(GS/Chapter) Just You~ 02

Just You!

Chapter : 2

( phiphohbie )

Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YesungxRyeowook

They belongs to God Almighty~~ but this story, Just You!” is pure MINE!!

.

.

.

Enjoy~

.

.

.

Ryeowook terdiam membatu dengan mulut yang menganga. Matanya sudah mengembun dan ia merasa seperti ada ribuan tangan-tangan tak kasat mata yang mengaduk-ngaduk perutnya hingga terasa seperti membuatnya ingin muntah.

Semua yang ada didepannya terlihat begitu samar-samar sampai Ryeowook merasa bahwa ia akan kehilangan keseimbangan saat ini juga. Kepalanya begitu pening dan beruntung ada Siwon yang memapahnya agar dia tak terjatuh.

Ryeowook merasa bodoh. Jadi hanya dia yang tidak tahu tentang hari ini? Apa hanya dia seorang yang berharap bahwa hari ini akan menjadi awal liburannya yang menyenangkan? Dan Yesung… pria itu…

“Wookie~”

Ryeowook menggigit bibir bawahnya. Badannya lemas dan hatinya mati rasa hingga membuat seluruh badannya ikut terasa mati rasa. Ia kehilangan nafasnya dalam seperkian detik ketika Siwon mengatakan, “Yesung…dia tak akan datang. Hari ini adalah hari pertunangannya dengan Kibum.”

Ryeowook yang mengharapkan segalanya akan indah untuk hari ini ternyata salah. Justru ia mendapatkan kabar tidak mengenakkan yang benar-benar membuatnya ingin mati saat ini juga. Semua terasa begitu tak adil untuk Ryeowook.

Kenapa, kenapa hanya dia yang tak tahu tentang ini? Kenapa Yesung membohonginya? Kenapa Yesung justru berjanji akan datang hari ini? Dan kenapa… kenapa justru Siwon lah yang datang kemari dan memberitahukan segalanya?

Apa Yesung tidak tahu bagaimana hancurnya ia saat ini?

Siwon memandang prihatin Ryeowook yang kini tengah bersandar dipundaknya. Bibir gadis mungil ini bergetar menahan tangis. matanya menyorot penuh kekosongan kedepan. Tanpa Siwon harus bertanya ia pun sudah tahu bagaimana perasaan Ryeowook.

.

.

.

Dan ketika sebuah waktu terus berputar… maka yang terlihat adalah selembar kenyataan baru yang harus kau hadapi….

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Yesung menutup matanya rapat. Hatinya bergemuruh. Ia tahu bahwa ia salah. Ia tahu bahwa mungkin saat ini Ryeowook menunggunya di taman kota yang ia janjikan dihari kemarin. Ia sangat tahu dengan jelas bahwa mungkin sekarang ini Ryeowook sangat membencinya. Kedua tangan Yesung mengepal dengan begitu erat. Ia mencoba menahan segalanya.

“Yesungie~”

Yesung menoleh ke arah sang Ibu yang memanggilnya dengan lembut. Yesung menatap mata sang Ibu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sebuah tatapan marah, kecewa, kesal bahkan terluka dalam sorot mata Yesung.

Ny . Kim―atau sebut saja dia Kim Heechul―menghela nafas berat melihat pandangan sang anak semata wayang yang ditujukan padanya. Ia mendekati Yesung yang sedang duduk ditepi ranjangnya. Ia duduk disamping Yesung.

“Umma dan Appa melakukan ini untuk kebaikanmu,”

“Kebaikanku? Bagaimana bisa kalian mengatakan hal seperti itu jika pada kenyataannya kalian bahkan tak pernah mengenalku―anak kandungmu sendiri”

Heechul tercekat mendengar penuturan sang Anak. Ia mencoba memaksakan sebuah senyum. “Apa maksudmu? Kau anak Umma dan Appa, tentu kita sangat mengenal dan mengerti kamu” ujarnya sambil mencoba mengelus pundak Yesung jika saja tak lebih dulu Yesung menghempaskannya.

“Jika kalian mengerti dan mengenalku, tak seharusnya kalian lakukan ini. Ini semua tak akan membuatku bahagia”

“Kau tak akan tahu bagaimana kedepannya, dan jangan langsung berasumsi bahwa kau tak akan bahagia. Kibum gadis yang cantik dan baik. Dia bisa menjadi pendampingmu”

Bibir Yesung tertarik keatas menampilkan sebuah senyum mengejek. Ia menatap Ibunya dengan tajam. “Baik katamu? Setelah dia tidur dengan pria lain, kau masih menyebutnya baik?” Heechul membulatkan matanya mendengar ucapan Yesung.

Tidur dengan pria lain?

“A-apa maksudmu?”

Yesung mendengus. “Dia pernah selingkuh dan bahkan sudah pernah tidur dengan pria lain. Lalu, haruskah aku menjadi suami seseorang yang bahkan sudah tak suci lagi?” kata Yesung penuh amarah. “Dia sudah mengkhianatiku, masih bisakah aku menyebutnya baik?” suara Yesung terdengar mengeras.

“Itu… tidak mungkin”

Yesung tertawa mengejek. Ia sudah tahu jelas bahwa Ibunya tak akan mempercayainya. “Kau bahkan tak percaya denganku―anakmu sendiri. Jadi… bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau begitu mengenalku?”

Heechul mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Umma dan Appa tak pernah mau mengerti aku. Kalian sibuk dengan urusan kalian masing-masing. Pernahkah kalian mendengar pendapatku?”

“……………”

“Kalian memutuskan segalanya sesuka hati kalian. Aku… seperti boneka kalian yang harus selalu mengikuti perintah kalian. Aku punya hati, Umma~”

“Acara pertunanganmu akan segera dimulai. Cepatlah turun, para tamu sudah menunggu”

Heechul memotong perkataan Yesung dan langsung pergi begitu saja tanpa mau berlama-lama lagi mendengar segala perkataan Yesung yang cukup mengiris hatinya. sungguh, mendengar suara hati Yesung sudah cukup membuatnya merasa menjadi Ibu yang gagal.

Yesung menatap kepergian Ibunya dengan mata yang sudah memanas. Yesung mengusap kasar wajahnya sambil mendesah keras. Jika bisa ia ingin sekali pergi dari kenyataan. Tapi… pada kenyataannya ia tak bisa melakukannya.

Ia tak sanggup membantah perintah kedua orangtuanya. Ia sudah dididik untuk selalu menurut kepada kedua orangtuanya. Jadi… sekarang apa yang harus dilakukan oleh Yesung?

Yesung bangkit dari duduknya dan baru saja akan melangkah keluar dari kamarnya tapi tiba-tiba saja Yesung berhenti melangkah ketika mendapati Kibum berdiri tepat didepannya. Yesung menatap Kibum datar. Sedangkan gadis itu sudah menangis.

