jawab Kyuhyun cepat. Alis Heechul terlihat menaut tak suka dengan ucapan Kyuhyun. “Lalu kenapa kau bisa berpacaran dengannya dan sudah sampai sejauh ini?” tanyanya yang lebih tepat dengan nada penyindiran.

“Oke, aku tahu apa yang akan kau katakan. Seperti biasa, kau pasti akan mengatakan bahwa kau tidak mau menyakitinya. Ya, kan?” Heechul menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “Alasan klasik yang tidak masuk akal” jelasnya lebih lanjut.

Kyuhyun membuang muka dan lebih memilih melihat-lihat sekelilingnya. Siang ini terasa begitu terik dan membuat Kyuhyun sangat malas untuk keluar sebenarnya―jika saja Heechul tidak menariknya paksa untuk menuju taman kota seperti saat ini.

“Sudahlah. Lagipula aku sudah tidak ada apa-apa lagi dengannya. Dia juga bilang bahwa dia akan melupakanku”

Mata Heechul membulat sempurna mendengar kalimat polos yang keluar dari bibir tebal yang hampir sama dengan miliknya itu. Dan sekali lagi sebuah jitakan mendarat dikepalanya. Kali ini lebih keras. “Dasar bodoh.” Umpatnya kesal.

“Ya! kenapa kau menjitakku?” seru Kyuhyun kesal mengundang beberapa pasang mata yang ada di taman kota itu melihat ke arahnya. “Itu karena kau bodoh,” Heechul berdiri pada duduknya dan kini berdiri tepat dihadapan Kyuhyun yang masih duduk.

“Kau sudah menyakiti hatinya dan sekarang kau bersikap seolah-olah dia akan baik-baik saja setelah mengetahui segalanya. Kau gila! Sungmin punya perasaan, seharusnya kau lebih peka terhadap perasaannya” Suara Heechul kembali meninggi.

Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam. “Lalu…apa yang harus ku perbuat? Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku…tidak mencintainya sama sekali”

Heechul membuang nafasnya dengan perlahan. “Apa kau tidak bisa memahami apa yang dirasakan oleh Sungmin?”. Kyuhyun menggeleng sebagai jawaban. “Sedikitpun itu?” tanya Heechul memastikan. Dan jawaban yang didapatnya adalah sebuah gelengan lagi.

Ini memang benar. Kyuhyun memang tidak mengerti akan perasaannya. Ia sama sekali tidak bisa memahami hati Sungmin. Meskipun ia selalu dekat dengan yeoja kelinci itu, tapi jujur selama ini memang Kyuhyun tidak mengerti apa-apa tentangnya.

“Aku heran denganmu, Kyu. Kau yang sudah sejauh ini mengenal baik dengan Sungmin justru tidak bisa memahaminya. Sedangkan Ryeowook… kau tahu apapun tentangnya” Heechul berkata pelan dengan nada sedih.

“Itu…karena aku memahami Ryeowook lewat hatiku, Noona” menjawab dengan gumaman kecil. Heechul tertawa kecil mendengarnya. Ia merasa lucu akan hidup ini. Bagaimana bisa seseorang yang selalu disampingmu justru kau tidak tahu apa-apa tentangnya, sedangkan yang jauh dari jangkauanmu dengan jelas kau tahu segalanya tentangnya.

Bukankah hidup itu lucu?

Kenapa harus berusaha menggapai sesuatu hal yang tak pasti jika didekatmu ada sesuatu yang sudah pasti?

Ah, manusia memang makhluk yang unik dan lucu.

“Kalau begitu belajar saja memahami Sungmin lewat hatimu”

“Tidak! Itu tidak bisa” jawab Kyuhyun mantab dan terkesan menolak mentah-mentah. Heechul menampilkan sebuah wajah penuh tanya. “Wae?”

“Itu…umh…itu…karena aku…ah~ yang jelas tidak bisa”

Heechul tertawa keras kali ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya ringan. Sebenarnya ia mengerti akan semua ini. Hanya saja ia memang berniat untuk tidak terlalu mencampuri urusan mereka semua. Ia hanya akan turun tangan jika masalah adik-adiknya sudah melebihi batas.

Well, contohnya seperti sekarang ini. Ia mendatangi Kyuhyun untuk berbicara baik-baik mengenai Sungmin yang sudah 2 minggu ini berubah. Tapi ternyata hasilnya tidak cukup memuaskan. Ah, tapi itu tidak mengapa bagi Heechul, yang penting ‘kan sekarang ia sudah tahu bahwa ternyata memang sangat susah atau mungkin mustahil untuk membuat Kyuhyun mencintainya.

