(GS/Chapter) We Don’t Leave You ~11

Tittle : We Don’t Leave You!!

Chapter : 11

[[ phiphohBie ]]

Author : Choi Ryeosomnia

Rate : T

Pair : YeWook

Yewook’s NOT MINE!! But, ‘We Don’t Leave You!!’ purely IS MINE..^^

.

.

.

Enjoy!!

.

.

                                                                                                    .                                                  

Cinta dapat mengubah segalanya menjadi hidup….

Dapat mengubah seekor Itik buruk rupa menjadi Angsa yang paling indah.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Ryeowook menghirup udara malam yang kental dengan sebuah harum tanah sehabis hujan. Kedua lengannya ia letakkan diatas sebuah kayu pembatas yang ada didepan Cafe milik Saudara kandungnya sendiri tersebut. Manik Caramel cerahnya itu tampak begitu hidup dan bersinar.

Hujan sudah berhenti sekitar tiga puluh menit yang lalu. Tapi Ryeowook―dan juga yang lainnya―masih enggan untuk meninggalkan Cafe tersebut. Malahan, Siwon justru menghubungi Yesung, Kyuhyun dan Hangeng untuk datang ke Cafenya.

Ryeowook mungkin akan menolak berada dikeramaian―dulu. Tapi sekarang ia sudah berbeda. Mulai sekarang ia sendiripun juga akan membiasakan diri untuk bisa berinteraksi lebih baik lagi dengan orang banyak.

Sebelah tangannya ia angkat begitu menemukan sang namjacingu yang baru saja keluar dari mobil Lamborghini Veneno merahnya. Ia bergerak sedikit guna membalas pelukan namjacingunya. Ryeowook bahkan bisa merasakan bahwa pria―yang saat ini memakai cardigan berwarna hitam dengan garis putih dibagian dadanya―telah mengecup sebelah pipinya.

“Yang lainnya sudah ada didalam, masuklah~”

“Kau tidak masuk?” bertanya heran sambil mengangkat sebelah alisnya keatas. Ryeowook tersenyum lembut. “Kyuhyun belum datang, aku akan menunggunya.” Yesung hanya ber-oh-ria dan berniat masuk dengan masih menyempatkan waktu untuk mengusap lembut penuh kasih sayang dipucuk kepala Ryeowook.

Seperti apa yang dikatakannya bahwa memang benar saat ini Ryeowook masih berdiri didepan Cafe dengan posisi yang kembali seperti semula. Sesekali matanya mengerling pada jam tangan berwarna putih gading yang melingkar ditangannya. Bertanya-tanya pada hati tentang dimana Kyuhyu, kenapa ia belum juga datang?

Ryeowook yang sudah hampir lima belas menit menunggunya akhirnya bosan juga. Sudah beberapa kali Yesung memaksanya untuk masuk―mengingat cuaca diluar masih cukup dingin―karena takut gadis mungilnya itu jatuh sakit lagi. Namun, tetap saja Ryeowook keras kepala bukan main.

Lama-lama kakinya pun juga merasakan sebuah pegal-pegal karena terlalu lama berdiri. Ia berniat untuk masuk tapi ia urungkan niatnya saat melihat sebuah mobil supercar berwarna deep blue memasuki area parkir Cafe.

Dan Ryeowook yakin jika seseorang yang mengemudikan supercar itu tak lain dan tak bukan adalah Cho Kyuhyun. sudut bibirnya tertarik keatas begitu mengetahui pria itu berjalan kearahnya dengan mata yang menyorot penuh padanya.

“Maaf, membuatmu menunggu.” ―begitu ucap Kyuhyun setelah sampai. “Yang lainnya juga menunggumu. Kajja, kita masuk.” Ryeowook memberikan isyarat kepada Kyuhyun untuk mengikutinya. Kyuhyun memandang punggung kecil Ryeowook begitu dalam saat ia berjalan dibelakang gadis mungil itu.

“Yo, kenapa kau terlambat, Cho!” Hangeng memekik kesal dengan menunjuk Kyuhyun. Mengangkat bahunya acuh, Kyuhyun langsung duduk diantara orang-orang yang sudah berkumpul dimeja bundar yang cukup lebar itu. “Aku baru pulang dari rumah Donghae Hyung,”

Heechul membulatkan bibirnya membentuk sebuah huruf ‘O’.

“Memangnya dia kenapa?” merasa penasaran akhirnya Kibum bertanya. “Bukan dia, tapi Eunhyuk Noona.” Kyuhyun mencomot sebuah cupcake yang disediakan oleh Kibum dan Siwon, dengan mengabaikan tatapan terkejut dari orang-orang―kecuali Ryeowook―dimeja berbentuk bundar itu.

“A-akh! Sakit Noona~” Kyuhyun meringis saat merasakan ujung jari-jari kakinya diinjak oleh Heechul. Sedangkan Heechul hanya bisa melotot tak percaya kepada Kyuhyun―yang bisa-bisanya menyebut nama gadis blonde itu didepan Ryeowook.

Kyuhyun yang kini sudah menyadari tentang maksud Heechul hanya bisa meneguk ludahnya keluh. mendadak suasana di Cafe yang hanya terdiri dari beberapa orang itu senyap seketika. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak ada satupun suara yang keluar guna menghancurkan suasana senyap yang amat membosankan juga mencekam itu.

Ryeowook mengerti kenapa mereka semua menjadi diam begini dan ia merasa bahwa tidak seharusnya mereka semua merasa tidak enak dengan dirinya. Baginya Eunhyuk sudah bukan apa-apa atau siapa-siapa yang dibencinya. Ia sudah tidak menganggap gadis blonde itu sebagai ancamannya. Toh, Yesung mencintainya, bukan?

Gadis mungil itu berdehem sejenak untuk menghilangkan kesan kikuk dan sunyi diruangan itu. “Memangnya kenapa dengan Eunhyuk-ssi?”

Sekali lagi. Mereka semua dibuat melotot tidak percaya.

Ini aneh. Bagaimana bisa Ryeowook menanyakan tentang orang yang bahkan sudah menjadi penyebab dari segalanya. Dan Kyuhyun yang masih merasa tidak enak karena menyinggung soal itu hanya mampu diam. Terlebih ia sadar bahwa dulu ia juga sempat menjadi dalang dari insiden foto yang diterima Ryeowook.

“Kyuhyun?”

