(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 07

Tittle : We Don’t Leave You!!

Chapter : 7

[[ phiphohBie ]]

Author : Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YeWook

Yewook’s NOT MINE!! But, ‘We Don’t Leave You!!’ purely IS MINE..^^

.

.

.

Enjoy!!

.

.

.

Matahari terbit itu awal dari hari baru…

Matahari terbit memberi kita kesempatan untuk memulai semuanya dari awal^^

.

.

.

Gadis bermata kucing itu berjalan pelan menyusuri jalanan kota Seoul yang tampak dipenuhi dengan guguran daun yang meranggas saat musim gugur tiba. Ia merapatkan jaket tebal yang terbuat dari kain wol itu hingga semakin membalut tubuh kurusnya.

Sebuah topi rajutan berwarna biru yang bertengger manis di kepalanya pun menambah hangat suhu tubuhnya di musim gugur kali ini. Semua yang ia kenakan hari ini sudah cukup membuat tubuhnya sedikit terhindar dari angin musim gugur.

ia memandang lurus kedepan. banyak warga Seoul yang berlalu lalang, entah itu hanya sekedar jalan-jalan bersama kekasihnya atau mungkin hanya melihat-lihat pernak-pernik yang dijual di musim gugur.

Mata kucingnya memandang pada sebuah bangku taman kota yang kosong. Ia mulai mengingat kembali pada sesosok manusia yang teramat ia rindukan. Sesosok namja dengan wajah baby face yang begitu menyebalkan baginya―dulu.

Ia merindukan namja dengan tingkah sok-tahunya yang menurutnya seringkali membuatnya harus sadar diri bahwa apa yang dikatakan oleh pria itu adalah sebuah kebenaran. Entah karena apa, tiba-tiba saja bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum.

Senyum manis yang samar akan sebuah kerinduan dan bahkan juga terlihat sedikit guratan sedih dari matanya. Bibir dan matanya benar-benar tak sinkron sama sekali. Bibirnya tersenyum penuh kerinduan, tapi matanya menyiratkan sebuah kesedihan.

Ia menghela nafas berat dan menimbulkan uap-uap nafasnya menggumpal seperti orang yang sedang menghembuskan rokok. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya ringan mengusir segala pikirannya yang membuat hatinya tiba-tiba sesak.

Setelah berhenti cukup lama, ia memutuskan untuk melanjutkan lagi jalannya. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu tujuannya hari ini, ia hanya tiba-tiba saja ingin jalan-jalan pagi―saat baru bangun tidur. Dan jadilah seperti ini, berjalan sendiri tanpa teman dan terlihat seperti orang yang kesepian.

Ah, ngomong-ngomong tentang kesepian, bukankah kau memang kesepian, Lee Hyukjae?

Kaki-kaki kurusnya yang terbalut sepatu berbulu tersebut melangkah dan terus melangkah hingga sebuah―maksudku seseorang―menarik perhatiannya. Eunhyuk mengamati pria itu dengan seksama.

Namja itu terlihat terdiam sendiri disebuah ayunan di taman kota. Kepalanya menunduk seperti orang yang sedang tertidur―tapi Eunhyuk tahu bahwa pria itu tidak tertidur. Dari kejauhan, Eunhyuk dapat melihat sebuah air bening yang mengalir dipipinya. Eunhyuk bersumpah bahwa ia yakin jika itu adalah air mata.

Dengan langkah yang sedikit menyeret―karena ia yakin bahwa setelah ini ia akan berbicara serius dengan pria itu―Eunhyuk mendekati namja yang terduduk lemas di ayunan itu.

Eunhyuk berhenti tepat didepan pria itu―sebut saja dia Yesung―dan berkata, “Yesung Oppa~” panggilnya lembut. Tak perlu waktu lama untuk menunggu pria itu menyahuti panggilannya, karena setelah mendengar namanya disebut oleh seseorang yang berdiri didepannya, Yesung pun mendongak.

Mata sehitam malam itu terlihat meredup. Yesung mengelap dengan cepat air mata yang menuruni pipinya. Eunhyuk sendiri hanya bisa tersenyum tipis. “Boleh aku duduk disampingmu?” meminta ijin dengan menunjuk satu ayunan disamping Yesung. Kepala besar pria itu mengangguk pelan.

Hah~

Eunhyuk menarik nafas dalam dengan kaki yang mulai memainkan ayunannya hingga bergerak. Mereka terdiam dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri. Mereka seperti berada ditempat yang sepi hingga entah kenapa perasaan sepi yang ada dalam diri mereka justru terasa begitu memuakkan.

Padahal taman kota Seoul pagi ini begitu ramai. Tapi Yesung maupun Eunhyuk merasa bahwa saat ini mereka sedang seorang diri dan terasingkan. Ah, ini lucu.

Merasa bosan dengan tingkah Yesung yang diam saja dan tak berniat membuka pembicaraan, akhirnya Eunhyuk pun berinisiatif untuk memulainya. “Bukankah kisah kita sangat lucu?” membuka suara dengan pandangan yang lurus kedepan.

Yesung masih diam dengan menundukkan kepalanya―sama persis dengan pose-nya saat awal Eunhyuk melihatnya hari ini. “Kita sama-sama ditinggalkan oleh orang yang sangat berharga dalam hidup kita―yang bodohnya baru kita sadari hari ini” menghela nafas diakhir kalimat.

Yesung masih tetap diam tak berniat merespons. Ia seperti jiwa yang ditinggal pergi roh-nya. “Bukankah ini sudah hampir empat tahun?” bertanya pelan yang sebenarnya lebih seperti sebuah pernyataan.

Kali ini Yesung meresponsnya meskipun itu hanya berupa senyum tipis. Eunhyuk terkekeh kecil melihat senyum namja disampingnya. “Senang bisa melihatmu tersenyum meskipun itu bukan senyum kebahagiaan” ujarnya sedikit menggurau.

Hah~

Kesunyian kembali melanda mereka. Entah kenapa rasanya mereka terlihat seperti makhluk konyol. Berbicara hanya sedikit lalu terdiam cukup lama. Mereka yang dulu―saat masih SMA―begitu berbeda dengan sekarang.

Dulu mereka berdua akan saling berbicara dengan banyak topik yang akan dibahas. Mereka akan tertawa bahagia, mereka akan saling bercanda tawa dan mereka tak pernah terdiam sebegitu lamanya seperti saat ini.

Eunhyuk tertawa sedih dalam hati. Ia merasa hidup begitu lucu. “Sudah hampir empat tahun, ya?” katanya lagi mencoba menghentikan kesenyian yang menyergap. Yesung kali ini sudah menatap lurus kedepan. “Ya,” jawabnya. Eunhyuk memandang Yesung lekat, “Entah kenapa aku merasa bahwa sifat Ryeowook sudah berpindah padamu, Oppa”

Yesung tersenyum sedikit lebar. “Benarkah?”

“Ya. Dulu Ryeowook sangat irit berbicara dan seperti mayat hidup. Lalu sekarang, kau juga seperti itu―Aa~ maksudku semenjak Ryeowook pergi dari Seoul empat tahun yang lalu” menjawab jujur dan membuat raut wajah Yesung berubah suram.

“Memangnya aku harus bagaimana? Dia bahkan seperti Matahari dalam hidupku. Dan sekarang dia pergi,” ujarnya pelan dan kembali menunduk menyembunyikan air matanya. “Bisa kau bayangkah jika Mataharimu dengan tiba-tiba saja meninggalkanmu?”

Eunhyuk mengulas senyum tipis. “Tentu aku tahu. Rasanya…sangat menyebalkan. Hari-hariku seperti gelap gulita dan itu membuatku tak bisa melihat Dunia dengan indah lagi” jawabnya dengan kepala mendongak―menghalau cairan bening untuk jatuh dari matanya.

“Lebih dari itu, Hyukkie” Yesung kembali berbicara. “Lebih dari itu!” ulangnya lagi dengan nada bergetar. Eunhyuk menoleh pada Yesung, dan kini tatapan kedua mata mereka saling bersibobrok. Saling menyalurkan segala sakit yang terpendam begitu lama dihati mereka.

“Saat dia meninggalkanku begitu saja aku merasa…merasa bahwa Dunia ku sudah berakhir. Ya, berakhir.” Eunhyuk dapat merasakan jantungnya bergemuruh begitu cepat. Darahnya memompa dengan cepat hingga membuat segala urat-urat dalam tubuhnya tak berfungsi.

Ia bahkan tanpa sadar menahan nafasnya sampai ia kembali merasakan jantungnya kembali dipompa dengan cepat hingga seperti meluapkan perasaan sedih yang tersimpan begitu dalam selama ini.

Tangannya yang memegang tali ayunan perlahan jatuh melemas. Eunhyuk seperti kehilangan energinya. Hanya dengan memandang mata Yesung yang penuh dengan kesakitan itu sudah mampu membuat Eunhyuk juga turut kembali menggali luka lamanya.

Sakit.

Sesak.

Mata Eunhyuk memanas. Setelah sadar bahwa ia telah menahan nafasnya, ia pun akhirnya menarik nafas sebanyak mungkin dengan tanpa sadar menjatuhkan butir-butir bening dari pelupuk matanya. Ia meraba dada bagian kirinya.

Kosong.

Yah, ia merasakan sebuah kosong disana. Lubang tak kasat mata yang teramat menyakitkan. Lubang yang hanya dapat diisi olehnya. olehnya―Lee Donghae. “Hikz~” isakan itu pun tanpa Eunhyuk kehendaki keluar dari bibir kissable-nya. “Hae~~” memanggil nama namja yang sudah jauh disana dan sudah lama tak kembali.

Yesung sendiri pun juga tak mampu melakukan apapun. Ia paham betul apa yang dirasakan oleh gadis kurus disampingnya ini. Ia juga merasakannya, bahkan apa yang dirasakannya pun jauh lebih sakit.

