(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 10

Tittle : We Don’t Leave You!!

Chapter : 10

[[ phiphohBie ]]

Author : Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YeWook

Yewook’s NOT MINE!! But, ‘We Don’t Leave You!!’ purely IS MINE..^^

.

.

.

Enjoy!!

.

.

.

Semilir angin berhembus menerpa mahkota panjang gadis ayu yang tengah duduk di kursi panjang taman itu. Udara segar di pagi hari merebak masuk indera penciumannya, menciptakan sensasi nyaman tersendiri. Ryeowook memandang kedepan, dimana banyak sekali kendaraan berlalu lalang.

Gadis itu duduk termenung dengan tas kecil berwarna cokelat muda dipangkuannya. Tidak, ia tidak termenung dengan menampilkan wajah datar atau menyedihkan seperti saat ia menjadi Ryeowook yang dulu. Tapi kini ia diam karena menunggu kedatangan seseorang.

Bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum ketika seseorang yang dinantinya telah sampai dengan tangan yang melambai padanya. Ryeowook mengangguk kecil sebagai isyarat agar pria itu―Donghae―datang lebih dekat padanya.

Donghae berlari kecil menuju Ryeowook. jaket berwarna biru dongker yang ia gunakan pun turut berkibar ketika ia berlari-lari kecil. Dengan semangat Donghae mendudukkan dirinya disamping Ryeowook setelah sebelumnya sempat mengacak gemas rambut sang gadis mungil.

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Donghae secara langsung. Matanya memandang Ryeowook penuh jenaka.

Ryeowook mendengus kecil. “Cukup baik.”

Donghae melotot kecil. “Hei, apa maksudmu cukup baik? Seharusnya kau mengatakan bahwa perasaanmu hari ini begitu indah,” protesnya dengan suara yang hampir memekik. “Memangnya kau tidak senang apa dengan pulang kembali ke Seoul?” kembali bertanya dengan semangat.

“Kau sendiri bagaimana? Apa kau senang setelah kembali kesini?”

“Apa-apaan ini? Seharusnya kau menjawab pertanyaanku bukannya bertanya balik seperti ini!” ucapnya tak terima. “Itu pertanyaan retoris, Hae.”

“Retoris? Itu bukan pertanyaan retoris tapi―YA! panggil aku Oppa!” Donghae berseru kesal setelah menyadari bahwa Ryeowook masih saja tidak mau memanggilnya dengan lebih sopan. “Jinja… kau benar-benar tidak mau memanggilku lebih sopan lagi, Nona?”

Ryeowook tersenyum kecil. “Arra~ Donghae Oppa~”

Secara kilat wajah Donghae yang sudah masam setengah mati itu kini berganti lebih berseri-seri. “Itu terdengar lebih bagus.” Katanya penuh nada gembira disetiap kalimatnya. “Ah, jadi, bagaimana dengan Yesung Hyung?” matanya mengerling jahil kearah Ryeowook.

“Aku sudah kembali seperti sedia kala dengannya,” Donghae mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti. “Itu memang sudah seharusnya terjadi. Sesuatu hal yang tak bergerak sesuai jalurnya memang sudah sewajarnya jika harus kembali ke jalurnya agar sebuah takdir tetap berjalan dengan baik.”

Ryeowook sudah tak mau menyembunyikan tawanya lagi. Ia tertawa ringan mendengar kalimat Donghae. “Jadi, maksudmu selama ini aku dan Yesung Oppa telah keluar dari lintasan, begitu?”

“Jika kau berpikir begitu, maka itu adalah hal yang tepat.” Donghae kembali mengacak gemas rambut Ryeowook yang tergerai indah itu. “Tapi… aku pikir sesuatu yang telah keluar dari lintasan atau tak bergerak sesuai jalurnya… pasti ada penyebabnya.” Ryeowook kembali bersuara.

Kening Donghae berkerut menjadi beberapa lipatan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis kecil yang duduk disampingnya ini. Mengetahui bahwa Donghae tidak paham dengan apa maksudnya, maka Ryeowook kembali menjelaskan.

“Itu seperti ada sesuatu yang mencoba masuk dan menghancurkan tatanan yang telah rapih,” Ryeowook tersenyum misterius kearah Donghae. “Apa kau bisa menjelaskannya lebih detail lagi?” kesal Donghae yang masih tak paham maksud Ryeowook.

“Umh~ seperti contohnya teman baikmu sekaligus orang yang kau cintai itu,” mata Ryeowook mengerling lucu kepada Donghae. dan lirikan itu semakin menyipit begitu melihat pria disampingnya tersebut terkejut. “Maksudmu… yang menyebabkan kau dan Yesung Hyung serta semuanya menjadi berantakan adalah… Eunhyuk?” tanya Donghae sedikit sangsi. Karena sejujurnya ia tak berharap bahwa Ryeowook akan mengatakan hal yang seperti itu.

Sekalipun apa yang dikatakan oleh Ryeowook adalah sebuah kenyataan, tapi entah kenapa Donghae benar-benar tidak ingin mengorek kisah lama serta kesalahan masa lalu itu kembali. Donghae pikir ini semua sudah tak perlu diungkit lagi. Ia juga tidak mau jika Ryeowook menyalahkan Eunhyuk atas segalanya yang telah terjadi.

Gadis berambut secoklat madu itu mengangkat bahunya acuh. “Mungkin.” Dan menjawab dengan kalimat yang begitu ambigu untuk dimengerti oleh Donghae. pria tampan itu menghela nafas. Ia bahkan secara tak sadar telah mengusap dengan kasar wajahnya.

“Jika saja dia tidak melakukan itu semua―dimasa lalu―maka semua hal yang telah terjadi beberapa waktu ini tak akan pernah terjadi. Dan semuanya mungkin akan tetap berjalan sesuai jalurnya. Selayaknya planet, yang akan tetap berjalan melalui peredarannya masing-masing,”

“Ryeowookie―”

“―Tenang saja. Aku tidak menyalahkannya, kok.” Ryeowook memotong ucapan Donghae. ia menoleh kepada Donghae sambil tersenyum. “Aku hanya sedang berandai-andai saja. Toh, pada kenyataannya semuanya telah terjadi. Aku… juga tidak bisa menyalahkannya,”

“……………”

“Lagipula dengan aku melewati semua ini, aku jadi belajar banyak hal. Aku menemukan hal-hal baru, bahkan aku bisa bertemu denganmu yang keren ini.” Ia mengakhiri ucapannya dengan tertawa keras. Donghae sendiri hanya bisa mendengus karena mendengar Ryeowook yang memujinya keren.

“Kau benar-benar dewasa rupanya,”

“Tentu saja. Dunia telah mengajariku banyak hal, tahu! Dan akan sangat rugi jika aku tidak bisa belajar banyak hal dari apa yang telah Dunia berikan padaku dan diambil dariku.” Ketusnya. Donghae tidak bisa untuk tidak mengulum senyum tulusnya.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah dengannya?”

“Belum.”

Mata Ryeowook membulat lebar. “Ya! apa maksudmu ‘belum’?” Ryeowook memaksa Donghae agar berbalik menghadapnya. Donghae menghela nafas pelan. “Entahlah,” manik mutiara hitam itu memandang langit biru diatas sana. Dan Ryeowook masih diam menunggu penjelasan lebih lanjut dari Donghae. gadis bertubuh mungil itu masih setia memandangi wajah tampan Donghae.

“Tiba-tiba saja aku memiliki firasat buruk,”

“Firasat buruk?”

Donghae menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Seperti… sebuah cinta yang tak akan pernah berakhir bahagia.”

“Jangan bicara begitu,” tukas Ryeowook cepat. Wajah Ryeowook menekuk karena kesal. “Kau sendiri yang bilang bahwa kita perlu berusaha agar cinta kita bisa berakhir bahagia,” intonasi suaranya meninggi. “Kau pun juga harus bahagia supaya cintamu bisa berakhir bahagia, Oppa!”