“Aa~ Eunhyuk Noona jatuh sakit,” terlalu cepat. Pria berkulit pucat itu menjawab pertanyaan Ryeowook dengan cepat. Dalam hati Kyuhyun merutukki bibirnya yang dengan mudah gugup dan suka berbicara acak adul saat didepan Ryeowook.

“Sakit?” Sungmin bertanya penasaran. Kyuhyun memandang Sungmin lalu menganggukkan kepalanya ringan. “Ya. Donghae Hyung bilang; ia menemukan Eunhyuk Noona sedang menangis didepan gerbang rumahnya sambil hujan-hujanan,”

“Rumahnya?” kali ini Yesung yang bertanya.

“Rumah Eunhyuk Noona―maksudku.” Jelas Kyuhyun yang membuat Yesung dan juga Sungmin mengangguk paham. “Well, jangan tanyakan aku kenapa bisa terjadi hal yang seperti itu, karena Donghae Hyung sendiri tidak tahu penyebabnya dan tentu saja aku juga tidak tahu,” buru-buru Kyuhyun mengatakan hal tersebut saat ia melihat tatapan bertanya dari orang-orang disana yang seolah-olah mengatakan –kenapa-euhyuk-seperti-itu-

Heechul mendesah berat. Ia menyilangkan kedua lengannya didepan dadanya. Hangeng yang bisa mendengar desahan lelah dan juga berat dari istrinya akhirnya merapatkan tubuh tegapnya kepada sang Istri yang tengah hamil itu. “Jangan berpikir terlalu banyak,” katanya mengingatkan.

.

.

.

Cinta…

Dapat mengubah dunia menjadi tidak gelap, tidak menyakitkan, dan tidak menyedihkan.

.

.

.

Ryeowook menemukan dirinya terkekeh di dalam keramaian. Keramaian akan sebuah pertemuan kecil-kecilan yang awalnya tidak ia dan yang lainnya rencanakan. Meskipun malam sudah semakin larut tapi entah kenapa mereka semua begitu enggan untuk menghentikan acara ini. Mereka sudah terlalu larut dalam sebuah obrolan, bercanda, cerita-cerita kecil dan juga sebuah kebersamaan.

Yesung sesekali tertawa keras begitu ia mendapati Kyuhyun yang mendapat jitakan keras dikepalanya dari Heechul. Sungmin yang masih asyik mengobrol dengan Kibum, lalu Hangeng yang serius berbicara―entah itu tentang bisnis atau apa―dengan Siwon.

Sedangkan ia sendiri hanya bisa tersenyum menikmati ekspresi-ekspresi dari teman-temannya. Melihat wajah mereka yang penuh dengan ekspresi benar-benar hiburan tersendiri baginya. Ia tersentak dalam lamunannya begitu mendapati sebuah lengan kokoh yang memeluk lehernya dan memaksanya untuk mendekat pada sang empunya.

“Hm?” gumam Ryeowook. kepalanya mendongak guna bisa melihat wajah Yesung―seseorang yang memeluk lehernya. “Kau lelah?” Ryeowook menggelengkan kepalanya dua kali. “Oppa lelah?” kedua tangan Ryeowook memaksa lengan Yesung untuk lepas dari lehernya.

Pria itu memijat-mijat pelan lehernya. “Ya, sedikit.” Katanya sambil terseyum menampilkan gigi putihnya yang rapih. “Besok hari minggu, Oppa bisa tidur sepuasnya.” Yesung menanggapinya hanya dengan senyum kecil diwajahnya. “Ah, aku akan ke Toilet sebentar.” Berpamitan pada Yesung dan berjalan menuju pintu yang menghubungkannya dengan Toilet.

Wajah Yesung terlihat sedang menimang-nimang sesuatu dan itu diketahui oleh Siwon. “Hyung~ aku pikir kau tidak harus berpikir dengan seserius itu jika kau ingin mengejar Dongsaengku ke Toilet.”

Perkataan Siwon―yang seratus persen tepat―itu tak pelak membuahkan sebuah cengiran lebar pada wajah tampan Yesung. Yesung―yang akhir-akhir ini menjadi lebih mesum dari sebelumnya―menggaruk tengkuknya salah tingkah.

“A-anou…sepertinya aku harus ke Toilet juga,”

Kyuhyun mendecih sebal mendengarnya. “Bilang saja kau ingin melakukan hal yang tidak-tidak pada Wookie,” cibirnya yang mendapat persetujuan dari yang lainnya. Yesung menyeringai aneh kearah Kyuhyun. “Wae? kau cemburu? Kau masih mengharapkan cinta dari Tunanganku, huh?” ejeknya dengan tampang yang menyebalkan.

Kibum mendadak meledakkan tawanya yang diikuti oleh Heechul, Hangeng lalu Siwon dan Sungmin. Kyuhyun mendengus. “Aku sudah akan mengubur dalam-dalam perasaan ini,” katanya tak terima. Yesung kembali menampilkan ekspresi baru diwajahnya. “Jinjaaaa??” mata sipitnya disengaja untuk dilebarkan agar terlihat terkejut. Dan tentu saja Kyuhyun tahu bahwa itu adalah sebuah ekspresi yang mengejeknya.

“Kata-katamu begitu puitis, Kyu!” Sungmin berseru keras. “Sudahlah, dia itu saudara tirimu, jadi lupakan saja,” Siwon ikut serta menjadikan Kyuhyun sebagai bahan ejekan. “Sial~!!” umpatnya kesal yang kembali membuat semuanya tertawa keras. Hangeng bahkan sampai memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa malam ini.

Yesung mengidikkan bahunya acuh―masih dengan tampang yang mengejek. “Terserah! Toh, Wookie tidak akan sudi juga menerima cintamu.”

Jleb!

Ucapan Yesung sungguh menyakitkan hatinya sampai-sampai Kyuhyun ingin sekali rasanya mengubur pria berkepala besar itu hidup-hidup. Kyuhyun baru saja akan membalas dengan kalimat yang lebih pedas lagi jika saja Yesung sudah tidak lebih dulu pergi menuju Toilet.

“Diam kalian!” seru Kyuhyun mengingatkan semuanya untuk berhenti menertawakannya. Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya ringan mendengar Kyuhyun yang berteriak tak terima. “Sudahlah, toh memang benar kata Yesungie, kalau Wookie tidak mungkin juga mau menerima cintamu,”

Telinga Kyuhyun serasa disiram oleh air mendidih hingga menyebabkannya panas seketika. Mengabaikan ejekan-ejekan yang masih berlanjut, pria jangkung itu lebih memilih menyibukkan dirinya dengan PSP kesayangannya.

