(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 08

Tittle : We Don’t Leave You!!

Chapter : 8

[[ phiphohBie ]]

Author : Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YeWook

Yewook’s NOT MINE!! But, ‘We Don’t Leave You!!’ purely IS MINE..^^

.

.

.

Enjoy!!

.

.

.

Beberapa tahun ini, setiap harinya, aku sangat merindukanmu.

.

.

.

Yesung hanya terdiam memandang gadis mungil yang kini tengah duduk santai dengan memainkan piano yang ada didepannya. Gadis mungil itu terlihat sedang memangku seorang bocah perempuan, tangan-tangan kecilnya yang lentik turut membantu sang bocah yang ada dipangkuannya untuk memainkan tuts-tits piano berwarna hitam-putih tersebut.

Yesung bersembunyi dibalik pintu tempat Ryeowook mengajar anak-anak kecil untuk belajar piano. Ia tak pernah melepas pandangan matanya sedikitpun dari Ryeowook. ia memandangi gadis mungil itu dengan tatapan yang sendu beserta rindu.

Ada tatapan rindu yang mendalam pada mata sekelam malam itu. jantung Yesung berdetak tak karuan saat melihat senyum tulus yang terlukis diwajah Ryeowook. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat senyum itu. bibir Yesung tanpa sadar ikut tertarik dan itu memunculkan sebuah senyum tipis.

Yesung mengamati pakaian yang dikenakan oleh Ryeowook. baju yang dipakai oleh Ryeowook tergolong sederhana untuk ukuran gadis kaya seperti Ryeowook. Ryeowook memakai kaus kream kedodoran yang panjangnya mencapai paha dan celana jins coklat ketatnya. Rambutnya disembunyikan dibalik topi rajutan berwarna putih gading, hampir senada dengan kulitnya yang putih langsat.

Mata yang memiliki bola mata Caramel cerah itu kini dibingkai oleh kacamata bening―dengan warna frame putih. Wajahnya tirus dengan tulang pipi yang tinggi dan hidungnya kecil. Bibirnya berwarna semerah darah, penuh, dan entah bagaimana bisa dengan mudah menyedot hampir seluruh perhatian Yesung.

“Unnie~ ada seseorang disana~”

Deg!

Mata Yesung membelalak lebar ketika bocah yang ada dipangkuan Ryeowook saat ini menunjuknya menggunakan jari telunjuk kanannya dan tak pelak hal itu membuat Ryeowook―yang penasaran―menoleh ke arah dimana Yesung bersembunyi.

Yesung ingin sekali bersembunyi saat ini juga tapi entah bagaimana bisa kakinya seolah tak mau bergerak sesuai keinginan logikanya. Hatinya bahkan seakan ikut berkonspirasi untuk memonopoli dirinya. Bagaikan adegan slow motion, Yesung menatap Ryeowook dengan seksama yang menoleh secara refleks kepadanya.

Deg!

Kali ini jantung Ryeowook berdegup kencang. Ryeowook memandang Yesung dalam diam. Yah, ia ingat siapa sosok yang berdiri diujung pintu itu, Ryeowook masih ingat tatapan mata Obsidian yang mengintimidasi itu, Ryeowook masih ingat gesture tubuh pria disana, bahkan Ryeowook masih ingat bagaimana bibir itu melengkungkan sebuah senyuman yang teramat menghangatkan untuknya.

Dalam seperkian detik Ryeowook menahan nafasnya. Ia merasakan kehilangan denyut nadinya. Ia tak bisa menghirup Oksigen dengan lancar. Bahkan tanpa sadar mata Ryeowook sudah memanas dan menimbulkan sebuah genangan air bening dipelupuk matanya.

Ryeowook masih tetap menatap Yesung yang juga berbuat hal yang sama pada dirinya. Seolah tersedot di dimensi lain, Ryeowook maupun Yesung merasa bahwa hanya ada mereka berdualah di dimensi tersebut.

Kedua mata itu beradu dan bibir kecil Ryeowook menggumamkan nama sang pria “Yesung… Oppa” ucapnya pelan. Yesung menelan ludahnya keluh. Lidahnya seperti kaku seolah tak mampu berbicara apapun. Ia hanya bisa memandang Ryeowook dengan penuh penyesalan. “Wookie~”

.

.

.

“Kenapa?”

Yesung menoleh memandang Ryeowook yang menatap lurus kedepan. namun meskipun begitu ia bisa merasakan bagaimana tatapan Yesung yang seolah meneropong jauh kedalam jiwanya, menarik keluar segala hal yang tersembunyi disana. Yesung masih menunggu kelanjutan ucapan Ryeowook.

“Kenapa kau tiba-tiba datang kemari?”

Yesung sedikit terkejut mendengarnya namun dengan cepat ia menguasai dirinya. Melirik pada Ryeowook kali ini, ia membuka suara, “Tentu saja karena kau” ada sedikit nada kecewa pada suara Yesung.  Ia sesungguhnya berharap bahwa bukan ini yang akan keluar dari mulut Ryeowook. bukan pertanyaan yang seolah-olah melarangnya untuk mencarinya.

Ryeowook tersenyum tipis mendengarnya. Dan ia sedikit melirik Yesung dari ekor matanya. Ia masih bisa melihat beberapa luka babak belur yang Ryeowook yakini pastilah itu bekas berkelahi. Ia jadi berpikir tentang ucapan Donghae beberapa waktu yang lalu mengenai keadaan Yesung dan sekarang ia percaya. Pria yang dicintainya itu… memang dalam keadaan yang tak baik-baik saja.

Lihat saja, badannya menjadi kurus kering begitu. Lingkaran mata panda terlihat begitu jelas dikelopak matanya. Wajahnya yang dulu tampan dan cara berpakaiannya yang begitu keren kini telah lenyap. Ryeowook tak dapat melihat sesosok Yesung yang dulu saat ini. Karena yang ia lihat hanyalah kekacauan yang ada pada diri Yesung.

“Lihat dirimu. Kacau begitu, bagaimana bisa kau mencariku dengan keadaan kacau seperti itu?” Ryeowook berkata jahat tanpa mau repot-repot memandang Yesung. Yesung terperangah mendengarnya. Ia memandang takjub pada Ryeowook.

Bahkan mata sipitnya pun ikut melebar mendengar suara Ryeowook―meskipun terkesan jahat―yang terdengar sangat jenaka. Yesung tidak tahu apa maksud dari ini semua tapi satu yang ia tangkap bahwa Ryeowook saat ini sudah berubah.

Ryeowook menoleh memandang Yesung yang masih setia menatapnya dengan lekat. Kedua mata berbeda warna itu saling beradu sebelum pada akhirnya mata coklat caramel milik Ryeowook itu menghilang dengan seiringnya senyum yang terpatri dibibirnya. Matanya membentuk sebuah eye-smile yang begitu menenangkan untuk Yesung.

Yesung merasa bahwa pasti saat ini ia sedang berhalusinasi tapi ketika ia mencubit sebelah tangannya ia masih bisa merasakan sakit. itu tandanya ini nyata ‘kan?

“Wookie~”

Ryeowook kembali memfokuskan pandangannya kedepan memandang hamparan bunga-bunga yang tertata rapih disebuah kebun dekat rumahnya. Memang tadi awalnya Ryeowook tak bersedia untuk berbicara dengan Yesung, namun karena melihat keadaannya yang buruk seperti ini mau tak mau akhirnya Ryeowook pun menyetujuinya.

Mereka bertemu tanpa adanya sebuah ucapan rindu. Mereka bertemu tanpa sebuah pelukan kehangatan, bahkan mereka bertemu tanpa sapa. Ya, Yesung tak dapat berbuat apa-apa. Ia memang ingin melakukan itu semua pada Ryeowook, namun kenyataan dimasa lalu seolah memukul telak dirinya. Dan sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tidak memeluk Ryeowook.

“Senang rasanya bisa melihatmu lagi,” kata Ryeowook tiba-tiba. Dalam seperkian detik Yesung tersenyum tipis hingga Ryeowook sendiri tak bisa melihatnya. “Aku merindukanmu.” Ryeowook menegang seketika saat mendengar Yesung mengatakan hal yang diluar ekspetasinya.