Yesung tertawa kecil. Tertawa yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri yang sudah bodoh membuat orang yang amat berharga untuknya pergi meninggalkannya. Ia mendongak memandang langit. “Apa yang harus kita lakukan, Eunhyuk-ah?”

Suara Yesung bergetar menahan tangis. sekuat tenaga ia berusaha untuk tak menjatuhkan air matanya lagi. Bukankah ia namja? Bukankah ia harus bertahan?

“Tuhan sudah terlanjur marah dengan kita” berucap lagi masih dengan nada yang bergetar. Eunhyuk menggelengkan kepalanya tidak tahu. Eunhyuk pun juga terlihat frustasi. Ia menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya. Menyembunyikan tangisnya yang semakin menjadi.

“Tuhan menghukum kita, Ia pasti marah besar karena kita menyakiti ciptaannya yang teramat ia cintai” tambahnya.

.

.

.

Waktu itu terus berputar, setiap harinya semuanya bisa berubah, tempat bisa berubah, manusia pun bisa melupakan!

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Donghae menikmati hembusan angin pagi di kota Mokpo. Kota yang bisa dibilang kota nelayan itu terlihat begitu indah saat Matahari memancarkan sinarnya. Bahkan sekalipun itu musim gugur, Donghae merasa bahwa kota Mokpo tetap terasa hangat. Mungkin angin laut itulah yang menyebabkan hawa di Mokpo berbeda dengan di Seoul.

Ah, ngomong-ngomong soal Seoul kira-kira bagaimana keadaan disana, ya? rasanya sudah lama sekali ia tidak kesana sekalipun itu hanya sekedar untuk berkunjung. Bukannya Donghae tidak punya uang atau apa, hanya saja…ia merasa bahwa disini ia punya tanggung jawab.

Bukan. Ini bukan tanggung jawab tentang para pekerjanya, melainkan ini tanggung jawabnya pada seorang gadis mungil. Gadis mungil yang ia temui sekitar 3 tahun yang lalu di Mokpo. Gadis mungil yang sebenarnya adalah teman SMA nya.

Choi Ryeowook.

Donghae menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyum menawan kala hatinya menyebutkan nama gadis keras kepala itu dengan mantab. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya ringan kala memory dalam otaknya memutarkan segala ekspresi wajah Ryeowook―yang menurutnya lucu.

“Sedang apa?”

Ah, suara ini.

Seseorang berdiri disampingnya. Tangannya yang halus dan kecil itu memegang pagar pembatas yang terbuat dari besi yang sengaja dibuat oleh masyarakat sekitar agar anak-anak kecil yang bermain disana tidak tercebur di laut. Memang saat ini Donghae sedang berada disebuah tempat yang bisa dibilang sedikit menengah dipantai yang terbuat dari kayu.

“Menurutmu?” Donghae kembali bertanya. Terdengar sebuah dengusan yang terdengar dari sebelahnya. Ah, gadis mungil itu mendengus ternyata. Donghae tak mengalihkan sedikit pun perhatiannya dari laut yang ada didepannya.

“Kau tetap sama saja menyebalkan” gadis mungil itu―Ryeowook―berkata cepat dengan nada yang sedikit keras. Jika dulu ia adalah manusia yang selalu berbicara kalem, dingin dan terdengar pelan, maka kali ini Ryeowook sudah mulai bisa bersuara sedikit keras―ya, tidak begitu keras juga sih.

“Dan kau tetap saja berbicara blak-blakan seperti dulu” Donghae kembali menjawab perkataan Ryeowook. gadis disamping Donghae itu kali ini menghela nafas bosan. Berbicara dengan pria disampingnya ini memang kadang-kadang suka membuatnya emosi.

Eh, emosi?

Kau sudah mulai bisa menampilkan emosi mu, Wookie-ah?

Donghae mengalihkan pandangannya pada Ryeowook. bibirnya terkekeh kecil mendapati wajah suram Ryeowook. tangannya tiba-tiba saja terangkat lalu mengacak gemas rambut Ryeowook. “Aku suka sekali melihat wajahmu yang semakin lama sudah semakin bisa berekspresi” ujarnya sambil masih terkekeh.

Ryeowook menurunkan tangan Donghae dari kepalanya. Lalu menyisir rambutnya menggunakan tangannya. Bibirnya menggerutu pelan―meskipun gerutuan itu tidak seperti gadis-gadis manja seperti biasanya. tapi toh Donghae sudah sedikit senang melihat bibir semerah cherry itu mulai menggerutu.

Melihatnya….ah, entahlah rasanya Donghae suka sekali. Tiga tahun mengenal begitu dekat dengan gadis ini sudah cukup membuat Donghae mengerti tentang segala yang ada pada diri Ryeowook. meskipun tidak seratus persen, sih.

Donghae memandangi wajah manis Ryeowook yang saat ini tengah tersenyum menikmati hembusan angin musim gugur. Matanya menutup meresapi sepoi-sepoi angin yang mengaburkan helaian rambut coklat madu miliknya.

Inilah hal yang paling ia suka dari Ryeowook. senyumnya. Ya, senyum gadis ini sangat manis dan begitu menenangkan. Hatinya selalu menghangat saat melihat gadis ini tersenyum―sekalipun itu hanyalah sebuah senyum kecil.

Donghae buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan ketika Ryeowook sudah membuka matanya. Gadis mungil itu hanya berdecak kesal dengan tingkah Donghae yang suka memperhatikannya diam-diam. Dia tidak bodoh, Ia tahu bahwa sedaritadi Donghae memang mengawasinya.

“Aku tahu kalau kau mengawasiku” Ryeowook berkata santai sambil melirik sekilas Donghae yang kini menatap heran pada dirinya. “Maksudmu?” nada bicara Donghae di buat-buat polos. “Ya, kau mengawasiku saat aku memejamkan mataku tadi” jawab Ryeowook jujur.

Donghae membuka mulutnya tapi tidak keluar suara. Matanya mengerling jahil pada Ryeowook. “Dasar yeoja perasa” ejeknya. Ryeowook mengerutkan keningnya dan kembali mengalihkan pandangannya pada Donghae yang ada disampingnya.

Kali ini badannya pun juga turut memutar ke samping menghadap Donghae yang masih setia berdiri menghadap hamparan laut luas. Kedua tangan Ryeowook bersendekap di dada. Jika sudah begini Ryeowook terlihat seperti Ryeowook yang dulu. Gayanya benar-benar arrogant.

“Jangan mengelak. Jelas-jelas kau memperhatikanku diam-diam. Cih~ sayang sekali, Bung, aku tidak tertarik dengan pria sepertimu” Ryeowook melempar kalimat mengejek pada Donghae. hei, bisa kalian lihat! Ryeowook sudah benar-benar berubah. Dia sedikit demi sedikit sudah mulai memiliki selera humor.

Sedangkan Donghae kini pun juga berbalik. Ia memasang pose yang sama dengan Ryeowook. menampilkan wajah sombong―yang sangat tidak cocok dengan wajah baby face-nya. Matanya merotasi malas. “Ya, ya, tentu saja kau tidak tertarik denganku karena memang kau masih tertarik dengan Yes―”

Akh!

Donghae menghentikan ucapannya dan seketika menyesali mulutnya yang begitu mudah lepas kendali. “Wook-wookie,” ia memanggil nama Ryeowook dengan sedikit gugup. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Ryeowook.

Kedua tangannya memegang pundang ringkih Ryeowook memaksa sang empunya pundak untuk mendongakkan kepalanya. Memang sejak Donghae hampir menyebut nama sakral dalam hidupnya itu Ryeowook langsung menundukkan kepalanya.

“Mianhae~” dengan rasa penuh penyesalan Donghae berucap. “Ak―”

“Gwaenchana~” tanpa di duga Ryeowook justru mendongak dengan tersenyum kecil. Matanya menyipit saat bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. “Itu adalah hal yang telah lalu. Aku…sudah terbiasa” lanjutnya dengan tertawa kecil.

Donghae menghela nafas lega. Jujur saja ia sebenarnya takut jika Ryeowook harus kembali sedih dan murung saat mendengar nama pria itu lagi. Tapi setelah melihat Ryeowook tersenyum ia jadi lega. “Aku pikir kau akan kembali sedih” katanya dengan mengelus sayang rambut Ryeowook.

Ryeowook menatap dengan lekat wajah lega Donghae. ia jadi merasa bersalah karena sudah merepotkan pria di depannya ini begitu lama. Donghae selalu ada disampingnya saat ia dalam keadaan buruk 3 tahun yang lalu.

Semenjak kepergiannya dari Seoul, Ryeowook memang melanjutkan sekolahnya disini dan kehidupannya pun tak jauh berbeda saat ia di Seoul. Ia tetap Ryeowook yang pendiam dan arrogant. Selama setahun ia tidak memiliki teman dan selalu menyendiri. Dan itu rasanya begitu menyiksa.

Tapi…setelah ia lulus dari sekolahnya Ryeowook memutuskan untuk mengajar kursus piano pada anak-anak SD. Ryewook melakukannya bukan karena ia membutuhkan uang―Hey, jangan bodoh. Ryeowook berasal dari keluarga besar Choi yang terhormat, mustahil jika ia kekurangan uang―melainkan karena ia hanya ingin mengusir rasa kesepian yang melandanya.

Dan pada saat itulah ia dipertemukan dengan pria disampingnya saat ini.

Lee Donghae.

Pria dengan wajah baby-face yang dimilikinya itu bertemu dengan Ryeowook di pinggir pantai. Ryeowook sempat terkejut sebenarnya dan begitupun sebaliknya. Mereka sempat tidak mempercayai ini semua. Rasanya…seperti Drama saja.

Lalu pertemuan singkat itu menjadi sebuah ajang bagi Donghae untuk mendekati Ryeowook. ia terus saja datang ke tempat Ryeowook mengajar kursus piano dan bertingkah seolah-olah ia mengenal dekat Ryeowook.