.

.

.

Dibuku tertulis; kebersamaan bersama orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita adalah sebuah moment yang disebut perfect!

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Ya!”

“Sssssttt~~!!!”

Yesung membekap bibir mungil Ryeowook dengan telapak tangannya. menyuruh gadis itu untuk tidak berontak maupun berteriak. Yesung baru mau menjauhkan telapak tangannya dari bibir mungil Ryeowook saat gadis itu mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Yesung.

Menarik nafas dalam sebelum akhrinya mengatakan, “Ya! apa yang Oppa lakukan?” tanyanya sambil mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ryeowook menatap aneh serta heran saat Yesung justru mendekatinya. Tentu saja Ryeowook melangkah mundur saat tahu Yesung kembali mendekatinya.

“Jangan melangkah mundur, apa kau lupa dengan janjimu?” ucap Yesung penuh penekanan. Ryeowook berdecih sebal. “Hn.”

Yesung menyeringai senang dan langsung saja mendekati Ryeowook. merapatkan tubuh keduanya dan meletakkan telapak tangannya pada dinding dibelakang yeojacingunya. Mengungkung tubuh mungil itu sampai membuat Ryeowook sedikit kesulitan bernafas.

“W-wae?”

“Bogoshippo~” ujar Yesung tiba-tiba. Ryeowook semakin dibuat aneh dengan sikap Yesung. “Nado. Nado bogoshippo!” balas Ryeowook dengan penuh penekanan disetiap katanya. Ia mendengus dan memaksa tubuh pria itu untuk menyingkir dari depannya.

Bukanny menyingkir, Yesung malah memeluk pinggangnya erat dan menyembunyikan wajahnya diperpotongan leher yeojacingunya. Benar saja hal itu membuat Ryeowook terkejut bukan main. “Ya~~” katanya merengek.

Ryeowook menahan desahannya begitu merasakan lidah Yesung menyapu perpotongan lehernya. “Seharian ini Heechul Noona menculikmu,” Yesung menghirup harum tubuh gadisnya. “Lalu?” Ryeowook melirik kepada Yesung yang semakin menyamankan pelukannya pada tubuh mungilnya.

“Itu membuatku gila. Aku bahkan tidak menciummu sama sekali seharian ini.”

Ryeowook mendengus. Entah kenapa Ryeowook merasa kalau Yesung sudah benar-benar berlebihan. Yesung mengangkat kepalanya dan memandang wajah Ryeowook―yang ternyata sang empunya juga tengah menatapnya. Dengan cepat Yesung mencium pipi Ryeowook lalu ciuman itu merambat pada sudut bibir mungil Ryeowook.

Tatapan keduanya masih beradu. Melupakan fakta bahwa mereka masih ada didepan pintu Toilet. Dengan lancar Yesung mendaratkan bibirnya tepat dibibir peach milik gadis yang paling ia cintai itu. Ryeowook tersenyum dalam ciumannya―terlebih saat ia merasakan pelukan Yesung semakin mengetat. Seolah tak mau jika ia kabur dalam pelukan itu.

Secara naluri tentu saja Ryeowook mengalungkan kedua lengannya pada leher Yesung. Memperdalam ciuman keduanya. kepala keduanya berputar dari samping kanan lalu ke kiri―mencari posisi nyaman. Yesung bersorak senang dalam hati. Ia semakin semangat mengecup bibir yang bagaikan candu untuknya.

Sesekali bibir Ryeowook mengeluarkan sebuah lenguhan ketika secara sengaja Yesung menggigit-gigit kecil bibirnya dan menghisap lidahnya dengan kuat. Oh, demi Tuhan, keduanya semakin mahir saja dalam hal bersilat lidah―berciuman.

Ciuman keduanya begitu lembut. Meskipun terkesan penuh dengan nafsu tapi keduanya masih bisa membuat ciuman itu tampak indah dan tak terburu-buru. Dengan penuh cinta keduanya semakin memperdalam ciuman tersebut.

Yesung melepaskan tautan kedua belah bibir itu. masih dengan jarak yang cukup dekat. Mata sehitam malam tersebut berkilat jenaka memandang manik Caramel cerah milik Ryeowook. ia kembali mengecup bibir Ryeowook―hanya sekedar kecupan-kecupan ringan.

Ryeowook tertawa kecil dan mendorong Yesung untuk menjauh. “Ayo kembali, yang lainnya pasti menunggu kita,”

Yesung membeo Ryeowook. ia berjalan dibelakang Ryeowook dengan masih tersenyum sumringah. Bahkan ia sesekali menjilat bibir luarnya―berharap masih ada sisa-sisa rasa manis dari bibir peach itu. menyadari aksi gilanya itu tak pelak membuat Yesung mengatakan; aku benar-benar gila dengan rasa bibir milik Wookie.―tentu saja dalam hati.

Diam-diam Ryeowook sendiri pun berusaha sekuat tenaga menyembunyikan wajah memerahnya dari Yesung. Ia berjalan semakin cepat agar Yesung gagal mensejajarkan langkah dengannya. Jujur saja, Ryeowook tidak ingin membuat Yesung melihat wajah memerahnya itu. kkkk~

.

.

.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Tidak ada jalan untuk membawaku kepadamu,” Donghae menundukkan kepalanya begitu dalam. Meremas jemarinya yang saling bertaut dengan jemari kurus milik Eunhyuk―yang masih tertidur lelap. Memang, malam ini Donghae memutuskan untuk menemani Eunhyuk dirumahnya―tentu saja setelah ia mendapat ijin dari kedua orangtua gadis berambut blonde tersebut.

“Semua jalan yang aku coba untuk lalui selalu saja buntu,” katanya lagi dengan pelan. Ia mendongakkan kepalanya memandang wajah damai Eunhyuk yang terlelap. Donghae bisa melihat dengan jelas bagaimana guratan-guratan sedih itu terpatri diwajah damai Eunhyuk.

Percayalah sekalipun gadis itu terlelap dan berwajah damai tapi masih ada sebuah ekspresi tertekan dan kesakitan yang masih bisa dilihat oleh Donghae. itu sungguh membuat Donghae merasa sedih dan bersalah. Ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya begitu menyakiti gadis cantik tersebut.