Ia menoleh pada Yesung dengan tatapan yang terluka dan dibalas dengan pandangan terluka juga oleh Yesung. Hati Ryeowook bergetar kala matanya menemukan sebuah makna lelah, kecewa, menyesal, dan menderita dalam mata Obsidian itu.

Ryeowook yang tak tahan akhirnya lebih memilih menundukkan kepalanya. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal erat. “Kau pergi begitu saja, menghilang seperti ditelan bumi. Itu… membuatku sangat frustasi, Wookie.” Ryeowook tersenyum kecut mendengarnya. “Bukankah itu yang kau inginkan?”

“Apa maksudmu?” tanya Yesung tak mengerti. Ryeowook menghela nafas pelan. “Ani. Aku hanya tidak ingin Oppa terbebani dengan janjimu saat kita masih kecil,” menjawab jujur dengan pandangan mata yang mengarah pada langit biru diatas sana. Yesung menelan ludahnya dengan keluh, “Kenapa kau berpikir seperti itu? aku… sama sekali tak keberatan”

Ryeowook memejamkan kedua kelopak matanya erat. Tanpa sanggup ditahan, air matanya mulai berkumpul dipelupuk matanya. Ia menundukkan kepalanya lagi. “Oppa tahu, kau senang sekali melihat segala sesuatunya dari sudut pandangmu sendiri. Berpikir mana yang lebih baik, mana yang lebih buruk, semuanya menurut pertimbanganmu sendiri,”

Yesung menarik nafas dalam. Mungkin sudah saatnya ia harus mengatakan segala sesuatunya sekarang. “Seharusnya kau tidak begitu―”

“―Memangnya aku harus bagaimana?” Ryeowook hampir memekik nyaring. Ia menatap Yesung dengan tatapan mengintimidasi yang dibalas dengan sebuah senyum simpul oleh sang pria tampan yang duduk disampingnya. “Harusnya kau bertanya lebih dahulu, harusnya kau lebih jujur dengan perasaanmu, harusnya kau menceritakan segala kegundahanmu padaku, harusnya kau meminta pendapatku, harusnya kau berbagi denganku…” jeda sejenak hanya untuk menarik nafas guna melanjutkan ucapannya.

“Bukannya justru berpikir sendiri, menarik kesimpulan berdasarkan sudut pandangmu lalu memilih jalan dengan diam-diam pergi meninggalkanku begini. Aku… tidak mengerti, maksudku mungkin selamanya aku tak akan mengerti jika saja Heechul Noona tidak memberitahuku segalanya.” Jelasnya panjang lebar.

Ryeowook menggigit bibir bawahnya kuat mendengar penjelasan Yesung. Hatinya bergemuruh. Mungkin benar apa kata Yesung bahwa dulu seharusnya ia tak gegabah dengan hanya mempertimbangkan pendapatnya saja, mungkin dulu seharusnya ia juga tak terlalu dalam mengisolasi diri dari Dunia luar. Mungkin dulu seharusnya ia juga tak harus bersikap anti sosial seperti itu.

Dan Ryeowook tahu bahwa apa yang dilakukannya dulu adalah sebuah kesalahan besar. Ryeowook yang sekarang sudah terbuka dan sedikit lebih memahami keadaan. Dan ia bersyukur atas kerja keras Donghae yang benar-benar membantunya.

“Mianhae~”

Yesung berjengit mendengarnya. Ia tak percaya dengan ini. Choi Ryeowook… gadis yang bahkan dulu tak pernah mau meminta maaf dan mengakui salahnya sekalipun ia bersalah kini justru dengan mudah mengatakan maaf padanya. Yesung menatap aneh pada Ryeowook dan terbesit sebuah perasaan tak enak dalam dirinya.

Yesung merasa bahwa Ryeowook seharusnya tak perlu meminta maaf, toh meskipun Ryeowook salah tapi jika dibanding kesalahannya itu tak ada apa-apanya. “Kenapa meminta maaf, seharusnya Oppa yang mengucapkannya,”

“…………..”

“Bahkan Oppa pernah mengkhianatimu hanya karena Oppa bertemu seseorang yang aneh―yang sebenarnya itu bukanlah cinta melainkan sebuah rasa keingintahuan saja.” Mengaku jujur pada Ryeowook. “Aku tahu.” Ryeowook menjawab singkat.

“Kau pasti sangat terluka saat itu, sampai pada akhirnya kau lebih memilih pergi.”

Ryeowook menggelengkan kepalanya. “Tidak. Itu jauh lebih sakit dari sebuah luka,” Yesung menegang mendengarnya. “Saat itu… aku merasa sudah kehilangan segalanya. Satu-satunya orang yang aku pikir masih menemaniku ternyata ikut pergi meninggalkanku seperti yang lainnya… aku… seperti orang bodoh yang menyedihkan,

Tak memiliki siapapun yang bisa menemaniku dalam sebuah kekosongan. Sampai pada akhirnya aku sudah merasa bahwa semuanya gelap. Aku… tidak bisa lagi hidup dengan baik. Aku hanya hidup mengandalkan takdir, tak peduli takdir membawaku kemana.”

Yesung merasakan sebuah cairan hangat mengalir dari pelupuk matanya. Ia menangis mendengarnya. Sungguh, ia tak menyangkah bahwa apa yang dilakukannya dulu sudah membuat hidup Ryeowook tampak lebih sulit untuk dilalui sang gadis. Ia sudah menciptakan sebuah luka tak kasat mata yang begitu membekas pada hati Ryeowook.

Hening menyesap beberapa saat. Baik Ryeowook maupun Yesung tak berminat untuk membuka suara. Mereka hanya diam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Semuanya sudah berubah dan terasa begitu asing. Yesung tak dapat lagi memahami Ryeowook begitupun sebaliknya. Mungkinkah dalam kurun waktu hampir lima tahun ini hati mereka sudah membeku hingga harus membutuhkan sedikit waktu lagi untuk bersama hingga mereka bisa saling memahami dan mencairkan hati yang beku itu?

.

.

.

Kenapa kau berlari?

Selagi kau punya kekuatan untuk menghadapinya lebih baik kau selesaikan itu semuanya dengan baik.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Yesungie~?” Nenek Ryeowook memanggil nama Yesung dengan penasaran seolah tak percaya bahwa pria yang ada dihadapannya ini adalah Kim Jong Woon, teman main cucunya saat masih kecil. Memang Nenek Ryeowook dulu ini tinggal di Seoul, namun semenjak suaminya meninggal, akhirnya ia memutuskan untuk menghabiskan masa Tua-nya di Mokpo―tempat kelahiran sang Suami.

Yesung tersenyum canggung dan mengelus tengkuknya dengan ekspresi wajah yang lucu. Ryeowook sendiri hanya bisa menampilkan sebuah senyum kecil. “Aigoo~ kau sudah besar sekarang, eh?” sang Nenek menepuk-nepuk pundak Yesung dengan sedikit keras. Nenek Ryeowook memang sudah tua tapi masalah kekuatan dalam hal memukul rasa-rasanya masih begitu terasa.

“Ne, Haelmoni. Apa kabar?” bertanya kabar sang Nenek dengan senyum yang ramah. “Seperti yang kau lihat, Haelmoni sudah cukup tua saat ini dan hampir dilupakan. Bahkan Wookie saja sudah tak patuh dengan apa yang dikatakan oleh Haelmoni,”

Ryeowook melotot tak percaya mendengar ucapan sang Nenek. “Haelmoni!” pekiknya kecil. Yesung menoleh langsung pada Ryeowook yang saat ini berdiri disampingnya. Yesung hanya bisa tertawa kecil melihat wajah cemberut Ryeowook. sudah lama sekali rasanya tidak melihatnya cemberut seperti itu. meskipun ekspresi wajah Ryeowook yang cemberut kali ini bisa dikatakan lebih lucu daripada yang dulu.

“Kau lihat sendiri, Yesungie~ dia bahkan membentak Nenek-nya sendiri” ujarnya. Yesung mengangguk. “Ne.”