Awalnya Ryeowook risih dan sempat membenci pria menyebalkan itu. Tapi…lambat laun hati keras Ryeowook pun dapat luluh. Segala perhatian dan kebaikan hati Donghae ternyata dapat menghancurkan benteng besar yang mengurungnya selama ini.

Donghae… pria itu datang dengan menawarkan sebuah harapan baru. Ryeowook sempat ragu awalnya, ia takut apa yang menimpanya di masa lalu―tentang Yesung―terulang kembali. Ia takut tersakiti lagi. Tapi… Donghae ternyata mampu meyakinkannya.

Dan sejak itulah keduanya menjadi sepasang teman. Begitu dekat dan saling berbagi kesedihan maupun senang.

“Donghae,” panggil Ryeowook pelan. “Kau harus memanggilku, Oppa! Meskipun kita ini lulus ditahun yang sama tapi aku itu jauh lebih tua darimu dan―”

“Gomawoyo~” Ryeowook memotong protesan yang tadi dilayangkan oleh Donghae. namja penyuka ikan nemo itu langsung terdiam dan sedikit terperangah melihat tawa Ryeowook yang begitu lepas. Tak pernah sekalipun ia melihat Ryeowook tertawa selepas ini. Meskipun hanya tawa kecil tapi itu sangat berarti baginya.

Tawa kecil itu meluncur begitu saja dan tampak begitu tulus dari hati. Membuatnya mau tak mau akhirnya turut tersenyum. tangannya kembali terangkat di pucuk kepala Ryeowook. kali ini bukan bermaksud untuk mengacaknya melainkan mengelusnya.

“Ne, sama-sama. Tapi…untuk apa kau berterimakasih tiba-tiba?”

Ryeowook tampak berpikir sejenak. Matanya merotasi ke atas mencoba mencari alasan tepat. Ia tidak berniat untuk berbicara yang sesungguhnya akan alasannya berterimakasih tiba-tiba. “Kau mencari alasan? Itu sangat tidak masuk akal jika kau berterimakasih tiba-tiba dan masih mencari alasan.”

“Huh?”

“Jika ada sesuatu hal baik yang pernah aku lakukan padamu sampai kau berterimakasih begitu padaku, harusnya kau berbicara jujur dan tidak mencari alasan untuk menutupi yang sebenarnya”

“……”

Ryeowook mendengarkan Donghae dengan seksama. Selama ini pria ini juga selalu mengajarinya tentang bagaimana kita harus bersikap, berkata jujur dan mengekspresikan perasaannya. Dan itu juga berpengaruh bagi Ryeowook.

Ia mulai belajar semuanya pada Donghae. awalnya memang sulit dan agak risih jika harus mengumbar apa yang ia rasakan pada orang lain, tapi toh, sekarang ia sadar bahwa berbagi perasaan kita pada orang lain itu tidak buruk. Justru itu akan membantu kita untuk mengurangi beban.

“Katakan, apa yang membuatmu berterimakasih tiba-tiba seperti itu. Apa aku sudah membuat hal baik untukmu?” mata Donghae mengerling jahil. Manik mutiara hitam miliknya berkilat jenaka dan sedikit membuat Ryeowook muak.

Sebelum ia menjawab pertanyaan Donghae dengan jujur, Ryeowook lebih dulu berdehem sekilas. Ia menarik nafas dalam dan memantabkan hatinya untuk mengungkapkan segalanya. Sudah lama sekali ia bergantung dan merepotkan Donghae tapi belum sekalipun ia mengucapkan terimakasih. Ah, keterlaluan.

“Aku hanya merasa harus berterimakasih”

Alis Donghae terangkat sebelah. Tidak mengerti dengan alasan ambigu yang Ryeowook ucapkan. Sebuah dengusan keras keluar dari bibir Ryeowook. yeoja berpawakan kecil itu menyadari akan kebingungan Donghae.

“Selama ini aku sudah sangat merepotkanmu. Kau pasti kuwalahan menghadapi sifat dingin dan Arroganku. Dan juga terang-terangan menolak berteman denganmu,”

“…………….”

Ryeowook menarik nafas panjang. “Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat aku menolakmu menjadi temanku di waktu yang lalu, tapi…aku sadar bahwa itu adalah hal yang terlalu kasar yang telah aku perbuat padamu”

Ryeowook membuang muka. Ia menolak menatap manik mutiara hitam didepannya. “Kau juga sudah membantuku untuk lebih manusiawi pada diriku sendiri, melarangku untuk berbuat lebih keras lagi pada diriku, kau mengajariku banyak hal.

Dan menjalin persahabatan adalah hal yang paling berharga yang pernah kau ajarkan” Ryeowook kini menoleh pada Donghae. dengan mata yang sudah mengembun ia masih terus melanjutkan ucapannya. “Karena kau…sekarang aku merasa bahwa lubang itu―( tangannya menunjuk dada bagian kirinya sendiri )―sudah terisi setengah.”

Donghae tak berniat untuk memotong apapun yang tengah keluar dari bibir cherry gadis didepannya itu. “Gomawo sudah mau mengisinya” lagi, lagi, bibir itu mengumbar senyum menawannya. Kali ini dengan diiringi cairan bening yang sudah menuruni pipinya.

Donghae mendekat pada tubuh mungil itu lalu membawanya pada dekapan hangatnya. Memeluk dengan sayang dan penuh dengan rasa kasih. “Bukankah aku sudah berjanji dulu? Aku berjanji akan membantumu untuk mengisi lubang yang ada di hatimu” katanya dengan sesekali memberi kecupan sayang di pucuk kepala Ryeowook.

Ryeowook mengangguk. Ya, ia masih mengingat segalanya. Waktu itu…

.

Ryeowook menghentikan langkahnya dan menoleh pada namja yang tadi memanggilnya. “Apa?” jawab Ryeowook datar berusaha menyembunyikan segala hal yang berkecamuk dihatinya. Saat ini yang ia inginkan hanya ingin pergi dan melupakan segalanya yang ada di Seoul.

Seseorang yang memanggilnya―Lee Donghae―mendekat padanya dan sedikit membut Ryeowook mendongakkan kepalanya. “Kau benar-benar akan pergi?”

“…………”

“Kenapa kau memutuskan hal seperti ini? Kenapa kau tidak mencoba menghadapinya saja?”

“………….” masih tak ada jawaban yang keluar dari bibir Ryeowook. gadis dingin itu tetap diam dan memasang ekspresi datar ala khas dirinya. “Kau sudah mendengar semuanya dari Kyuhyun. dia bahkan menawarkan dirinya untuk menjadi temanmu, tidakkah itu belum cukup?”

“Tidakkah hatimu bergetar dan merasa sedikit menghangat saat mendengar masih ada seseorang yang mau berteman dengan manusia yang tidak bisa disebut manusia sepertimu ini?” Donghae berceloteh begitu panjang yang masih saja tak ada respon apapun dari Ryeowook.

“Kenapa kau membuat sebuah lingkaran pada dirimu sendiri dan menolak orang lain untuk bergabung ke dalamnya? Bukankah jika kau membiarkan mereka masuk maka kau tidak akan kesepian lagi?”

“Aku tidak tertarik” jawab Ryeowook singkat. Donghae tertawa miring. Ia memandang Ryeowook dengan pandangan yang sulit di artikan. “Kau aneh”

“Aku sudah terbiasa mendengar hal yang seperti itu” lagi. Jawaban Ryeowook begitu singkat dan sedikit membuat Donghae kesal. Ryeowook berjalan kembali dan meninggalkan Donghae yang masih menatap punggungnya lekat-lekat.

Setelah Ryeowook melangkah 7 langkah dari tempatnya tadi tiba-tiba saja Donghae kembali bersuara. “Jika kau menolak perasaan orang-orang yang ingin menjadi temanmu di dunia ini hanya karena sesuatu yang berbeda dengan cara berpikirmu atau sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan,

Maka tak akan ada yang bisa mengisi lubang di hatimu itu…” Donghae menjeda kalimatnya sebentar. Menarik nafas dalam dan kembali berujar, “…dan selamanya lubang itu akan menganga, menyisakan perih teramat dalam yang tak tertahankan”

Ryeowook menutup matanya erat mendengar segala perkataan Donghae―yang ia akui memang benar. Yah, di hatinya memang ada sebuah lubang. Lubang yang tidak tahu kenapa begitu menyakitkan untuknya. Ryeowook selama ini mencari-cari hal agar lubang itu dapat terisi penuh, tapi…ia tidak menemukan obatnya atau sesuatu hal yang bisa menutup lubang tersebut.

‘Jadi…apa benar yang dikatakan oleh namja bermanik sehitam mutiara dilautan itu, kalau lubang ini akan terisi jika aku memiliki teman?’―katanya dalam hati.

“Jika kau tetap disini aku berjanji aku pasti akan berusaha untuk dapat mengisi lubang dihatimu itu” seru Donghae agak keras. Ryeowook kembali membuka matanya. Ia merasakan nafasnya tercekat. Dirinya seperti terhipnotis sehingga tak bisa beranjak pergi dari tempatnya.

‘Aku ingin pergi tapi kenapa kaki ku tidak mau beranjak?’

“Jangan sok kenal denganku dan mengumbar janji yang tidak-tidak,” Ryeowook menelengkan kepalanya kebelakang dengan mata yang melirik tajam kepada Donghae. “Apa kau tidak tahu, saat kau mengucapkan sebuah janji pada seseorang itu artinya kau telah membuat seseorang berharap padamu,

Dan jika kau tak bisa menepati janjimu itu sama saja dengan menghancurkan hatinya. lagipula aku tidak suka orang yang selalu berjanji. Sebagian besar dari mereka hanya mampu mengucapkan dan tak bisa menepati.”

Donghae balik menatap Caramel cerah didepannya. Ia bahkan tak gentar dengan tatapan penuh ketidaksukaan yang dilemparkan oleh Ryeowook padanya. Bahkan jika kalian ingin tahu, namja tampan ini justru tersenyum miring.