“Haruskah kita menyerah, Hyukkie?” Donghae bertanya pada Eunhyuk dengan wajah sendu. Pria tampan ini terlihat lelah dan bosan dengan segalanya. Ia merasa bahwa sepertinya mereka memang tidak bisa bersatu. Kenyataan begitu menyakitkan bagi keduanya, mereka sudah terpisah begitu lama oleh jarak dan waktu, lalu setelah keduanya bertemu hubungan keduanya pun tak ada kemajuan sama sekali, justru semakin buruk saja.

Donghae tidak tahu sejak kapan sebuah liquid bening itu sudah menuruni pipinya. Tangisnya pecah saat itu juga. Memikirkan segalanya sangat melelahkan, membuatnya ingin menyerah saat itu juga. Netra seperti mutiara hitam dilautan tersebut mengalirkan air mata.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat, menahan sesak yang sudah berkelebihan memenuhi rongga dadanya. Baginya ini sangat berat dan rasanya seperti ingin mati saja. Tiba-tiba saja Donghae merasakan sebuah pergerakan kecil pada jemari kurus digenggamannya tersebut.

Matanya membulat dan ia berdiri dengan sedikit membungkuk guna menunggu mata kucing itu terbuka dan menampakkan sebuah bola mata indahnya. “Eunhyuk-ah~” panggilnya pelan sambil mengelus sayang pipi sang gadis. Dan benar saja, tidak perlu waktu lama bagi bola mata indah itu terbuka.

Donghae tersenyum lega, masih dengan mata yang berkaca-kaca. “Gwaenchana?” bertanya khawatir sambil membantu gadis itu untuk duduk dimahkota ranjang tersebut. Donghae menumpukkan beberapa bantal dibelakang punggung Eunhyuk―untuk menyamankan gadis tersebut.

Eunhyuk menatap Donghae dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. “Kau sudah merasa baikan?” tanya Donghae tanpa mengurangi rasa khawatirnya. Eunhyuk tidak menjawab ia masih setia menatap wajah tampan Donghae. Sedangkan sang pria kini mulai menyadari bahwa ada tatapan tidak biasa dalam bola mata tersebut.

“Kenapa?” Eunhyuk membuka suaranya. Begitu pelan dan lirih sampai menyebabkan Donghae berusaha mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi pada Donghae. “Ap―”

“―Kenapa kau bersikap seperti ini?” belum sempat Donghae membuka suaranya tapi sang gadis blonde sudah lebih dulu memotong ucapannya. “Kenapa kau bersikap baik padaku setelah sebelumnya kau memarahiku dan mengatakan bahwa aku sama sekali tidak berubah, kenapa kau masih datang padaku setelah kau menghancurkanku… kenapa?”

Donghae memandang Eunhyuk terkejut. Pria itu dapat melihat mata Eunhyuk sudah berkaca-kaca. Gadis blonde itu bahkan sekuat tenaga menahan tangisnya yang sudah hampir pecah. Donghae bisa mengetahui semuanya. “Apa maksudmu?” bertanya tidak mengerti sambil sebelah tangannya berusaha menghapus keringat dingin dipelipis Eunhyuk.

Plak!

Eunhyuk menampik tangan Donghae. Menolak sentuhan sang pria ditubuhnya. Gadis itu kini sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk menangis. “Hyukkie~” memanggil pelan nama sang gadis kurus dengan lirih. Donghae menghembuskan nafasnya lelah. ia kini mengusap wajahnya dengan kasar.

“Bisakah kau pergi?”

Dan perkataan tiba-tiba Eunhyuk membuat pemuda itu kembali memandangnya tidak percaya. Netra berbeda warna tersebut saling menatap satu sama lain. Donghae mencari-cari bayangan dirinya pada manik gadis itu. “Kenapa?”

“Kau bercanda? Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau masih bertanya kenapa?” Eunhyuk tertawa hambar. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap tajam Donghae. “Bercanda itu ada batasnya, bajingan!”

“Hyukkie…”

Donghae tak mampu melanjutkan ucapannya. Terlalu terkejut saat Eunhyuk memanggilnya dengan panggilan kasar itu. seumur-umur baru pertama kali ini ia dipanggil bajingan oleh oranglain. Dan mirisnya justru orang tersebut adalah Eunhyuk, teman yang membuatnya kuat saat masih lemah dulu serta satu-satunya orang yang memerangkap hatinya.

Eunhyuk memandang arah lain menghindari tatapan sakit yang dilayangkan Donghae. ia tidak akan bisa marah pada pria itu jika ia masih saja menatap mata tersebut. “Kau tahu… rasanya aku benar-benar ingin mati saat itu juga… saat dimana aku melihatmu dengan gadis jalang itu!”

Donghae tahu siapa yang dimaksud ‘jalang’ oleh Eunhyuk. “Kau melihatnya?”

“Ya, sangat jelas. Aku melihatnya sangat jelas, Hae!” jawabnya cepat. Eunhyuk menampilkan wajah miris. Ia meneguk ludahnya dengan keluh. lidahnya seolah tak bertenaga sekalipun hanya untuk menceritakan tentang perasaan hancurnya ketika melihat Donghae bersama Ryeowook.

“Itu tidak seperti apa yang kau lihat, Hyukkie~”

“Lalu seperti apa?” tukas Eunhyuk cepat. “Semua sudah jelas. Kau memandangnya dengan tatapan memuja, dengan tatapan menginginkan, dengan tatapan yang bahkan tak pernah kau berikan padaku, Hae! Haruskah aku percaya pada ucapanmu?” suaranya mengeras.

Matanya kembali menggelap. Ia menatap Donghae dengan tatapan membunuh. Sedangkan Donghae hanya bisa tersenyum tipis. Ia sadar bahwa Eunhyuk telah salah mengartikan tatapannya pada Ryeowook. Dan ia yakin seratus persen bahwa yang menyebabkan Eunhyuk salah mengartikan tatapannya adalah karena gadis itu dalam keadaan yang tidak stabil―cemburu.

“Aku tidak pernah memaksamu untuk percaya padaku, Hyukkie. Tapi asal kau tahu saja, bahwa semua yang kau katakan adalah salah besar!”

Tawa miris Eunhyuk menggema dikamar tersebut. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap marah kepada Donghae. “Aku tidak buta, bajingan!”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan kasar itu!” Donghae kembali tersulut emosi. Pria ini tidak tahu entah kenapa Eunhyuk begitu hebat dalam hal menyulut emosinya akhir-akhir ini. “Lalu apa? Apa aku harus memanggilmu; Sialan, Brengsek, Bastard, huh?” jawaban Eunhyuk yang terkesan menantang itu sungguh membuat kemarahan Donghae semakin menjadi-jadi.