“Apa yang kau tangisi? Bukankah apa yang kau inginkan sudah terkabul?” kata Yesung dengan nada dingin. Dan hal itu cukup membuat Kibum meringis sakit tepat dihatinya. “Oppa…”

“Kau tak perlu berbicara apa-apa lagi. Semakin aku mendengarmu banyak bicara semakin aku muak denganmu”

Kibum menundukkan kepalanya dalam. Kedua kepalan tangannya semakin erat mengepal. Gadis ini menangis dan Yesung sama sekali tak peduli tentang ini. Yesung justru masih terus memandang muak pada Kibum.

“Apa kau selalu menampilkan wajah sedihmu seperti ini ketika kau dilukai oleh orang lain?” celetuk Yesung tiba-tiba. Kibum mendongak mencoba melihat wajah tampan Yesung yang masih tetap saja datar. “Asal kau tahu saja, dengan kau menangis dihadapanku itu justru semakin membuatku sadar bahwa kau memang gadis yang patut dikasihani”

Air mata Kibum meluncur dengan indah disetiap perkataan Yesung yang menyakitinya. Yesung berjalan melewatinya dan Kibum ingin sekali menghentikannya dan berbicara sesuatu pada Yesung tapi sungguh ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya berbicara saat ini.

Mendengar segala ucapan pedas yang dilontarkan oleh Yesung membuatnya lupa akan segalanya. Hanya rasa sakit yang bisa dirasakan oleh gadis cantik ini.

“Tu-tunggu!” dengan bersusah payah akhirnya suara itu keluar dari bibir Kibum. Yesung menghentikan langkahnya dengan masih memunggungi Kibum yang juga memunggunginya. Kibum mencoba mencari-cari keberanian dalam dirinya.

Ia menarik nafas panjang terlebih dahulu. “Apa… apa yang harus ku lakukan agar kau mau berhenti membenciku?”

Yesung menyeringai mendengarnya. Ia menolehkan kepalanya kebelakang. “Kau cukup berkata kepada kedua orangtua mu dan kedua orangtua ku untuk membatalkan hubungan kita ini”

Nafas Kibum tercekat mendengarnya. Ia secara refleks membalikkan tubuhnya dan memandang Yesung sedih. Ia memandang Yesung tepat dimatanya. Kibum berusaha mencari-cari bayangan dirinya dimata Yesung, mencoba mengais-ngais sebuah cinta yang mungkin saja masih tersisa untuknya.

Namun, Kibum dapat melihat dengan jelas mata itu. disana… sudah tak ada lagi dirinya. Dimata sehitam malam―yang dulunya selalu menatap lembut dirinya―kini telah tak ada tatapan seperti itu. Kibum menelan ludahnya kelus. “Kau tidak bisa?” celetuk Yesung dengan suaranya yang datar.

Kibum menggelengkan kepalanya. Dan terdengar sebuah decihan kesal dari bibir Yesung. Kibum kembali menundukkan kepalanya dan bahkan ia masih tetap dalam posisinya semula sekalipun Yesung telah pergi dari kamar itu.

Kibum seketika merosot jatuh kelantai kamar Yesung. Ia menangis tergugu dengan kedua belah tangannya yang menutupi wajahnya. Tentu saja ia begitu sedih, bagaimana tidak, ia adalah orang yang tak diinginkan oleh calon tunangannya. Sungguh ironis, bukan?

.

.

.

“Untuk apa kita kesini?” Ryeowook bertanya pelan masih dengan suara yang tercekat. Siwon memberhentikan mobilnya dibibir pantai. Ia turun dari mobilnya dengan mengajak Ryeowook juga untuk turun.

Siwon duduk disebuah batang pohon yang telah tumbang. Tatapan matanya mengarah kedepan ke laut lepas yang terhampar begitu indah. Ryeowook mengikuti jejak Siwon yang duduk. Ia mendudukkan tubuhnya disamping Siwon.

“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Apa?” bukannya menjawab Ryeowook justru balik bertanya. Siwon menelengkan kepalanya menghadap Ryeowook. “Kau tahu dengan jelas bahwa Yesung sudah resmi menjadi tunangan Kibum hari ini”

Ryeowook menghela nafas kecil. Ia mengangkat bahunya acuh. Wajahnya yang manis dan imut itu terlihat baik-baik saja. “Entahlah~” menjawab santai sambil tersenyum kecil. Siwon berpikir bahwa apa mungkin gadis ini sudah tak sedih lagi?

Siwon membiarkan matanya menelisik dengan begitu teliti wajah Ryeowook. ia begitu menikmati wajah cantik Ryeowook yang terlihat semakin cantik dengan backround awan jingga sore ini. Bahkan sepoian angin sore dimusim panas kali ini yang menerbangkan anak rambut Ryeowook menambah kesan cantik pada diri Ryeowook.

“Antara langit dan lautan… ” Ryeowook menyibakkan poninya. Sepoian ombak menyapu lembut kakinya. Sementara suara desir angin yang menggerakkan pohon kelapa seakan menjadi latar keheningan mereka.

“Mereka dibatasi oleh garis tipis dalam tangkapan mata. Namun kenyataannya mereka tak sedekat itu, ‘kan?” lanjutnya sambil tersenyum tipis. Siwon mengerutkan dahinya tak mengerti maksud ucapan Ryeowook.

“Mirip sekali dengan aku dan Yesung Oppa”

Dan Siwon mengurungkan untuk bertanya ketika Ryeowook sudah lebih dulu kembali meneruskan maksud ucapannya. “Meskipun kita dekat… tapi pada kenyataannya kita sangat jauh. Banyak batas yang membuat kita harus tak boleh bersama,”

Siwon masih memandang Ryeowook menunggu lebih lanjut penjelasan sang gadis mungil. “Sekarang ini yang aku rasakan hanyalah sebuah penyesalan,”

“Wae?” kali ini Siwon bertanya. Ryeowook menoleh kepada Siwon dan menampilkan sebuah senyum yang tak sampai mata. “Karena dulu aku begitu mencintainya, karena dulu aku yang mengejarnya, dan karena dulu akulah yang memulai segalanya…tanpa memikirkan kemungkinan terburuknya―yang bahkan saat itu aku sudah tahu kalau Yesung Oppa sudah dijodohkan oleh Kibum,”

Ryeowook menggaruk pipinya yang tak gatal untuk mengurangi ketegangan diantara pembicaraannya dengan Siwon. “Dan sekarang aku begitu menyesalinya,” bibirnya mengerucut imut dan Siwon tahu dengan jelas bahwa Ryeowook melakukannya agar ia terlihat baik-baik saja.

“Kalau saja aku tak melakukan itu semua dimasa lalu… mungkin saat ini aku tak akan terlihat seperti Keledai bodoh yang tak tahu apa-apa seperti ini, hehehe” mengakhiri ucapannya dengan tawa hambar yang terdengar begitu menyedihkan ditelinga Siwon.