“Sepertinya kau orang yang begitu sering dibohongi oleh orang lain, ya? sampai begitu paham tentang makna sebuah janji”

Kelopak mata itu sedikit melebar karena perkataan Donghae yang sepertinya menyindirnya. Cepat-cepat ia kembali membiasakan pandangan matanya seperti biasa―pandangan datar. “Kau benar. Dan aku benci mengakui ini dihadapan orang yang bahkan tidak aku anggap keberadaannya” katanya jujur.

Ryeowook berpikir bahwa sepertinya mengelak pun tak akan ada artinya karena namja pernyuka ikan Nemo ini sepertinya begitu bisa membaca pikiran orang lain. Terdengar sebuah tawa renyah dari bibir tipis Donghae.

“Aku ingin berteman denganmu dengan tulus dan aku tidak peduli sekalipun kau tak menganggapku ada. karena bagiku kau tetaplah orang yang perlu ku tolong”

“Aku tidak butuh pertolongan siapapun”

“Ya, kau memang tak membutuhkannya. Tapi hatimu…”

Donghae menjeda sedikit kalimatnya, “…membutuhkannya.” tambahnya lagi. Kali ini Ryeowook sudah tak mau berlama-lama lagi berbicara. Dengan langkah yang mantab ia mulai berjalan sedikit cepat meninggalkan tempat itu. Samar-samar ia masih mendengar suara Donghae berbicara, “Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, aku janji akan menepati janjiku padamu.”

‘Cih, namja gila’ umpat Ryeowook dalam hati.

.

Ryeowook melepaskan pelukannya. Tangannya menghapus lembut sisa-sisa air mata dipipinya. “Terimakasih banyak” Ryeowook kembali mengucapkan terimakasih pada Donghae. ia merasa bahwa jika hanya dengan satu kata ‘terimakasih’ pun rasanya belum cukup. Kebaikan Donghae sudah melampaui batas dan ia masih belum bisa membalasnya sedikitpun.

“Ryeowook-ah~”

“Hng?” Ryeowook memandang Donghae dengan lembut. “Apa ini tidak keterlaluan?” Ryeowook tidak mengerti dengan maksud Donghae dan ia hanya bisa kembali menampilkan wajah penuh tanyanya.

“Ini sudah hampir 4 tahun. Apa…kau…tidak ingin pulang?” bertanya sedikit ragu dan takut akan membuka luka lama yang sudah terkubur begitu dalam dihati Ryeowook.

Dalam seperkian detik wajah Ryeowook sempat berubah masam namun itu tak berlangsung lama karena Ryeowook buru-buru memasang wajah datarnya. “Kau meninggalkan semuanya dengan tiba-tiba. Dia pasti mencarimu”

Ryeowook tersenyum kecut. “Bagaimana bisa kau seyakin itu bahwa ‘dia’ mencariku? Kau ‘kan tidak tahu keadaannya. Lagipula siapa tahu ia sudah bahagia bersama dengan sahabatmu itu” meskipun suara Ryeowook terdengar santai dan tanpa beban, tapi siapa yang tahu bahwa ia mati-matian mengontrol itu semua.

Donghae mendengus. “Aku pergi ke Mokpo selisih satu bulan semenjak kepergianmu jadi aku masih sempat mengetahui keadaan yang ada disana dan dia…aku rasa dia tidak baik-baik saja”

“Oh, ya, lalu bagaimana dengan sahabatmu itu?”

“Dia tidak berpacaran dengan Yesung Hyung. Lagipula sejak Yesung Hyung tahu bahwa kau benar-benar pergi dari Seoul sejak itu pula ia sudah tidak lagi ada kontak dengan Eunhyuk. Singkat cerita ia merasa kehilanganmu”

Ryeowook berdecih keras. “Kau pikir aku percaya dengan karangan cerita bodoh mu itu?” Donghae mengernyit tak suka ketika Ryeowook menganggap bahwa apa yang ia katakan adalah sebuah kebohongan. Hei, Lee Donghae berkata jujur.

“Apa yang membuatmu yakin bahwa aku berbohong?”

Ryeowook menghela nafas pendek. “Mereka berdua terlihat saling tertarik satu sama lain, ada sebuah pandangan memuja yang mereka lemparkan pada satu sama lain, saat mereka berdua pun rasanya mereka menciptakan sebuah dunia baru,”

Donghae mencermati kata per kata yang diucapkan Ryeowook. “Dunia baru yang begitu menyenangkan, dunia baru yang tak pernah didapatkan oleh Yesung Oppa saat bersamaku. Eunhyuk…gadis itu sangat ceria, dia bisa membuat Yesung Oppa tertawa lepas. Selama ini aku tak pernah melihatnya bisa tertawa selepas itu―seperti saat bersama Eunhyuk” berkata jujur dan tak ada sedikit pun yang di tutup-tutupi.

Donghae mulai mengerti maksud Ryeowook. namja dengan tinggi 175 cm tersebut paham bagaimana posisi Ryeowook. yah, sekarang ia mengerti kenapa dulu Ryeowook memilih untuk angkat kaki dan mengalah. Itu…pasti karena Ryeowook merasa bahwa ia tidak bisa memberikan Dunia yang indah pada pria itu―Yesung.

‘Ryeowook pasti tersiksa’

Mungkin selama 3 tahun ini mereka dekat bisa dikatakan inilah kali pertamanya keduanya membicarakan ini semua. Selama ini Ryeowook maupun Donghae lebih memilih menghindari topik sensitive ini. Dan sekarang adalah saatnya untuk membuka semuanya.

“Itu hanya masalah waktu, Ryeowook-ah. Kau dan Yesung Hyung sudah bersama-sama dalam waktu yang cukup lama jadi sangat wajar jika Yesung Hyung terlihat bersemangat saat bersama gadis lain yang berbeda kepribadian denganmu”

“Aku…tidak mengerti” keluh Ryeowook pelan. “Kau masih belum paham?” Ryeowook menjawab pertanyaan Donghae dengan gelengan kepala. “Sebut saja Yesung Hyung hanya merasa bosan,”

“Bosan?” ulang Ryeowook. “Ya. dia hanya bosan padamu yang sudah bersamanya dalam waktu yang cukup lama. Dan saat ia bertemu dengan Eunhyuk, itu…bisa diibaratkan ia menemukan sebuah batu permata ditumpukan Mutiara”

“……………….”

“Dia hanya bermain-main saja. Dan bukan berarti ia bisa meninggalkan Mutiara indahnya”

“Begitukah?”

“Seharusnya kau melihat keadaannya yang berubah drastis sejak kepergianmu. Aku sering memergokinya pergi ke club malam dan menghabiskan berbotol-botol minuman berAlkohol, kau juga harus tahu bahwa ia jarang berbicara, ah, intinya dia berubah total”

Ryeowook terkejut bukan main mendengar semuanya. Ia tidak menyangka bahwa Yesung bisa seperti itu. Bukankah Yesung yang dikenalnya sangat dewasa dan selalu berpikir dulu jika akan bertindak?

“Dan sekarang aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Kau tahu sendiri ‘kan bahwa aku tidak kembali sama sekali ke Seoul karena kamu?”

Ryeowook mengangguk. ‘Oppa~ apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau seperti itu? Kau harusnya bahagia dengan kehidupanmu tanpaku…’―desah Ryeowook dalam hati.

“Apa…kau akan kembali ke Seoul?” tiba-tiba saja Ryeowook bertanya dan ini mengejutkan bagi Donghae. bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. “Apa ini artinya kau ingin mengajakku kembali ke Seoul bersama?” Donghae justru balik bertanya.

Ryeowook menggelengkan kepalanya dan membuat Donghae mendesah kecewa. “Kau membuatku gembira sia-sia” sinis Donghae. Ryeowook terkikik geli mendengar nada sinis itu. “Mianhae~ tapi aku benar-benar tak ingin kembali kesana. Jika kau ingin pulang… maka pulang lah”

Baru saja Donghae akan bertanya, ‘bagaimana denganmu?’, Ryeowook sudah lebih dulu menjawab, “Kenapa kau terus-terusan memikirkan keadaanku? Kau punya kehidupan sendiri dan kau…bukankah kau juga memiliki cinta diam-diam?” mata Ryeowook memandang lurus tepat pada manik hitam mutiara milik Donghae.

“Kau tahu?” sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Ryeowook mengetahui rahasinya. “Tentu saja. Kau menyimpan foto gadis itu di dompetmu, jelas dia gadis yang istimewa untukmu” berujar dengan nada yang sedikit jahil.

Donghae tertawa renyah. “Aku tidak percaya bahwa seorang Choi Ryeowook yang terkenal dingin dan tidak menerima orang lain di kehidupannya adalah seorang penguntit yang diam-diam menggeledah isi dompet ku”

Ryeowook melotot tidak suka. “Hei, hei, jangan salah sangka. tiga bulan yang lalu kau secara tidak sengaja meninggalkan dompet itu di tempatku mengajar kursus piano, tentu saja aku harus membukanya untuk mengetahui siapa pemiliknya” sanggah Ryeowook cepat yang sebenarnya adalah sebuah kenyataan.

“Baiklah, kau menang” putus Donghae malas-malasan.

.

.

.

Begitulah manusia, mereka memiliki seribu cara untuk menutupi luka yang ia derita

Berpura-pura tidak butuh siapapun dan menganggap dirinya bisa mengatasi segala sesuatunya seorang diri, itu….terlalu naif

Seperti sebuah permen, jika ada salah satu orang yang dapat mengerti bagaimana cara membuka bungkus permen tersebut dengan baik-baik, maka…orang tersebutlah yang pasti mengetahui dengan jelas isi permen itu

Segala cacat dan rasa yang terdapat pada permen itu…orang yang berusaha memahaminya dan membuka bungkusnya itulah yang mengetahui

Bukankah begitu?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Heechul mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit itu dengan sayang. Bibir kissable-nya menyenandungkan nada-nada pelan dan merdu. Ya, ia memang sedang hamil saat ini atau anggap saja ia tengah mengandung buah hatinya yang tercinta dengan Hangeng―namjacingunya sejak ia duduk dibangku sekolah.