“Aku tidak tahu bahwa kau sekeras ini ternyata,” ucap Donghae kalem―tapi menusuk. “Lee Hyukjae yang aku kenal dulu tidak seperti ini,” jeda sejenak “Lee Hyukjae yang aku kenal adalah gadis yang ceria, menebarkan aura positive bagi orang-orang disekitarnya, selalu tersenyum dan dia tidak pernah mengeluarkan perkataan-perkataan kasar seperti ini.” Ujarnya lamat-lamat.

Eunhyuk menggeram tertahan. Ia mengepalkan tangannya erat. tidak terima dengan segala ucapan yang terlontar dari bibir tipis Donghae. “Aku tidak pernah merasa berubah! Kau yang berubah. Kau sudah bukan Donghae-ku yang dulu. Kau sudah terlalu jauh dariku…” Eunhyuk mengambil nafas dalam “…dan kau meninggalkanku.” Ucapannya terselesaikan dengan tangisnya yang pecah saat itu juga.

Gadis itu menangis lebih dalam lagi. Air matanya turun dengan derasnya serta kedua bahunya bergetar. “Kau tahu… kau mengingatkanku tentang Ryeowook… yang dulu!”

“Apa?” mata Eunhyuk menatap nyalang pada Donghae. disaat-saat seperti inipun Donghae masih saja membicarakan gadis―yang Eunhyuk panggil jalang―tersebut.

“Lihat! Kau bahkan berkata seolah-olah kau akan sendirian jika aku pergi meninggalkanmu, kau ketakutan dengan segala pemikiranmu sendiri. apa kau tahu, itu adalah cara Ryeowook memandang dunia―dulu.”

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya kuat. Pandangannya berangsur-angsur melembut. Ia menundukkan kepalanya dalam. Kedua tangannya meremas selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. “Kenapa kau berubah?”

Donghae berucap lembut. Pandangannya sangat lembut dan penuh cinta. “Semuanya berawal darimu, Lee Donghae.” kata Eunhyuk dingin.

Donghae tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi selain diam. Ia ingin mendengar segala pembelaan yang akan Eunhyuk ucapkan. “Kau… begitu memperhatikan Ryeowook dan itu membuatku cemburu,” ia menyeka air matanya dengan kasar. “Membuatku marah, kesal, kecewa dan seolah-olah aku sudah bukan apa-apa lagi bagimu jika dibandingkan dengan gadis itu.”

Donghae dapat merasakan segala kepahitan dalam suara rendah Eunhyuk. Ia memberanikan diri untuk menggenggam jemari Eunhyuk yang kini sudah berhenti meremas selimutnya. Kini kedua jemari mereka saling bertaut―lebih tepatnya Donghae yang menautkan jemarinya.

“Maaf,” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Meskipun Donghae sadar bahwa ia tidak sepenuhnya salah tapi tetap saja ia juga berbuat salah. Donghae tidak tahu bahwa hal-hal kecil yang ia lakukan untuk Ryeowook dianggap sebagai perhatian khusus oleh sang gadis kurus didepannya ini. Padahal, dalam benak hatinya yang paling dalam pun tidak pernah sekalipun Donghae bisa menggantikan Eunhyuk dari relung hatinya.

“Pergilah.”

Deg!

Jantung Donghae seperti berhenti detik itu juga, dan netra sehitam mutiara dilautan itu membelalak lebar―terlalu ngeri dengan ucapan dingin yang diucapkan Eunhyuk. Wajah pemuda itu tidak terkontrol, matanya terlihat tidak fokus. Mulutnya membuka dan menutup seolah ingin berbicara sesuatu―namun tidak ada yang keluar dari sana.

Mata hitamnya terlihat begitu lelah seketika. Tubuhnya yang tadinya menegang kini berangsur-angsur melemas seperti kehilangan jiwanya. Mata itu menutup dengan pelan. Berusaha mengenyahkan kenyataan-kenyataan yang baru saja harus ia terima.

Eunhyuk mengusirnya―tidak hanya dari rumahnya, tapi juga dalam hidupnya.

Hatinya begitu perih mendengar Eunhyuk yang mengusirnya. Tapi tidak! Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus sedikit berjuang lagi. Ya, hanya sedikit lagi. Dan jika itu gagal… mungkin ia memang harus benar-benar merelakan segalanya.

“Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku lakukan agar kau mau memaafkanku?” pemuda itu bahkan meminta maaf atas segala hal yang tidak sepenuhnya salahnya. Ia meminta maaf atas segala kesalahpahaman yang terjadi.

Eunhyuk tersenyum miris. Ia memandang begitu dalam tepat pada mutiara hitam didepan sana. Mengirimkan tatapan mengintimidasi. “Pergi dari hidupku! Pergi dari hidupku jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi. Menghilanglah menuju kegelapan hingga aku tidak bisa melihatmu lagi.”

Donghae mungkin saat ini sudah tidak bisa lagi merasakan sakit. Hey, ucapan Eunhyuk yang terkesan bukan main-main itu tentu saja membuat jiwanya serta hatinya hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang berserakan.

Segala perasaan bercampur aduk didalam rongga dadanya. ia lalu tersenyum getir. “Jadi begitu, ya, maumu?” bisiknya pelan―yang masih didengar oleh Eunhyuk.

Eunhyuk memilih diam dan tidak mau menanggapi bisikan Donghae. Namun…percayalah kawan, bahwa sekalipun Eunhyuk diam dengan ekspresi datarnya tersebut jauh didalam lubuk hatinya ia menyesal bukan main. Ia bahkan tidak percaya bahwa mulutnya bisa mengucapkan kata-kata yang seperti itu.

Pandangan mata Donghae sudah mengabur. Matanya basah oleh air mata yang sudah berkumpul dikelopak matanya. Ia menghela nafasnya dalam. Pandangannya kembali sendu. Lalu tertawa pelan seperti orang gila. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar itu.

Setelah ia mencapai pintu tersebut, Donghae menghentikan langkahnya. Masih dalam keadaan memunggungi Eunhyuk. Sebuah pengakuan tulus, meluncur begitu saja keluar dari dalam mulutnya, “Bagaimana ini… aku benar-benar mencintaimu.”