Siwon memegang pundak Ryeowook dan memaksa gadis itu untuk menoleh padanya. “Hey, hey… jangan sok tegar begitu,” katanya dengan sebelah tangan yang memegang dagu Ryeowook―memaksanya untuk menatapnya.

“Kenapa, sih, kau harus selalu begitu?” tanya Siwon. “Kenapa, sih, kau harus selalu sok tegar? Tidak ada yang menyuruhmu untuk menjadi setegar ini. Aku rasa tak ada salahnya jika kau mau menangis,” kata Siwon dengan nada tegas.

Ryeowook menatap Onyx tajam milik Siwon yang memandangnya dengan begitu lekat. “Oh, apa selama ini kau selalu berusaha untuk tak menangis karena kau tak mau membuat Appa mu dan Umma mu―yang ada disurga―khawatir ketika melihatmu menangis?” tanya Siwon. Memang dulu Ryeowook pernah bercerita mengenai alasan mengapa dirinya berusaha sekuat mungkin untuk tak menangis dan itu semua karena Ryeowook tak mau jika Appa-nya ikut khawatir. Ia juga tak mau jika Umma-nya yang ada di surga turut sedih melihatnya menangis. Begitulah kata Ryeowook saat ia bercerita pada Siwon.

Ryeowook tidak menjawab pertanyaan Siwon dan hanya bisa diam. “Kim Ryeowook, apa kau tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan air mata? Itu karena air mata memang digunakan untuk menangis. Kalau memang marah, kau punya tangan untuk memukul,” Siwon mengguncang-guncangkan tangan Ryeowook.

Ryeowook tertawa kecil. “Kau begitu khawatir padaku ternyata,” dengan nada jahil ia berkata pada Siwon. Siwon mendengus mendengarnya. “Kau sahabatku, tentu aku khawatir saat mengetahui namjacingu dari sahabatku telah bertunangan dengan gadis lain” sindirnya jahat.

Ryeowook menonjok bahu Siwon main-main. “Ah, ya, ngomong-ngomong darimana kau tahu kalau Yesung Oppa bertunangan hari ini?” bertanya penasaran. Siwon tersenyum mengejek, “Itu hal yang mudah. Orangtua ku mendapat undangan dari keluarga besar Kim”

Mulut Ryeowook membulat membentuk sebuah huruf ‘O’. Dan kepalanya juga mengangguk-angguk mengerti. “Jadi keluargamu kenal dengan keluarga Yesung Oppa?” bertanya lagi. Siwon mengangguk semangat. “Yup. Keluargaku juga kenal dengan keluarga dari Kibum. Mereka kolega dari Appa ku”

Kali ini Ryeowook mengangguk mengerti, lagi. “Orang kaya memang akan selamanya kenal dengan yang sesama kaya.”

Siwon melotot mendengarnya. “Kau berkata seolah-olah kami―orang kaya―tak mau mengenal orang lain dari kalangan bawah” sinisnya. Ryeowook tertawa lepas mendengarnya. Ia menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Siwon. “Khusus kau tidak” ujarnya.

Siwon ikut tertawa lepas melihat Ryeowook yang tertawa begitu lebarnya. Melihat gadis itu masih bisa tertawa lepas begini baginya sudah cukup. Setidaknya ia tak akan khawatir berlebihan nanti jika Ryeowook akan pulang ke Busan.

“Ne, jadi kapan kau akan berangkat ke Busan?”

“Mungkin nanti malam. Aku akan naik bus malam”

Siwon membelalak tak percaya mendengarnya. “Apa kau gila? Seorang gadis sepertimu tak baik keluar malam dengan perjalanan yang lumayan jauh” nada Siwon mengeras. “Kalau terjadi apa-apa padamu―”

“―Terjadi yang bagaimana maksudmu? Perampokan?” memotong perkataan Siwon. “Aku tak memiliki barang yang berharga. Jadi tak ada alasan bagi para penjahat untuk merampokku” Ryeowook kembali tertawa lepas mengucapkannya.

Siwon memandang kesal Ryeowook. gadis itu seolah tak menyadari bagaimana cantiknya dirinya yang bisa saja memancing pada pria berhidung belang untuk melukainya atau yang lebih parahnya memperkosanya. Oke, Siwon benar-benar khawatir ketika pemikiran nista itu muncul dalam otaknya.

Ia menggenggam tangan Ryeowook dan itu sudah cukup membuat Ryeowook menghentikan tawanya. “Aku serius, Wookie~ setidaknya jangan pergi malam hari” tanpa sadar Siwon mengucapkannya seperti orang yang memohon.

Ryeowook menatap jahil Siwon. “Kau kenapa, sih? Kau itu sudah mirip seperti Appa ku saja yang begitu khawatir padaku.” Siwon menatap sebal ke arah Ryeowook. “Apa tidak bisa berangkat besok pagi? Aku yakin Appa mu pasti juga akan marah jika kau pergi malam-malam”

Ryeowook melepaskan genggaman tangan Siwon ditangannya. “Lebih cepat lebih baik,” Ryeowook beranjak dari duduknya dan menepuk-nepuk pantatnya supaya debu yang menempel dicelana pendeknya bisa menghilang. “Ayo, pulang. Ini sudah semakin sore” ajaknya dengan mengalungkan tangannya dilengan Siwon.

Siwon hanya bisa mendesah pasrah ditarik segitu kuatnya oleh Ryeowook. “Bagaimana jika aku mengantarmu, huh?” tawar Siwon saat keduanya sudah masuk didalam mobil Siwon. Ryeowook tampak sibuk mengaitkan sabuk pengamannya dan selalu saja gagal.

Siwon yang melihatnya akhirnya membantu Ryeowook untuk memasang sabuk pengamannya dan tak butuh waktu lama sampai sabuk pengaman itu terpasang sempurna. “Dasar orang miskin.” Ujarnya mengejek.

Ryeowook memicingkan matanya jengkel pada Siwon yang duduk dibelakang kemudinya. “Hey, meskipun aku miskin tapi kau tak seharusnya sejujur itu” mengerucutkan bibirnya kedepan dan terlihat begitu lucu dimata Siwon. “Aku bercanda~” tertawa kecil dan sedikit meringis ketika mendapat cubitan dari Ryeowook dipinggangnya.

Keduanya saling tertawa. “Jadi bagaimana dengan tawaranku?” Siwon mulai melajukan mobilnya. Gadis mungil itu menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan. “Tidak, tidak, tidak. Aku bisa sendiri” dan Siwon hanya bisa mendesah pasrah dengan kekeras kepalaan yang dimiliki sahabatnya itu.

.

.

.

Dan Ryeowook benar-benar menepati janjinya. Gadis bermarga ‘KIM’ ini benar-benar nekad menaiki bus malam. Ia melambaikan tangannya dengan riang ke arah Siwon yang tadi mengantarnya menuju halte. Siwon hanya bisa membalas lambaian tangan Ryeowook dengan lemas.