“Hentikan pembicaraan tidak penting ini.” Potong Ryeowook dengan cepat. “Yesung Oppa akan menginap disini,” sang Nenek mengangguk-nganggukkan kepalanya ringan seolah ia mengerti. “Berapa lama?” tanyanya. Ryeowook mengangkat bahunya ringan. “Haelmoni bisa tanyakan langsung padanya. Akh~ aku lelah, aku ingin tidur.” Ryeowook berlalu pergi begitu saja dan meninggalkan Yesung bersama Neneknya.

Yesung mengikuti arah dimana Ryeowook pergi. Sebenarnya ia masih ingin sekali berbincang-bincang dengan gadis manis itu tapi sepertinya Ryeowook masih enggan. Hah~ Yesung menghela nafas pendek dengan kepala yang menunduk. Ia baru mendongak saat ada sebuah tangan yang membelai pucuk kepalanya.

“Dia hanya butuh waktu. Kau datang setelah kalian cukup lama terpisah, mungkin dia hanya butuh waktu, Yesungie~” kata sang Nenek mencoba menenangkan. Yesung mengangguk pelan dengan senyum yang teramat dipaksakan. “Aku berharap bahwa dia masih mencintaiku,”

Sang Nenek tertawa mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Yesung. Yesung sendiri hanya bisa menautkan kedua alisnya tidak mengerti. “Wae?”

“Aniya. Haelmoni hanya sedang berpikir bahwa kau benar-benar tidak memahami Ryeowook sama sekali,” Yesung memunculkan sebuah ekspresi tak percaya pada wajah imutnya. Benarkah? Benarkah dia tak benar-benar memahami Ryeowook sama sekali?

“Jika kau memahaminya, kau pasti tak akan mengucapkan hal yang seperti itu. melihat dari caranya memandangmu saja semua orang sudah tahu bahwa rasa cinta itu… benar-benar masih terlihat dengan jelas dimatanya.”

Kali ini Yesung sudah tak bingung. Dia bahkan sudah tersenyum lebar dengan wajah yang berseri-seri. Perkataan Nenek Ryeowook barusan seolah menjadi cambuk baginya untuk tidak menyerah begitu saja. “Apa… apa yang baru saja Haelmoni katakan benar?”

Nenek tua itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Tentu.”

Yesung tertawa. Tertawa begitu tulus untuk yang pertama kalinya semenjak ia kehilangan Ryeowook dalam hidupnya. “Jeongmal Ghamsahamnida~” ucapnya kelewat semangat. Yesung bahkan membungkuk hormat kepada Nenek Ryeowook. keduanya saling tersenyum dan tidak tahu bahwa dibalik pintu kamar bercat pasta tak jauh dari ruang keluarga tersebut masih ada Ryeowook yang mengintip dan mencuri dengar apa yang keduanya bincangkan.

Ryeowook mendengus melihat perubahan ekspresi wajah Yesung yang mendadak berseri-seri setelah apa yang diucapkan oleh Neneknya. “Hah~ dia benar-benar masih mencintaiku?” bermonolog sendiri seraya menutup pintu kamarnya pelan.

Ryeowook merebahkan tubuhnya yang terasa lelah ke ranjang queen size miliknya. Ia memeluk sebuah boneka Jerapah pemberian Yesung sekitar tujuh tahun yang lalu. Ia memandang boneka Jerapah itu penuh tanya. “Apa aku harus memulainya lagi dari awal?” kali ini ia bertanya pada boneka Jerapah tersebut.

Ryeowook mendesah berat. Ia merasa bodoh, jinja… untuk apa ia berbincang-bincang dengan Boneka yang bahkan tak bisa bergerak? Choi Ryeowook, bodoh!

Terlalu lelah memikirkan tentang kehidupan pada akhirnya membawa sebuah rasa kantuk menyerang dirinya. Di Sore yang cukup cerah ini tak membantu Ryeowook untuk mencerahkan suasa hatinya. entahlah, ia hanya merasa masih aneh saja jika ada Yesung disekitarnya. Sudah hampir lima tahun mereka tak bertemu dan itu sudah cukup membuat Ryeowook terbiasa dengan keadaannya yang sendirian.

Lalu sekarang, pria dari masa lalunya tersebut hadir bak hantu yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya dan menghancurkan segala pertahanannya. Ryeowook tidak menyangka bahwa ia selemah ini jika menyangkut soal Yesung.

Namja tampan dengan mata bulan sabitnya itu… sudah menempati posisi teratas dihatinya. Ryeowook bahkan tak mampu menggantinya dengan orang lain. Padahal jika dipikir-pikir lagi selama ini ada Donghae yang disampingnya dan tak munafik Donghae bahkan berjasa besar soal perubahan sikapnya.

Ngomong-ngomong soal Donghae… ia yakin bahwa pria itulah pasti yang sudah memberikan alamatnya pada Yesung. Ryeowook berani menuduh pria itu karena tiga jam sebelum kedatangan Yesung, Ryeowook mendapat sebuah pesan yang berasal dari Donghae dengan isi yang mengatakan, ‘Berhenti melarikan diri. Dan selesaikan semuanya sekarang. Sudah cukup kau bersembunyi seperti pengecut seperti itu.’

Ryeowook ingin sekali menendang bokong pria yang seenak jidatnya mengatur-ngatur hidupnya. Pria itu bahkan tak menggenggam janjinya dengan baik. Bukankah Ryeowook sudah mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tau alamatnya? Jadi… bagaimana bisa Yesung tahu alamatnya? Tidak mungkin jika itu Siwon, mengingat pria itu bukanlah tipe orang yang akan mengatakan sesuatu hal yang sudah dilarang oleh Ryeowook.

Ryeowook yang baru lima menit menutup matanya kini dibuat berjengit kaget saat ponselnya berdering. Ryeowook memandang malas ponsel itu dan dengan ogah-ogahan ia akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. “Hm??”

Ryeowook berdecak kesal mendengar sebuah tawa diseberang sana. “Kau puas?” tanya Ryeowook pura-pura marah. “Kau sudah bertemu dengannya, Wookie-ah?” seseorang diseberang sana bertanya. Ryeowook jengah. “Yeah, Kau berhasil mempertemukanku dengannya lagi, Lee Donghae,” ucapnya dengan nada sinis.

“Uh-oh, jangan marah begitu, aku melakukan ini agar semuanya selesai, Ryeowookie~” Ryeowook bisa mendengar Donghae menghela nafas dari arah seberang sana. “Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya aku ketika aku harus melihatmu terdiam dengan pandangan kosong selama ini,” Ryeowook tersenyum lembut mendengarnya.

Well, soal ini Ryeowook juga sadar bahwa Donghae benar-benar tersiksa karena tingkahnya yang diam-diam suka merenung seorang diri. Ryeowook sangat jelas tahu bahwa Donghae benar-benar peduli padanya. Hal itu cukup membuat hati Ryeowook menghangat selama ini.

“Aku sangat berharap… setelah kau bertemu dengannya sekarang ini, kau akan menghentikan kegiatan menyedihkanmu itu,”

“Hei―”

“―Karena Yesung sudah ada disampingmu… jadi kau sudah tidak perlu lagi memikirkannya. Kau tidak perlu khawatir padanya lagi. Bahkan jika kau merindukannya kau bisa saja langsung memeluknya.”

Ryeowook menggigit bibir bawahnya―geli karena mendengar kata ‘memeluknya’ dari bibir Donghae. ia tak mampu berkata-kata lagi. Ryeowook kesal saat ini karena bagaimanapun juga apa yang dikatakan oleh Donghae adalah kebenaran. Hah~ hanya helaan nafas bosan yang keluar. Donghae tertawa renyah diseberang sana.

“Nah, jadi, baik-baiklah dengannya. Oh, ngomong-ngomong aku harus pergi sekarang, aku akan menghubungimu nanti lagi, bye~”

Tut. Tut. Tut.

Ryeowook menatap layar smartphone-nya sebentar sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk meletakkannya disampingnya. Ia memandangi wallpaper ponselnya yang dimana terpasang sebuah fotonya bersama Yesung. Ia memandang foto itu dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Ia merasakan geli yang tak tertahankan. Begitu menyenangkan tapi juga ada sebuah keganjalan didalamnya. Ia senang sekali melihat foto itu ditambah saat ini Yesung sudah ada didekatnya. Namun… bayangan tentang masa lalunya… juga masih menghantuinya.