Memang setelah lulus SMA keduanya sepakat untuk menikah. Entahlah apa alasan mereka memutuskan untuk menikah muda yang jelas saat ini kehidupan mereka masih terlihat baik-baik saja. Ini adalah kehamilan pertamanya setelah menunggu tiga tahun lamanya.

Heechul dan Hangeng memang sepakat juga untuk menunda kehamilan mereka karena keduanya masih sama-sama terlalu muda. Ya, intinya mereka ingin nikah muda tetapi tidak ingin lebih dulu mempunyai anak―begitulah kemauan mereka.

Well, setelah tiga tahun menjalani pernikahan akhirnya mereka pun memutuskan untuk tidak menunda-nunda lagi. Sejak itu Heechul sudah berhenti meminum pil anti hamil.

Sebuah lengan kokoh memeluk lehernya dari belakang. Heechul tahu bahwa itu adalah lengan kokoh milik suaminya yang setiap malam memeluknya saat ia tertidur. “Aku dengar Ryeowook sudah mulai berubah”

Heechul menoleh kaget pada sang suami yang berdiri dengan sedikit membungkuk―karena ia memeluk leher Heechul yang saat ini sedang duduk disebuah kursi keluarga yang ada di teras belakang rumahnya. “Darimana kau tahu?”

“Kau tahu Donghae?”

Heechul terlihat berpikir dan mengingat-ngingat tentang seseorang yang bernama Donghae. setelah hampir satu menit berpikir Heechul akhirnya menganggukkan kepalanya. “Sahabat dari Eunhyuk?”

“Tepat sekali”

“Bagaimana bisa?”

Hangeng memutuskan untuk berputar dan mendudukkan tubuhnya disamping sang istri. Dengan sedikit lembut telapak tangan Hangeng menyentuh sayang perut Heechul. “Perusahaan yang dipimpinnya saat ini sedang bekerja sama dengan perusahaanku. Aku bertemu dengannya hari ini dan ia langsung mengenaliku,”

“Lalu?”

“Tentu saja aku butuh waktu lama untuk mengingatnya―karena memang dulu kita tidak seberapa kenal―dan setelah itu kita sedikit berbincang-bincang. Membicarakan masa-masa SMA―yang sebenarnya ia pindah ke Mokpo selisih satu bulan dari kepergian Ryeowook”

Heechul mengangguk paham dan memberikan isyarat pada sang Suami untuk melanjutkan ceritanya. “Dan ia bilang ia bertemu dengan Ryeowook setelah satu tahun ia tinggal di Mokpo. Ryeowook mengajar kursus piano”

Heechul pasti akan kehilangan bola matanya jika saja matanya itu buatan manusia. “Se-serius?” Hangeng mengangkat bahunya acuh. “Awalnya aku juga terkejut…tapi ia meyakinkan ku dengan memberikanku sebuah foto dimana ia tersenyum tulus kala mengajar murid-muridnya”

Hangeng menyerahkan smartphone miliknya pada Heechul. Pria tegap ini mengacak rambut sang Istri gemas karena ekspresi sang Istri yang kelewat terkejut. “Bukankah ia sangat cantik saat tersenyum tulus seperti itu?”

Heechul mengangguk. Bibirnya seperti tak mampu berkata-kata lagi. Matanya…ah, ia meneteskan air matanya lagi. gadis―maksudku wanita―ini sedikit tak percaya dengan apa yang dilihatnya di smartphone milik sang suami.

disana―di foto tersebut―Ryeowook tampak tersenyum tulus. Gadis mungil itu bahkan memangku salah satu anak kecil―yang bisa ditebak adalah anak didiknya―dengan sayang. Ia tampak sedang mengajari anak yang ada di pangkuannya itu.

Heechul merasakan hatinya membaik. Setelah hampir empat tahun lamanya…akhirnya ia bisa melihat wajah gadis ini. Memang, sih, selama ini Siwon selalu bercerita mengenai keadaan Ryeowook, hanya saja Siwon tak pernah mengatakan apapun soal kemajuan sifat Ryeowook yang sudah mulai mau menerima orang lain.

Siwon juga tidak pernah menunjukkan foto Ryeowook yang sekarang. Dan sekarang betapa senangnya ia saat bisa mendapatkan itu semua. Ini berita bagus…setelah ini ia akan memberikan foto ini pada Yesung.

‘Ya, harus’―ungkapnya dengan semangat, dalam hati.

“Kau memikirkan tentang Yesung?”

“Bagaimana bisa kau tahu?”

Hangeng merenggangkan otot-ototnya yang sudah lelah karena hampir seharian bekerja di perusahaan kecil-kecilan miliknya. “Itu terbaca dengan jelas di raut wajahmu. Kau sangat memikirkan hubungan Yesung dan Ryeowook”

Heechul tertawa. “Ya. kadang aku juga berpikir, untuk apa aku melakukan ini semua? Menjadi orang yang paling berharap agar keduanya kembali bersatu, sedangkan Ryeowook…dia sudah memilih untuk pergi”

Hangeng menghapus air mata Heechul. “Chullie~ tadi Donghae berpesan padaku agar aku merahasiakan tentang Ryeowook dari Yesung”. Heechul melotot, “Wae?”

Bahu Hangeng terangkat ringan, “Dia bilang Ryeowook yang menyuruhnya tutup mulut”

Heechul menghela nafas berat. Hilang sudah kebahagiaannya. Ia harus mengubur segala angan-angannya. “Baiklah, tapi…bisakah kau memintanya nomor telephone Ryeowook, aku ingin mendengar suaranya dan berbicara padanya”

Hangeng ingin sekali menolak permintaan sang Istri tapi ia urungkan itu semua karena tak tega melihat sorot mata memohon dan penuh harap sang Istri. Dengan diiringi deru nafas dalam akhirnya Hangeng menganggukkan kepalanya. “Besok aku akan memintanya”

Cup~

“Gomawo~”

.

.

.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Kali ini Eunhyuk sudah tidak mampu lagi mempertahankan ketenangan dalam ekspresi wajah dan suaranya. Gadis yang memiliki gummy smile ini menatap rindu pada sosok namja yang sudah lama ini ia tunggu kedatangannya. Dengan langkah kaki yang terdengar menuntut, ia berjalan cepat ke arah seorang namja yang berdiri dengan menampilkan senyum terpolosnya.

Eunhyuk berdiri tepat didepan sang namja―Lee Donghae. nafasnya berderu seperti orang yang berlari beberapa kilometer―meskipun pada kenyataannya gadis ini hanya berjalan sejauh delapan langkah dari tempat Donghae

Mungkin efek rindu dan juga detak jantung yang berdegup tak karuanlah yang menyebabkan nafasnya berderu keras seperti saat ini. Gadis ini tak kuasa untuk terus membendung air matanya. Jatuhlah butiran krystal yang sudah sekian lama ditahannya.

Nafasnya tercekat hingga ia tak mampu berkata-kata lagi. Semua pikirannya terasa kosong hingga ia tak dapat berpikir lagi. Matanya memerah karena menangis. Pandangannya tak sedikitpun teralihkan dari wajah babyface didepannya.

Sedangkan sang namja hanya tetap setia menampilkan senyum polosnya layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. “Kau tidak mempersilahkan ku untuk duduk?” ucapan bodoh ini keluar dari bibir tipis Donghae.

Air mata Eunhyuk semakin deras membasahi pipinya. “Bodoh” kata Eunhyuk sambil memukul bahu Donghae berulang kali. Bukan, bukan ini yang diinginkan oleh Eunhyuk. Ia ingin Donghae memeluknya seperti dulu dan menghapus air matanya.

Donghae terkekeh dan kedua tangannya dengan cekatan menangkap kedua tangan Eunhyuk yang masih memukuli bahunya. “Hey, hey, kenapa kau memukulku? Aku ini adalah tamu di rumahmu, seharusnya kau menyambutku dengan baik” masih dengan kata-kata bodoh itu Donghae berucap polos.

“Hikz~” Eunhyuk terisak semakin keras. Tak tahan melihat Eunhyuk menangis akhirnya Donghae memutuskan untuk membawa tubuh yang tetap saja kurus―setelah hampir empat tahun tidak bertemu itu―kedalam pelukannya.

“Jeongmal Bogoshiepo~” bisik Donghae lirih yang justru membuat Eunhyuk semakin keras menangis. Tidak, ini bukan tangis kesedihan melainkan ini adalah tangisan penuh haru setelah sekian lama tak bertemu dengan orang yang amat ia sayangi, atau mungkin cintai.

Sangking eratnya Eunhyuk memeluknya hingga membuat Donghae kehilangan keseimbangan dan menyebabkan keduanya pun jatuh di sofa belakang Donghae.

Bruk~

“Ya! kau membuat kita terjatuh, bodoh” seru Donghae yang tak digubris oleh Eunhyuk. Ia masih tetap saja memeluk namja berwajah babyface itu meskipun sekarang keadaan mereka terlihat sangat berbahaya seperti di film-film dewasa. “Ya, ya! cepat turun dari atasku, bagaimana jika nanti Umma mu melihat kita dalam keadaan seperti ini, dia bisa saja berpikir yang tidak-tidak”

Donghae mengeluh dalam hati karena Eunhyuk sama sekali tidak mau beranjak dari atas tubuhnya. gadis itu masih saja terus memeluk Donghae dan menangis hingga membasahi sofa dibawah keduanya.

Donghae tersenyum samar ketika menyadari bahwa tidak ada sedikit pun yang berubah dari sosok Eunhyuk. Gadis kurus ini tetaplah Eunhyuk-nya, Eunhyuk yang meskipun kuat dan terkesan tomboy tapi masih tetap saja bisa menangis dalam pelukannya.

Ia pikir Eunhyuk sudah berubah tapi ternyata….ah, ia tetaplah Lee Hyukjae yang ia kenal.

.

.

.