.

.

.

Semakin mendekati sebuah fakta, maka semakin banyak masalah yang mendekati.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

“Ya, Donghae-yah~ kenapa kau terlihat sangat letih, hmm?”

“Gwaenchana, Umma.” Jawab Donghae sambil mulai menggigit roti panggang yang dibuat oleh Ibunya. Pagi ini keluaraga besar ‘Lee’ sedang melakukan sarapan pagi bersama―hal yang hampir tidak pernah mereka lakukan sebelum-sebelumnya.

Ny . Lee tampaknya masih khawatir dengan keadaan anak angkatnya tersebut. Jelas saja Ia khawatir, keadaan Donghae yang terlihat acak-acakan dengan kantung mata yang menghitam serta wajah yang lusuh, sudah benar-benar memperlihatkan bahwa Donghae tidak baik-baik saja.

“Hari ini kau jadi berangkat?” sang kepala keluarga yang sedang menyibukkan dirinya dengan koran pagi ditangannya itu kini mulai bicara. Seketika Donghae menghentikan acara menggigit roti panggangnya. Ia mengangguk pelan. “Appa pikir kau sudah tidak mau lagi kembali kesana.”

“Anio, Appa. Aku rasa tinggal disana cukup menyenangkan.” Jawabnya. Sang kepala keluarga ‘Lee’ tersebut melipat koran paginya lalu mulai mengangkat cangkir berisi kopi hitam miliknya dan menyeruputnya pelan. “Hmm, apa ada sesuatu disini yang membuatmu tidak nyaman?” tebaknya tepat pada sasaran.

Donghae tersenyum terpaksakan. “Ah, tentu saja tidak. Aku senang tinggal disini, sangat malah. Hanya saja, aku sudah terbiasa di Mokpo dengan para pegawaiku yang memiliki logat yang lucu.” Alasan konyol―tentu saja.

Ny. Lee mengernyitkan alisnya aneh. “Kau serius? Hanya karena itu?” Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. “Hah~” terdengar helaan nafas berat dari Ny. Lee.

“Umma~ berhentilah menghela nafas terus-terusan seperti itu. Aku jadi merasa tidak tega untuk kembali ke Mokpo jika Umma begitu.”

“Kalau begitu Umma akan selamanya menghela nafas berat begini agar kau tetap di Seoul.”

Donghae tertawa renyah. Pemuda tampan itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang Ibu. Memeluknya dengan sangat erat. “Aigoo~~ Umma benar-benar tidak percaya bahwa kau jauh-jauh pulang ke Seoul hanya untuk kembali ke Mokpo lagi,” ucapnya sedikit tidak rela.

Donghae melepas pelukannya lalu duduk berlutut dilantai. Ia menutup matanya erat begitu merasakan kedua telapak tangan sang Ibunya yang kini membingkai wajah tampannya. Mencium secara bergantian kedua telapak tangan ibu yang sudah mengadopsinya dahulu itu. sungguh, Donghae merasa benar-benar dicintai oleh keluarga ini.

“Umma~”

Donghae menghapus air mata yang tiba-tiba saja menuruni pipi sang Ibu. “Jangan menangis begitu,” katanya, “Aku tidak akan kenapa-kenapa.” Hiburnya pada sang Ibu. Ny. Lee tampak tidak rela dengan kepergian satu-satunya putranya tersebut―putra angkat.

Ny. Lee merasa bahwa jika Donghae pergi maka ia akan sangat merindukan Donghae. “Umma jangan pernah telat makan, oh?” Ny. Lee menganggukkan kepalanya―masih dengan menangis. “Umma harus bisa menjaga diri Umma baik-baik, apapun yang terjadi Umma harus selalu baik-baik saja. Aku akan selalu mengawasi Umma!”

“Arra.” Jawab Ny. Lee.

Donghae bangkit dan kembali duduk ditempatnya. “Appa,”

“Hm?” Tn. Lee tersenyum memandang Donghae. “Terimakasih sudah menyayangiku selama ini,” ujarnya dengan tulus. Tn. Lee menganggukkan kepalanya dengan menyunggingkan senyum tipisnya. “Kau putra yang sangat membanggakan, Donghae. Appa sangat bangga memilikimu.”

Wajah Donghae berseri-seri begitu mendapat pujian dari sang Appa tercinta. “Nah, kalau begitu Appa harus menjaga Umma selama aku pergi.”

“Tentu. Selama ini Appa menjaga Umma-mu dengan baik, asal kau tahu.”

Tawa keluaraga Lee saat itu langsung saja meledak. Mereka menyempatkan waktu untuk menghabiskan sarapan pagi hari itu dengan sedikit candaan. Tak jarang juga Donghae mengawasi satu per satu wajah dari Ayah dan Ibu yang mengadopsinya itu begitu intens. Seolah ingin menyimpan wajah bahagia kedua orang yang sangat berarti baginya itu untuk selamanya.

.

.

.

Bagaimanapun juga keluarga adalah satu-satunya tempat dimana kamu akan selalu kembali.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Pukul sembilan pagi…

Ryeowook berjalan gontai menuruni tangga rumahnya. Wajah mengantuk masih terlihat jelas padanya. Gadis itu berjalan menuju dapur lalu mengambil air putih dan meminumnya. Ketika ia hendak kembali ke kamarnya―guna melanjutkan tidurnya―ia dibuat terkejut dengan kehadiran seorang wanita paruh baya dibelakangnya.

“Anyyeong, Wookie-ah.” Sapa wanita paruh baya itu.

Mata Ryeowook tampak sedang meneliti wanita dihadapannya tersebut. Ekspresi wajahnya terlihat sedang berpikir. Berpikir untuk memanggil ‘apa’ pada wanita tersebut. “Oh, umh~ iya.” Jawaban singkat itu ternyata cukup mampu untuk membuat wanita didepannya tersebut terdiam.

Ryeowook merasa bersalah begitu mendapati raut muka sedih yang terpancar jelas diwajahnya. Ia menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus bagaimana. Mungkin ia sudah berubah tapi tetap saja ia masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri memanggil wanita ini dengan sebutan ‘Umma’. Well, wanita didepannya ini memanglah Ibu tirinya―yang berarti ibu kandung Kyuhyun.

“Aku permisi dulu.” Tak mau berlama-lama melihat wajah sedih itu akhirnya Ryeowook memilih untuk pergi dari dapur dan meninggalkan Ibu tirinya tersebut.