“Semuanya ‘kan sudah diatur oleh takdir, kalau Tuhan tidak mengijinkan aku bahagia dengannya, apalagi yang bisa ku lakukan selain mengikuti takdir itu?” Donghae memandang lembut Ryeowook. berbanding terbalik dengan Donghae, gadis itu justru mendelik tak suka kepada sang mutiara hitam yang menatapnya begitu lembut dan hangat.

“Wookie-ah,”

“Hm?” menjawab malas-malasan sambil menyilangkan kedua lengannya didepan dada. “Kau… baik-baiklah dengan Yesung Hyung. Dan jangan bertindak bodoh seperti hal-hal yang telah kau lakukan dimasa lalu, Arra?”

Alis Ryeowook menukik tajam mendengarnya. Ia menjauhkan tubuhnya dari Donghae. entah kenapa Ryeowook merasa bahwa Donghae benar-benar ngelantur sejak mereka membicarakan tentang firasat buruk. “Kau itu kenapa, sih? Kau seperti orang yang akan pergi jauh, tahu! Sangat menakutkan.”

Donghae tertawa hingga kedua matanya menyipit seperti menghilang. “Aku memang akan pergi jauh. Jauuuuuhh sekali.” Sebelah tangannya terangkat dan bergerak-gerak lucu. “Jangan bercanda!” kesal Ryeowook yang tak suka dengan apa yang dibicarakan oleh Donghae.

Dan sekali lagi, Donghae hanya bisa tertawa yang kali ini lebih keras lagi. Entah kenapa Donghae suka sekali melihat ekspresi wajah kesal Ryeowook. dan secara tiba-tiba ia memeluk Ryeowook dengan erat.

Refleks Ryeowook pun memekik kecil sambil meronta-ronta minta dilepaskan. Bibirnya bahkan sudah menyumpah-nyerapahi―pria yang dengan seenak jidatnya itu memeluknya―dengan kalimat-kalimat pedas juga sedikit kasar.

Setelah beberapa saat Donghae akhirnya melepaskan pelukan secara tiba-tibanya itu. Ryeowook yang kesal akhirnya memukul-mukul Donghae dengan membabi-buta. “Maaf!”

“Kau sangat menyebalkan!”

“Hei, kau seharusnya berterimakasih karena aku memelukmu sebegitu eratnya. Siapa tahu setelah ini kau tidak bisa memelukku lagi,”

“Aku tidak akan menyesal jika itu terjadi.” Balas Ryeowook ketus. Dan Donghae hanya bisa terkekeh ringan. “Baiklah~ kajja kita pulang~” ajaknya sambil menarik Ryeowook untuk bangun. Donghae bahkan tak segan-segan untuk mengapit lengan gadis pendek disampingnya itu, sehingga yang tampak adalah seperti Ryeowook adalah seorang pria dan Donghae berperan sebagai wanitanya.

Ryeowook berulangkali ingin melepaskan apitan lengan Donghae tapi sia-sia karena sang pria penyuka ikan itu menolak seratus persen. “Bukankah kita terlihat seperti sahabat sejati, hm?” kata Donghae dengan nada yang dibuat jenaka.

“Kita seperti pasangan Abnormal.” Jawab Ryeowook asal yang membuahkan sebuah tawa lepas dari Donghae.

Keduanya berjalan masih dengan keadaan seperti itu sampai disebuah halte bus. Mereka memutuskan untuk duduk dikursi tunggu berdampingan. Sesekali keduanya bercanda―meskipun sebenarnya adalah Donghae yang memulai melakukan hal-hala aneh. Bahkan sangking asyiknya mereka sampai mereka berdua tidak menyadari bahwa sejak awal mereka bertemu di taman tadi ada seseorang yang senantiasa mengawasi mereka dari kejauhan.

.

.

.

Aku pernah membaca beberapa cerita dongeng yang selalu berakhir dengan dua kata;

―Happy Ending―

Tapi, cerita yang seperti itu… benarkah akan benar-benar ada di dunia ini?

Benarkah hal-hal yang semacam itu akan terjadi juga di akhir kisah cinta kita?

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Jadi dia sudah pulang?” mata kucing itu mungkin saja akan copot dari kelopaknya jika saja mata itu bukanlah buatan Tuhan yang maha hebat. Heechul tersenyum sumringah. Bahkan wajahnya yang akhir-akhir ini selalu tampak murung karena bawaan bayi pun kini berangsung-angsur berseri-seri. Bibirnya yang tebal tertarik begitu lebar kesamping. Ya, dia tersenyum begitu lebar.

Dan Yesung yang saat ini tengah duduk didepan Heechul pun juga turut bahagia menyaksikan senyum lebar Heechul. “Kau senang?”

“Kau bodoh atau apa? Tentu saja aku senang!” pekiknya dengan riang. “Aku merasa bahwa sebentar lagi semuanya akan berakhir dengan indah,” mata Heechul mengawasi keadaan sekitar taman belakang rumahnya. Memikirkan tentang bagaimana kedepannya saat semuanya telah bersama dan bahagia dengan cintanya masing-masing.

Yesung lebih memilih menyeruput teh hangat yang disediakan oleh Heechul sekitar tiga puluh menit yang lalu. Ya, memang Yesung pergi kerumah Heechul pagi-pagi sekali. Pria bermata Obsidian segelap malam itu tidak sanggup menunggu lebih lama lagi untuk tidak bercerita pada Heechul.

“Aku juga berharap begitu, Noona~” Yesung menjawab setelah meletakkan gelasnya. Pria itu menyenderkan punggungnya pada senderan kursi dibelakangnya. Ia sedikit merentangkan kedua tangannya demi menikmati semilir angin pagi ini.

Heechul menganggukkan kepalanya. “Lalu, dimana dia? Kenapa kau tidak kesini bersamanya?”

Yesung sedikit memberikan pijatan pelan pada bagian lehernya. Tampak sekali bahwa pria ini sedikit lelah karena perjalannya yang cukup memakan waktu kemarin. “Dia akan menemuimu sendiri nanti. Saat ini dia sedang jalan-jalan dengan Donghae,”

“Kau tidak cemburu?”

Yesung mendengus. “Sejujurnya ‘iya’, tapi… ku pikir cemburu dengan Donghae adalah hal yang bodoh. Pria itu menyukai Eunhyuk, Noona.” Kepala Heechul menganggung-angguk mengerti. “Aku akan berdo’a untuk Donghae dan Eunhyuk, supaya mereka bisa bahagia juga kelak.” Kata Heechul yang diiringi sebuah tawa diakhir kalimatnya.

“Kau semakin rajin berdo’a rupanya semenjak hamil,” Yesung melemparkan sebuah tatapan mengejek yang begitu menyebalkan bagi Heechul. “Sialan!” umpatnya dengan mata yang mendelik.

.

.

.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Bus yang telah ditunggu oleh Ryeowook dan Donghae telah sampai dihadapan mereka. Keduanya berdiri secara bersamaan dan bahkan kini saling bergandengan tangan. Mereka menyempatkan diri untuk saling menatap. Tatapan keduanya begitu dalam seolah mereka tengah menyelami masing-masing hati.

Ryeowook tersenyum teramat tipis. Matanya menatap lembut sesosok Donghae yang kini berdiri disampingnya. “Apa kau tahu, cinta itu seperti menunggu sebuah bus,”

“Hm?”

Ryeowook memusatkan kembali tatapannya pada bus yang masih setia menunggu keduanya untuk masuk. “Ini tidak hanya tentang menunggu, tapi…” jeda sebentar sambil melirik kearah Donghae. “…ketika bus itu datang, kau harus memutuskan untuk naik atau tidak.” Berakhirnya ucapan Ryeowook tersebut keduanya lalu berjalan masuk kedalam bus.

.

.

.