Ryeowook memutuskan untuk benar-benar menutup matanya. Setidaknya ia butuh tidur untuk sore ini dan berharap setelah bangun nanti ia akan lebih baik lagi dalam memahami keadaan dan menguasai dirinya sendiri.

Yah, semoga saja!

.

.

.

Jika kau terus menoleh kebelakang maka selamanya kau tak akan bisa melihat yang ada didepanmu.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Kau mengenalnya begitu dekat?” Eunhyuk datang dengan membawa segelas jus lemon dan diletakkannya di meja yang ada diruang tamu tersebut. Baru saja jus lemon itu mendarat dimeja tapi Donghae sudah mengangkatnya lagi dan meminum jus lemon tersebut dengan semangat. Ia baru meletakkan gelas itu setelah jus lemon itu tersisa setengahnya. Eunhyuk tersenyum melihatnya.

“Jus lemon buatanmu tidak buruk juga,”

“Aku mohon jangan alihkan pembicaraan, Hae.” Tukas Eunhyuk cepat. Gadis bergummy smile itu tahu bahwa Donghae mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “Aku muak terus-terusan berpura-pura tidak tahu seperti ini.” Donghae menatap Eunhyuk datar. “Memang apa yang kau ketahui sebenarnya?” bertanya santai dengan menyenderkan kepalanya.

“Kau… dan Ryeowook!”

Donghae mengangguk-nganggukkan kepalanya ringan. “Lalu?”

“Apa maksudmu, lalu? Seharusnya aku yang berbicara begitu. Sebenarnya… kau ada apa dengannya?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

Jleb!

Eunhyuk merasakan hatinya tercubit. Sebuah perasaan kebas tiba-tiba mampir dihatinya. Ia menatap Donghae dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Dia tersenyum miris mendengarnya. “Baiklah, jika kau tidak ingin bercerita padaku.” Ujar Eunhyuk pelan.

Donghae menarik dengan kuat pergelangan tangan Eunhyuk sampai gadis itu jatuh kembali ketempat duduknya setelah beberapa detik yang lalu berniat pergi. “Kau tahu dengan jelas bahwa aku dan Ryeowook tidak ada apa-apa”

“Benarkah?”

“Kau tidak percaya?”

“Mendengarmu yang menceritakan tentang Ryeowook beberapa hari yang lalu saat kita menjenguk Yesung Oppa… aku yakin ada sesuatu yang salah diantara kalian,” gumamnya yang masih bisa didengar Donghae. Sang pria penyuka Nemo itu mendengus. “Memangnya bagaimana caraku menceritakannya? Aku hanya menceritakan segalanya kepada Yesung Hyung apa adanya.” Jawab Donghae asal-asalan.

“Kau bercerita panjang lebar tentang Ryeowook seolah-olah kau kenal dengannya begitu dekat, Hae” suara Eunhyuk terdengar frustasi. Gadis itu bahkan tak segan-segan menunjuk Donghae yang membuat Donghae sendiri menyatukan alisnya karena tak mengerti.

“Aku memang mengenalnya dengan dekat,”

Jawaban Donghae tidak membantu Eunhyuk untuk memperbaiki suasana hatinya. justru jawaban Donghae barusan telah menambah beban untuk Eunhyuk. Eunhyuk menelan ludahnya dengan keluh. ia tak mampu berkata-kata lagi dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Menyembunyikan sebuah butiran bening yang sudah siap untuk meluncur.

“”Wae? apa itu salah?” tanya Donghae dengan mengangkat dagu Eunhyuk supaya ia dapat melihat wajah cantik Eunhyuk. Donghae memandangi wajah Eunhyuk dengan seksama, Donghae tahu dengan jelas bahwa gadis disampingnya ini sudah siap untuk menangis. “Apa aku salah jika aku ingin membantu oranglain?”

“Kau tidak salah, tapi… kenapa harus dia, Hae?” bertanya pelan dengan air mata yang sudah meluncur menuruni pipinya. Jujur saja, Eunhyuk sempat shock ketika tiba-tiba saja Donghae bercerita tentang Ryeowook pada Yesung―saat dia memutuskan untuk menjenguk Yesung dengan serta mengajak Donghae waktu itu.

“Memangnya kenapa? Apa salahnya? Apa yang salah dengan Ryeowook?” bertanya bertubi-tubi tanpa melepas tangannya dari dagu Eunhyuk. Donghae yang selalu berusaha menghapus air mata Eunhyuk ketika gadis itu menangis pun kini justru membiarkannya begitu saja. “Jelas kau salah! Kau salah!” menekankan kata ‘salah’ pada setiap perkataannya.

Donghae tertawa mengejek. “Apa yang salah?”

“Karena aku tidak menyukainya!” menjawab cepat dengan suara yang sedikit memekik nyaring. “Kau lucu, Hyukkie. Aku pikir setelah sekian lama kita tak bertemu kau akan bertambah dewasa, ternyata…” Donghae melepaskan tangannya dari dagu Eunhyuk. “…kau sama saja.” Lanjutnya dengan nada yang sarat akan kekecewaan.

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya. “Kau membelanya?”

“Apa aku mengatakan bahwa aku membelanya?”

“Dengan kau mengucapkan hal tadi… itu memperlihatkan bahwa kau membelanya daripada aku” ujarnya dengan nada yang kesal serta frustasi. Donghae tertawa kecil. “Terserah jika kau menggapnya sebagai bentuk bahwa aku lebih membela Ryeowook dibanding dirimu.” Donghae bangkit dari duduknya dan langsung pergi begitu saja tanpa pamit.

Ia bahkan membanting pintu utama dikediaman Eunhyuk dengan tanpa perasaan. Berjalan cepat tanpa mau repot-repot berpaling kebelakang guna melihat keadaan Eunhyuk yang menatap punggungnya dengan tatapan yang teramat sedih.

Eunhyuk menutup kedua wajahnya dengan kedua belah tangannya, menyembunyikan tangisnya. Tangis Eunhyuk pecah seketika saat Donghae benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia menangis sesenggukan. Perasaannya seperti tercabik-cabik oleh benda tajam.

.

.

.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Oppa! Harusnya kau lebih jujur padanya.” Gadis berjuluk snow white itu memukul bahu Donghae pelan. “Hah~ saat aku berusaha untuk jujur, dia selalu saja membuatku kecewa” timpal Donghae dengan menutup matanya pelan. Terdengar suara tawa kecil dari bibir Kibum. “Kenapa kau mengeluh? Bukankah sejak dulu dia selalu membuatmu kecewa?” cibir Kibum yang membuat Donghae melotot padanya.

Kibum kali ini tak sungkan-sungkan untuk tertawa. Ia kembali memukul bahu Donghae kali ini dengan keras. “Ah, ngomong-ngomong tentang Ryeowook, bagaimana keadaannya? aku dengar dari Siwon Oppa, sejak dua hari yang lalu Yesung Oppa sudah pergi menemuinya di Mokpo,” bertanya dengan antusias “Apa itu benar?”

Donghae menjawabnya hanya dengan dua kali anggukan kepala. Kibum memanyunkan bibirnya kedepan. “Oppa~ ceritakan sesuatu padaku”

“Kau mau aku bercerita yang bagaimana, Kibummie~” suara Donghae lembut. Memang selama ini Donghae sudah menganggap Kibum sudah seperti Dongsaeng kandung sendiri. bahkan saat dulu dia ada masalah dengan Siwon, Dialah yang membantu Kibum berdamai dengan Siwon. “Tentang Ryeowook!”

“Sepertinya hampir seluruh orang selalu bertanya tentangnya, ya~”

Kibum tersenyum dan menganggukkan kepalanya mantab. “Habisnya dia itu misterius sekali, sih, dia dulu pergi begitu saja dan tak ada kabar sama sekali tentu saja itu membuat banyak orang bertanya-tanya tentangnya”

Donghae tak mampu menyembunyikan tawanya. Ia tertawa mendengarnya. “Dan kau tak pernah mencoba bertanya tentang Ryeowook pada namjacingumu itu? bukankah jika kau bertanya pada Siwon kau akan mendapatkan jawaban yang lebih spesifik?”