Seperti biasa…kau selalu membiarkanku menangis dipelukanmu disaat yang sulit

Terimakasih sudah mau menapati janjimu untuk kembali kesini^^

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Pria ini menghabiskan sebagian waktunya dalam kurun waktu hampir empat tahun ini pada sebuah kesepian yang tak berujung. Ia yang biasanya selalu tersenyum ramah justru sekarang lebih sering terlihat murung dan jarang sekali tersenyum.

Kehidupannya sama sekali tak terarah. Kedua orangtuanya bahkan sudah menyerah dan angkat tangan. Setiap orang yang mengenalnya dulu kini selalu melemparkan sebuah tatapan kasihan padanya.

Kim Jong Woon.

Ia seperti orang tak bernyawa. Kuliahnya terlantar, hidup hanya bisa berhura-hura dengan menghambur-hamburkan uangnya ke tempat-tempat penuh dosa. Meminum minuman yang beralkohol, menggunakan obat-obatan terlarang, selalu pergi pagi dan pulang kembali pada pagi hari, akh~ rasanya dia sudah benar-benar bukan sosok Kim Jong Woon yang dulu.

Hatinya remuk. Terlebih saat mendengar bahwa perjodohannya dibatalkan oleh keluarga Choi maupun keluarganya. Hal ini tentu semakin membuat harapan Yesung―yang berpikir bahwa masih ada kesempatan untuk bertemu atau bahkan hidup bersama dengan Ryeowook―hancur berkeping-keping.

Ia marah pada keadaan. Kenapa semuanya bisa hancur bergini?

Kedua orangtuanya bahkan tak membantu sedikitpun dan justru menyalahkannya atas perbatalan perjodohannya dengan Ryeowook. Apa mereka tidak berpikir bahwa aku pun tak ingin ini semua terjadi?―teriak Yesung dalam hati.

Yesung menjambak rambutnya frustasi. Tangannya kembali mengangkat gelas berisi minuman beralkohol itu dan baru saja ia akan meminumnya tapi sebuah tangan menahannya dan hal ini tentu membuat Yesung marah.

“Berhenti, Hyung” seru Siwon marah. Yesung berdecak kesal dan menghempaskan tangannya dari cengkraman Siwon namun gagal karena Siwon mencengkramnya begitu erat. “Lepaskan, Siwon!” Yesung berkata marah.

“Tidak, Hyung. Sudah cukup kau menghancurkan dirimu sendiri” kata Siwon sedikit merendahkan nadanya. “Apa kau pikir ini akan baik untuk hidupmu?”

Yesung melirik sinis pada Siwon dan juga sesosok pria yang berdiri dibelakang Siwon―Cho Kyuhyun. “Lalu bagaimana menurutmu yang baik untuk hidupku, huh?” tanyanya dengan nada mengejek. Siwon memandang Yesung prihatin.

Pria berbadan tegak dan atletis ini tak menyangka bahwa Yesung bisa sehancur ini. Ya, Siwon sudah mengetahui segalanya tentang penyebab hancurnya hubungan Yesung dan sang Dongsaeng. Meskipun ia marah setelah mengetahui segalanya, tapi tetap saja Siwon bukanlah pria yang gegabah dan langsung ambil kesimpulan.

Siwon justru merasa bahwa Ryeowook dan Yesung hanyalah mengalami sebuah salah paham saja. Salah paham yang berujung pada kehancuran hubungan keduanya. dan saat ini ia berpikir bahwa mungkin sekaranglah ia harus bertindak. Tidak tahan juga dengan keadaan Yesung yang menyedihkan.

“Hyung…”

Siwon melepaskan cengkraman tangannya ketika Yesung sudah terlihat agak melunak. “Kau bahkan tak memberikanku alamat Ryeowook. jadi bagaimana bisa aku hidup dengan baik?” suara Yesung bergetar saat menyebut nama Ryeowook. pria ini menelungkupkan kepalanya pada kedua tangannya yang sudah ia lipat didepan mejanya.

Suara riuh di Discotic ini tak bisa menutupi getaran suara baritone Yesung kala menyebutkan nama sang gadis mungil yang sudah lama menghilang dari pandangannya. “Mianhae, Yesung Hyung~”

Siwon mengucapkan kata maaf dengan setulus hati. “Wookie menyuruhku untuk merahasiakannya. Ia…hanya membutuhkan waktu”

“Mustahil. Ini sudah hampir empat tahun, Siwonnie. Apa kau pikir ini waktu yang singkat?” Obsidian kelam itu menatap Onyx hitam Siwon sedih. “Tidak, Siwonnie. Ini sudah lebih dari cukup. Aku sudah tersiksa. Sangat”

Kyuhyun yang berdiri dibelakang Siwon hanya bisa menelan ludahnya kecut. Ya, ia sepakat dengan Yesung. Mungkin ini sudah keterlaluan. Waktu sudah berjalan segini jauhnya dan Ryeowook belum juga mau keluar dari persembunyiannya. “Siwon Hyung, ku pikir Yesung Hyung benar. Tidakkah ini sudah keterlaluan?” tanya Kyuhyun lirih.

Siwon menutup Onyx hitamnya. Siwon sendiri sebenarnya juga sudah memikirkan hal ini sejak dulu. Ia bahkan merasa bahwa ini juga keterlaluan. Choi Ryeowook―dongsaengnya―sudah terlalu lama bersembunyi. Dongsaengnya yang mungil itu pergi dengan meninggalkan beberapa masalah yang belum terselesaikan dan salah satunya adalah Yesung.

Brak!

Yesung menggebrak mejanya dengan keras hingga menimbulkan bunyi bedebum keras. Ia beranjak pergi dari Discotic itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang di mejanya. Dengan keadaan yang sedikit mabuk ia berjalan terus tak peduli bahwa Kyuhyun dan Siwon masih mengekorinya.

“Hyung”

“Yesung Hyung”

Siwon dan Kyuhyun secara bergantian mencoba memanggil Yesung. Mereka berdua berjalan mengapit Yesung dan berulangkali juga Yesung menolaknya. “Jangan sentuh aku, biarkan aku pergi sesuka hatiku” kata Yesung.

“Jangan gila, Hyung!! Kau dalam keadaan mabuk, ini berbahaya untukmu. Kau bisa saja tertabrak jika berjalan sendirian begini”

Yesung tertawa mendengar ucapan Siwon. “Jika..hik..aku mati..hik..bukan-hik-kah itu bagus? Hik, mungkin saja Wookie-hik- akan bahagia..hik” Yesung benar-benar sudah dikuasai oleh alkohol. Siwon mengerang frustasi mendengar celotehan aneh Yesung.

Sedangkan Kyuhyun tampak mengepalkan tangannya dengan erat. Dengan perasaan kesal yang membuncah dalam hatinya tiba-tiba saja ia mengarahkan kepalan tangannya tepat pada wajah Yesung.

Bugh!

“KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN?!” Teriak Siwon marah. Ia baru akan membantu Yesung berdiri namun usahanya gagal karena Kyuhyun sudah lebih dulu menarik kerah baju Yesung. “Apa yang baru saja kau katakan, huh? Kau bilang Ryeowook akan bahagia jika kau mati?”

Bugh!

Kyuhyun kembali melayangkan tinjunya. “Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Ryeowook selama ini? Ia sudah cukup menderita akan masa lalunya”

“Demi Tuhan, Kyu. Hentikan!” Siwon mencoba melerainya tapi gagal. “Bangun kau pria pecundang” teriak Kyuhyun dengan mengabaikan segala ucapan Siwon. Ia kembali memaksa Yesung untuk berdiri. Terlihat sebuah jejak-jejak darah yang keluar dari sudut bibir Yesung yang sobek.

Bugh!

Lagi. Kyuhyun memukulnya.

“Kau sudah menghancurkan hatinya,” Kyuhyun mendekati Yesung yang tersungkur dengan darah berceceran memenuhi wajahnya. Tangannya mencengkram rahang Yesung, “Dan sekarang dengan seenaknya saja kau ingin mati, begitu, huh?” berteriak kalap didepan wajah Yesung yang sudah tak dapat berkata-kata lagi.

“Apa kau pikir mati setelah membuat seorang gadis menderita begitu lama maka kau akan terlihat keren?”

“Kyuhyun-ah~ cukup!” Siwon berkata dengan mendekati keduanya. “Lalu siapa yang akan membuat Ryeowook dapat kembali bahagia jika satu-satunya orang yang dapat melakukannya mati?”

Yesung hanya bisa memandang wajah Kyuhyun yang saat ini berada diatasnya. Pria bermata garis ini bukannya tak bisa membalas perlakuan Kyuhyun, hanya saja…. ia ingin mendengar segalanya.

Kyuhyun menampik tangan Siwon yang berusaha mendorongnya dari atas tubuh Yesung. “Biarkan Hyung. Biarkan aku memberi pelajaran pada si Idiot ini.” Kyuhyun bahkan tak sungkan-sungkan memanggil Yesung dengan sebutan Idiot.

“Kau! Dengarkan aku, Brengsek” matanya menatap tajam dan mengintimidasi tepat pada Obsidian kelam milik Yesung. “Jangan coba-coba untuk mati sebelum kau bisa membuat Wookie bahagia, jika kau mati―

Kyuhyun mengangkat wajah Yesung hingga sejajar dengan wajahnya. Deru nafas keduanya terasa hangat dan saling menyapa satu sama lain.

―aku bersumpah bahwa mayatmu tak akan bersemayam dengan baik di kuburmu”

Hah?

Siwon sedikit tidak mengerti dengan ancaman yang dilontarkan oleh Cho Kyuhyun―adik tirinya. Namun seperkian detik berikutnya bibir joker miliknya melengkungkan sebuah senyum tipis. ‘Kau mencoba membangkitkan semangatnya, Kyu?’―kata Siwon dalam hati.

Bugh!