Terkadang cinta juga bisa membuat seseorang merasa kesepian,

Adakalanya cinta juga dapat membuat seseorang lelah,

Namun, apapun itu, cinta tetaplah cinta, bukan?

Kau tetap tidak bisa memungkiri bahwa cinta adalah hal yang sangat penting di Dunia ini~

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Eunhyuk berjalan seorang diri. Matanya terus saja memburam karena air mata yang tergenang di pelupuk matanya. Gadis kurus dengan rambut khas blonde itu menggigit bibirnya kuat menahan isakan yang terus-terusan mendesak ingin keluar.

Ia terus saja berjalan seorang diri dan tanpa arah. Entah kenapa ia merasa benci dengan kata rumah saat ini. Entah kenapa ia merasa begitu muak mendengar kata pulang. Dan entah kenapa ia sangat tidak ingin pulang kerumahnya saat ini.

Saat ini yang diinginkan gadis penyuka buah strawberry itu adalah sendiri. ia hanya ingin bersembunyi sejenak dari kerasnya kenyataan yang harus ia terima. Ia ingin lari sementara dari hal-hal yang semakin membuatnya benci dengan dunia ini. Ia ingin menangis seorang diri. Ya, seorang diri tanpa ada satupun orang yang tahu bahwa ia sedang menangis

Kaki-kaki jenjangnya yang hanya berbalut sepatu flat berwarna hitam itu berhenti tepat disebuah cafe kecil yang tempatnya cukup jauh dari keramaian. Eunhyuk menarik nafas dalam. Mencoba menghilangkan sebuah perasaan sesak yang memenuhi rongga dadanya. ia menghapus sisa-sisa lelehan air mata yang masih terlihat dipipinya.

Eunhyuk memutuskan untuk masuk dan memesan sebuah latte. Setelahnya gadis kurus itu mencari sebuah tempat duduk yang berada paling pojok dan dekat dengan jendela kaca. Sehingga mata kucingnya yang tampak redup itu masih bisa mengamati keadaan diluar sana yang entah kenapa tiba-tiba gerimis.

Eunhyuk tersenyum miris kala ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi. Dimana ia melihat Donghae dan Ryeowook yang terlihat sangat dekat. Bibirnya kembali bergetar karena menangis. demi Tuhan, Eunhyuk tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang.

Hatinya terasa begitu kebas. Nafasnya memburu karena merasakan perasaan yang teramat sakit di ulu hatinya. tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat sampai ia seperti menangis tanpa suara. Eunhyuk mengepalkan tangannya kuat sampai kuku jarinya memutih. Air matanya masih saja setia menemaninya yang sedang kalut ini.

“Pada akhirnya aku memang selalu kalah dengannya, ‘kan?” bisiknya pelan sambil memandang kosong didepannya. “Pada akhirnya aku tak pernah menang darinya,” air matanya meluncur dengan indah sehingga membentuk sebuah aliran sungai dipipi putih dan mulus tersebut.

Eunhyuk tertawa hambar. Bola mata indah itu selalu berkaca-kaca tanpa bisa ditahan. Ia kini menundukkan kepalanya. Menatap meja bundar yang saat ini ditempatinya. Menyembunyikan tangis yang sudah pecah tanpa bisa Eunhyuk tahan lebih lama lagi.

“Selalu saja dia. Selalu saja Ryeowook. kenapa selalu dia yang menang dariku. Kenapa… kenapa…” Eunhyuk sudah tidak bisa lagi meneruskan ucapannya yang hanya bisa didengar olehnya sendiri itu. kini yang ada hanya air mata yang bisa mewakili segala kesedihan dihatinya.

Dalam hati Eunhyuk selalu berkeluh kesah tentang takdir yang membawanya. Dalam hati ia selalu menangis seorang diri tanpa pernah ada yang tahu. Dalam hati ia selalu saja merasa kesepian seorang diri. Dan bahkan sampai detik ini pun… Eunhyuk tetap merasakan sebuah perasaan seperti tak ada seorang pun yang mau melihat hatinya.

.

.

.

Semuanya terjadi karena sebuah alasan.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Noona!!”

Eunhyuk menghentikan langkahnya yang lunglai ketika ada sebuah suara yang memanggilnya dengan lantang dari arah belakangnya. Eunhyuk membalikkan badannya pelan. Matanya yang sembab mencoba melihat siapa gerangan yang sudah memanggilnya.

“Kyu…hyun,” ucapnya pelan. Sang empunya nama berlari-lari menuju kearahnya. Sebelum Kyuhyun sampai didepannya, gadis kurus itu buru-buru menghapus sisa-sisa lelehan air matanya. Ia mencoba memaksakan sebuah senyum tulus kepada pria tinggi yang sudah berdiri menjulang didepannya.

“Noona~”

Eunhyuk mengangguk. “Hai, ada apa?”

Kyuhyun yang awalnya ingin bertanya darimana kepada gadis yang lebih tua darinya itu akhirnya mewurungkan niatnya dikarenakan retina matanya sudah lebih dulu mendapati wajah menyedihkan Eunhyuk. “Kau… menangis?” tanya Kyuhyun hati-hati.

Eunhyuk membuang muka. Tidak mau jika Kyuhyun melihat wajahnya dan yang lebih parahnya akan menceritakan keadaannya kepada Donghae. Kyuhyun yang penasaran dengan sedikit kasar memegang dagu Eunhyuk lalu memaksa gadis yang terlihat menyedihkan itu untuk menatapnya.

Kyuhyun menatap begitu dalam tepat pada bola mata berbeda warna dengannya yang ada dihadapannya tersebut. “Kau menangis,” ucapan Kyuhyun kali ini tidak lagi bernada bertanya melainkan seperti sebuah pernyataan. “Ada apa?” suara bass milik Kyuhyun melembut.

Jujur saja, melihat Eunhyuk yang menangis seperti ini cukup membuatnya khawatir. Pasalnya selama ini yang Kyuhyun tahu Eunhyuk bukanlah gadis yang lemah atau bisa menangis sambil berjalan ala-ala orang galau seperti biasanya.

Mata Kyuhyun mengamati lebih seksama lagi setiap lekukan wajah gadis dihadapannya. Dan tidak salah lagi, Eunhyuk memang menangis. “Noona~ ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun lagi. Eunhyuk menutup matanya sejenak. Mencoba merangkai puing-puing kekuatannya yang sudah hancur berantakan.

Lalu ia membuka matanya dengan balik menatap bola mata dark brow Kyuhyun. meskipun Eunhyuk mencoba tegar dihadapan Kyuhyun, tapi pria berkulit pucat itu jelas bisa melihat bagaimana bola mata milik Eunhyuk tampak bergetar dan tidak stabil seperti biasanya.

“Gwaencahana,”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Pria tinggi itu melepaskan tangannya dari dagu Eunyuk. “Aku serius, aku baik-baik saja, Kyu.” Sebuah senyum penuh keterpaksaan terpatri jelas dibibirnya. “Kau berbohong, aku tahu kau sedang menangis dan menutupi sebuah masalah yang ada pada dirimu saat ini,” kata Kyuhyun dengan tegas.

Eunhyuk mengatupkan kedua belah bibirnya rapat. Ia sedang tidak ingin berdebat saat ini. Terlebih jika itu Kyuhyun. “Aku harus pergi.” Berkata seperti itu sambil berjalan cepat meninggalkan Kyuhyun yang berteriak memanggil-manggil namanya.

Eunhyuk memacu langkahnya lebih cepat dan semakin cepat lagi, sekalipun ia tahu bahwa suara Kyuhyun sudah tidak terdengar lagi digendang telinganya. Eunhyuk menyeka dengan kasar air matanya. “Bodoh. Kenapa kau begitu bodoh, Lee Hyukjae!” rutuknya pada dirinya sendiri.