“Appa!” panggilnya pada sang Appa yang tampaknya juga baru bangun dari tidurnya. “Oh, sayangku.” Tn. Choi berjalan cepat menuju Ryeowook lalu memeluknya dengan erat. menciumi pucuk kepala sang anak bungsunya―hasil pernikahannya dengan istrinya yang dulu―juga mengeratkan pelukannya.

“Sejak kapan Appa pulang?”

“Tadi pagi―jam lima.”

Ryeowook melepaskan pelukannya. “Kenapa tidak membangunkanku?” tanyanya dengan wajah yang dibuat sedikit kesal. “Kyuhyun bilang kau baru tidur jam tiga pagi, tentu saja Appa tidak ingin membangunkanmu.” Tn. Choi tersenyum. kedua tangannya mengelus dengan sayang pucuk kepala sang anak gadisnya itu.

Tn. Choi memandang dengan lekat-lekat tepat pada wajah Ryeowook. ketika ia menatap wajah manis itu ia sangat sadar bahwa Ryeowook sangatlah mirip dengan mendiang mantan Istrinya. “Kau berubah banyak, Sayang.”

Ryeowook hanya mengangguk kecil. “Appa suka dengan perubahanku?”

“Tidak pernah sesuka ini.” Katanya dengan mencubit gemas hidung kecil Ryeowook. “Kau sudah bertemu Umma?”

“Ummh…ya tadi―didapur.”

“Kau menyapanya dengan baik?”

“Aku…” Ryeowook tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Hal itu tentu saja dapat membuat Tn. Choi tersenyum tipis. Ia sangat tahu bahwa memanggil istri barunya itu dengan sebuatan ‘Umma’ adalah hal yang paling berat bagi Putrinya ini. Dan dirinya juga tak akan memaksa Ryeowook. ia tahu bahwa ia sudah banyak menyebabkan luka bagi Ryeowook, dan ia tidak mau lagi membuat Ryeowook tersiksa.

“Tidak apa. Mungkin kau masih belum bisa menerimanya. Appa tidak keberatan, selama kau masih bisa sopan padanya.” Ryeowook menganggukkan kepalanya kecil. “Gomawo Appa.”

“Ani. Seharusnya Appa yang mengucapkan itu padamu. Gomawo nae Aegya karena kau sudah membiarkan Appa menikahinya―dulu. Dan… gomawo juga karena sudah rela terluka karena pernikahan kita ini.”

Ryeowook merasa pandangannya kabur saat itu juga. Titik-titik air mata mulai menuruni pipinya. “Appa…”

“Hei…hei… jangan menangis begitu. Kau tahu, kau lebih cantik saat tersenyum.” Tn. Choi menghapus air mata Ryeowook. “Nah, segeralah mandi. Kita sarapan bersama.” Tn. Choi mendorong tubuh kecil sang anak untuk segera kembali ke kamarnya. “Arasseo~”

.

.

.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Kyuhyun keluar dari kamarnya menggunakan baju tipis berwarna putih serta boxer hitam. Dilihat dari tampilannya bisa disimpulkan bahwa pria jangkung ini baru selesai mandi. Kyuhyun duduk diruang televisi. Tangannya memencet tombol merah pada remote dan tampilan breaking news langsung menggema diruangan yang hanya ada dirinya sendiri itu.

Kyuhyun melihat seorang pembawa berita yang sangat ia kenal itu adalah mantan seniornya dulu disekolah―Kim Jaejoong. Jaejoong membawakan berita dengan wajah yang sangat serius namun meski begitu ia tetap terlihat cantik. “Yunho Hyung tidak salah memilihnya sebagai istrinya.” Dengus Kyuhyun sambil mulai menyamankan duduknya disofa berwarna pastel itu.

“Dalam kecelakan mobil kali ini diketahui bahwa ada dua korban yang tewas ditempat dan satu orang lagi dalam kondisi kritis. Menurut info yang baru saja dirilis oleh pihak kepolisian setempat salah satu dari korban lalu lintas―yang baru saja terjadi sekitar satu jam yang lalu―adalah pewaris utama dari Lee Cooperation, yaitu Lee Donghae,”

Kyuhyun tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar nama Lee Donghae disebutkan. Matanya melotot tidak percaya seolah akan keluar dari kelopak matanya saat itu juga. Kyuhyun berpikir bahwa akhir-akhir ini pendengarannya sedikit bermasalah dan oh, ia baru ingat bahwa ia juga belum sarapan pagi, bisa saja ‘kan ini hanya halusinasinya belaka?

Kyuhyun membesarkan volume suara televisinya, berpikir bahwa dengan begitu ia tidak akan mendengar nama Lee Donghae lagi disebutkan.

“Lee Donghae adalah salah satu korban lalu lintas pagi ini yang diketahui tewas ditempat, kecelakaan ini diduga…….”

Kyuhyun kehilangan pendengarannya saat itu juga. Ia sudah tidak bisa lagi mendengar lebih lanjut isi berita tersebut. Nafasnya berhenti dalam seperkian detik. Terlalu terkejut, sedih, tidak percaya dan juga… entahlah. Pandangan matanya masih fokus dalam televisi didepannya, tapi demi Tuhan, pandangan Kyuhyun sudah mengabur.

Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam. Kedua jemarinya mengepal erat. tidak tahu harus bagaimana. Kyuhyun tidak percaya ini.

Ini pasti bohong. Donghae Hyung baik-baik saja, bahkan semalam ia masih bertemu denganku. Ia juga merawat Eunhyuk-Noona yang sakit ‘kan? berita ini bohong.

Sekuat tenaga Kyuhyun menyangkal dalam benaknya. Ini terlalu mendadak. Bahkan jika memang Donghae harus pergi dari Dunia ini dan meninggalkannya… setidaknya tidak begini caranya. Tidak dalam keadaan yang jauh darinya. Seharusnya… jika Donghae pergi, itu akan lebih baik jika Kyuhyun masih bisa melihatnya.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. Menolak mentah-mentah segala kenyataan yang sudah terpampang jelas dihadapannya kini. Ia tidak bisa menerima ini semua begitu saja. Donghae… Lee Donghae… ia pergi terlalu cepat. Ia bahkan belum sempat membalas segala kebaikan yang telah pria penyuka ikan Nemo itu berikan padanya.