Kali ini Yesung tersungkur dengan keras setelah dihantam dengan bogeman mentah dan keras dari Kyuhyun. “Itu pukulan terakhirku agar kau bisa berfikir lebih jernih lagi”

Bersamaan dengan keluarnya ucapan tak sopan itu, Kyuhyun pun pergi dengan santai bahkan sebelah tangannya ia masukkan kedalam saku celana jeans-nya. “Urusi dia, Hyung. Aku masih ada urusan dan katakan pada Umma bahwa aku menginap dirumah temanku” katanya lagi.

Siwon tersenyum melihat tingkah Kyuhyun yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya terhadap keadaan Yesung. Siwon tahu dengan jelas bahwa Kyuhyun pergi begitu saja bukan karena ia menyesal telah memukul Yesung melainkan karena ia tidak ingin kekhawatirannya diketahui oleh orang lain.

Ah, dasar Cho Kyuhyun.

Siwon mengerutkan keningnya saat Kyuhyun berbalik badan menghadapnya. Mata dark brown milik Kyuhyun memandang lekat pada tubuh Yesung yang berlumur darah di area wajahnya. Yesung yang masih setengah sadar mengikuti arah pandang Siwon yang saat ini memangku kepalanya.

Kedua mata berbeda warna itu saling menatap dengan dalam. “Hanya kau yang bisa mengembalikan senyum Wookie~ harusnya kau tidak berpikir bahwa mati adalah cara yang paling baik. Pikirkan bagaimana perasaan Wookie, aku yakin dia pasti akan jatuh semakin dalam pada kesedihannya jika ia mengetahui kau mati,”

Kyuhyun memasukkan sebelah tangannya lagi ke saku celananya hingga kini kedua buah jemarinya sudah menghilang dibalik saku celananya. Gayanya sudah seperti boss.

“Ia juga pasti sangat sedih melihat keadaanmu yang berantakan seperti ini.” Kyuhyun pergi setelah mengeluarkan segala apa yang sudah ia pendam belakangan ini. ‘Bangkitlah, Hyung. Hanya kau yang bisa membuat Ryeowook bahagia’―lanjutnya dalam hati.

Yesung tersenyum tipis dan berkata, ‘Terimakasih, Kyuhyun-ah’―katanya dalam hati.

Ah, ternyata tidak hanya Siwon yang mengetahui niat terselubung dari Kyuhyun. Yesung pun sadar ternyata bahwa meskipun dengan cara yang kasar, pria itu hanya ingin membuatnya kembali bangkit dan menjalani hari-harinya dengan semangat.

Dan ditengah-tengah kesadarannya yang semakin menipis, namja bersurai hitam ini masih sempat memandang wajah Siwon yang tampak khawatir. Ia tersenyum simpul dan berkata dengan sedikit tersendat-sendat. “Jangan…biarkan aku…mati Siwonnie~”

Kau tidak ingin mati, Kim Jong Woon? Kkk~

.

.

.

Dia itu selalu saja bersikap acuh tak acuh didepan orang lain, tapi meskipun begitu dia adalah orang yang baik

Dia melakukan segalanya dengan caranya sendiri, itulah yang membuatnya sangat istimewa

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Kau jahat sekali, Hyung~”

Donghae tertawa keras mendengar perkataan Kyuhyun yang memanggilnya jahat. Saat ini mereka sedang berada disebuah cafe yang buka 24 jam sehingga meskipun sekarang sudah memasuki pukul 1 dini hari, Donghae maupun Kyuhyun masih bisa nongkrong.

“Apa kau benar-benar sudah menikmati kehidupanmu di Mokpo bersama Nelayan-nelayan yang ada disana?” Kyuhyun berucap heran. Donghae menyesap kopi hitamnya yang masih hangat. “Tidak juga.”

“Lalu?”

Donghae memandang penuh Kyuhyun dengan tatapan jahil. “Aku bertemu seseorang yang unik disana?”. Mata Kyuhyun melotot dan sedikit tak percaya. Kyuhyun berpikir bahwa apa mungkin cinta Donghae pada Eunhyuk sudah pupus?

“Kau tahu siapa dia?” Donghae mulai bermain teka-teki dengan Kyuhyun. “Siapa?” tanya Kyuhyun penasaran. Donghae merenggangkan otot-ototnya ringan dengan sedikit menutup matanya kala ia mencoba menikmati pijitannya sendiri di area lehernya.

“Choi Ryeowook” berkata santai dan tak mengulur waktu. Pria ini bahkan mengucapkan nama gadis mungil itu begitu mudah tanpa mau repot-repot menatap wajah kaget Kyuhyun. ah, lagipula tanpa melihatnya pun Donghae tahu bahwa saat ini Kyuhyun pasti sedang terkejut bukan main.

“A-apa?”

Donghae membuka matanya. Alisnya saling bertautan. “Kenapa?” balik bertanya dengan nada yang menyebalkan. “Ryeo-wook?” Donghae mengangguk malas-malasan. Wajah Kyuhyun benar-benar lucu dimata Donghae saat ini.

Ada sebuah kesenangan pribadi bagi Donghae jika bisa membuat sang Evil Maknae itu terkejut karenanya. “Hyung…apa maksudmu?” suara Kyuhyun terdengar tak sabaran dan menuntut penjelasan lebih lanjut dari donghae.

Donghae tertawa keras mengetahui Kyuhyun yang penasaran setengah mati. pria bermanik mutiara hitam itu menyenderkan tubuhnya pada kursinya. Mencari posisi setenang mungkin agar lebih nyaman untuk menceritakan segalanya pada Kyuhyun.

.

.

.

Bibir mungil dengan warna semerah darah yang sudah ia miliki sejak ia lahir itu kini menyunggingkan sebuah senyum kecil saat pupil matanya terus saja mengamati sebuah foto yang ada di ponsel pintarnya.

Sebuah foto yang ia dapatkan beberapa saat yang lalu dari Donghae. tentu saja ia tertawa kecil, bagaimana tidak, pria dengan wajah konyolnya itu baru saja mengiriminya foto dirinya sendiri―Lee Donghae―dengan ekspresi wajah yang konyol.

Dalam foto itu Donghae tampak sedang menutup matanya dengan bibir yang sedikit dimajukan. Tak lupa dalam pesan MMS itu tertulis sebuah kata, ‘Wookie-ah, aku sangat lelah~~T___T’

Ryeowook masih saja memandangi foto itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Wajahnya terlihat sangat cerah. terlalu sibuk memandangi foto konyol yang dikirimkan oleh pria itu hingga tanpa Ryeowook sadari ada seseorang yang diam-diam mengawasinya.

Seseorang itu berdehem yang membuat Ryeowook menolehkan wajahnya kaget ke belakangnya. “Haelmoni?” kagetnya. Wanita yang dipanggil Haelmoni tersebut tersenyum. “Kau terlihat bahagia sekali saat memandang fotonya”

Ryeowook mengkerutkan keningnya tidak mengerti. “Tentu saja. Dia adalah temanku yang baik” pengakuan Ryeowook justru semakin membuat senyum yang bertengger dibibir sang Nenek semakin melebar. “Ya, Haelmoni pikir pun juga begitu. Masih melekat begitu kuat diingatanku saat pertama kali dia datang ke rumah ini,”

“……………..”

“Anak itu…dia berusaha keras agar diakui keberadaannya olehmu,” sedikit tertawa kecil saat mengingat awal-awal Donghae mencoba mendekati Ryeowook dan berulangkali cucu kesayangannya itu menolak keras. “Tapi meskipun begitu dia tidak pernah menyerah dan pada akhirnya kau luluh juga”

Ryeowook ikut tertawa. “Ya, sangat lucu sebenarnya. Tapi… mau bagaimana lagi, Haelmoni, dia sangat baik dan benar-benar tulus ingin berteman denganku” mulai bercerita panjang lebar dengan sang Haelmoni. Hubungan keduanya sudah mulai tampak seperti keluarga. Tidak seperti awal-awal mereka bertemu. Dingin dan tanpa sapaan hangat.

.

.

.

Orang yang benar-benar tulus ingin berteman denganmu bukanlah mereka yang memujimu melainkan mereka lah yang setia menerima segala hal jelek dan baik yang ada dalam dirimu

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Obsidian sekelam langit malam tersebut menatap pancaran senja sore hari ini dengan lembut. Matanya memandang lurus jauh kesana seolah-olah ia menemukan sebuah objek yang indah di atas sana. Ya, pemandangan Senja yang sudah akan kembali ke peraduannya tampak sangat indah.

Dalam kondisinya yang masih belum stabil dan dengan beberapa luka lebam yang masih menghiasi wajahnya, itu tetap tak bisa menghilangkan pesona sang Kim jong Woon. Ia tetaplah tampan dan berkharisma. Ia tetaplah Kim Jong Woon―seorang pria pemikat hati wanita.

Ditangannya yang sebelah kiri masih tertancap sebuah selang infus. Memang saat ini pria bermata garis ini sedang ada di ruang rawat inapnya dan ia juga dalam keadaan sendiri di ruangan ini. Kedua orangtuanya tidak tahu menahu soal keadaannya yang babak belur karena ulah Kyuhyun dan ia juga tidak berminat untuk memberitahu mereka.

Toh, ini hanyalah luka kecil dan tidak sebanding dengan waktu yang harus dibuang oleh kedua orangtuanya―jika harus mengunjunginya. Ah, Kim Jong Woon, kau benar-benar anak yang pengertian.

Helaan nafas berulang kali keluar dari bibir tipis itu. Ia menundukkan kepalanya memandang selang infus yang menancap ditangannya. Meskipun pandangan matanya tertuju pada selan infusnya tapi jika kalian mau memperhatikannya dengan seksama maka kalian akan menemukan sebuah pandangan kosong di Obsidian yang selalu bisa melelehkan setiap orang yang menatapnya itu.

Tiba-tiba saja ingatan di otaknya memutar kembali kejadian-kejadian yang ia alami bersama Ryeowook sejak mereka kecil. Yesung mengingat dengan jelas saat mereka pertama kali bertemu di acara pemakaman Umma Ryeowook.