Bibir Kibum maju beberapa centi ketika mendengar nama namjacingunya disebut. “Dia tidak pernah membiarkan oranglain ikut campur dalam hidup Dongsaengnya yang tersayang itu,” ada nada cemburu yang tertangkap oleh indra pendengaran Donghae. “Jangan bilang kau cemburu padanya,” selidik Donghae dengan hati-hati.

Hah~ Kibum menghela nafasnya. Ia menyesap kopinya yang sudah mulai sedikit mendingin. Memang hari ini mereka sedang berada disebuah cafe yang tak jauh dari rumah Donghae. “Terkadang aku memang cemburu saat Siwon begitu menjaganya dan memikirkannya. Entah kenapa… aku merasa seperti bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Ryeowook.” berkata dengan jujur dengan mata yang menerawang jauh kedepan.

“Berhentilah berpikiran buruk seperti itu. kau tidak harus cemburu pada calon Adik Iparmu sendiri, Bummie.”

“Aku selalu berusaha tapi tetap saja rasanya sangat kesal melihat Siwon yang begitu perhatian padanya,”

Donghae memandang Kibum dengan serius. “Siwon melakukan itu semua karena dia tahu bahwa Ryeowook membutuhkan itu semua”

“……………..”

“Kau tidak tahu bagaimana Ryeowook… itulah yang membuatmu begitu mudah dikuasai oleh sebuah perasaan cemburu”

“Memangnya bagaimana Ryeowook?” bertanya penasaran pada Donghae. Mata sehitam mutiara di dasar lautan itu memandang ke atas. Melihat langit-langit atap dicafe seolah berpikir untuk darimana ia harus memulai ceritanya.

“Dia telah banyak terluka dimasa lalu. Dia seorang anak dengan banyak luka.”

Kibum terdiam mendengarkannya. Ia memandangi setiap pergerakan dari bibir Donghae. menanti kalimat-kalimat apalagi yang akan terlontar dari sana. “Dia menanggung banyak luka seorang diri sejak kecil, dia sudah terlalu lama mendekam dalam lubang kesakitan itu… hingga butuh banyak kasih sayang untuk dapat mengeluarkannya dari luka-luka yang ditanggungnya sejak dulu”

“…………………”

“Bahkan Siwon pun baru mengetahui luka yang ditanggungnya masih baru-baru ini. Hingga pada akhirnya Siwon hanya bisa berusaha sekeras mungkin untuk memberikan perhatian lebih padanya. Siwon berusaha menebus segala kelalaiannya. Jadi… apa dia salah jika dia memberikan perhatian yang lebih pada Ryeowook―dongsaengnya yang banyak terluka karena masa lalunya dan kedua orangtuanya?”

Kibum mendongakkan kepalanya. Berusaha menghalau titik-titik air bening yang sudah mendesak ingin meluncur keluar. Entah kenapa Kibum merasakan hatinya ikut merasakan sebuah perasaan sakit yang dialami oleh Ryeowook―meskipun itu hanya lewat ucapan-ucapan Donghae. Kibum tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi… tapi satu hal yang ia tahu; bahwa dia tak seharusnya cemburu pada seseorang yang bahkan sudah menderita sejak kecil.

“Keluarga yang hancur, kematian Ibu-nya, pernikahan Ayahnya dengan wanita lain… itu sudah menjadi luka yang berat yang harus ditanggung olehnya,”

“……………………”

“Mungkin Siwon bisa bertahan dari itu semua, tapi tidak dengan Wookie~” jeda sebentar sambil mengelap setitik air mata diujung matanya. “Ia anak yang tidak banyak bicara. Ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya dan itulah penyebab dimana ia hanya bisa diam dan menanggung segala kesedihannya seorang diri.” Katanya pelan.

Kibum menundukkan kepalanya. Ia sadar sekarang bahwa perasaan cemburunya begitu tidak mendasar. Ia tahu sekarang bahwa Ryeowook bukanlah seseorang yang patut untuk dicemburui, justru ia adalah seseorang yang patut untuk disayangi. Mungkin Kibum tak akan pernah tahu bagaimana perasaan Ryeowook yang sesungguhnya selama ini, tapi ia yakin bahwa Ryeowook pastilah tidak hidup dengan nyaman selama ini.

.

.

.

Kehancuran, perpisahan, kematian, kesendirian…

Adakah yang lebih menyedihkan dari ini semua?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Kau berubah banyak, ya?”

Yesung memulai percakapan pada malam ini. Ia menoleh kesamping dimana ada Ryeowook yang duduk disampingnya. Benar saja saat ini mereka berdua sedang duduk diberanda kamar Ryeowook. Awalnya Ryeowook keberatan saat pemuda tampan itu meminta ijin untuk masuk, hanya saja Ryeowook merasa tak enak hati jika harus menolaknya. Akhirnya dengan berat hari―serta membuat senyum yang dipaksakan―ia mempersilahkan Yesung masuk.

“Begitukah? Beberapa orang juga mengatakan hal yang sama padaku.” Jawab Ryeowook sekenanya. Ia memandang keatas dimana sang rembulan yang tengah berpijar dengan terang. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman yang secara tak ia sadari membuat jantung Yesung berdegup dengan kencang.

Yesung dapat merasakannya sekarang. Jantungnya berdetak tak karuan hanya dengan melihat senyum tipis itu, matanya bahkan seolah terpaku hingga ia tak bisa mengalihkannya dari wajah manis Ryeowook. “Indah~” gumamnya pelan.

Ryeowook menoleh kepada Yesung dengan mata yang menyorot penuh tanya pada Yesung. “Hm?”

Yesung gelagapan dan langsung menarik nafas panjang demi menetralkan detakan jantungnya yang tak karu-karuan. “A-aniyaa~” gugupnya. Hal tersebut mengundang tawa bagi Ryeowook. “Kenapa kau tertawa?”

Ryeowook memukul bahu Yesung main-main. “Kenapa Oppa jadi gugup begini, sih?” suasana beku dan kikuk perlahan mulai mencair. Yesung bersyukur akan hal ini. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah tersipu karena Ryeowook sudah mau memegangnya―meskipun sebenarnya lebih bisa disebut memukul.

Hah~ Ryeowook menghela nafas pendek. Lalu merenggangkan otot-otot kedua tangannya. “Aku banyak berpikir tentang beberapa hal,”

“Apa?”

Ryeowook tersenyum lagi. “Tentang masa lalu dan masa yang terus berjalan yang harus aku hadapi,” Yesung masih tidak mengerti jadi ia memutuskan untuk diam dan mendengarkannya lebih lanjut lagi. “Aku pikir aku banyak melakukan hal bodoh dimasa lalu. Aku begitu takut perubahan,”

“……………”

“Saat itu aku tidak benar-benar memahami segalanya dengan baik. Aku tidak tahu bahwa Tuhan hanya sedang mengujiku, karena aku pikir sebuah perubahan pasti akan membuat segalanya bertambah buruk,” tuturnya dengan lamat-lamat. Matanya menewarang jauh kedalam masa lalunya. Mengingat bagaimana dirinya, melihat dirinya sendiri, dan menertawakan kebodohannya dimasa lalu.

“Tapi sekarang aku tahu, bahwa saat jiwa kita diuji oleh Tuhan, saat itulah aku akan lahir untuk mencarinya… mencari sebuah kekuatan baru dan meraihnya. Meraih sebuah kemenangan dari ujian yang diberikan oleh Tuhan.”

Yesung tak bisa untuk menyembunyikan senyumnya. Ia kembali mengulas senyumnya dan tiba-tiba saja―seolah tangannya bergerak sendiri―ia menggenggam tangan Ryeowook kedalam dekapan hangat cengkraman kedua belah tangannya. Ryeowook terkejut bukan main karena perlakuan tiba-tiba Yesung.

Ia mencoba untuk melepaskannya tapi Yesung benar-benar tak memberikan ruang bagi Ryeowook untuk melepas genggaman tangannya. Ia memaksa Ryeowook untuk menatapnya dan mengunci mata Caramel itu kedalam Obsidian kelam miliknya. Ryeowook terperangah melihat sepasang bola mata yang indah itu.

Bola mata itu seperti menyedotnya kesebuah dimensi lain. Membuatnya merasakan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Ryeowook tidak tahan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. Ada apa ini? Kenapa rasanya ia sangat ingin jika bola mata itu hanya memandangnya seorang. Ya, hanya dia seorang.