Siwon benar-benar khawatir sebenarnya, hanya saja ia sudah tak dapat melakukan apapun. Gadis keras kepala sepertinya memang sangat sulit untuk diatur. “Kau mau oleh-oleh apa dariku?” berteriak sedikit kencang ketika Bus-nya sudah mulai berjalan.

Siwon menggelengkan kepalanya pelan. “Cukup kau pulang dengan selamat itu sudah cukup” kata Siwon yang membuat Ryeowook tertawa kecil. Ryeowook kembali melambaikan tangannya dan benar-benar menghilang dari pandangan Siwon.

Siwon memutuskan untuk pulang dan saat ia baru akan masuk kedalam mobilnya, ia dikejutkan dengan kehadiran Yesung. Pria bermata sipit itu tampak berlari dan dalam keadaan kacau. Yesung menghampiri Siwon dengan nafas yang terengah-engah.

“Hyung…” memanggil heran. Yesung tampak mengatur nafasnya. “Dimana..hah..Wookie,” Siwon mendengus mendengar pertanyaan pria yang lebih tua satu tahun darinya itu. “Dia sudah pergi”

“Mwo?” mata Yesung membulat tak percaya. Ia menatap tajam Siwon. “Jangan coba-coba membohongiku,” Siwon mengangkat bahunya acuh. “Percaya atau tidak itu urusanmu. Yang jelas aku sudah mengatakan yang sesungguhnya. Dan…” Siwon menjeda kalimatnya.

Alis Yesung terangkat sebelah menunggu lanjutan ucapan Siwon. “…berhentilah mengejarnya. Kau sudah punya Kibum. Jika kau mengejarnya… itu akan sangat menyakitinya,”

“Aku mencintainya,” papar Yesung cepat dengan nada yang emosi karena ucapan Siwon yang menurutnya terlalu mengguruinya. Siwon memandang sinis Yesung, “Kau mencintainya? Jika kau mencintainya tak seharusnya kau lakukan ini semua padanya,”

Yesung menggeram kesal. Ia kesal dengan perkataan Siwon yang seratus persen benar. Ia merasa kesal sendiri dengan dirinya yang begitu brengsek dan masih tetap saja bersikukuh untuk memiliki Ryeowook sedangkan ia sudah bertunangan dengan Kibum.

Ia merasa betapa Bajingannya dirinya ini. Tanpa sadar Yesung menundukkan kepalanya dalam. Kedua tangannya mengepal erat dan bibirnya terkatup rapat. Siwon memilih meninggalkan Yesung dan segara memacu mobilnya.

“Wookie…” suaranya lirih dan terdengar begitu parau.

.

.

.

Ryeowook menikmati perjalanannya. Gadis ini memasang headphone dikedua telinganya. Ia sengaja memutar musik lullaby pengantar tidur agar ia bisa cepat tidur dan akan bangun ketika Bus yang ia tumpangi sudah sampai tujuan.

Tapi ternyata hal ini tak berhasil. Ia justru teringat akan Yesung. Sepasang telinga yang mendengarkan lullaby itu memaksa matanya mengembun. Ia ingin menangis rasanya mengingat soal Yesung.

Pria itu… kenapa bisa-bisanya ia melakukan ini semua padanya. Tapi Ryeowook juga tak sepenuhnya menyalahkan Yesung, toh, memang dia kan yang dulu mengejar Yesung dan memaksa Yesung untuk menjadi pacarnya.

Ryeowook secepat mungkin menghapus lelehan air matanya yang baru saja tumpah. Ia memaksakan sebuah senyum dibibirnya dan berharap dengan begitu semua akan baik-baik saja. “Tenanglah, Ryeowook. semua akan baik-baik saja, kau tidak harus menangisi kesalahan yang kau buat sendiri.” Mencoba menghibur diri dengan mengucapkan kalimat-kalimat penghiburan untuk dirinya sendiri.

Ryeowook menolehkan kepalanya melihat suasana malam ini yang tampak gerimis dari kaca sampingnya. Memang saat ini ia sedang duduk tepat disamping kaca Bus. Dan kebetulan sekali ia juga tak punya teman disampingnya jadi ia bebas melakukan apapun saja.

Mata Caramel cerah itu memandangi jalanan yang dilaluinya dengan wajah yang sendu. Hidung dan matanya memerah menahan tangis. tapi ia tak menangis, ia masih bisa menahannya. Pandangan matanya kosong dan seperti tersimpan banyak sekali misteri pada tatapan mata itu.

.

.

.

Tentang gerimis kali ini; kau tak bisa menghentikannya.

Begitupun dengan perasaan ini, siapapun itu tak akan ada yang bisa menghentikannya.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Kalian tak bisa memaksaku untuk melakukan ini semua,” Yesung berteriak kalap dihadapan kedua orang tuanya. “Jaga bicaramu. Kau pikir dengan siapa kau sedang berbicara?” Hangeng―sang kepala keluarga―berkata dingin dan menatap Yesung dengan pandangan tak suka.

Yesung terlihat mendengus malas. “Yang pasti mereka bukanlah orang tuaku,”

“Kim Yesung!” Hangeng kini benar-benar marah. Sudah hampir dua puluh menit ini Yesung terus-terusan berkata tak sopan dan juga bersikap seolah-olah dia bukanlah dari kalangan atas yang sewajarnya menjaga sikap.

“Yesungie~ mari kita bicarakan ini baik-baik, Nak” ujar Heechul mencoba menengahi. “Bicara baik-baik?” Yesung menatap sang Ibu dengan pandangan kesal. “Aku sudah berulangkali mencoba berbicara baik-baik tapi apa yang aku dapat?” menjeda sebentar ucapannya. “Kalian justru tak menggubrisnya dan tetap bersikeras untuk menjodohkanku dengan Kibum”

Hangeng menggeram kesal mendapati putra satu-satunya berani berbicara dengan nada tinggi dihadapannya. “Lalu apa maumu?”

“Kau sudah tahu dengan jelas apa mauku, Appa. Batalkan perjodohanku dengan Kibum”

Hangeng dan Yesung saling menatap tajam. Bedanya saat ini Yesung sudah dalam keadaan berdiri dengan pakaian yang acak-acakan dan sedangkan Hangeng, pria berwibawa itu kini tengah duduk dengan tegap di kursi kebanggaannya―yang ada dirumahnya.

“Berikan alasan kenapa Appa harus melakukannya,” perintah Hangeng. Yesung menarik nafas dalam sebelum memberikan jawaban. “Pertama―mengacungkan jari telunjuknya―aku sudah tidak mencintainya lagi―semenjak aku melihatnya berselingkuh dengan pria lain,” ucapan Yesung barusan membuat Hangeng sedikit terbelalak tak percaya. Tapi ia masih tak mau memotong jawaban sang Putra.

“Kedua―kini jari tengahnya mengacung bersama jari telunjuknya―aku sudah memiliki yeojacingu”

Hangeng masih memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Putranya yang satu ini. Selama ini Hangeng tak pernah sedikitpun melihat Yesung menentang perihal segala keputusan yang diberikan oleh dirinya maupun Heechul, dan sekarang Putranya itu menentang keras akan keputusannya.