Dan langkah cepat itu kini berubah menjadi sebuah kata lari. Ya, Eunhyuk berlari. Berlari sekuat tenaga. Tidak peduli dengan beberapa orang yang ia tabrak dan mengumpat terhadapnya. Hingga pada akhirnya ia telah berdiri didepan gerbang rumah besarnya. Ia memegang gerbang rumahnya sebagai senderannya yang kini tengan menarik nafas dalam-dalam.

“Hah..hikz..hikz..hah..hhh..” nafasnya terputus-putus. Eunhyuk kembali menangis. tidak peduli meskipun kini sudah pukul tujuh malam dan ditambah lagi dengan hujan yang kembali turun. Tubuh Eunhyuk merosot. Tubuhnya yang kurus itu terjatuh begitu saja didepan gerbang rumahnya yang bahkan belum sempat ia buka.

Seluruh tubuhnya basah kuyup. Tapi percaya tidak percaya, entah kenapa Eunhyuk tidak dapat merasakan lagi sebuah kata dingin. Eunhyuk sudah tidak dapat lagi berpikir jernih. Karena yang ia tahu adalah bahwa saat ini ia masih ingin melampiaskan segala sesak yang mengganjal dihatinya. Ia masih ingin melanjutkan menangis. ia masih ingin menghabiskan segala air matanya sehingga esok hari ia sudah tak akan lagi mengeluarkan air matanya.

“Hikz…Hikz..Hikz..” tangisnya kembali pecah. Dan tangis itu lebih hebat dari tangisnya yang sebelumnya. Mungkin… inilah klimaks dari segala kesedihannya yang sudah ia tahan. Mungkin inilah puncak segala gejolak dihatinya. Dan mungkin inilah saatnya ia harus menumpahkan segalanya.

Eunhyuk sadar bahwa mungkin inilah yang harus ia dapatkan atas segala hal yang ia lakukan dulu. Ia bahkan menyadari bahwa sakit ini tidak ada bandingannya dengan sakit yang ia torehkan pada Ryeowook dahulu. Perasaan iri yang memenuhi hatinya telah membawanya pada titik ini.

Titik dimana ia sudah menemukan jawaban atas segala prasangka dan ke-iri-an yang disimpan dihatinya. Eunhyuk tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini ketika ia harus melihat orang yang dicintai sekaligus disayanginya bersama orang lain.

Perlahan ingatannya kembali ke lima tahun silam. Lima tahun silam… dimana semuanya telah dimulai. Dimana ia berusaha untuk membuat Ryeowook kalah darinya. Dan hal itu dimulai dengan cara mendekati Yesung. Eunhyuk tidak benar-benar mencintai Yesung―sebenarnya. Tapi… ia hanya ingin Yesung menjadi miliknya―yang sebenarnya perasaan itu muncul karena ia hanya ingin melihat Ryeowook hancur dan mengakui dirinya.

Yah, Eunhyuk hanya ingin diakui oleh Ryeowook. diakui sebagai orang yang mampu membuat Ryeowook hancur. Tapi… saat itu Eunhyuk masih terlalu labil. Ia masih terlalu mengikuti sebuah emosinya tanpa berpikir bahwa semuanya akan ada balasannya. Bukankah begitu, Lee Hyukjae???

Dan sekarang… ia merasakan dejavu. Dulu… ia dengan jahat berusaha menarik perhatian Yesung dan secara terang-terangan meminta Yesung untuk menjadi pacarnya dan menerima hatinya. Lalu sekarang, justru kini Donghae lah yang berjalan menuju Ryeowook―sekalipun Ryeowook tidak memintanya.

Hal ini menyebabkan hati Eunhyuk sakit bukan main. Gadis mungil itu… Ryeowook… bisa mendapatkan simpati dan perhatian dari Donghae secara Cuma-Cuma dan tanpa melakukan perbuatan menyedihkan sepertinya. Kenyataan ini kembali memukul telak hati Eunhyuk. Kenyataan pahit ini kembali menyadarkannya bahwa ia memang ditakdirkan untuk selalu kalah dari Ryeowook.

“Kenapa hidup begitu tidak adil?” bertanya sendiri pada air hujan yang mengguyurnya. Liquid bening tersebut masih setia turun membasahi pipinya bersamaan dengan air hujan. “Kenapa Tuhan tidak pernah berpihak padaku? Kenapa?” gumamnya pelan penuh dengan penekanan.

Eunhyuk meringis seorang diri merasakan hatinya bagai terbelah oleh sebuah pedang yang tak kasat mata. badannya bergetar antara kedinginan juga menangis. tanah basah yang akan mengotori bajunya sudah tak ia pedulikan.

Gadis itu masih saja menangis sekalipun sekarang ia dapat merasakan bahwa sudah tidak ada hujan lagi yang mengguyur tubuhnya. ia membuka matanya yang sudah hampir sepuluh menit ia tutup dan tatapannya langsung jatuh pada sepasang kaki yang tak berbalut apapun.

Dia mencoba mencari siapa gerangan yang berdiri dihadapannya. Eunhyuk menatap dimulai dari sepasang kaki itu hingga mencapai atas dan menemukan wajah sosok Donghae lah yang ternyata sang pemilik sepasang kaki itu. Eunhyuk kembali menangis tanpa suara saat pandangannya mendapati sebuah payung yang dipegang oleh Donghae. dan hatinya kembali bergetar karena Donghae lah yang melindunginya dari guyuran hujan.

“Bodoh.” Kata itulah yang pertama kali meluncur dari bibir tipis Donghae. Eunhyuk menundukkan kepalanya. Tidak mampu memandang lebih lama lagi wajah tampan Donghae yang masih setia menatapinya dari atas sana. Keduanya masih saling diam. Hanya bunyi suara hujan deras yang jatuh membasahi tanahlah yang menjadi irama kesunyian diantara mereka.

Eunhyuk masih menangis dan Donghae dengan setia masih berdiri mamayungi badannya dan juga Eunhyuk. Tidak ada kata-kata yang keluar lagi dari bibir Donghae, pria itu hanya bisa diam dan memandangi dengan sendu keadaan Eunhyuk yang masih menangis.

“Kenapa kau kesini?” meskipun suara itu terdengar seperti bisikan tapi pria yang saat ini memakai sebuah jaket berbulu itu masih bisa mendengar dengan jelas suaranya. “Aku kesini…” jeda sejenak. Donghae berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan sang gadis yang kini sudah memandangnya lagi.

Mata keduanya bertemu. Memandang dengan penuh kehangatan. Donghae menarik Eunhyuk untuk mendekat padanya lalu secara kasar menarik tengkuk Eunhyuk dan mempertemukannya dengan kedua belah bibirnya. Pria pernyuka ikan Nemo tersebut mencium secara tiba-tiba sampai Eunhyuk terkejut bukan main.

Mata Eunhyuk sudah melebar sampai ketitik maksimal. Ia tidak berontak dan hanya diam tanpa ada niatan untuk membalas ciuman itu. secara perlahan Eunhyuk menutup matanya. Membiarkan Donghae merasakan bibirnya. Bahkan sampai Donghae melepaskan tautan kedua bibir mereka, Eunhyuk masih belum juga membuka matanya.

“…untuk itu.” Donghae membuka suaranya kembali, meneruskan perkataannya yang tadi sempat tertahan. Mendengar suara Donghae membuat gadis bermarga Lee itu kembali membuka matanya. Eunhyuk menatap sayu tepat pada manik mutiara hitam yang kini masih saja menatapinya penuh kehangatan juga kasih sayang.

Grep!

Gadis yang sudah dalam keadaan basah kuyup itu menghambur kedalam pelukan hangat Donghae. menangis dalam pelukan Donghae dan tidak peduli sekalipun kini Donghae sudah melepaskan pegangan tangannya pada payung yang sejak tadi dipegangnya. Kini mereka berdua sudah benar-benar basah kuyup. Donghae membalas pelukan Eunhyuk. Menyembunyikan wajahnya dipundak Eunhyuk.