Ryeowook bahkan menahan napasnya seketika Yesung memajukan wajahnya. Mata Yesung seperti sihir yang tak dapat dipatahkan hingga Ryeowook tak mampu berpaling dari sepasang bola mata Obsidian tersebut. Ryeowook dapat merasakan hembusan nafas Yesung yang hangat yang menerpa wajahnya. Demi Tuhan, Ryeowook bahkan tak mampu menolak meskipun bibir Yesung sudah menempel sempurna dibibirnya.

Mata Ryeowook melebar sempurna. Ia terkejut, sangat. Namun ia tak mampu berontak. Hanya diam dan membiarkan Yesung semakin dalam menciumnya. Yesung sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Pemuda tampan itu hanya melakukan apa yang ada didalam otaknya. melihat Ryeowook yang begitu ia rindukan entah kenapa membuatnya ingin sekali menciumnya.

Yesung menutup matanya mencoba menikmati persatuan kedua bibir tersebut. Kini kedua tangan yang awalnya menggenggam telapak tangan Ryeowook pun sudah berpindah ke tengkuk sang gadis mungil. Memaksa Ryeowook semakin memperdalam ciumannya. Seperti tersihir, Ryeowook juga turut menutup matanya dan kedua tangannya mengalung dipinggang Yesung. Mencengkram jaket yang dikenakan oleh Yesung.

Ryeowook dapat merasakan bagaimana bibir pemuda yang tengah menciumnya ini begitu lihai dalam mencumbu bibirnya. Bahkan kini Yesung memaksa Ryeowook untuk membuka bibirnya dan secara langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Ryeowook dan menyapa segala sesuatu yang ada dalam mulut Ryeowook.

Bunyi khas ciuman pun tak terelakkan. Menambah kesan panas antara keduanya.

Aku pasti gila, aku pasti gila, aku pasti gila.

Batin Ryeowook berkata.

Tapi entah kenapa Ryeowook sendiri tak bisa menghentikan ciuman ini. Sungguh, hati dan logikanya tak bisa berjalan searah. Ryeowook tak bisa membohongi hatinya yang begitu merindukan bagaimana bibir Yesung memanjankan dirinya, tapi logikanya mengatakan bahwa ia tak seharusnya melakukan ini. Bukankah mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi?

Ryeowook merasakan pusing memikirkannya dan ditambah dengan oksigen yang sudah semakin menipis diparu-parunya. Baru saja ia akan memprotes tapi ternyata Yesung sudah lebih dulu melepaskannya.

Sepertinya Yesung tahu bahwa Ryeowook sudah kehabisan Oksigen.

Nafas keduanya saling tersenggal. Ryeowook menarik nafas dalam dan menghembuskannya lewat mulutnya. Wajah Ryeowook sudah memerah matang saat itu juga. Tak beda jauh dari Ryeowook, sang pria pun juga sama. Ryeowook membuang muka.

“Maaf,” cicit Yesung lemah melihat Ryeowook yang membuang muka darinya. Ada sebersit rasa kebas dalam hatinya mengetahui Ryeowook yang membuang muka setelah berciuman dengannya. Dulu-ya dulu-Ryeowook akan memeluknya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah dalam dadanya. tapi sekarang… gadis itu berpaling dan enggan melihatnya.

Yesung merasakan jantungnya nyeri seperti akan mati.

“Ke-kenapa kau lakukan itu?” tanya Ryeowook masih dengan menyembunyikan wajahnya. Yesung mengepalkan tangannya erat. ia kesal karena Ryeowook selalu bertanya ‘Kenapa, Kenapa, Kenapa’ padanya saat ia melakukan hal-hal yang dulu sering mereka lakukan bersama. “Haruskah aku menjawabnya? Kau tahu dengan jelas apa jawabannya,” Yesung berusaha mengontrol emosinya.

“………….”

Yesung mendesah berat dan mengerang frustasi karena Ryeowook tak menjawab. “Baiklah jika kau memang benar-benar tidak tahu alasannya. Maka aku yang akan mengatakannya secara langsung padamu,” Yesung menarik dagu Ryeowook sedikit keras sampai wajah Ryeowook berhadap-hadapan dengannya. Yesung memberikan tatapan penuh cinta pada Ryeowook.

“Karena aku mencintamu.”

Selesai mengucapkannya, Yesung pergi dari beranda kamar Ryeowook dan membiarkan Ryeowook terdiam seribu bahasa akan ucapannya. Ryeowook membuka mulutnya lalu menutupnya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi seolah tenggorokannya tercekat hingga tak ada suara yang keluar dari bibirnya.  “Hikz..” dan pada akhirnya hanya isakan tak berarti yang keluar dari bibirnya.

Ryeowook merogoh jantung bagian kirinya.

Hangat.

Rasanya hangat.

Sampai menimbulkan air mata haru jatuh dari pelupuk matanya.

.

.

.

Sebuah situasi yang tak terduga,

Sebuah kejadian yang tak terduga,

Dan dibalik itu semua, kau juga akan menghadapi jati dirimu yang selama ini kau sembunyikan.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Kasihan sekali kau, Cho!”

Kyuhyun mendengus. Pria itu lebih memilih diam daripada membalas ejekan-ejekan yang diucapkan oleh pria berwajah baby-face itu. “Aku sangat tahu bahwa kau begitu mencintainya tapi sepertinya kalian tidak bisa bersatu, ya?” Donghae mengakhiri ucapannya dengan tawa keras yang semakin memubuat Kyuhyun muak.

Pluk!

“Brengsek!” umpat Kyuhyun sembari melempar bantal―yang tadinya ia gunakan sebagai alas kepalanya―kepada Donghae yang ada didepannya―dengan dibatasi oleh meja. Bukannya marah Donghae justru semakin tertawa lebar. “Diam kau!” gertak Kyuhyun dengan memberikan death glare pada Donghae.

Donghae menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya berharap agar tawanya tak meledak kembali. “Hemmmpffttssss~~”

“Ck!” Kyuhyun berdecak sebal dan dengan kasar ia mengambil PSP kesayangannya diatas meja didepannya tersebut lalu memainkannya dengan kasar. “Hei, hei, kau akan merusak PSP mu, Kyu.”

“Aku bisa membelinya lagi.”

Kali ini Donghae yang mendengus. Tak mau membuat Kyuhyun lebih kesal lagi akhirnya Donghae pun diam dan lebih memilih membaringkan tubuhnya dikursi panjang didepan Kyuhyun. memang malam ini Kyuhyun sedang berada dirumah Donghae―atau lebih tepatnya dikamarnya―dan berniat untuk menginap. Akh~ kebiasaan mereka ternyata masih sama.

“Hei,” Donghae kembali bersuara sambil memiringkan kepalanya menghadap Kyuhyun. Sang pria muda yang dipanggil tak menyahut dan justru masih sibuk dengan PSP kesayangannya. “Kyuhyun-ah~” Donghae memanggil kembali kali ini dengan nada yang lembut. Kyuhyun bergidik ngeri. Serius, suara Donghae mengingatkannya dengan Ibu-nya yang cerewet. “Apa, sih?” kesalnya.

“Bagaimana kabar tentang Sungmin?”

Deg!

Kyuhyun kehilangan nafsunya untuk melanjutkan game-nya. Ia terdiam membatu mendengar pertanyaan Donghae. Sungmin, ya? gadis itu…

“Kenapa?” suara Donghae memelan dan ada sebuah rasa penasaran didalamnya. Kali ini tak hanya kepala Donghae yang menghadap Kyuhyun namun seluruh badannya kini terbaring menyamping guna dapat melihat ekspresi wajah Kyuhyun.

“Aku…”

Donghae menaikkan sebelah alisnya. “Kau kenapa?” karena tak sabaran akhirnya Donghae kembali bersuara. Kyuhyun yang saat ini tidur telentang disofa Donghae hanya bisa diam dengan mata yang menatap langit-langit kamar Donghae. hal itu tak pelak membuat Donghae semakin tidak mengerti. “Dia…baik.”