Hangeng sangat tahu dan yakin bahwa pasti Yesung benar-benar mencintai gadis barunya itu sampai ia rela menentang dirinya. Dan entah kenapa sebuah perasaan penasaran tiba-tiba saja muncul dalam dirinya.

Tiba-tiba saja ia ingin mengetahui siapa gerang sang gadis yang tadi dikatakan oleh Yesung. Apa gadis itu begitu cantik, berasal dari kalangan orang Kaya dan juga melebihi Kibum?

Hangeng berdehem sekilas. “Baik. Bawa yeojacingumu itu kemari dan kenalkan pada Appa dan Umma”

Yesung melotot tak percaya mendengarnya. “Jika aku membawanya kemari apa Apaa akan benar-benar membatalkan perjodohanku dengan Kibum?”

“Itu tergantung. Untuk menjadi seorang menantu dari keluarga ‘KIM’ yang terhormat ini, tentu dia harus memenuhi segala kriteria yang harus terpenuhi”

Dan kali ini Yesung tak lagi terkejut melainkan ia ingin sekali pingsan. Kriteria? Yang benar saja. Ia tentu sangat tahu bagaimana kriteria yang diberikan oleh Appa dan Umma-nya. Dan Yesung juga tahu bahwa Ryeowook seratus persen akan gagal―bahkan di awal pertemuan.

Yesung mendesah keras. “Haruskah semuanya membutuhkan kriteria? Aku mencintainya dan begitupun sebaliknya. Apa itu belum cukup?”

Heechul tersenyum kecil melihat Yesung yang tampak frustasi. “Wae? apa yeojacingumu itu tidak lebih baik dari Kibum?”

“…………..”

“Kenapa tidak menjawab, Yesungie~”

“Ya. mungkin dimata Umma dia tak sebaik Kibum. Tapi aku berani jamin bahwa dia bukanlah orang yang begitu mudah selingkuh apalagi menyerahkan tubuhnya kepada seorang pria” timpal Yesung sarkatis seolah mengejek Umma-nya yang terus saja memuji Kibum―yang notabenenya pernah menyelingkuhinya dan bahkan tidur dengan pria lain.

Heechul tertohok akan ucapan putranya. “Kau…”

“Wae? memang begitu adanya, kan?” kata Yesung. “Bahkan aku sempat berpikir bahwa kalian… kalian tak benar-benar mencintaiku sebagai anak kalian,” Yesung membuang muka. “Apa maksudmu, Yesung!” timpal Hangeng yang sejak tadi diam.

“Jika kalian benar-benar peduli padaku dan mencintaiku… tidak mungkin kalian akan membiarkanku menikah dengan seorang gadis yang pernah mengkhianatiku,” bibir Yesung tersenyum kecil memikirkannya. “Dan juga kalian tak akan lebih mementingkan kelanjutan perusahaan kalian dibanding kelanjutan hidupku.”

Hangeng dan Heechul terdiam seribu bahasa. Memang pada kenyataannya mereka menjodohkan Yesung dan Kibum adalah demi kelangsungan hubungan kedua perusahaan miliknya dan juga milik keluarga Kibum.

Mereka bermaksud agar dengan adanya Kibum dan Yesung yang menikah, kedua belah pihak―pihak keluarga Yesung dan Kibum―bisa saling percaya untuk tetap melanjutkan kerjasama perusahaan. Katakan ini sebuah hal yang keji, mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya demi kerjasama perusahaan atau yang lebih parahnya adalah untuk keuntungan perusahaannya.

Tapi… yah, beginilah hidup. Ini sudah menjadi kodratnya bahwa harapan dan kenyataan akan selalu berkonspirasi.

“Meskipun kita adalah keluarga… tapi aku merasa begitu asing dengan kalian,” Yesung berjalan menaiki tangga rumahnya dan meninggalkan Hangeng dan Heechul yang dalam keadaan merasa bersalah. Yesung sempat berbalik melihat Appa dan Umma-nya yang juga sedang menatapnya.

“Jika saja aku bisa meminta untuk dilahirkan lagi, aku akan lebih memilih untuk tidak menjadi Tuan Muda ‘KIM’ yang berasal dari keluarga dingin seperti ini.” Yesung kembali melanjutkan jalannya menuju kamarnya. “Aku akan membawa yeojacinguku kemari” katanya pelan yang masih didengar oleh Hangeng dan Heechul.

Hangeng dan Heechul saling menatap dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Keduanya menatap dengan tanpa berbicara apapun. Heechul berjalan meninggalkan Hangeng dan juga tak berpamitan atau apapun itu selayaknya pasangan suami istri lainnya.

Hangeng mendesah berat sambil mengurut pelipisnya lelah. Ia menyenderkan punggungnya pada senderan dikursinya. Ia tak berniat untuk tidur sekalipun ini sudah memasuki pukul sebelas malam. Rasa-rasanya ia seperti akan tidur dikursi ini untuk malam ini.

.

.

.

Keluarga yang dingin selalu bisa membekukan hatimu

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Gadis bermanik Caramel cerah dengan rambutnya yang dikepang menjadi dua bagian itu kini menghirup bau udara dipagi hari ini dengan senyum yang juga terpancar jelas dibibirnya. Ia bahkan tak segan-segan juga menutup rapat matanya seolah hanya indera penciumannya yang kali ini berfungsi.

Bau khas tanah setelah hujan masih terasa kental dipenciumannya. “Woaah~ sudah lama sekali rasanya tidak merasakan udara segar seperti ini,” katanya dengan mata yang sudah terbuka. Manik Caramel cerah itu menatapi keadaan disekitar dimana masih banyak sekali timbuhan hijau yang benar-benar terjaga kelestariannya.

Jika ia di Seoul mungkin ia tak dapat menemukan hal-hal yang seperti ini. Yeah, disana hanya ada gedung-gedung pencakar langit dan juga udara panas yang cukup membuatnya bergidik kala harus memikirkan bahwa ia bernafas dengan Oksigen bercampur dengan polusi udara.

Ryeowook merapatkan jacket berwarna cokelat miliknya. Ia sudah melepaskan headphone yang sejak semalam bertengger ditelinganya menjadi kini tergantung dilehernya. Ia mulai menarik satu koper miliknya keluar dari Halte.

Ia menyetop sebuah Taksi dan meminta sopir Taksi tersebut untuk mengantarkannya ke alamat yang baru saja ia serahkan pada sang sopir Taksi. Didalam Taksi, Ryeowook tak pernah sekalipun melepaskan pandangannya dari keadaan sekitar yang ia lihat dari kaca sampingnya.

Tak lebih dari tiga puluh menit, Ryeowook sudah sampai ditempat tujuannya. Ia memberikan uang secukupnya pada sang sopir dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Ryeowook menarik kopernya dengan riang. Ia bahkan tanpa sadar berjalan dengan cepat sangking senangnya karena pada akhirnya ia sudah sampai dirumahnya. Rumah kecilnya.