“Mianhae,” ucap Donghae berbisik ditelinga Eunhyuk. “Maaf sudah marah kepadamu waktu itu.” terangnya lebih lanjut. Kepala Eunhyuk mengangguk sebagai jawaban. Eunhyuk sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Bibirnya sudah membiru karena kedinginan. Badannya pun lambat laun sudah melemas. Matanya setengah tertutup dan secara perlahan benar-benar lemas dalam pelukan hangat Donghae.

“Sa…rang..hae~” katanya terbata-bata disisa-sisa kesadarannya. Donghae yang merasakan tubuh gadis yang dicintainya itu melemas cepat-cepat melepas pelukannya dan menangkupkan wajah pucat sang gadis. “Ya! Hyukkie, kau kenapa? Ya! bangunlah!” teriaknya dengan nada yang khawatir.

.

.

.

Disinilah aku.

Masih terjatuh, terluka dan lelah.

Aku tidak memiliki kekuatan untuk berdiri.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Ryeowook senyum-senyum sendiri sambil memandangi hujan deras yang masih senantiasa mengguyur Seoul malam ini. Hal yang dilakukan olehnya tersebut tak pelak membuat sang pria tampan dengan mata sipitnya yang kini duduk disampingnya menjadi mengkerutkan keningnya tidak mengerti.

Pria itu meletakkan ponsel yang sedaritadi ia mainkan lalu beralih mengawasi Ryeowook yang masih saja tersenyum sambil sesekali tangannya bermain air hujan yang menetes dari atas. Memang saat ini mereka sedang ada diteras belakang rumah Yesung. Sang pria duduk lesehan dilantai yang sudah terlapisi dengan karpet yang terbuat dari belundru.

Sedangkan Ryeowook saat ini tengah berdiri dengan jarak lima langkah dari Yesung. Gadis itu tampak menikmati kegiatannya yang memandangi hujan serta tangannya yang ikut merasakan bagaimana dinginnya air hujan malam ini.

Yesung tersenyum tipis melihat kegiatan aneh Ryeowook. oh, pria ini lupa bahwa Ryeowook adalah gadis yang sangat menyukai hujan. “Wookie-ah, berhentilah bermain air hujan, kau bisa sakit, tahu!” titahnya dengan nada yang sedikit keras karena takut Ryeowook tidak daapat mendengarnya.

Ryeowook menoleh kepada Yesung dengan wajah yang sedikit masam. “Aku kan tidak hujan-hujanan, lagipula kalau begini aku juga tidak akan sakit.” Jawabnya yang menolak perintah Yesung. Pria dibelakang Ryeowook yang masih duduk menyender pada dinding tersebut mendengus kecil.

“Keras kepala!”

Meskipun begitu ternyata Yesung pun pada akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mendekati sang gadis mungil. Yesung membuka lebar-lebar jaketnya tanpa melepasnya dari tubuhnya lalu dari arah belakang ia  mendekap Ryeowook. sontak gadis bertubuh kecil itu terkejut. “Ya!” pekiknya.

Yesung terkekeh ringan karena mendengar pekikan kaget Ryeowook. “Oppa mengagetkanku.” Katanya lagi yang hanya ditanggapi Yesung dengan gumaman tak jelas. Yesung mengeratkan jaketnya pada tubuh Ryeowook yang ada dibelakangnya. “Apa kau tidak kedinginan, Chagya?”

Ryeowook menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Ada Oppa yang menghangatkanku.” Menjawab asal yang mau tak mau membuat Yesung tertawa kecil. “Ah~benar juga. Aku ‘kan sedang memelukmu begini, jelas saja kau tidak kedinginan.” Ujarnya dengan nada yang penuh kejahilan.

Ryeowook menyikut perut Yesung pelan dan menggumam, “Dasar.”

Yesung semakin merapatkan tubuhnya pada Ryeowook. menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang gadis. Ryeowook yang sedikit geli hanya bisa bergerak-gerak gelisah didalam kungkungan hangat pelukan Yesung. Memang benar, pelukan Yesung terasa begitu hangat baginya.

“Oppa?”

“Hmm..” Yesung menoleh dan secara langsung menyebabkan hidung mancungnya mencium pipi gempal Ryeowook. “Bagaimana kalau kita hujan-hujanan?”

Mendengar permintaan―yang menurut Yesung―aneh itu tentu saja membuatnya mendelik tak suka. Bibirnya sudah mengkerut dan Ryeowook tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Yesung. Jelas saja Yesung menolaknya, mengingat ekspresi wajah Yesung yang langsung mengeras.

“Arra..Arra.. aku hanya bertanya saja, kok.” Cepat-cepat Ryeowook meneruskan kalimatnya sebelum Yesung sudah lebih dulu mencela dan menceramahinya panjang lebar. “Jangan melakukan hal-hal bodoh, kau bisa sakit,” kata Yesung dengan mencium pipi Ryeowook lembut.

Gadis mungil dalam dekapan hangat Yesung tersebut menggidikkan bahunya acuh. “Aku sudah lama sekali tidak hujan-hujanan, tiba-tiba saja ingin hujan-hujanan bersama, Oppa.” Ryeowook menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih kepada Yesung.

Pria berkepala dengan ukuran jumbo itu mendengus. “Kau mencoba merayu, huh?”

“Oh, tidak! Apa aku ketahuan?” wajah manis dan imut itu dibuat sepolos mungkin oleh sang empunya wajah. Membuat Yesung gemas setengah mati dan ingin sekali menggigit pipinya yang begitu menggiurkan seperti bakpao.

Yesung membalikkan tubuh Ryeowook hingga kini keduanya saling berhadapan. Lalu Yesung kembali memasukkan tubuh mungil Ryeowook kedalam jaket tebalnya. Membungkus tubuh keduanya dengan erat. “Yaa~~aku tidak bisa bernafas,” rengek Ryeowook yang tidak digubris sama sekali oleh Yesung. Pria itu justru menyeringai jahil dan semakin mengeratkan pelukannya seperti seekor ular yang ingin menghancurkan tulang mangsanya.

Ryeowook yang sadar bahwa Yesung sedang mengerjainya pun akhirnya lebih memilih diam dan menyenderkan kepalanya dipundak sang pria yang dicintainya tersebut. Yesung menundukkan kepalanya mengintip wajah manis Ryeowook yang kini terlihat menikmati pelukannya.

Senyum tipisnya terpatri diwajah baby-facenya. Lalu secara perlahan itu mendekatkan bibirnya ke kening Ryeowook yang tertutupi poninya.

Cup!

“Oppa mencuri ciuman dikeningku,” Ryeowook berkata dengan masih menutup matanya. Yesung tergelak mendengarnya. “Itu adalah imbalan untukku atas kehangatan yang ku berikan padamu, Nona.” Menjawab santai dengan sekali lagi mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Ryeowook.

Ryeowook yang merasakan sebuah terpaan hawa hangat disekitar wajahnya sontak saja membuka matanya, tapi baru beberapa detik ia membuka matanya, ia sudah dipaksa melebarkan matanya. Yesung menciumnya―tepat dibibirnya.

Ryeowook ingin protes tapi sekali lagi Yesung menahan tengkuknya dan justru semakin memperdalam ciumannya. Memaksa bibir peach itu terbuka dan langsung memasukkan lidahnya. Mengabsen segala isi yang ada dimulut sang gadis yang masih saja membulatkan matanya.

Yesung menatap mata Ryeowook―yang membulat lucu―dengan pandangan yang jenaka. Bahkan Yesung masih sempat-sempatnya mengerlingkan matanya jahil―yang kali ini membuat pipinya merona.

Ryeowook bersumpah bahwa ia dapat merasakan bagaimana detakan jantungnya yang tidak karuan. Seluruh wajahnya memanas hanya karena kerlingan mata sipit itu. dan, oh, entah bagaimana bisa saat ini Yesung benar-benar terlihat begitu tampan dan menawan.