“Ya sudah jika itu pilihanmu” Heechul mengangkat bahunya acuh. “Yang pasti jangan menyesal dengan pilihanmu, loh~” jari telunjuknya memilin-milin rambut hitamnya yang bergelombang. “Ingat, sekalipun kau berdo’a pada segala macam Tuhan dan Dewa yang ada di muka bumi ini, Ryewook…tetap saja tidak akan mencintaimu”

Mata Heechul mengerling jahil.

“Aku tahu” dengus Kyuhyun.

.

.

.

Aku berusaha memahami hatinya

Tapi aku tak mampu

Mencoba membaca sinar di matanya pun aku tak sanggup

Dan sekarang aku sadar bahwa ini semua karena aku tidak mencintainya

Hatiku sudah menjadi milik orang lain

[[ Choi Ryeosomnia ]]

 

 

Author Note :

Halooo~~ *lambai-lambai dengan muka innocent*

Maafkan saya yang akhir-akhir ini udah nggak produktif menulis. Saya benar-benar merasa bersalah. Dan mungkin akan hiatus untuk beberapa waktu lagi. Saya sedang semester minggu ini.

Ah, ya, mengenai cerita maaf jika cerita ini semakin bertele-tele. Saya sudah sempat hilang feel dan ide untuk melanjutkan ff ini, bahkan sempat berpikir untuk berhenti menjadi Author. Ini dikarenakan banyak faktor―yang mungkin lain kali akan saya ceritakan.

Maaf sekali jika jalan cerita tak sesuai dengan ekspetasi dari kalian semua. Maaf juga akan penggunaan kalimat yang susah dimengerti―maklum udah lama berhenti nulis jadi kaku buat nulis lagi. Terimakasih ya, atas dukungannya selama ini. Makasih juga buat yang nagih nih ff, yang pada akhirnya dapat membuat mood saya balik lagi.

Terimakasih untuk setia menunggui ff murahan saya ^^/

Well, nggak ada banyak waktu buat cuap-cuap kali ini. Ini aja saya publishnya nyuri-nyuri waktu. Haha..

Oh, jangan lupa follow saya untuk bisa saling dekat dengan saya. Shankyuuuuuu~~~

Last~~ tinggalkan komentar.

 

 

Sign,

Ryeowook’s Wife

129 thoughts on “(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 06

  1. haduuuh …kenapa yeppa jahat amat sih ama ryeong oppa. kasihan kan selama ini yeppa dong orang terdekat wookie, sekarang kok malah menghianati ryeong oppa ,,rasain penderitaanmu yeppa ditinggal ryeong oppa. gk nyangka kalo kyuppa suka ama ryeong oppa ??

    makin bagus+seru aja nih,, walau berkali2 netes-nangis.

  2. Kalau aja Heevhul dan Siwon memiliki akal pendek dan mreka lbij mementingkan emosi dripda otal mereka , mungkin Siwon akan sngat membenci Eunhyuk dan Kyuhyun krna ini smua bersumber dri mreka, dan mngkin Heechul akan sngat mmbnci Eunhyuk. Tpi syngnya mreka org yg sngat brhati-hti dllam brtindak dn itu patut utk di syukuri. ‘Berciuman dn smpat ingimn mnjalin hbungan dgn Eunhyuk’ enth knpa aku kesel bnget sma Eunhhyuk oppa, dia itu PHO bnget, dn Yesung oppa juga sngat bodoh/akujadiemosi/ aku marah-marah kyak gni krna kau thau bgaimana prsaannya Ryeowool oppa, entah knpa?g aku pasti nangis. Apa Ryeowook oppa melihat Eunhyuk dn Yesung yg brciuman shnigga ia pergi. Klau iya, klau aku jdi dia mngkin aku tidak akan pernah mau memaafkan Yesung dan akan mmbnci Eunhyuk utk slmanya. Hanua sja Ryeowiik adalah seseorang ug bkan sepertiku.