Ryeowook mengetuk pintu rumahnya dan lama kemudian terdengar sebuah suara langkah kaki yang mendekat. Ryeowook sudah bersiap untuk mengejutkan seseorang itu.

Ceklek!

“Appa!”

“Uwwa~~”

Ryeowook terkikik geli mendengar suara bass itu yang menjerit saat mendengar jeritannya. “Aigoo~~Ryeowookie~” sang Appa―Kim Kangin―terkejut bukan main mendapati sang anak semata wayangnya sudah berdiri didepannya.

Ryeowook langsung menerjang tubuh tegap itu dengan pelukan hangatnya. Ia bahkan berulangkali menghujani pipi sang Appa dengan ciumannya. “Appa, aku rindu padamu~” katanya dengan manja. Kangin tertawa kecil mendengarnya. Anaknya ini tidak pernah sekalipun berubah sekalipun usianya sudah memasuki usia tujuh belas tahun.

Kangin balas memeluk Ryeowook. tangannya mengelus punggung Ryeowook pelan. “Appa juga merindukanmu, sayang~” ujarnya yang menghangatkan hati Ryeowook. Ryeowook tersenyum dalam dekapan hangat sang Appa.

Ia merasa jauh lebih baik setelah bertemu dengan Appa-nya. Mendengar kata-kata rindu yang dilontarkan oleh sang Appa, benar-benar membuat Ryeowook merasa bahagia. Jika anak-anak lain akan mendapat pelukan hangat Ibu untuk kepulangannya kerumah, maka yang Ryeowook dapatkan justru adalah pelukan hangat sang Appa.

Tapi bagi Ryeowook itu tidak apa-apa. Pelukan seorang Ayah… baginya adalah pelukan yang terhangat. Mungkin itu karena ia tak pernah sekalipun merasakan pelukan sang Ibu. Yah, Ibu Ryeowook yang bernama―Kim Leeteuk―memang meninggal setelah melahirkan Ryeowook.

Jadi Ryeowook tak pernah sekalipun melihat bagaimana sosok rupa Ibunya. Ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya digendong oleh seorang Ibu, ia juga tak pernah merasakan seperti apa rasanya pelukan seorang Ibu.

Saat ia mulai belajar berbicara, satu kata pertama yang keluar dari bibir mungilnya adalah ‘Appa’. Ia hanya mengenal satu orang dalam keluarganya, yaitu seorang Ayah. Selebihnya ia tak tahu seperti apa itu ‘Ibu’.

Pernah dulu-ya, dulu saat Ia masih kecil-Ryeowook merasa iri dengan teman-temannya yang memiliki Ibu. Ia bahkan sempat menangis ketika ia selalu diejek tak punya Ibu. Ia juga hanya bisa menangis seorang diri ketika sang Ayah tak bisa mengambilkan raportnya―dikarenakan Kangin sibuk bekerja.

Ia juga hanya diam saat melihat beberapa orangtua teman-temannya yang datang ke sekolah untuk melihat pesta perpisahan disekolahnya ketika ia masih disekolah dasar. Sedangkan Ryeowook… dia hanya punya Ayah yang datang untuk memberikan ucapan selamat padanya.

Bahkan ia hanya memiliki ‘Ayah’ sebagai temannya makan malam dirumah. Ryeowook hanya mengenal kata ‘Ayah’ dan ia tak pernah mengeluh soal itu. bagi Ryeowook, sosok Ayah… adalah segalanya.

Kim Kangin adalah pria paling hebat untuknya. Pria yang bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untuknya. Dan menyadari tentang itu… membuat Ryeowook sadar bahwa ia tak harus mengeluh soal keadaannya yang tak memiliki Ibu.

Bisa memiliki Ayah seperti Kangin baginya adalah sebuah keberuntungan. Ia masih bersyukur karena Tuhan masih memberinya seorang Ayah. Memang ia kadang juga mengeluh tapi setelah ia berpikir bahwa masih banyak orang diluar sana yang tak memiliki Ayah dan Ibu… itu kembali membuatnya tersadar bahwa ia harusnya bersyukur.

Kangin melepas pelukannya dan ia menangkupkan kedua tangannya membingkai wajah manis Ryeowook. Kangin mengecup kening Ryeowook cukup lama dan itu membuat Ryeowook menutup matanya.

‘Lihat. Meskipun aku tak punya Ibu yang mengecup keningku, tapi aku punya Ayah yang mengecup keningku’ ―katanya dalam hati.

Ryeowook tersenyum manis pada sang Appa. “Ayo, masuk~” Kangin membawakan koper Ryeowook sekaligus menarik pergelangan tangan Ryeowook untuk masuk kedalam rumahnya. “Appa! Kenapa rumah ini berantakan sekali?” tanya Ryeowook dengan kesal.

Kangin tampak nyengir tanpa rasa bersalah dan berlalu begitu saja membawa koper Ryeowook kedalam kamar sang putri semata wayang yang ada dilantai dua. Ryeowook menggembungkan pipinya kesal. Ia mendudukkan dirinya disofa ruang tamunya.

Matanya menyapu segala benda yang terpajang di dinding ruang tamunya. Ia hanya bisa tersenyum begitu mengetahui bahwa hanya ada foto dirinya dan sang Appa. Bahkan ruang tamu itu tak berubah sekalipun.

Dan juga tak ada yang berubah sekalipun dari rumahnya. Rumahnya yang tergolong kecil itu terasa sangat nyaman untuknya. “Aku benar-benar merindukan ini semua. Hufffh…” katanya dengan pelan. Ryeowook menolehkan kepalanya kebelakang dimana sang Appa berjalan mendekatinya.

“Kenapa pagi-pagi begini kau sudah sampai?” kening mengkerutkan keningnya setelah ia sudah duduk disamping Ryeowook. Kangin berpikir sebentar sebelum pada akhirnya ia melotot tak percaya pada Ryeowook. “Jangan bilang kau berangkat pada malam hari dari Seoul?”

Ryeowook mengangguk ragu-ragu. “Ya! gadis bodoh. Kenapa kau berangkat pada malam hari, kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana?” berteriak kencang yang memaksa Ryeowook menutup kedua telinganya.

“Appa! Berhentilah berteriak menyeramkan seperti itu,” ucapnya kesal. “Lagipula aku baik-baik saja” mendengus keras dengan memandang Kangin malas. Memang terkadang Ryeowook ini suka sekali bertengkar dengan sang Appa. Dan parahnya itu hanyalah masalah sepele.

“Tapi..”

“Berhentilah mengkhawatirkanku seperti ini. Aku sudah besar, Appa.”

Kangin tersentak saat mendengar Ryeowook mengucapkan hal itu. Kangin berusaha memaksakan sebuah senyum kecil. “Arasseo. Meskipun kau sudah besar bukan berarti Appa tidak boleh peduli lagi padamu,” berkata pelan membuang muka.