“Baik?” ulang Donghae dengan nada yang benar-benar penasaran setengah mati. jika boleh jujur saat ini ia sendiri sebenarnya penasaran bukan main dan gemas pada Kyuhyun yang sepertinya bertele-tele. Tapi… yah, daripada ia tak mendengar apa-apa jadi lebih baik Donghae bersabar saja.

“Dia baik-baik saja, Hyung.”

“Kau yakin? Ku dengar dari Kibum dia bekerja di Cafe yang didirikan oleh keluarga Siwon,” kata Donghae yang kali ini memposisikan dirinya untuk duduk. Kyuhyun juga turut mengikuti apa yang dilakukan oleh Donghae. dan mereka benar-benar dalam posisi yang saling memandang satu sama lain. “Kibum bercerita apa saja?” Kyuhyun bertanya.

Donghae memajukan bibirnya membuat pose berpikir yang imut―dan Kyuhyun bersumpah bahwa Donghae terlihat seperti banci dipersimpangan kompleks perumahannya. “Mmm…tidak banyak. Dia hanya bercerita tentang Siwon, lalu pernikahan Hangeng Hyung, kehamilan Heechul―”

“―Stop, stop. Hyung, yang aku maksud itu tentang Sungmin. Ingat! TENTANG SUNGMIN!!” Kyuhyun berteriak frustasi sambil mengacak rambut ikalnya dengan gemas. Donghae mendengus. “Kau ‘kan tadi bertanya tentang apa saja yang diceritakan oleh Kibum, jadi ya―”

“Oke, oke, jadi apa yang diceritakan oleh Kibum tentang Sungmin Noona,” lagi, lagi, Kyuhyun memotong ucapan Donghae. Kyuhyun memutar bola matanya jengah dengan tingkah Donghae yang justru semakin menyebalkan untuknya.

Bibir Donghae tertarik sedikit keatas menunjukkan sebuah seringaian. “Dia hanya bilang bahwa Sungmin terlihat masih mencintaimu.”

Kyuhyun membuka lebar matanya. Terkejut. “Dia juga bilang kalau Sungmin tidak pernah berpacaran lagi setelah putus darimu,” tutur Donghae santai sambil sesekali ia menutup mulutnya yang sudah menguap karena mengantuk. Kyuhyun langsung menundukkan kepalanya. Matanya bergerak-gerak gelisah setelah mendengar ucapan Donghae. “Apa kau tidak pernah menemuinya?”

Kyuhyun menjawab pertanyaan Donghae dengan gelengan kepalanya. “Aku tidak mau melukainya, Hyung.”

Donghae menghela nafas. Dia bangkit dari duduknya dan berpindah kesamping Kyuhyun. Donghae menepuk pundak Kyuhyun pelan dan itu membuat Kyuhyun memalingkan mukanya menatap Donghae. “Itu justru semakin melukainya,”

Kyuhyun masih memandang Donghae datar. “Seharusnya sekali-kali kau datang padanya dan mengajaknya ngobrol. Dia pasti senang.” Kyuhyun kembali menunduk. Pria tampan dengan smirk khas miliknya itu menggigit bibir bawahnya kuat. “Aku yakin jika kau bersikap begitu pasti dia merasa bahwa kau masih peduli dengannya.” Ucap Donghae sambil tersenyum.

“Darimana kau tahu? Sungmin Noona jelas-jelas menginginkan aku untuk tidak menemuinya lagi, dia bahkan berharap untuk tidak menatap wajah brengsek ku lagi, Hyung.” Kyuhyun menceritakannya pada Donghae dengan lamat-lamat. Donghae menepuk pundak Kyuhyun dan kali ini lebih keras. “Hei, kau ini bodoh atau apa? Apa kau pikir dia serius mengucapkannya?”

“Hng?”

Donghae mengerang ringan. “Dasar bodoh.” Donghae memaksa Kyuhyun untuk menghadapnya. “Dengar, ya, seorang gadis itu memang terkadang munafik. Dia suka berkata sesuatu yang tidak dari hatinya. malah terkadang mereka suka berkata sesuatu yang berkebalikan dengan apa yang ada dihati mereka,” ujar Donghae dengan semangat. “Saat dia berkata; jangan temui aku lagi. Maka itu berarti dia ingin kau berusaha lebih keras lagi untuk menemuinya dan mengejarnya.”

Alis Kyuhyun menyatu mendengar segala ucapan Donghae―yang menurutnya tidak masuk akal. “Kau gila, Hyung.” Respon pendek Kyuhyun membuat Donghae melebarkan matanya ketitik maksimal. Donghae kesal dengan Kyuhyun. selama ini insting Donghae tak pernah salah. “Pria bodoh. Kalau kau tidak percaya coba saja dulu baru kau tahu.”

Donghae melesat pergi menaiki ranjangnya. Meninggalkan Kyuhyun dengan beribu tanda tanya dikepalanya. “Oh, ya, kau tidur disofa saja ya, ambil selimutnya dilemari itu.” Donghae menunjuk sebuah lemari dengan warna coklat mengkilat. Kyuhyun tak menyahut dan Donghae tak peduli itu. diam-diam dibalik selimutnya Donghae tersenyum menang. Yah, tentu saja ia merasa menang karena ternyata seorang Evil seperti Cho Kyuhyun bisa dibuat bingung oleh sebuah cinta juga.

Errr… jujur saja Donghae sendiri tahu bahwa Kyuhyun tanpa sadar pasti merasa kehilangan Sungmin dari hidupnya semenjak mereka putus. Sekalipun Kyuhyun selalu memikirkan Ryeowook dan meletakkan gadis mungil itu dibagian penting dalam hatinya, tapi Donghae yakin masih tetap ada nama Lee Sungmin di sudut-sudut kosong hati Kyuhyun.

‘Kyuhyun-ah, lupakanlah Wookie. Jangan sia-siakan waktumu untuk menunggu seseorang yang bahkan tak pernah akan datang padamu’―inner Donghae berkata.

.

.

.

Membuang-buang waktu adalah ketika kau terus mengejar sesuatu yang tidak ditakdirkan Tuhan untuk kamu.

Berhentilah melakukannya, Idiot!

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Karena kau takut akan sakitnya perasaanmu ketika orang itu pergi, karena kau takut kau akan mengingatnya untuk waktu yang lama… jadi kau ingin terus bersembunyi ke suatu tempat dimana kau tidak dapat melihatnya lagi, begitukah?”

Ryeowook menutup matanya dengan rapat. Ia menggigit bibirnya menahan isakan yang sudah akan keluar jika saja tak ia tahan sejak tadi. Ia tidak mengerti darimana Heechul bisa mendapatkan nomor ponselnya dan langsung menghubunginya dengan tanpa basa-basi menyerangnya menggunakan kalimat pedas.

Ryeowook bisa mendengar dengan jelas helaan nafas berat yang keluar dari bibir Heechul. Bahkan Ryeowook tahu bahwa wanita―yang saat ini tengah berbadan dua―itu pasti begitu khawatir padanya yang sudah menghilang cukup lama. Memang, Ryeowook menyuruh Siwon untuk menyembunyikan segala hal tentangnya dari siapapun itu.

“Pulanglah, Wookie~ banyak orang yang menanti kepulanganmu disini,” Ryeowook meneteskan air matanya mendengar kalimat yang dengan seketika dapat menghangatkan hatinya. Ryeowook masih bisa mengingat dengan jelas setiap perkataan Heechul yang pedas namun benar. “Terimakasih. Terimakasih sudah selalu baik padaku,” kata Ryeowook dengan suara yang serak. “Tapi… aku baik-baik saja disini. Jadi jangan khawatirkan aku.”

“Kau pikir mendengar itu akan membuatku nyaman?” Ryeowook mengepalkan tangannya dengan erat. suara Heechul yang tampak frustasi semakin membuat hati Ryeowook kacau. Bagaimana ini… dia bahkan membuat Heechul terlalu memikirkannya. “Kau hanya perlu pulang dan kembali dikehidupanmu yang sesungguhnya. Berhenti menjadi seperti Rapunzel yang mengurung diri dari dunia luar, Wookie~” gadis mungil itu begetar. Air matanya seolah tak mau berhenti menetes.

“Tidakkah kau lelah? Tidakkah kau lelah lari dari kenyataan?”