Sangking terpukaunya dia, hingga Ryeowook masih saja memasang ekspresi bodoh dihadapan Yesung yang sudah melepaskan tautan bibirnya pada Ryeowook. bibir mungil itu masih membuka dan matanya senantiasa memandang penuh pujaan pada sosok yang menatapnya mengejek.

Tak tahan karena ekspresi Ryeowook―yang menurut Yesung―amat menggoda, akhirnya Yesung lebih memilih kembali mencium Ryeowook dan langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Ryeowook. menyapa lidah Ryeowook dan mengajak-ngajaknya bermain.

“Balas ciumanku, Chagy~” bisiknya pelan setelah beberapa saat menghentikan ciuman sensualnya. Ryeowook yang sadar akhirnya memenuhi permintaan pria yang teramat dicintainya tersebut. Ia menggerak-gerakkan lidahnya, ikut bermain dengan lidah Yesung. Tidak mau kalah dan ingin mengambil alih dominasi.

Yesung tersenyum menang dalam ciuman tersebut―terlebih ketika ia mendapati mata Ryeowook yang sudah tertutup sempurna. Oh, sudah lama sekali ia tidak seperti ini dengan Ryeowook. dengan semangat ia membawa Ryeowook menjauhi tepi teras itu dan mendorong tubuh mungil tersebut―yang masih dalam satu jaket dengannya―ke dinding dekat pintu teras itu.

Tubuh kecil Ryeowook terhimpit antara dinding dan Yesung, tentu saja hal itu semakin membuat Yesung bergairah. “Hmph~~engh~”

Oh, Demi Tuhan. Suara itu… suara lenguhan itu terdengar seperti nyanyian dari surga bagi Yesung. Ryeowook yang mulai kehabisan nafas mulai memukul-mukul dada Yesung dan karena Yesung masih ingin menikmati Ryeowook lebih dari ini setelah menikah nanti akhirnya ia memutuskan ciuman keduanya.

Yesung menatap lembut Ryeowook yang kini wajahnya sudah bertransformasi semerah tomat matang. Bibirnya membengkak dan terdapat sisa-sisa saliva―entah miliknya atau milik Ryeowook. sudut bibir Yesung tertarik sebelah membentuk sebuah seringaian jahil yang mana menyebalkan―bagi Ryeowook.

“Ya!” sebuah kepalan kecil dari tangan Ryeowook memukul dada Yesung dengan keras. Yesung meringis kecil. “Kenapa memukul Oppa?”

“Kenapa Oppa menciumku begitu?” Ryeowook balik bertanya. Yesung mengangkat sebelah alisnya. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Ryeowook. “Lalu kenapa kau menikmati ciuman dari Oppa?” wajah Yesung mendadak berubah datar seperti tak terjadi apa-apa.

Ryeowook yang kesal hanya bisa mengerang keras dan memeluk Yesung―berniat menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Ia baru menyadari bahwa ia begitu menikmati ciumannya barusan. “Hei, Hei, jika kau memeluk Oppa seperti ini, kau harus memberikan imbalan pada Oppa lagi, Wookie~” ujarnya.

Ryeowook mendorong Yesung menjauh dan melepaskan dirinya dari kungkungan hangat pria yang lebih tinggi darinya tersebut. “Aku tidak percaya bahwa kau mendadak berubah semesum ini, Kim Jong Woon!”

“Aku sudah bukan remaja lagi seperti lima tahun yang lalu, tentu saja aku harus berubah semakin bertambahnya umurku,”

“Tapi perubahanmu mengarah pada hal yang negative.”

“Aku pikir ini adalah suatu hal yang normal jika aku ingin terus menciummu dan menikmatimu,”

Wajah Ryeowook kembali memerah sempurna begitu mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir Yesung. Dan Ryeowook bersumpah bahwa pria yang kali ini kembali mendekatinya itu mengatakan kata vulgar barusan dengan wajah yang kelewat datar.

Ryeowook mundur selangkah ketika Yesung maju selangkah guna menggapainya. Tiba-tiba saja Yesung berhenti. Matanya meredup―persis seperti pertama kali mereka pertama bertemu di Mokpo beberapa pekan yang lalu. Dan Ryeowook benci melihat Obsidian kelam itu meredup seperti orang yang akan kehilangan nyawanya.

“Kenapa kau menjauh?” suara Yesung memelan.

Ryeowook meneguk ludahnya keluh. ia tidak mengerti maksud Yesung. “Kau bilang kau akan selalu disampingku dan tidak akan pergi jauh lagi dariku, bukan?”

Ryeowook mencibirkan bibirnya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa hanya masalah sepele seperti ini Yesung menjadi sosok yang melankolis. “Aku tidak menjauh, aku masih tetap disini.” Jawabnya. “Lalu kenapa kau melangkah mundur saat aku mendekatimu?”

Demi Tuhan, gadis mungil itu kini mengerang kesal jauh didalam hatinya. jinja… Yesung benar-benar menyebalkan. “Karena kau menyeramkan. Kau mesum.”

Yesung yang awalnya membawa hawa-hawa melankolis pada akhirnya mendengus mendengar jawaban Ryeowook. “Aku janji tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin memelukmu lagi. Aku kedinginan,”

Sudut bibir gadis mungil berambut secoklat madu itu berkedut menahan tawanya. “Oppa memakai jaket yang begitu tebal, itu mustahil jika Oppa kedinginan. Jika ada yang bertanya siapa yang paling kedinginan disini… maka jawabannya adalah aku!” ujarnya penuh emosi. Ya, memang saat ini Ryeowook hanya memakai baju yang lumayan tipis.

Yesung terkekeh pelan. “Jadi kau kedinginan? Kalau begitu jangan melangkah mundur saat aku melangkah maju kepadamu,” katanya penuh dengan penekanan. Ucapan Yesung tersebut sebenarnya mengandung arti yang begitu dalam.

Kalimat; jangan melangkah mundur saat aku melangkah maju kepadamu, seolah menjadi sebuah janji yang harus ditepati oleh Ryeowook. ya, Yesung sudah tidak mau lagi jauh-jauh dari gadis manis yang pernah disakitinya tersebut. Kalimat yang terdengar simpel mungkin tapi pada kenyataannya itu sudah bagaikan sebuah janji untuk keduanya.

Ryeowook terdiam saat Yesung sudah berada dihadapannya dan memeluknya erat. “Kalau kau kedinginan kau tahu tempat dimana seharusnya kau mencari kehangatan,”

Ryeowook diam-diam tersenyum mendengar kalimat-kalimat Yesung yang penuh dengan makna yang begitu mendalam tersebut. “Hmm… memangnya dimana?” bekata dengan seolah-olah ia benar-benar tidak mengerti apa maksud Yesung.

“Tentu saja kepelukanku!!!” Yesung menjawab dengan nada keras dan mutlak. Yesung tidak akan membiarkan gadisnya mencari kehangatan pada orang lain selain pada dirinya. Possessive, eh???

Ryeowook terkikik geli mendengar nada bicara Yesung yang kesal. Lalu lambat laun ia memeluk punggung Yesung dari dalam jaket yang membungkus keduanya. Ia bahkan sekarang dapat merasakan bagaimana bibir tipis Yesung mengecup ubun-ubunnya.

“Karena hari ini hujan, jadi pergi ke rumah Heechul Noona-nya besok saja.” Gumam Yesung yang ditanggapi Ryeowook dengan sebuah anggukan kepala ringan.

.

.

.

Setiap selangkah kau menjauh, satu bilur luka telah kau ciptakan untukku.

Jadi… jangan pernah melangkah mundur ketika aku melangkah maju kepadamu~

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Heechul tertawa kecil ketika mendapati Ryeowook yang sudah mulai banyak bicara dibanding dengan Ryeowook yang dulu. Mata kucingnya mengawasi dengan detail disetiap wajah imut gadis mungil yang kini duduk didepannya itu. sungguh, Heechul girang bukan main ketika pagi-pagi sekali ia sudah mendapati tamu yang sudah sangat lama ia tunggu-tunggu.