Ryeowook berkedip berulang kali sebelum pada akhirnya ia menyadari bahwa apa yang dilontarkannya barusan sangat menyakiti sang Ayah. “Appa… mianhae~ aku…tak bermaksud seperti itu,” suara Ryeowook terdengar sangat bersalah.

Kangin tersenyum dan kedua tangannya mengelus dengan sayang pucuk kepala Ryeowook. “Appa harus berangkat… kau baik-baiklah dirumah”

Ryeowook ikut berdiri saat Kangin berdiri. Ryeowook bahkan menarik ujung baju bagian lengan Kangin seolah menyuruh Kangin untuk menatapnya. Kangin memandang Ryeowook penuh tanya. “Wae?”

“Apa tidak sebaiknya Appa ijin saja hari ini? Aku sangat merindukan Appa,” berkata memelas dengan memandang Kangin penuh harap. Terdengar sebuah helaan nafas yang keluar dari bibir Kangin. “Maafkan, Appa, Wookie~ hari ini Appa akan mendampingi Direktur Song untuk bertemu dengan client,”

Tampak begitu jelas wajah kecewa yang tergambar diraut muka Ryeowook. tapi dalam seperkian detik berikutnya Ryeowook mengubah mimik wajahnya dengan riang. Ia memasang senyum seindah mungkin hingga matanya ikut menyipit.

Ia tak mau membuat Kangin khawatir apalagi terbebani dengan adanya dirinya dirumah. “Ah, baiklah kalau begitu.” Suara Ryeowook terdengar sangat riang berusaha menutupi kesedihannya didepan Kangin. Kangin terkekeh melihat wajah lucu Ryeowook.

“Ne. Jika kau lapar kau bisa memasak ramen yang Appa simpan didapur.” Ryeowook mengangguk cepat. Ia mengantarkan Kangin sampai kedepan rumahnya. Bahkan ia sampai melambaikan tangannya seperti seorang anak yang mengantar kepergian Appa-nya dimedan perang. Kkk~

Ryeowook menghela nafas ketika Appa-nya sudah pergi. Ia masuk dengan langkah kaki yang lemas. Sekarang hanya tinggal ia sendirian dirumah dan itu terasa memuakkan baginya. Ryeowook benci sepi dan ketika ia memutuskan untuk pulang kerumah ini, ia sangat berharap bahwa liburannya kali ini akan sangat menyenangkan bersama Appa-nya. Tapi ternyata… semua tak seindah yang direncanakan.

Ryeowook merebahkan tubuhnya diranjang kamarnya. Ia tidur dengan keadaan terlentang. Matanya memandangi langit-langit kamarnya. Ia menerawang begitu jauh tentang masa lalunya saat awal bersama Yesung. Terkadang Ryeowook tersenyum…lalu wajahnya berubah sedih, lalu tersenyum lagi dan kembali sedih.

Ia mengingat segalanya. Segala kegilaan yang ia lakukan dan juga kesedihan yang ia terima selama menjalin hubungan dengan Yesung. “Mungkin… sekarang sudah tinggal kenangan” bisiknya pelan pada udara kosong disekelilingnya.

Drrt… Drrt.. Drrt..

Getaran diponselnya menyadarkan Ryeowook dari segala lamunannya. Ia memang baru mengaktivkan ponselnya sejak semalam ia non-aktivkan. Ryeowook mengerutkan keningnya melihat siapa gerangan yang menghubunginya.

Ia merasa mual membaca nama yang tertera dilayar ponsel pintarnya. Dengan tanpa perasaan ia menekan tombol merah menolak mengangkat panggilan itu. tapi tak butuh waktu lama hingga akhirnya seseorang itu kembali menghubunginya.

“Aiish~ apa, sih, mau orang ini? Bukankah ia sudah memiliki tunangan? Kenapa masih menghubungiku?” bertanya pada dirinya sendiri dengan kesal. Ia kembali mengabaikan panggilan itu. berulangkali ponselnya bergetar tapi Ryeowook masih saja mengabaikannya.

Hingga sampai panggilan yang ke delapan kalinya, akhirnya Ryeowook bersedia mengangkat panggilan itu. saat pertama kali mengangkat panggilan itu, suara pertama yang ia dengar adalah sebuah helaan lega yang terdengar diseberang sana.

“Akhirnya kau mau mengangkatnya juga, sayang~”

Ryeowook menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar panggilan ‘sayang’ yang dilontarkan oleh Yesung. Entah kenapa Ryeowook merasa jijik setengah mati mendengarnya. “Apa?” tak mau berbasa-basi Ryeowook segera menanyakan tujuan Yesung menghubunginya.

Ryeowook kembali mendengar helaan nafas yang kali ini seperti orang yang frustasi. “Kau marah?”  suara diseberang sana bertanya. “Marah? Untuk apa?” Ryeowook bertanya polos seolah tak tahu apa-apa.

“Wookie~ dengarkan Oppa, Oppa bisa menjelaskan semuanya…”

“Menjelaskan apa? Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi,” memotong perkataan Yesung dengan cepat. “Jika yang Oppa maksud soal pertunanganmu dengan Kibum dan juga tentang perasaanku,” jeda sejenak menarik nafas. “Itu… sudah tak akan aku pikirkan lagi. Aku juga tak akan mau peduli lagi.”

Ryeowook tahu bahwa mungkin saat ini Yesung terkejut mendengar ucapannya. “A-apa maksud…mu?” suara Yesung diseberang sana terdengar sangat tersakiti dan itu juga menyakiti Ryeowook tentunya. “Apa itu artinya… kita sampai disini?” kembali bertanya dengan nada pelan dan begitu dalam hingga terasa seperti menggetarkan jantung Ryeowook.

Ryeowook merasakan jantungnya berpacu begitu cepat sampai menyebabkan dirinya kesulitan untuk bernafas. Ia merasakan matanya memanas dan sudah berkaca-kaca. “Aku… aku pikir akan lebih baik jika Oppa bisa mencintai Kibum.” Ryeowook mengatakannya dengan berusaha tegar.

Itu artinya… kau ingin Oppa melukanmu, Wookie~” suara Yesung mendadak berubah parau dan seperti sedang meangis. Ryeowook menggelengkan kepalanya pelan. Ia menutup bibirnya menggunakan sebelah tangannya yang bebas―agar isakannya tak didengar oleh Yesung.

Ia sudah menutup matanya hingga menyebabkan air matanya jatuh tanpa ia bisa hentikan. Bahunya bergetar menahan tangis. “Kau akan mengorbankan hubungan kita? Kau ingin menyerah setelah semua hal yang sudah kita lalui bersama? Begitukah?”