Yesung tersenyum saat mengingat bahwa saat itu Ryeowook―yang masih kecil―berdiri seorang diri didepan peti sang Umma. Tidak ada air mata dikedua kelopak mata Ryeowook dan itu membuat Yesung sedikit bingung.

Bukankah seharusnya gadis kecil itu menangis saat ia kehilangan orangtuanya, tapi kenapa Ryeowook justru diam saja seolah tidak tahu apa-apa?―begitulah kira-kira isi pikirannya saat itu.

“Umma, kenapa anak gadis itu tidak menangis? Dia kehilangan Ibunya, bukan?”

Sang Umma Yesung mengelus sayang rambut putra semata wayangnya tersebut. “Dia tidak menangis bukan berarti dia tidak sedih, sayang. Dia hanya tidak tahu bagaimana caranya menangis?”

Mata sipit Yesung melebar karena tidak mengerti dengan ucapan sang Ibu. Tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh lagi dan hanya kembali memfokuskan pandangannya pada sang gadis kecil―Choi Ryeowook―yang kini dipeluk oleh Oppanya―Choi Siwon.

Dan pada saat itu Yesung dapat melihat sebuah cairan bening jatuh membasahi pipi chubby Ryeowook. mata sipit itu tiba-tiba saja meredup ketika melihat air mata Ryeowook. tangan kecil Yesung meremas kain bagian ujung depan milik Umma-nya.

“Dia…menangis” katanya pelan pada sang Umma.

Ingatan-ingatan dalam memory otaknya seolah seperti kaset yang terputar dengan otomatis. Dan kini ingatannya bergulir pada saat pertemuan keduanya di kediaman rumah Ryeowook―lagi.

Saat itu adalah hari dimana Appa Ryeowook menikah lagi.

Dan hal itu sudah cukup membuat Ryeowook shock dan semakin membenci takdir yang dipilih Tuhan untuknya. Yesung yang disuruh oleh Umma-nya untuk mencari Ryeowook―yang tiba-tiba saja menghilang ketika acara pernikahan itu diperlangsungkan―menemukan gadis kecil itu terduduk disalah satu sudut kamarnya dengan lutut yang mendempet pada dadanya.

Yesung dapat melihat guratan wajah kecewa dan penuh dengan sakit yang terpoles sempurna diwajah anak manis berusia 13 tahun itu. Dan Yesung juga dapat melihat sebuah tatapan kosong di bola mata cerah Caramel Ryeowook.

Saat itu… hati Yesung ikut terenyuh melihatnya, hingga tanpa sadar ia mendekati Ryeowook dan tangannya terulur guna mengelus dengan sayang pipi chubby Ryeowook. “Ryeowookie~ Oppa berjanji akan selalu melindungimu sampai mati.” ucapnya dengan tangan yang membelai lembut pipi sang gadis bernama Choi Ryeowook.

Yesung mengulum senyum tipis. Ia ingat kejadian itu. Dan sekarang ia sadar bahwa saat itu―saat ia membuat janji pada Ryeowook―ia tidak benar-benar tahu tentang arti dari ucapannya sendiri. Dan sekarang ia juga menyadari bahwa perasaan terenyuhnya kala itu adalah sebuah perasaan empati dan kasihan.

Itu bukan perasaan Cinta dan Sayang melainkan itu hanyalah sebuah perasaan empati dan kasihan. “Bodoh”―Yesung menggumam mengumpat dirinya sendiri bodoh yang baru menyadarinya hari ini. “Tentu saja Ryeowook merasa bahwa selama ini aku bersamanya hanya karena sebuah janji dan kasihan, ternyata karena ini” katanya lagi pada dirinya sendiri.

Lalu Yesung mencoba mengingat-ngingat kembali beberapa kejadian di masa lalu. Dan setelah banyak kejadian yang diingatnya ia juga mulai sadar bahwa perasaan empati dan kasihan yang dulu ia berikan pada Ryeowook sudah berubah menjadi sebuah rasa sayang dan bertransformasi menjadi rasa cinta.

Yesung tidak bohong. Mungkin Ryeowook benar bahwa ia hanya merasa empati dan kasihan saja, tapi… tolong catat, itu hanyalah perasaan di awal-awal mereka bertemu saja dan perasaan empati dan kasihan itu sudah melebur lalu berganti menjadi Cinta karena seiring berjalannya waktu.

Dan bahkan meskipun sekarang ia mengakui bahwa ia sempat tertarik dengan Eunhyuk dan pernah juga menciumnya―atau kalian bisa menyebutnya selingkuh―tetapi Yesung bersumpah bahwa saat itu Yesung hanya merasa ia menemukan sesuatu yang baru.

Sesuatu yang belum pernah ia dapatkan saat ia bersama Ryeowook. tapi…meskipun begitu bukan berarti Yesung sepenuhnya menyukai Eunhyuk dan akan membuang Ryeowook, kan?

Bukankah sudah ada buktinya bahwa setelah ia mendengar kabar bahwa Ryeowook pergi dari Seoul, ia sendiri pun langsung kalap dan seperti orang gila. Bahkan ia juga sudah tidak peduli lagi dengan Eunhyuk.

Lalu sekarang… apa bukti ini belum cukup?

Apa keadaannya yang sudah hilang arah ini masih belum mampu meyakinkan Ryeowook bahwa ia benar-benar mencintainya―dan bukan hanya merasa empati dan kasihan padanya?

Yesung meneteskan kembali air matanya dan cepat-cepat ia menghapusnya. “Kenapa aku jadi mudah sekali menangis?” katanya pelan pada dirinya sendiri.

Ceklek!

Pintu ruangannya dibuka oleh seseorang. Yesung menoleh dan dalam seperkian detik matanya melebar saat melihat siapa gerangan yang datang.

.

.

.

Cinta itu sesuatu yang absurd

Kau tidak bisa merabanya, tapi kau mampu merasakannya

Cinta juga datang dengan tiba-tiba dan dapat menghilang begitu saja

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

TBC!

Author Note :

Mencoba meminta maaf atas ke-NGARETAN saya pun rasanya sudah sangat percuma, kalian terlalu memahamiku yang LABIL ini. Mencoba menyapa kalian dengan senyuman innocent pun rasanya tak begitu pantas, mengingat kalian sudah terlalu lama menunggu FF ini L /cry/

Mianhae~ saya benar sedang sibuk dikarenakan keadaan saya yang sudah kelas 3 sekarang ini. Jam tambahan pagi dan siang begitu menguras tenaga saya. Saya pulang sekitar jam 5 sore, dan rasanya…yeah, itu melelahkan. #Curcol

Jadi, dengan penuh rasa kesadaran diri saya benar-benar minta maaf atas keterlemabatan yang selalu saya lakukan dan lagi, lagi membuat kalian menunggu. Pasti sangat membosankan, ya? oh, tentu. Aku tahu setiap orang pasti membenci menunggu.

Nah, bagaimana dengan chap ini? Membosankan? Tak sesuai ekspetasi kalian, kah? Kkk~

Well, intinya di chap kemaren sama ini memang nggak ada Yewook, but…untuk kali ini cukup lah ya saya mengeksplorasi perasaan Yesung―yang sebenarnya hanyalah perasaan kagum pada Eunhyuk atau sebut saja dia menemukan pribadi berbeda yang amat menyenangkan dan berbanding berbalik saat ia bersama Ryeowook yang pendiam.

Haewook moment?

Hayoo~~adakah yang menunggu moment mereka berdua ini? Aku harap ada, supaya nggak sia-sia saya ngetiknya, hehehe *grin*

Ah, ya, sekedar informasi, chap depan bakalan banyak YeWook moment kok. Terus sebagian besar chara juga bakalan saya keluarin satu-satu. Umh~ Sungmin nggak ada ya disini? Haha~ besok pasti saya juga akan buat part-nya dia, jangan khawatir.

Dan rasanya saya sudah benar-benar tepar kali ini, cukup ya buat cuap-cuap saya yang kepanjangan ini *nods* Byeee~~\(^0^)/~~

Sign,

Ryeowook’s Wife

123 thoughts on “(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 07

  1. senang sekali melihat ryeowook berubah🙂 Lee Donghae terimakasih kau sudah merubh wookie jadi manusia pada umumnya
    Kasihan juga sih lihat yesung yg hancur ditinggal wookie
    Kyuhyun.. gua agak sedikit binggung dgn pola pikir kyuhyun tapi semua yg dilakukan kyuhyun ada hasilnya.. dan bisa membuat semangat hidup yesung tumbuh
    semoga yesung bisa bertemu yesung dan menyelesaikan segala maslahnya

  2. woaaaah ternyata udah pada lulus dan …. beberapa masih nunggu ‘kebahagiaan’ nya pulang hehe. akhirnyaa yesung sadar sama perasaan nya dan nyesel hahaha. masih nunggu nasib couple kyuminnnn penasaran hehe

  3. Waaah udh 4th aja, ryeowook jg udh berubah aaah sneng jadinya. Donghae bener2 sahabat yg baik yaaa jd pngen pnya sahabat kaya donghae hehehe. Dan yesung parah bnget smpai kaya gitu klau alkohol sih msh maklum tp smpai obat terlarang ckckck sbegitu trpruknya kau ditinggal ryeowook. Siapa itu yg mngetuk pintu ? Pnasaran next chap, fightiiiiiiing

  4. ternyata benar kesenangan sesaat membuatmu kehilangan sesuatu yang sangat berharga…
    pasti sangat menyesal kan oppa??
    setelah sadar akan perasaanmu yg sebenarnya, berusahalah merebut hati uri wookie kembali…

    yeay… chap depan byk yewook moment-nya…
    apa mereka akan kembali bersama seperti sedia kala??
    semoga saja seperti itu…
    dan memang sudah seharusnya seperti itu..

  5. Akhirnya ryeowook bisa sedikit berubah ^^ hae baik bngt ya.. coba didunia nyata ada yg kaya hae kkkk. 👍👍👍👍 untuk ff nya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s