Ya, Ryeowook berkunjung kerumahnya. Ditambah gadis itu datang dengan senyum yang amat tulus―yang sudah lama tidak dilihat oleh Heechul semenjak Ibu dan Ayah Ryeowook bercerai dan ditambah kematian Ibunya.

Heechul sempat tidak menyangka bahwa itu benar-benar Ryeowook karena sepertinya seorang Ryeowook adalah manusia es yang tidak bisa tersenyum. tapi segala hal ketidakpercayaannya tersebut musnah begitu saja ketika ia mendapati dirinya telah dipeluk oleh sosok yang saat itu berdiri didepan pintu rumahnya.

Sejak itulah Heechul benar-benar percaya jika apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan. Yah, gadis itu Ryeowook. dan mereka memutuskan untuk menghabiskan hari bersama dan hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah Cafe malam ini.

“Aku pikir jika kau bersikap seperti ini daridulu pasti itu akan sangat menyenangkan,” Heechul membuka suara setelah beberapa menit keduanya hanyut oleh sebuah lelucon yang dilakukan oleh Siwon. Kini mereka sedang ada di Cafe yang didirikan oleh keluara Choi dan dikelola sendiri oleh Siwon dan Kibum.

Ryeowook menyeruput jus labunya untuk yang kesekian kalinya. “Benarkah?” Ryeowook tertawa sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Tapi jika aku seperti ini sejak dulu, pasti tidak akan ada hal-hal seru yang terjadi―seperti contohnya masalahku dengan Yesung Oppa yang membuat kalian khawatir,” tawa Heechul meledak seketika mendengar pernyataan menyebalkan Ryeowook.

Sedangkan Siwon hanya bisa memberikan Ryeowook sebuah jitakan pelan dikepalanya. “Kau benar juga,” ucap Siwon. “Lagipula dengan semua masalah yang menimpa kita… aku pikir itu akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat mahal harganya.” Lanjutnya.

Ryeowook tersenyum tipis. Gadis mungil ini menyenderkan tubuhnya pada kursi tunggal yang didudukinya saat ini. Kepalanya menengadah keatas. Melihat langit-langit cafe milik Oppa-nya dan juga tunangannya yang dihiasi dengan lampu bolam yang bergantungan.

Saat mata Caramel cerahnya memandangi dengan seksama lampu-lampu bolam yang bercahaya itu ia jadi dapat menyimpulkan sesuatu hal. Menyimpulkan tentang eksistensinya didunia ini dan juga orang-orang yang menyayanginya.

Menurutnya ia adalah sebuah ruangan kosong―yang gelap, bernuansa dingin, berwarna hitam pekat, dan tanpa cahaya sekecilpun. Dan orang-orang yang menyayanginya adalah bagaikan lampu bolam―yang terang, indah, memberikan sebuah cahaya pada sebuah kegelapan.

Ryeowook tersenyum miring memikirkannya. Ia sangat berterimakasih pada Tuhan, karena DIA telah mengirimkan sosok-sosok yang seperti lampu bolam untuknya. Mengirimkan sebuah cahaya padanya, membantunya bangkit dari sebuah ruangan yang begitu terisolasi, dan tentu saja membuatnya kembali hidup.

“Apa yang kau pikirkan?”

Lamunannya buyar saat Siwon bertanya tentang apa yang ada didalam pikirannya. Ryeowook kembali duduk dengan normal. “Tidak ada,” Siwon memandangi Ryeowook aneh dan penuh selidik. “Kau tidak sedang berpikir untuk melakukan hal-hal yang aneh lagi, ‘kan?”

Kepala kecil tersebut menggeleng-geleng. “Aku lelah lari dari kenyataan. Aku pikir dengan maju dan menghadapinya itu adalah hal yang lebih keren.” Ujarnya sambil tertawa.

“Aku sangat senang melihat Ryeowookie yang seperti ini,”

Semuanya yang ada disitu―termasuk Kibum yang sejak tadi sibuk mendengarkan pembicaraan ketiga orang dimeja berbentuk bundar tersebut dibalik meja kasir―menoleh ke asal suara yang tiba-tiba saja menyeruak masuk.

Seseorang itu berjalan mendekat ke meja dimana Siwon, Heechul dan Ryeowook duduk. Sosok berbadan mungil dengan jaket berwarna pink yang membalutnya tersebut mengulurkan tangannya didepan Ryeowook.

“Sungminnie~” kata Heechul memanggil sosok itu. “Bukankah kau sudah pulang satu jam yang lalu?” Kibum ikut menimpali dengan nada penasaran. Bukan apa-apa, sih, tapi ia hanya heran saja mengingat Cafe-nya sudah tutup sekitar satu jam yang lalu dan para pekerjanya pun sudah pulang semua―termasuk Sungmin.

“Hai, Wookie!” mengabaikan semua pertanyaan untuknya, Sungmin justru kembali menyapa Ryeowook. dengan hati-hati Ryeowook menyambut uluran tangannya. Ryeowook mengembangkan senyumnya, “Hai juga, Sungmin… Unnie~” kata Ryeowook yang tadi sempat berpikir untuk memanggil Sungmin dengan panggilan apa.

Sungmin tersenyum lebar hingga gigi-gigi kelincinya terlihat. “Kau mengingat namaku?” mata foxy indah itu membulat karena terkejut beserta senang karena Ryeowook ternyata masih mengingatnya. “Duduklah~” Siwon menarik satu kursi disampingnya dan menyuruh gadis yang juga bertubuh mungil itu untuk ikut bergabung.

Sungmin mengucapkan terimakasih kepada Siwon.

“Tentu aku mengingatmu,” balas Ryeowook secara langsung. Heechul menepuk bahu Sungmin. “Meskipun dia acuh tak acuh dulunya namun dia tetap orang yang baik.” Tawa Ryeowook kembali bergema diruangan bercorak cokelat muda itu.

“Kibummie~ kemarilah,” panggil Siwon kepada sang kekasih yang sejak tadi masih asyik duduk dibalik meja kasirnya. Kibum menggelengkan kepalanya pelan. Gadis berjuluk snow white itu merasa bahwa ia benar-benar sungkan jika harus duduk diantara orang-orang kaya dan terhormat seperti mereka, tentu saja kecuali Sungmin.

“Oh, ayolah~ berhenti merasa minder seperti itu. sudah berapa kali ku katakan bahwa kau harus belajar duduk diantara orang-orang terhormat seperti kita ini,” tangan Siwon bergerak-gerak lucu menunjuk dirinya sendiri dan Ryeowook serta Heechul.

Dengan langkah yang sedikit pelan serta agak takut ia berjalan menuju meja bundar yang sudah dikerumuni oleh Siwon, Ryeowook, Heechul dan Sungmin. Lalu gadis bekulit putih itu duduk didekat Siwon. “Kau cukup cantik dan wajahmu tidak terlalu memalukan, Kibum. Jadi… belajarlah untuk bersikap seperti selayaknya keluarga Choi yang terhormat.” Timpal Ryeowook.

Kibum meneguk ludahnya keluh mendengar suara tajam Ryeowook. ternyata benar bahwa sekalipun seseorang sudah berubah tapi tetap saja karakter aslinya tetap tidak akan bisa menghilang. “N-ne.” Jawabnya terbata.

Kelima orang dimeja itu kini mengobrol dengan santai. Masih terlihat dengan jelas bagaimana mereka semua dapat saling berbagi cerita dan tertawa bersama. Diam-diam Ryeowook tersenyum bahagia dalam hatinya.

Mata Caramel cerahnya menatap satu persatu senyum dari ke-empat orang yang duduk melingkar dimeja bundar tersebut. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa melihat senyum-senyum mereka dapat membuatnya ikut tersenyum pula.