  3. menyesal kim jong woon??

    yaaaah memang penyesalan datangnya diakhir, kalau datangnya diawal bukan penyesalan namanya,

    selamat buat kim jong woon yang tengah menyesali kesalahannya,,

  4. penyesalan pasti slalu datang terlambat, gimana rasanya yeppa? kalo udh ada orang disisimu jangan disia2 kan dan jangab disakiti.. wookie oppa jangan nahan perasaan mulu nanti bs gila lho, cerita sm aku ajaaa

  5. gra2 ye oppa wook oppa bener2 prg😥
    kan jadi gilaaa (?) gara2 wook oppa prg.
    hae oppa ke mokpo? bakalan ketemu wook oppa dong? hahaha😀 moga2 haewook moment nya buanyak😀

  6. akhirnya wookie bner” pergj ke mokpo ..
    tpi aku msih penasaran siapa yg manggil wookie sebelum dya pergi ? ..
    yesung oppa kau menyesal eoh . ??
    bukan kah kau mementingkan eunhyuk dari pada wookie tpi knp kau menjadi seperti orang gila saat wookie pergi bkn kah bagus klo wookie pergi kau bsa bersama ma eunhyuk n ngk akan ada yg melarang” mu lagi ..
    yesung oppa bru ditinggal wookie beberapa minggu sudah seperti orang gila apa dia tak berpikir gimana menjadi wookie yg kehilangan ibu nya kasih sayang tpi dya msih bisa bertahan .. ckck
    berawal dri kasian n skrng menjadi cinta tpi sayang kau bru menyadari nya yesung oppa ..
    kasian ma sungmin knp kau tdk bsa membuja hati mu untuk sungmin kyu dri pada mengharapkan yg tidak akan memilih mu ..
    apa donghae bakal ketemu wookie dimokpo ?
    semoga mereka bertemu n donghae bsa merubah wookie n membawa wookie kepada kebahagian agar dia ngk kesepian lgi ..
    aku ngk tega ma wookie ..

  7. kasian liat yesung yg menderita begitu, lagian sih yesungnya jahat sm ryeowook..
    pas tau alasan kyuhyun ngomong kasar kaya gitu jadi tersentuh ih so sweet bgt🙂
    walaupun chap ini gada acara bikin mewek, tp tetep feelnya dpt banget .. keren
    hwaiting thor ^^

  8. ahhhh oppa kasian ryeo kau selingkuh hehehe bacanya bikin nangis kisah mereka rumit tapi bikin penasaran yang baca … keputusan ryeo pergi tepat kok biar yesung sadar kalau dia udah salah udah bikin kecewa banget😦

  9. akhir ny wookie pergi jg biar tauk rasa si yesung dan dia bru sadar klau wookie adlh segala nya nyata yesung udh kyak orng gila pas wookie pergi dan yesung biar sadar klau dia udh bkin kecewa wookie😦

  10. Ryeowook pergi.. dan yesung kacau🙂
    Biarkan yesung merasakan apa yg wookie rasakan dulu
    Donghae.. dia seperti penenggah didalam cerita ini
    Kasihan sungmin yg harus tersakiti oleh kyuhyun.. sebenernya agak gedeg sih dgn kyuhyun… tapi perkataan kyuhyun ada benarnya

  11. untung masih ada heechul yang masih ‘normal’ buat nyelesai-in masalah satu persatu hahaaaa. masih penasaran sama perasaan yesung. sama eunhyuk juga, dia berhenti ngejar yesung apa gimana belum ke ungkap huhuuu

  12. Yesung… gmna rasanya ditinggal ryeowook? Sakitkan? Padahal kau yg menyakitinya, bisakan kau merasakan betapa sakitnya ryeowook… tp aku berharap yesung mnta maaf dan ryeowook memaafkan, dan mereka bersatu hehehe. Eunhyuk mulai sadar, dan apa? Donghae mau ke makpo ? Hmmm mungkinkah haewook nnti bertemu ? Kekeke
    Dan buat kyumin semoga hbungan mereka mmbaik dan bersatu lagi, kyuhyun bisa mmbuka hatinya untuk mncintai sungmin 😀
    Haaah kereen kereen kereeen makin penasaran ama cerita slnjutnya…. fightiiiinv

  13. nangis egen….

    sungguh menyakitkan rasanya ditinggal pergi seseorang, apalagi jika penyebabnya adalah diri kita sendiri yang sudah terlalu dalam menyakitnya tanpa kita tahu.
    dan yesung oppa akhirnya merasakan itu…
    dan tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menjalani apa yang telah terjadi…

  14. Kereen… selema baca ff ini dapet bngt feel nya :’3 jadi ikut ngerasain apa yg wookie rasain. Daebakk 👍 author boleh minta pw chap 7 dan seterunya ?

  15. makin mewek dibuatnya (nngis)

    yak ampuunnn sabarrrr yaaaa wook.

    itu yesung baru dah mulai sadar mna cinta mna kagum .. arrgg

    mustinya yesung dibuat mnderita lebih lgi nohhh biar ngerasaain apa yg dirasain wook.

    btw ,, password vhapter selanjutnya dong kaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s