Ryeowook tak bisa menjawab. Karena sejujurnya ia pun tak rela jika harus kehilangan Yesung. Karena pada dasar hatinya yang paling dalam ia masih sangat menginginkan Yesung. Ryeowook bahkan merasa bahwa Yesung adalah satu-satunya alasan kenapa sampai detik ini ia masih bisa bertahan di sekolahnya.

Karena Yesung yang membuatnya kuat akan segala cercahan yang didapatnya. Karena Yesung lah yang selalu memberinya semangat ketika siswa-siswa yang lain menghina dirinya yang berasal dari kalangan bawah. Dan juga Yesung jugalah yang akan selalu berdiri didepannya saat ia harus mendapat banyak cemoohan yang mengatakan bahwa dirinya adalah gadis jalang.

Dan sekarang… saat ia harus berusaha melepaskan Yesung, Ryeowook benar-benar tak yakin bahwa ia masih bisa bertahan. Ia tak yakin bahwa ia masih bisa tersenyum. ia juga tak yakin bahwa ia sanggup bersikap baik-baik saja.

“Hikz~” Ryeowook sudah tak bisa lagi menahannya. Isakannya keluar tanpa ia sadari dan itu membuat Yesung yang ada diseberang sana membulatkan matanya tak percaya. “Sayang~” memanggil lembut yang semakin membuat hati Ryeowook hancur.

“Hentikan,” suara Ryeowook terdengar begitu dingin dan juga dalam. “Aku mohon hentikan,” ulangnya lagi yang membuat Yesung terdiam seribu bahasa. Yesung tidak mengerti apa maksud Ryeowook. “Jangan membuatku seperti ini…” Air mata Ryeowook semakin deras mengalir. “Jangan membuatku terus berharap kepadamu,”

“………………..”

“Jangan membuatku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, hikz..hikz..” Ryeowook sudah tak akan menyembunyikan lagi tangisnya. Ia hanya ingin Yesung tahu bahwa dirinya amat terluka. Ia amat tersakiti dengan segalanya. Ia bahkan juga ingin pria tampan disana tahu kalau selama ini ia begitu tertekan dengan semuanya.

“Wookie…Oppa―”

“―Tolong… jangan katakan sesuatu hal yang mustahil lagi kepadaku, itu… akan semakin menyakitiku” ujarnya pelan. Ryeowook meremas guling yang ada disampingnya. Melampiaskan segala kesakitan dan kekecewaan yang memenuhi rongga dadanya. ia lelah, sungguh. Ia begitu lelah dengan keadaan.

“Aku lelah, Oppa. Bisakah… bisakah kau berhenti memberikanku harapan yang sia-sia? Aku… aku hanya ingin hidup dalam kenyataan. Aku lelah dengan hubungan ini.” Ryeowook mematikan ponselnya setelah mengatakan itu semua.

Ia langsung menelungkupkan dan menyembunyikan tangisnya dengan bantal dibawahnya. Kedua tangannya meremas ujung-ujung bantal yang ia gunakan untuk meredam tangisnya. Ia hancur dan seperti akan kehilangan hatinya saat ini juga.

Ada sesuatu yang lebih menyakitkan dibanding ketika ia mengetahui bahwa Yesung bertunangan dengan Kibum. Dan rasa sakit itu terletak didada bagian kirinya… rasanya ada sesuatu yang menghilang. Dan Ryeowook tahu bahwa itu semua terasa hilang ketika ia selesai mengucapkan bahwa ia lelah dengan segalanya.

.

.

.

Perihal kesedihanku; ialah tak dapat lagi bercakap dengan kesedihanmu.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

TBC!

 

 

Author Note:

Yosh~ maaf baru update. Saya baru selesai Try Out. Sebenernya, sih, nih ff udah rampung sampai Final-nya dan tinggal update-update aja terus. Tapi saya bener-bener lagi sibuk jadi maaf, ya, jika saya terkesan ngaret. *bow*

Oke, cukup sampai disini. Saya nggak akan banyak-banyak cakap karena saya juga udah tepar.

Last, tinggalkan jejak.

 

 

Sign,

Ryeowook’s Wife

62 thoughts on “(GS/Chapter) Just You~ 02

  1. dr chap 1 uda nyangka klu ff ini pasti sedih..
    knp setiap ff yewook aku selalu galau bacanya..
    ayo dong yesung jgn nyerah,, susul wookie ne..
    kibum,, lepasin yeppa dong,, kamu sm kuda aja jgn egois..

  2. ok chapter ini full bikin aku nagis.😥
    ayolah jangan putus. yesung perjuangkanlah ryeowook. bawa tuh kedepan heechul umma dg hangeng appa biar mereka tau kalau wookie-Mu itu lebih baik daripada kibum. dan kibum, ayolah seharusnya kamu malu dg apa y sudah kamu lakukan. -_-
    nice ff april feelnya dapat banget.
    keep writing. ^^ …

  3. oww,wook kau melupakan seorg lg yg selalu melindungimu d sekolah??
    apa kibum mendengar perckpan yesung dn heechul d kamar itu?
    klw siwon tau ttg pertunangan YeBum,bgmn siwon tau wook ada d taman??#micingin_mata
    kyknya yg bs menghentikn pertunangan itu kuncinya d kibum deh.
    Pertanyaan terakhir nih..klw wook balik k kmpng halamannya apa dia memutuskn putus dgn yesung?

  4. haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah sediiiiiiiiiih jangan bikin woookie sedih donk😥 bikin yppa sma wookie baikan kag dnk jgn smpe ptus yaaaaaaaaaaaah😥

  5. annyeong~~~ kkkk~~

    wook akhirx tau klo yeye tunangan T.T ayo bang won peluk wook sama2 *digeplak yeye* #nyengir

    romantis bgt siwook ♥_♥ ngikut dong bang~~~ nyempil ditengah LOL

    wook emang g’ pernah sadar klo dia itu cantik bang won~~ jadi sabar ne~~ kkkk~~

    yahhhhh yeye telat >.//////<

    bang yeye~~~ ke busan gih~~~ bawa wook pulang kerumah terus nikah LOL

    wook jgn bilng gitu~~ huks huks ntar aq bawa kamu ke KUA loh~~~ *ehh kkkk~~

    lanjuttttt *bawa EunWookRy pindah tempat *

  6. huweeeeee~ yesung kenapa tak jujur saja ke baby,, bahkan lebih sakit saat dia tau berita itu dari siwon, dia pasti merasa bodoh karna tidak tau apa”, padahal itu pacar’a sendiri, miriss😥
    hikss jangan menyerah babywook, pertahankan yesung.
    sebalik’a😦

  7. Aaah ryeowook please dengarkan pnjelasan yesung dulu, tak tau kah klau yesung membangkang orang tuanya krna mu baby wook… dan buat yesung pleaseee kejar wookie jangan nyeraah, buktikan ke ortu mu klau wookie itu lbih baik dri kibum walau wookie tak sekaya kibum hehehe
    Ayolaah author semangat nulis lagi aku pnasaran ama klnjutanya… semangat semangat semangat 😀😀😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s