Donghae Hyung yang baik… ini pasti bohong ‘kan? kau tidak mungkin meninggalkanku ‘kan?

Serius, dalam hati Kyuhyun benar-benar menolak ini semua. Tidak peduli seberapa menyebalkannya pria itu bagi Kyuhyun ia adalah sosok Kakak yang sangat ia sayangi. Sosok kakak yang benar-benar menjadi panutan baginya. Sosok Kakak Idaman yang selalu mengerti dirinya. Bahkan Kyuhyun belum melakukan apa-apa untuk menyatukannya dengan Eunhyuk.

“Hyung… kenapa?” tanyanya pelan.

“Kyu, kau tidak sara…pan?” Ryeowook terkejut mendapati Kyuhyun yang sedang menunduk. Yang membuat Ryeowook langsung bungkam adalah ketika ia mendapati sebuah liquid bening jatuh di boxer hitam yang dikenakan oleh pria jangkung tersebut. “K-kau…kenapa?” menghampiri Kyuhyun dan memaksa pria itu untuk memandangnya.

Ryeowook menatap dalam dan penuh tanya pada Dark brown didepannya tersebut. Berusaha mencari-cari jawaban atas segala pertanyaan yang mengumpul diotaknya. Ia baru saja akan kembali bertanya tapi Kyuhyun sudah menjawab; “Donghae Hyung… dia… pergi.”

Alis Ryeowook terangkat sebelah. Lalu seperkian detik selanjutnya ia tersenyum. “Arra. Tadi pagi ia mengirimiku pesan dan mengatakan bahwa ia akan kembali ke Mokpo. Ugh~dia menyebalkan sekali pergi dengan tiba-tiba begitu.” Cerocos Ryeowook tanpa tahu apa yang dimaksud oleh Kyuhyun sesungguhnya.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan.

“Hm?”

“Dia kecelakaan dan… dan….”

Deg!

Jantung Ryeowook berpacu dengan cepat. Ia mulai merasakan hawa tidak nyaman disekelilingnya. Pikirannya sudah sampai dimana-mana. Tapi Ryeowook berusaha untuk tetap tenang. Ya, ia yakin bahwa Donghae pasti baik-baik saja. Pria itu adalah pria yang baik pasti Tuhan akan selalu melindunginya. Sebisa mungkin gadis mungil ini mencoba berfikir positif.

“…meninggal ditempat.”

Wajah datar itu secara kilat berganti ekspresi menjadi… ah sulit untuk diungkapkan. Ekspresi wajah Ryeowook tampak terkejut, tidak percaya―persis seperti yang Kyuhyun tampakkan ketika pertama kali melihat dan mendengar berita ini. “A-apa?”

Kyuhyun tak sanggup berkata-kata lagi. Pria itu hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. “Disana…” menunjuk kearah televisi. Ryeowook menoleh secara perlahan layaknya adegan slow motion. Mata secerah Caramel tersebut menatap televisi yang kini menampilkan sebuah gambar dimana terdapat sebuah mobil sedan berwarna hitam yang rusak parah dan satunya lagi mobil lamborghini blue metalic yang cacat bagian depannya.

Mata Ryeowook menutup erat. badannya tiba-tiba saja menggigil. Kakinya lemas seketika. Terlalu ngeri dengan apa yang ia lihat. Ryeowook tidak suka melihat itu. ia benci kecelakaan. Ia benci darah. Ibunya meninggal pada sebuah kecelakaan dan Ryeowook tak pernah berharap bahwa ia akan kehilangan orang-orang yang ia sayangi dengan cara yang sama seperti Ibunya itu.

Tapi sekarang… bagaikan mimpi buruk, hal itu kembali terjadi. Kembali terulang. Membuat kepala Ryeowook pening. Membuatnya muak dengan semua ini. “Katakan bahwa ini hanyalah omong kosong, Kyu.” Pinta Ryeowook dengan suara yang bergetar.

Kyuhyun menatap Ryeowook prihatin. “Katakan bahwa ini hanyalah fiktif belaka. Ku mohon, katakan bahwa Donghae masih baik-baik saja. Ku mohon…” tangisnya pecah saat itu juga. Liquid bening itu telah menuruni pipi putihnya. Ryeowook menangis dan itu karena Donghae―orang yang sangat berarti untuknya.

Kyuhyun tidak bisa. Pria jangkung dengan kulit pucatnya itu tidak bisa membohongi sebuah kenyataan yang telah benar-benar ada. Ia memegang bahu ringkih Ryeowook yang bergetar. “Ia bahkan masih mengirimiku pesan dipagi-pagi buta… jadi… mustahil. Ini pasti tidak benar.” Katanya menolak takdir.

“Wookie-ah,”

Ryeowook menangis dengan menggelengkan kepalanya miris.

“Andwaeyo!!!”

.

.

.

Perpisahan yang selalu ku hindari itu, nyatanya ia yang paling sering menemuiku.

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

TBC!

 

 

Author Note :

Maaf untuk update-an yang lama. Saya benar-benar sedang sibuk. Saya sadar chapter ini juga cukup pendek, mengingat saya sudah tidak memiliki waktu luang yang banyak akhir-akhir ini. Daaaaaan~~ untuk kematian Donghae… seriously, saya bener-bener tidak bermaksud membuat para fans-nya disini marah. Ini tuntutan fict pemirsaahh *bowing*

Kematian Donghae memang sudah terencana diawal saya bikin fict ini, jadi intinya saya sudah membuat semua kerangka ini kisah sejak awal. Dan…saya tidak akan berniat mengubah kisah ini. Kalaupun ada mungkin itu hanya sebagian kecil dari ide reader yang meminta ‘ini’ dan ‘itu’.

Betewe… saya sebenernya sedih loh pas ngetik bagian Dongek ini. Kok kesannya nih orang kagak pernah bahagia gitu yaa?? /ditendang/

Yaudah segitu aja, next chap saya usahain update asap deh. /nggak janji loh/ *smirks*

Sign,

April-chan

52 thoughts on “(GS/Chapter) We Don’t Leave You ~11

  1. Noooo!!! Donghae oppa harua tetep hidup !! 😱 no way eon.. big noooo 😭😭
    Udah nggak tenang dari mulai muncul tanda tanda nggak baik tentang hae pa..
    Dan makin benci ama hyuk disini
    Hukzz 😢 moga aja nggak terjadi hal yang nggak diinginkan… Buat hyuk nyesel senyesel nyeselnyaa 😢😧

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s