Sekarang ia mengerti… bahwa senyum itu adalah sebuah hal kecil yang dapat mengubah segalanya. Sekarang ia pun dapat merasakan bagaimana hangatnya sebuah kebersamaan. Dan ia mendapat banyak keluarga baru. Ia sadar bahwa selama ini banyak sekali orang yang mencintainya dan memperhatikannya.

.

.

.

Malam itu… ia mendapat pelajaran berharga.

Keluarga bisa ditemukan di mana saja, di mana kita merasa dicintai dan diperhatikan ^^

.

.

.

Author Note :

Saya benar-benar merasa feel yewook saya bangkit akhir-akhir ini. Terlebih Ryeowook menjadi sering membicarakan Yesung dan kemarin Yesung upload foto keduanya di weibo. Demi APAAAAAA;; saya langsung jingkrak-jingkrak dan ngetik nih ff.

Jujur… ff ini udah kelar dari hari Sabtu kemarin, dan selesai hanya dalam waktu dua jam. Lol xD saya merasa gilaaaaa~~ ya Tuhan… ini seriusan, si Yesung moodboster banget dah (‘___’)9

Well, saya lagi ujian niah sampek minggu depan, minta do’a-nya yaa supaya bisa sukses gitu. Kkk~  niat awal mau hiatus dan cuman ngetik OS, ehh..nggak taunya si bang Yesung upload begituan, yaudah deh gagal hiatusin nih ff *lol

Sign,       

April-Chan

63 thoughts on “(GS/Chapter) We Don’t Leave You~ 10

  1. Wuuuuh…..Daebak (‘-‘)9
    Donghae Oppa mau kemana😥
    kenapa eunhyuk nyalahin wookie😥 ,itu karma hyuk😦
    dulu yesung oppa kau rebut, sekarang bahkan hyuk gk rela wookie sama donghae. padahal kan mereka cuma sahabat😥

  2. huwaaaaaaaaaaaaaaaaa ….. romantisnya bang yesung ,, ahh bikin envy aja deh mereka …
    tapi sukur deh mereka gak ada maslah” lagi🙂
    aku seneng banget nn.choi ….

    ahhh iya nn.choi makasih yaaa atas pw nya kekekeke …. aku seneng banget ….

    huksss~ donghae bner” sangat mencintai hyuk ya😥 aku terharu ,, hukss donghae sampe kayak gitu kkkk….

    ahhh wookie kau baru tahu kalau banyak yang memperhatikanmu?? hahhh dasae kau … heechul malah sangat perhatian padamu wook !! kekeke .. tapi bagus deh semanya udah hampir selesai …

    ahhhnn.choi aku nungguin lanjutan ff notu juga nih … kekke .. di tunggu yahhhhh fightinggg for you nn.choiiiii \(^O^)/

  3. Wook akhirnya pulang ke seoul juga….seneng bgt ngliat persahabatan wook dan donghae,
    hyuk sebegitu niatnya mengikuti donghae-wook, pada akhirnya juga menangis dan tersiksa melihat kedekatan mrka, yah inilah yg dirasakan wook dulu, sakitnya tak terhingga saat hyuk mencoba untuk merebut segalanya dr wook..
    Jadi itu hyuk-donghae jadian?? Tapi hyuk pingsan knpa, karna hujan-hujanan??
    Heechul bener-bener sayang bgt sm wook, segitu bahagianya bgtu yesung bilang wook ikut pulang ke seoul..
    Aduuuhh….gak tahan liat romansa yewook, mesra-mesran dan romantis-romantisan disaat hujan turun, romantis sekali……
    Akhirnya tertawa bahagia semua, sungmin masih sedikit munculnya, tapi gmn kabar hubungan sungmin-kyuhyun, mrka bakal ketemu dan balikan kan?? Semoga iya, yg lain aja udah pada berbahagia, semoga mrka juga melakukan hal yg sama..

  4. ehemmm semuanya sudah menjadi lebih baik,🙂
    habis gelap terbitlah terang, cieee yewook moment manis banget ujan” adem pelukan erat ,assaaa
    haehyuk moment malah ujan”an dipager rumah, kkk~ hyuk kena karma.. semoga dgn itu kamu tdk mengulangi kesalahan :’)

  5. snyum” sndiri bca.a nglyt kdekatan haewook..sneng lyt wook brubah,wook yg tdi.a brwjh datar n sngt dingin skrng jd bnyak snyum…syukurlah smua.a tampak bahagia,kecuakli haewook
    kpn haewook akn brsatu sprt yewook kyumin?
    bnarkah ucpn hae ke wook lo hae bkalan pergi jauh?

  6. ahh ternyata yg liat haewook tuh eunhyuk ..
    coba aja eunhyuk ngk salah paham ama kedeketan nya haewook pasti ngk bakal jdi kya gini ..
    apa haehyuj bisa bersatu ..

    ahh yewook nya bner2 so sweet bgt ..
    knp yesung jdi semesum ini ..
    n apa2 an tuh jadi melankololis gtu apa saking ngk mau kehilangan wookie lagi eum oppa ..

    haha semua nya ngumpul di satu meja ..
    iya bner klo wookie yg sekarng sama kya yg dlu ngk ada pelajaran yg dapat kita ambil dari setiap masalah yg terjadi ..
    jadi biarlah maslah yg dulu bisa sebagai pembelajaran kita untuk yg sekarang untuk menjadi yg lebih baik .
    aku suka bgt perilaku wookie yg sekarang semoga ngk kembali kya dlu lagi ..

  7. aaaahhhhh seneng banget karena perubahan ryeowook, yewooknya bisa se sweet itu🙂 manis banget ^^
    haewook juga, persahabatan mereka seru😀
    yah karma berlaku untuk eunhyuk, dulu ryeowook yg merasa kesepian dan terluka, eh sekarang eunhyuk yg merasakannya kasian😦
    firasat buruk? waduh jangan sampe haehyuk tidak bersatu..

  8. lega karena akhirnya Eunhyuk ngerasain apa yg Ryeowook rasain dn dia mengakui keslahannya, mudah”an eunhyuk n donghar sgera bersama. seneng liat ryeowook bahagia

  9. kyaaaaa DAEBAK wookie berubah total dari prubahan itu yewook bsa jdi sweet bnget dan semoga wookie bsa bahagia truz dan senyum ny gk akan prnah hilang lgi dri wajah cantik nya🙂 saranghae wookie

  10. Kyaaaaa Yewoook mesraa sekaliiiiiii… aaah bahagianya liat mereka baikan+mesra gitu kekeke. semua keadaan sudah membaik, dan hbngan haehyuk stelah ciuman dibawah hujan td sprtinya jg akan membaik kekeke.
    Kereeen kereen ffnya tulisanya jg bagus hehehe fightiiiiiiiing 😁

  11. Aku suka sekali persahaban Ryeowook dan Donghae ^^ mereka keren sekali saling menyemangati
    Hyuk kau sekarang mendapat karma seperti yg lakukan dulu.. greget juga baca part HaeHyuk
    Kyaa~ Moment YeWook bener bener bikin aku. melting ^^ Sweet Banget.
    Seneng bgt baca chapter ini semua tersenyum bahagia kecuali HaeHyuk semoga chapter selanjutnya hubungan Haehyuk akan membaik dan mereka bisa memulai hubungan mereka ^^
    Fighting ^^

  12. akhirnya update jg…
    sebelumnya thanks for pw this chapter…

    kyaaaaaaaaaaaaa… yewook romantis bgt…
    tapi yesung oppa kok jadi mesum gt??
    pasti bahagia banget jadi wookie bs jadi yang begitu dicintai sm yesung…
    chapter ini setiap pasangan sudah menemukan kebahagiaannya masing2, kecuali EunHae dan mgkn jg Kyumin… walaupun sungmin sudah memaafkan kyuhyun tp entahlah apakah mereka akan kembali bersama seperti dulu lagi??
    hanya Tuhan dan sang author yang tau…

    Fighting…!!! 😄😄😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s