Ryeowook tidak tahan. Ia sudah tak sanggup lagi. Dengan tangan yang juga gemetaran akhirnya Ryeowook memutuskan sambungan telephone itu. tangannya yang memegang smartphone tersebut dengan lemas jatuh terjuntai dan membuat smartphone itu jatuh ke lantai kamar Ryeowook yang dilapisi oleh kain beludru yang teramat lembut.

Tubuhnya yang awalnya terduduk ditepi ranjang kini ikut merosot jatuh dan bersender pada dipan ranjangnya. Kedua kaki Ryeowook menekuk dan itu menambah kesan menyakitkan yang lebih mendalam lagi. Wajah Ryeowook sudah memerah karena menangis. Matanya bengkak dan bibirnya terbuka menyenandungkan isakan-isakan kecil. Kedua lengan kurusnya memeluk kakinya.

Ryeowook menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Perkataan-perkataan Heechul membuat hatinya kembali terkoyak. Keteguhan hatinya yang selama ini memaksanya untuk tetap tinggal diMokpo kini mulai goyah.

Dalam kegelapan matanya yang kini dalam keadaan tertutup, Ryeowook melihat beberapa wajah orang-orang di Seoul. Ayahnya yang tersenyum kepadanya, Siwon yang mengacak gemas rambutnya, Heechul yang memeluknya, Kyuhyun dengan tatapan tajam namun hangat yang mengarah padanya dan juga… Yesung yang selalu bersamanya.

Ryeowook merasakan pusing bukan main. Orang-orang yang muncul secara silih berganti dalam kegelapan matanya itu kini berkumpul menjadi satu dan seolah-olah tersenyum padanya seperti memaksa Ryeowook untuk kembali ke Seoul. Ryeowook menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan kepala yang menumpu diantara lututnya dan juga mata yang tertutup.

Tidak. Gadis mungil dengan surai coklat madunya itu menolak. Berusaha menghalau sekuat mungkin untuk tidak terpengaruh dengan senyum menunggu yang dilayangkan untuknya. “Hentikan! Hentikan itu! AKU BILANG HENTIKAN ITU SEMUA!!!” suara Ryeowook meninggi secara drastis. Ia masih tetap menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.

“Hikz… jangan paksa aku untuk pulang…hikz..hikz…” nafas Ryeowook memburu. Bahunya bergetar karena menangis. “Jebal~~ jangan-hikz-paksa aku..hhhh…” nafas Ryeowook sedikit demi sedikit mulai teratur.

Dan dalam kegelapan malam itu, Ryeowook tertidur dengan keadaan yang menyakitkan. Lampu kamarnya mati dan hanya ada cahaya bulan yang memantulkan cahayanya melewati jendela kamar Ryeowook. itulah satu-satunya cahaya yang menerangi kamar sang gadis mungil yang kini sudah mulai terlelap.

Biarlah. Biarkanlah gadis ini tidur dengan tenang malam ini. Hanya untuk malam ini saja, setelah sekian lama ia tak pernah tertidur dengan perasaan setenang ini. Mungkin efek menangis sedikit membuat bebannya jadi berkurang.

.

.

.

Jangan menahan sesuatu yang sudah tak dapat kau tahan.

Jika ingin menangis, ya menangis.

Ingin memukul, pukul saja.

Ingin marah, silahkan luapkan amarahmu.

Bahkan ketika kau rindu… kau cukup pulang dan ucapkan ‘aku rindu’ pada orang-orang yang juga merindukanmu ^^

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

TCB!

 

 

 

Author Note:

*relaxes the muscles of the fingers a few seconds and then forming the symbol ‘V’ with smile* Halooooo~~ saya kembali lagi. *waved* Happy New Year yah semuanya^^. Anggap saja ini kado dari saya sebagai perayaan Natal. Maaf agak telat ngepost-nya.

Habisnya saya baru sembuh dari sakit dan chapter delapan ini memang mengalami perombakan berulang kali karena saya merasa tidak cocok dengan jalan cerita sebelumnya *pundung sama diri sendiri* ahahaha~ yeah, but pada akhirnya saya tetap berusaha lagi untuk membuatnya lagi, lagi dan lagi. Udahan ah curcolnya. Oh, ya gimana ceritanya? Kalian puas kah? Kalo ada yang mau nambahin ide boleh kok dishare dikotak komentar, nanti saya bakal pertimbangin ^^

Well, semoga diawal tahun ini menjadi awal yang indah untuk kedepannya ya~ dan mari menjadi sosok yang lebih baik dari hari kemarin. Untuk menjadi seseorang yang baik maka harus dimulai dari mempercayai diri sendiri bahwa kita berhak menjadi lebih baik dari yang paling baik~

 

 

Sign,

April-chan

118 thoughts on “(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 08

  1. aaahhhh udah 5 tahun ya?
    aku belom baca yg chap 7 nya sih jd penasaran sm pertemuan donghae dan ryeowooknya…
    akhirnya yewook bersama lagiii😀
    eh heechul udah hamil aja ?
    eunhae sama kyumin jg masih gitu aja nih,
    ryeowook udah berubah, semoga aja nanti yewook bisa bersatu lagi🙂

  2. akhirnya setelah menunggu 5 tahun bisa ketemu juga .. buat yesung mohon mohon sama ryeo biar yesung nyesel hehehe terus ryeo jangan langsung maafin yesung yah

  3. q blm bca chapter 7 yg pas wookie ketemu ma donghae dan kyak nya donghae brhasik mengubah sedikit sifat wookie yg sinis dan chapter ini yesung akhir nya ketemu ma wookie y semoga aj wookie bsa nerima yesung lgi and blik ke seoul 🙂

  4. ceritanya bagus banget tapi sayang banyak yg di protek, boleh minta pw ngga thor penasaran banget ama kelanjutannya.
    semoga ff ini buat obat kangen ama yewook moment

  5. 5th berlalu dan akhirnya yesung bisa bertemu wookie🙂
    aku yg baca ikut delima antara ryeowook mau kembali ke seoul apa nggk
    tapi wookie nggk mungkin harus bersembunyi kan..
    yewook segera bersatulah buat yewook moment sebanyak banyaknya
    hahah donghae sudah seperti artis saja banyak yg mewawancarai dia untuk menceritakan soal wookie

  6. eunhae salah pahammmmm, enhyuk sih ngomong nya ambigu padahal tinggal bilang cemburuuuu huhu😦 wookieeeee~~~~ mau gamau harus berkutat sama masa lalu untuk di selesaikan satu persatu. mau liat usaha yesung buat dapetin wookie lagi, atau diterima gitu aja ya sama wookie hm

  7. Kyaaaa akhirnya yewook ketemu , seneng mereka ktemu lagi… semoga yewook cpet balikan lagi hehehe. Haisssh donghae bisa nasihatin orang lain tntang cinta tp knpa cintanya ama eunhyuk gk bisa bersatu satu hehehe. penasaran ama next chapter hehehe makin keren aja ceritanya fightiiiiing 👍👍👍

  8. akhirnya hubungan yewook sudah semakin membaik dan semoga menemukan titik terang…

    dan sudah seharusnya yewook berterima kasih pada kyuhyun yang sudah berusaha keras menyadarkan yesung bahwa semua yg dilakukan saat wookie pergi meninggalkannya itu salah, saat kyuhyun berkata bahwa hanya dia (yesung) yang bisa membahagiakan wookie. itu memang benar, hanya seorang yesung yang dibutuhkan wookie, yg bisa membuat wookie bahagia, begitupun sebaliknya. benar2 sepasang anak manusia yang tercipta untuk bersama dan saling melengkapi satu sama lain.

    disaat kyuhyun berusaha memperbaiki hubungan yewook, hubungannya dengan sungmin malah jadi berantakan. apalagi setelah sungmin tahu bahwa kyuhyun mencintai ryeowook. semoga sungmin bs menerima kyuhyun kembali, toh wookie jg udh kembali bersama yesung…
    dan untuk eunhyuk, sudah sadar bahwa yg dicintai itu hae oppa eoh?? semoga belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan dan memulai lembaran baru bersama hae oppa.

  9. Akhirnya YeWook bertemu, ahh~Haeppa kau itu seorang malaikat penolong yg baik hati,,ijin bca lgui ne eon
    terbawa suasana chap ini hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s